SAINS

Berebut Berlian
Ratu Inggris

"Koh-i-Noor diperoleh dengan cara yang tidak patut, tidak sah, baik secara hukum maupun etika.”

Foto: Getty Images 

Senin, 25 April 2016

Hingga satu setengah abad silam, India merupakan penghasil utama berlian di dunia. Saat melawat ke India pada abad ke-13, petualang Marco Polo menulis, "Kerajaan inilah yang menghasilkan semua berlian di dunia."

Tapi sungguh ironis, kini sebagian besar berlian yang nilainya sangat mahal itu tak lagi dimiliki oleh India. Berlian Hope alias Le Bijou du Roi alias Berlian Raja, yang kabarnya membawa bencana bagi pemiliknya, kini tersimpan di Amerika Serikat. Berlian seberat 45,52 karat itu sekarang dimiliki oleh Smithsonian Institution. Berlian Orlov, yang konon dicuri dari Kuil Sri Ranganathaswamy di Srirangam, India, hampir tiga abad lalu, sekarang disimpan di Moskow.

Berlian Daria i-Noor, berlian merah jambu terbesar di dunia, dulu dimiliki oleh Dinasti Kakatiya di India, tapi sekarang disimpan oleh Bank Sentral Iran. Salah satu yang paling kondang, berlian Koh-i-Noor, setelah melewati perjalanan panjang selama beberapa abad dari tambang berlian Kollur di Negara Bagian Andhra Pradesh, India, sejak 1902 hingga detik ini berlian itu terpasang di mahkota Ratu Inggris.

Untuk berlian Orlov, Hope, Daria, dan berlian-berlian lain, walaupun sebagian diperoleh dengan cara kurang pantas, pemerintah India tak pernah lagi mengusik pemiliknya. Tapi lain soal untuk Koh-i-Noor. Banyak pihak tak rela Koh-i-Noor menjadi milik Kerajaan Inggris. Pemerintah India, Pakistan, dan Afganistan mengklaim menjadi pemilik sah berlian itu. Mereka masih terus berusaha membawa pulang Koh-i-Noor.

Berlian Koh-I-Noor di mahkota Ratu Inggris
Foto: India Divine

Masih ada lagi satu pihak yang mengaku berhak menjadi pemilik Koh-i-Noor. Jaswinder Singh Sandhanwalia, 53 tahun, dan keluarganya, mengklaim sebagai kerabat yang sah dari Duleep Singh, raja terakhir Imperium Sikh. Menurut Jaswinder, kakek buyut mereka, Thakur Singh Sandhanwalia, merupakan sepupu Duleep dan anak angkat Ranjit Singh, ayah Duleep, sekaligus pendiri Kerajaan Sikh di Punjab.

Berlian Koh-i-Noor diperoleh Ranjit Singh dari Shuja Shah Durani, penguasa Afganistan, sebagai hadiah atas dukungannya mengembalikan Shuja Shah ke kursi kekuasaan di Kabul. Sebagai keturunan keluarga Kerajaan Sikh, Jaswinder dan keluarganya menuntut supaya berlian paling mahal di dunia ini dibawa pulang ke India.

"Kami bertarung di pengadilan sejak 2001 karena kamilah kerabat terdekat Duleep Singh yang masih hidup.... Kami ingin mengembalikan Koh-i-Noor ke Kuil Emas," ujar Sukhdev Singh Sandhanwalia, saudara Jaswinder, kepada Telegraph, beberapa tahun lalu. Kuil Emas di Amritsar, Punjab, India, merupakan pusat penyebaran agama Sikh. Siapa yang sebenarnya paling berhak atas Koh-i-Noor?

* * *

Sebelum dipotong atas perintah Pangeran Albert dari Kerajaan Inggris pada Juli 1852, berat Koh-i-Noor 186 karat. Para karyawan Maudslay, Sons and Field perlu waktu 38 hari untuk memotong dan memoles Koh-i-Noor menjadi 105,6 karat.

Koh-i-Noor, menurut V. Madhavan, geolog dari Universitas Kakatiya, ditemukan pada abad ke-13 saat tambang Kollur ada dalam kekuasaan Rani Rudrama Devi dari Dinasti Kakatiya. Penguasa Kakatiya memberinya nama Samantik Mani, Pangeran di Antara Berlian. Saat Kakatiya diserbu tentara Khilji dari Kesultanan Delhi pada abad ke-14, berlian Samantik ikut berpindah tangan. Sekali lagi Samantik berganti tuan saat Babur menaklukkan Khilji dan mendirikan Imperium Mughal pada 1526.

Berlian merah jambu dipamerkan di Balai Lelang Sotheby's, London, April 2016.
Foto: Reuters

Dua abad kemudian, penguasa Persia, Nader Shah, menyerbu ke timur. Berlian Samantik, Daria i-Noor, dan harta benda lain milik Dinasti Mughal ikut diangkut ke Persia. Nader memberi nama berlian itu Koh-i-Noor, Gunung Cahaya. Tapi Koh-i-Noor tak lama di Persia. Nader Shah dibunuh dan Koh-i-Noor dibawa kabur oleh Ahmad Shah Durani, salah satu jenderalnya dan belakangan menjadi Amir Afganistan.

