SAINS
"Rasanya sungguh menyakitkan. Perutku seperti sedang digergaji."
Foto: Thinkstocks
Jangan coba-coba meniru Jason McNabb. Lidah dokter gigi dari Amerika ini barangkali terbuat dari batu. Ketika orang lain mengucurkan keringat dan harus meneguk bergelas-gelas air dingin untuk "memadamkan api" di lidah, Jason mengunyah cabai seperti permen.
Sampai detik ini, dokter dari Louisville, Negara Bagian Kentucky, Amerika Serikat, tersebut masih memegang dua rekor Guinness World, yakni terbanyak mengunyah cabai Bhut Jolokia dalam dua menit dan paling cepat memakan tiga cabai Carolina Reaper. Bhut Jolokia dan Carolina Reaper bukanlah cabai sembarang cabai.
Sebelum dikalahkan Naga Viper, Trinidad Moruga Scorpion, dan Carolina Reaper, Bhut Jolokia merupakan cabai paling pedas di dunia. Menurut uji pedas pada 2007, cabai yang banyak ditanam di India ini mencatat angka rata-rata 1,04 juta Skala Pedas Scoville atau kurang-lebih 400 kali lebih pedas ketimbang rata-rata cabai Jalapeno.
Makan cabai yang pedas membuat kalian lebih berselera makan."
Pemegang rekor cabai terpedas saat ini adalah Carolina Reaper. Cabai yang dibiakkan oleh Ed "Smokin" Currie, pemilik PuckerButt Pepper Company di Fort Mill, Carolina Selatan, Amerika Serikat, itu mencatat 2,2 juta Skala Pedas Scoville pada Agustus 2013.
Padahal, saat kecil, Jason, kini 36 tahun, tak tahan pedas cabai. Tapi ayahnya adalah "pemangsa" cabai Jalapeno. "Aku pikir ayahku merupakan orang paling tangguh karena dia bisa memakan cabai sebanyak itu," kata Jason, kepada USAToday, beberapa waktu lalu. Panas melihat ayahnya yang begitu enteng menyantap cabai, Jason mulai coba-coba.
Dari satu gigitan cabai Jalapeno dan terus bertambah. "Aku tak menyangka, ternyata aku bisa tahan pedasnya cabai lebih dari yang aku kira," kata Jason. Sekarang Jason nyaris sulit hidup jauh dari sambal. "Makan cabai yang pedas membuat kalian lebih berselera makan.... Ini sudah seperti kecanduan. Kalian harus mendapatkan cabai yang lebih pedas lagi supaya puas."

Jason McNabb, dokter gigi asal Amerika Serikat yang memegang dua rekor Guinness World
Foto: dok. pribadi
Setelah melihat Jason hanya sedikit berkeringat saat menyantap cabai Bhut Jolokia, Kristin Flynn, manajer di kantornya, berpikir mengapa temannya itu tak mencoba memecahkan rekor Guinness World. Kristin yakin Jason bisa melampaui rekor memakan cabai Bhut Jolokia alias Ghost Pepper.
Beberapa bulan setelah mengirim surat ke Guinness, Jason diminta ikut "lomba" makan cabai Bhut Jolokia. Ada dua peserta lain yang bakal bersaing memecahkan rekor. Jason mulai berlatih serius. Setiap hari, dengan menggunakan pengukur waktu, dia memakan sebanyak mungkin cabai dalam satu menit. Suatu kali dia lupa mengunyah Bhut Jolokia dalam kondisi perut kosong.
"Perutku sakit luar biasa.... Wajahku putih pasi dan tubuhku mulai berkeringat dingin," Jason mengenang pengalaman buruk itu. Berkat latihan tersebut, Jason jadi "juara". Dalam dua menit, pada 19 Juni 2013 dia bisa menghabiskan 66 gram atau kurang-lebih 15 cabai Bhut Jolokia.
Satu tahun kemudian, Jason siap menghadapi tantangan baru, yakni mengunyah cabai paling pedas di dunia, Carolina Reaper. Di Milan, Italia, Jason pernah mencoba makan tiga cabai Carolina Reaper. Dia butuh waktu 57 detik. Tiga bulan kemudian, di restoran Salsarita's Fresh Cantina, Louisville, pada 18 September 2014, Jason hanya butuh 10,95 detik untuk menghabiskan tiga cabai Carolina Reaper. Rekor itu masih bertahan sampai sekarang.
