SAINS
163 TAHUN VAN GOGH
”Aku akan bungkam soal kejadian itu, demikian juga kamu.”
Foto: Getty Images
Rabu, 23 Maret 2016Barangkali inilah “hadiah” Natal yang tak pernah disangka, yang paling mengerikan, yang pernah diperoleh Rachel. Konon, Rachel merupakan pelacur langganan pelukis Paul Gauguin setiap kali singgah di Kota Arles, wilayah Provence, Prancis. Dua malam menjelang malam Natal pada 1888 itu, seorang laki-laki datang ke rumah pelacuran Maison de Tolerance dan mencari Rachel.
Sebagian kepala laki-laki itu dibebat kain. Dia menyodorkan barang terbungkus koran kepada Rachel. “Tolong jaga barang ini seperti harta karun,” kata laki-laki itu kepada Rachel, seperti dikutip harian lokal Forum Républicain di Arles, sebelum berlalu. Begitu bungkusan dibuka, astaga... Rachel langsung terkulai. Pingsan. Bungkusan koran itu ternyata berisi potongan telinga yang masih merah oleh darah.
Laki-laki dengan kain membebat kepala itu adalah Vincent van Gogh, pelukis kondang dari Belanda. Selama kariernya yang singkat dan tragis, Van Gogh membuat lebih dari 1.000 lukisan. Beberapa lukisan Van Gogh, seperti Portrait of Dr. Gachet, Irises, dan Portrait of Joseph Roulin, masuk daftar lukisan paling mahal di dunia.
Setelah memberikan “hadiah” Natal kepada Rachel, Van Gogh pulang ke Yellow House, tempat tinggalnya selama di Arles, dan berbaring di kasur masih dengan telinga mengucurkan darah. Keesokan harinya, polisi datang ke Yellow House dan menemukan Van Gogh setengah sadar. Bagaimana telinga kiri Van Gogh bisa terpotong?
Dia laki-laki yang sangat menarik.... Aku sangat yakin kita harus melakukan banyak hal bersama dia."
Vincent van Gogh/Foto: Wikipedia
Tak terang benar apa yang terjadi malam itu. Van Gogh mengaku tak ingat apa yang terjadi. Cerita yang selama ini beredar bersumber utama dari penuturan Paul Gauguin, sahabat yang belakangan seperti menjadi “musuh” Van Gogh. Adalah Vincent van Gogh dan adiknya, Theo van Gogh, yang mengundang Gauguin ke Yellow House di Arles. Van Gogh bersaudara bertemu dengan Gauguin di Paris pada November 1887. Vincent berharap, bersama Paul Gauguin, dia bisa membentuk komunitas seniman di Arles.
Gauguin tiba di Arles pada akhir Oktober 1888. Selama dua bulan, keduanya duduk dan berkarya bersama. Di The Painter of Sunflowers, Gauguin menggambar sosok Van Gogh. “Dia laki-laki yang sangat menarik.... Aku sangat yakin kita harus melakukan banyak hal bersama dia,” Vincent menulis surat soal Gauguin kepada Theo.
Tapi sejak awal, seperti dia tuturkan dalam biografinya, Avant et Apres, Gauguin sebenarnya sudah merasa dia dan Van Gogh memang bakal sulit hidup bersama. “Di antara dua makhluk seperti dia dan aku, yang satu gunung berapi yang sempurna, yang lain menyimpan hati yang terus mendidih, keributan di antara kami hanya soal waktu,” kata Gauguin. Dia juga agak kurang senang melihat cara hidup Van Gogh yang jorok. “Aku terkejut melihat semua barang dan semua hal tak beraturan. Kotak cat berserak di mana-mana dan tak pernah ditutup.”

Potret diri Van Gogh dengan perban di telinga
Foto: Wikimedia
Vincent pun mengakui betapa sulitnya tinggal satu rumah dengan Gauguin. Yellow House tak cukup besar untuk memuat dua ego sebesar Van Gogh dan Gauguin. “Tegangan saat kami adu argumen sangat tinggi,” Vincent menulis kepada adiknya. “Kami sering keluar rumah dengan kepala sudah kepayahan.”
Saat Gauguin melukisnya dalam The Painter of Sunflowers, Van Gogh menanggapi sinis. “Ya, itu jelas aku... tapi aku yang bakal jadi gila,” kata Van Gogh, dikutip New York Times. Tegangan di antara keduanya makin tinggi dan siap meledak. Suatu malam pada pertengahan Desember 1888 di sebuah kafe di Arles, Van Gogh melempar Gauguin dengan gelas. Dan puncaknya adalah dua hari sebelum Natal.
Malam itu keduanya kembali bertengkar dan berdebat sengit. Menurut penuturan Gauguin, Van Gogh menghampirinya dengan pisau dalam genggaman. Tapi tatapan matanya, kata Gauguin, membuat Van Gogh mundur. Malam itu, menurut Gauguin, dia pilih tidur di hotel. Keesokan harinya, saat pulang ke Yellow House, Gauguin mengaku baru tahu apa yang terjadi dengan Van Gogh dan telinga kirinya. Gauguin segera menghubungi Theo dan angkat kaki dari Arles. Sejak hari itu, dia dan Van Gogh tak pernah bertemu kembali.

Lukisan Vincent van Gogh
Foto: Getty Images
Menurut Gauguin dan diyakini banyak orang, Van Gogh, yang punya masalah mental, memotong telinganya sendiri. Lewat bukunya, Van Goghs Ohr, Rita Wildegans dan Hans Kaufmann membantah kesimpulan bahwa Van Gogh memotong telinganya sendiri. Setelah memeriksa hampir semua kesaksian dalam peristiwa itu dan surat-surat Van Gogh maupun Gauguin, Rita dan Hans menyimpulkan bahwa Paul Gauguin-lah yang memotong telinga kiri Van Gogh.
Sejak hari itu, semua orang menganggapnya tak waras, sehingga ia harus dikurung di rumah sakit jiwa."
Gauguin, entah sengaja atau tidak, memotong telinga kiri Van Gogh dengan pedang setelah Van Gogh menyerangnya dengan pisau. Paul Gauguin memang jago menggunakan pedang. “Saat itu kondisinya sangat gelap. Kami menduga Gauguin tak sengaja melukai temannya,” kata Hans kepada ABC.
Tapi bagaimana yang terjadi sebenarnya pada malam itu, hanya Van Gogh dan Gauguin yang tahu. Masalahnya, kedua orang ini sama-sama “bungkam”. Dalam surat pertamanya kepada Gauguin setelah peristiwa tersebut, Van Gogh menulis seperti ini, ”Aku akan bungkam soal kejadian itu, demikian juga kamu.”
Louis van Tilborgh, kurator di Museum Van Gogh, menanggapi “teori” Rita dan Hans dengan santai. “Well, pendapat yang menarik. Tapi sejauh ini tak ada bukti yang menyokongnya,” kata Louis.
Hans menduga, Van Gogh diam lantaran menjaga pertemanannya dengan Gauguin, sementara Gauguin bungkam supaya tak dikejar polisi. Bungkamnya Van Gogh harus dia bayar mahal. Sejak hari itu, semua orang menganggapnya tak waras, sehingga ia harus dikurung di rumah sakit jiwa.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.