Jika kita mengklaim harta di masa lalu seperti Koh-i-Noor, negara lain juga akan mulai mengklaim barang-barang mereka. Jika itu terjadi, tak akan ada yang tersisa dalam museum kita."

"Jika seorang laki-laki yang perkasa melemparkan lima kerikil.... Satu ke utara, satu ke selatan, satu ke timur, satu ke barat, dan satu kerikil ke atas, dan ruang di antara kerikil-kerikil itu diisi emas, nilainya masih belum sepadan dengan Koh-i-Noor," Wafa Begum, istri Shah Durani, seperti dikutip Guardian, menggambarkan nilai Koh-i-Noor. Ahmad Shah Durani menghadiahkan Koh-i-Noor kepada penguasa Sikh dari Punjab, Maharaja Ranjit Singh.

Setelah Ranjit Singh mangkat, takhtanya diwariskan kepada Duleep Singh, yang baru berumur 5 tahun. Perusahaan dagang milik Kerajaan Inggris, East Indian Company, dengan gampang melipat penguasa yang masih anak-anak ini. Lewat Perjanjian Lahore pada 29 Maret 1849, Duleep memasrahkan takhtanya dan menyerahkan harta bendanya, termasuk berlian Koh-i-Noor, kepada East India.

Pada 1 Februari 1850, berlian Koh-i-Noor berlayar ke tuan barunya di Inggris. Lewat satu upacara yang megah, East India mempersembahkan Koh-i-Noor kepada Ratu Inggris, Ratu Victoria. "Penyerahan" Koh-i-Noor kepada Kerajaan Inggris 167 tahun lalu inilah yang terus dipersoalkan.

Berlian Fancy Deep Blue dipamerkan oleh Sotheby's, New York (atas)
Pengawas di Bursa Berlian Tel Aviv, Israel.

Foto-foto: Reuters


Beberapa hari lalu, di muka majelis hakim Mahkamah Agung India, Jaksa Agung Ranjit Kumar mengatakan bahwa Kerajaan Inggris memperoleh berlian Koh-i-Noor dengan cara yang sah, tidak mencuri, atau mengambil dengan paksaan. "Jika kita mengklaim harta di masa lalu seperti Koh-i-Noor, negara lain juga akan mulai mengklaim barang-barang mereka. Jika itu terjadi, tak akan ada yang tersisa dalam museum kita," kata Jaksa Agung Ranjit, dikutip IndianExpress.

Pemerintah India sebenarnya sudah berulang kali melayangkan surat permintaan kepada pemerintah Inggris supaya mereka mengembalikan Koh-i-Noor. Permintaan pertama disampaikan begitu India merdeka dari penjajahan Inggris. Pada 1953, saat Ratu Elizabeth II naik takhta, surat kedua dilayangkan. Tapi sekali lagi, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Kerajaan Inggris.

Jika India menyerah, Pakistan akan mendapat keuntungan."

"Jika kalian memenuhi satu permintaan seperti itu, Museum Inggris seketika bakal kosong melompong," Perdana Menteri Inggris David Cameron, menegaskan sikap Kerajaan Inggris soal Koh-i-Noor kepada Telegraph, beberapa tahun lalu.

Sikap Ranjit Kumar diprotes banyak orang. "Sikap pemerintah dalam urusan Koh-i-Noor jelas salah," kata Prem Singh Chandumajra, anggota parlemen India dari Shiromani Akali Dal. Partai Aam Aadmi juga mengkritik sikap Jaksa Agung. Negara yang menghormati peninggalan sejarah, kata Kapil Mishra, salah satu pemimpin Partai Aam Aadmi, mestinya berjuang untuk memulangkan Koh-i-Noor. "Jika India menyerah, Pakistan akan mendapat keuntungan."

Pakistan merasa punya hak atas Koh-i-Noor lantaran Ranjit Singh dan keluarganya berkedudukan di Lahore, kini bagian dari wilayah Pakistan. Dua bulan lalu, Pengadilan Tinggi Lahore menerima gugatan yang diajukan oleh pengacara Javed Iqbal Jaffry. Javed menuntut Kerajaan Inggris supaya mengembalikan Koh-i-Noor ke Pakistan. "Koh-i-Noor diperoleh dengan cara yang tidak patut, tidak sah, baik secara hukum maupun etika. Salah tetap salah. Hal itu tak akan berubah oleh waktu," kata Javed.

Di Kota Puri, India, para pendeta di Kuil Jagannath menggelar protes pekan lalu. Mengutip "surat wasiat" dari Ranjit Singh yang tersimpan di Badan Arsip Nasional, para pendeta itu merasa sebagai ahli waris yang sah berlian Koh-i-Noor. Dalam surat itu kabarnya tertulis soal niat Ranjit Singh mewariskan Koh-i-Noor ke Kuil Jagannath setelah dia meninggal. "Kami punya bukti sejarah bahwa Maharaja Ranjit Singh berniat menghadiahkan Koh-i-Noor kepada Kuil Jagannath," kata Pendeta Sitikandha Panda.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Sains mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengankekinian.

SHARE