SAINS
Karena Berlian Selalu Abadi
“Kami telah menemukannya! Harta terpendam paling besar yang pernah ditemukan di kontinen ini.”
Foto: Getty Images
Senin, 25 April 2016Sebuah pengumuman yang dimuat mingguan Tucson Weekly Arizonian pada April 1872 itu benar-benar bombastis dan langsung menohok mata.
“Kami telah menemukannya! Harta terpendam paling besar yang pernah ditemukan di kontinen ini. Dan tak diragukan lagi, inilah penemuan terbesar yang kasatmata,” kata iklan tersebut. Penemuan terbesar itu konon ada di Gunung Pyramid, Negara Bagian New Mexico, Amerika Serikat. Sang pemasang iklan menyebut “penemuan terbesar” itu sebagai Mountain of Silver, Gunung Perak.

Foto: Getty Images
Saat itu, dunia memang sedang dijangkiti “demam” emas dan berlian. Tak seberapa lama sebelum iklan di mingguan Tucson tersebut, ribuan orang berduyun-duyun menyerbu tambang berlian di Afrika Selatan. Di Golconda, India, ditemukan tambang berlian ketiga terbesar kala itu. Di Brasil, penjelajah dari Portugis juga menemukan ladang berlian.
Maka tak aneh jika iklan itu langsung disambar banyak orang. Para pemburu kekayaan bumi yang semula berduyun-duyun menggali tambang emas, minyak bumi, serta perak di California dan Nevada sebagian mengalihkan perhatian ke New Mexico dan Arizona untuk mengejar rezeki berlian. Mereka semua termakan kabar soal gunung berlian itu.
Cerita ini bermula dari Phillip Arnold dan John Slack, dua mantan prajurit veteran Perang Meksiko dari Kentucky dan pencari emas di California. Pada saat itu, Arnold bekerja di sebuah perusahaan alat pengeboran Diamond Drill Co di San Francisco. Di perusahaan ini, berlian biasa dipakai sebagai mata bor. Di tempat itulah dia mulai tertarik pada berlian.
Entah dari mana dia mendapat ide menjual investasi “tambang berlian”, Arnold mengajak Slack bersama-sama menjalankan rencananya. Langkah pertama, Arnold membeli sekantong berlian mentah dan mencampurnya dengan rupa-rupa batuan mulia, seperti ruby. Dan…. dimulailah sandiwara mereka.
Tak diragukan lagi, nilainya benar-benar luar biasa.”
Orang pertama yang didekati adalah George D. Roberts, pengusaha di San Francisco. Dengan gaya sok misterius, Arnold menuturkan kepada Roberts soal rencana mereka menyimpan “sesuatu”' dalam kantong di Bank of California. Roberts rupanya memakan umpan Arnold. Dia benar-benar penasaran dengan isi kantong Arnold. “Isinya berlian mentah,” Arnold berbisik. Secara samar-samar, Arnold menceritakan berlian itu ditemukan di wilayah yang dikuasai suku Indian.
“Dia meminta kami merahasiakan tempat penemuan berlian itu,” kata Arnold, seperti dikutip majalah Smithsonian, menirukan pesan Roberts. Namun justru mulut Roberts yang sulit dijaga. Alih-alih menutup rapat-rapat rahasia gunung berlian tersebut, Roberts malah menuturkannya kepada William C. Ralston, pendiri Bank of California, dan investor di sejumlah proyek.
Dari mereka, kabar soal tambang berlian ini sampai ke telinga Asbury Harpending, salah satu investor pemburu emas dan berlian. Harpending, yang berada di London, buru-buru pulang. “Pokoknya secepat yang bisa dilakukan oleh kapal dan kereta uap,” kata Harpending. Tak tertahankan lagi, seperti sudah diduga Arnold dan Slack, kabar panas itu menyebar ke mana-mana.
Walaupun belum pernah berkunjung ke lokasi “tambang berlian” yang dimiliki Arnold dan Slack, investor-investor besar, seperti Baron von Rothschild dan Charles Tiffany, serta sejumlah pensiunan jenderal langsung mengutarakan niatnya menanam modal di perusahaan pengelola tambang tersebut. Walaupun setengah kalap, mereka tidak bodoh. Untuk memastikan seberapa besar potensi tambang berlian itu, orang-orang kaya Amerika tersebut mengirim geolog Henry Janin untuk memeriksa tambang berlian Arnold. Mereka juga menguji contoh berlian yang dipamerkan Arnold.