* * *
Walaupun terbilang langka, makan cabai bisa mematikan. Apalagi jenis cabai superpedas seperti Bhut Jolokia, Carolina Reaper, atau Naga Viper.
Delapan tahun lalu, Andrew Lee, kala itu 33 tahun, meninggal keesokan harinya setelah menyantap sampai tandas satu piring sambal hanya ditemani saus tomat. Demi melayani tantangan saudara laki-laki pacarnya, Andrew nekat "menyiksa" lidah dan perutnya.
Beberapa saat setelah menghabiskan sepiring sambal, badan Andrew mulai bereaksi. Sekujur tubuhnya mulai memerah dan terasa gatal. Lewat dini hari akhirnya dia terlelap, tapi tak pernah bangun lagi. "Siapa yang akan menyangka dia akan meninggal gara-gara makan sambal? Dia orang yang sehat dan tak ada masalah dengan jantung," kata Claire Chadbourne, saudara perempuan Andrew, kepada Daily Mail.

Warga Jiangxi, Cina, menjemur cabai
Foto: Getty Images
Makan cabai dalam porsi kelewatan memang bisa berbahaya. Dua peserta lomba makan Kismot Curry di restoran India, Kismot, di Kota Edinburgh, Skotlandia, beberapa tahun lalu terpaksa diangkut ke rumah sakit setelah tumbang sebelum kontes makan itu usai.
Curie Kim, salah satu peserta kontes makan kari, menuturkan apa yang dia rasakan. "Rasanya sungguh menyakitkan. Perutku seperti sedang digergaji," kata Curie kepada BBC. Walaupun menjadi pemenang kedua, dia kapok ikut lomba makan kari superpedas itu. "Aku sudah merasakan sendiri dan tak mau mengulang lagi."
Menyantap cabai atau sambal dalam porsi tak lazim, menurut Paul Bosland, Direktur Chile Pepper Institute di New Mexico, memang bisa mengakibatkan kematian. Tapi tak usah khawatir. Jauh sebelum sampai pada titik gawat itu, kata Paul, tubuh kita akan bereaksi dan memaksa kita berhenti melanjutkan makan cabai. "Dalam dosis tinggi, capsaicin dalam cabai bisa mengakibatkan radang dalam saluran pencernaan," kata John Prescott, profesor di Universitas Sussex, dikutip LiveScience.
Rasa cabai mungkin membakar lidah dan capsaicin dalam jumlah tertentu mungkin berbahaya, tapi hal itu tak jadi pikiran bagi penggemar sambal. Sejak 1991 hingga 2011, konsumsi cabai dunia rata-rata tumbuh 2,5 persen setiap tahun. "Semua orang di dunia makan cabai," kata Zigang Dong, peneliti di Universitas Minnesota, Amerika.
Seberapa besar manfaat, seberapa banyak efek negatif cabai, masih jadi silang pendapat. Selama beberapa tahun, tim dari Akademi Ilmu Kedokteran Cina meneliti pengaruh konsumsi cabai dan rempah-rempah terhadap ratusan ribu warga Tiongkok. Tim peneliti menyimpulkan mereka yang menyantap makanan berempah dan pedas dua kali dalam sepekan berumur lebih panjang ketimbang mereka yang jarang-jarang mengkonsumsi makanan pedas dan berempah.
Penelitian lain oleh tim dari Universitas Hong Kong juga membuktikan kaitan antara capsaicin dan turunnya risiko serangan jantung. Masih banyak hasil penelitian lain soal manfaat cabai, tapi Zigang Dong juga mengingatkan soal riset lain yang menghasilkan kesimpulan berlawanan.
Beberapa tahun lalu, Zigang Dong dan beberapa peneliti lain menulis artikel di jurnal Cancer Research bertajuk “The Two Faces of Capsaicin”. Zigang menulis soal riset efek buruk makan cabai. Dalam satu penelitian, beberapa tikus menunjukkan tanda-tanda kanker dalam saluran pencernaan setelah mereka mengkonsumsi makanan dengan capsaicin. "Mungkin hal itu terjadi lantaran capsaicin bisa memicu radang dan kematian sel," kata Zigang kepada BBC.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.