Untuk mengelabui Janin, Arnold dan Slack menebarkan butiran-butiran berlian yang telah dicampur batu mulia. Geolog berpengalaman seperti Janin pun terkecoh. Pulang dari lokasi tambang itu, Janin memberikan laporan soal berlian yang berlimpah di pertambangan tersebut. “Tak diragukan lagi, nilainya benar-benar luar biasa,” kata Harpending, girang bukan kepalang. Harga konsesi tambang berlian itu segera terbang ke langit.
Penipuan Arnold dan Slack ini terungkap atas jasa geolog Clarence King. Penasaran dengan klaim Janin, King dan anak buahnya memeriksa tambang yang digembar-gemborkan itu. Seperti juga Janin, dengan gampang King menemukan butiran-butiran berlian.
Yang membuat King curiga, setiap kali ada berlian, di sampingnya juga ditemukan ruby dan batu mulia lain. Sebuah kondisi yang jarang sekali ditemukan di alam. Beberapa hari meneliti “pertambangan berlian” itu, King sampai pada kesimpulan bahwa tambang berlian itu palsu. Tapi, saat skandal penipuan ini terungkap pada 1872, Arnold dan Slack sudah berhasil menipu investor-investor besar dan mengantongi duit lumayan banyak.
* * *
Siapa tak silap mata oleh gemerlap berlian. Sejak ratusan tahun silam, berlian dipandang sebagai barang mulia, bahkan lebih bernilai dari logam mulia, seperti emas. Pada November tahun lalu, triliuner asal Hong Kong, Joseph Lau, membeli berlian biru Blue Moon of Josephine seberat 12,03 karat senilai US$ 48,4 juta atau Rp 640 miliar di Balai Lelang Sotheby's, Jenewa. Blue Moon menjadi berlian paling mahal per karat dalam sejarah.
Perempuan inilah yang berjasa besar melambungkan nilai berlian hingga luar biasa mahal. Mary Frances Gerety direkrut biro iklan N.W. Ayer & Son pada 1943 ketika harga berlian tengah anjlok akibat resesi ekonomi dan Perang Dunia. Untuk memanaskan pasar berlian yang tengah lunglai, beberapa tahun sebelumnya, perusahaan tambang berlian De Beers Consolidated Mines menyewa jasa N.W. Ayer untuk mempromosikan berlian di Amerika Serikat.
Tugas menggenjot penjualan berlian itu diberikan kepada dua penulis iklan perempuan di Ayer, yakni Mary Frances dan Dorothy Dignam. Bos mereka percaya, hanya perempuan yang benar-benar paham urusan perempuan. Kala itu di Amerika baru mulai berkembang tren bagi laki-laki melamar sang kekasih dengan memberikan cincin berlian.

Foto: Getty Images
Suatu kali, Mary sudah bersiap menarik selimut saat teringat satu materi iklan untuk De Beers yang harus dia presentasikan keesokan harinya. Merasa badan sudah kelewat lelah, Mary hanya bisa memohon pertolongan Tuhan. "Ya, Tuhan, berikan aku satu larik kalimat saja," kata Mary, seperti dikutip New York Times. Dia menuliskan ide yang terlintas pada saat itu juga di selembar kertas. Kalimat itulah yang dia presentasikan di muka rapat. Teman-temannya "adem" saja menanggapi ide Mary. "Tak ada yang heboh dan antusias."
Tapi satu larik kalimat menjelang tidur itu menjadi iklan berlian yang abadi sampai hari ini. Kalimat Mary Frances untuk iklan berlian De Beers itu, "A Diamond is Forever", "Satu Butir Berlian Itu Abadi". Sampai hari ini, puluhan tahun setelah iklan itu dibuat oleh Biro Iklan Ayer, De Beers masih terus memakai iklan tersebut.
Sejak iklan itu ditebar De Beers, penjualan berlian untuk dipasang pada cincin terus menanjak. Hanya dalam dua tahun, penjualan berlian De Beers di Amerika naik 55 persen. Pada 2012 saja, warga Amerika membelanjakan US$ 7 miliar atau lebih dari Rp 90 triliun untuk cincin berlian.
Berlian, seperti kata Mary Frances, menjadi identik dengan pernyataan kasih yang abadi. "Pesan sentimental hal yang sangat penting.... Untuk urusan ini, tak ada barang lain yang bisa menyamai berlian," Ayer menulis memo kepada De Beers. Pesan yang ditulis Mary Frances itu terus didaur ulang dan dikembangkan Ayer untuk De Beers. "Ya, kamu bisa menikah di pantai tanpa alas kaki sekalipun. Tapi tidakkah kamu tetap menginginkan satu cincin yang cantik?" Ironisnya, sampai meninggal pada April 1999, sang pembuat pesan iklan itu, Mary Frances Gerety, tak pernah menikah.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Sains mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengankekinian.