SAINS
“Kami akan terus menyerang bukti-bukti pengacara satu demi satu.”
Foto: Stockvault.net
Kamis, 16 Maret 2016Kata orang, murah senyum akan mendatangkan rezeki. Tapi, bagi Ray Krone, kini 59 tahun, cara dia tersenyum malah membuatnya celaka. Gara-gara posisi gigi dan bentuk senyumnya, Ray hampir dihukum mati.
Pada suatu pagi di akhir Desember 1991, Kim Ancona ditemukan tewas dalam kamar mandi di bar CBS Lounge, tempatnya bekerja di Kota Phoenix, Arizona. Tubuhnya nyaris telanjang dan ada sejumlah luka tusukan. Pelaku pembunuhan tak meninggalkan banyak jejak. Tak ada ceceran sperma atau darah selain milik korban. Hanya ada luka gigitan pada payudara dan leher korban.
Pada malam terakhir hidup Kim Ancona, seorang saksi melihat Ray Krone membantu Kim menutup pintu bar. Polisi segera memanggil Ray. Saat diperiksa, Ray diminta polisi menggigit busa. Ternyata, menurut “seorang ahli forensik”, Dr Raymond Rawson, bekas gigitan Ray pada busa cocok dengan luka gigitan pada tubuh Kim Ancona. Dua hari setelah Kim ditemukan mati, Ray diseret ke kantor polisi dengan tuduhan pembunuhan dan kekerasan seksual.
Ini kasus yang akan menghantuiku sepanjang hidup, membuatku terus berpikir apakah aku telah membuat putusan dengan benar."
Bantahan Ray bahwa dia tak bersalah dianggap angin lalu oleh polisi. “Aku tak berada di bar tersebut pada malam itu,” kata Ray seperti dikutip Arizona Republic. Di pengadilan tingkat pertama, hakim mengetuk palu dan menjatuhkan hukuman mati atas Ray Krone.
Hakim James McDougall di pengadilan banding “mengkorting” hukuman Ray menjadi hukuman seumur hidup lantaran agak ragu dengan bukti-bukti dari polisi. “Ini kasus yang akan menghantuiku sepanjang hidup, membuatku terus berpikir apakah aku telah membuat putusan dengan benar,” kata hakim McDougall.
Sempat sepuluh tahun Ray mendekam di balik jeruji penjara, tes DNA atau asam deoksiribonukleat terhadap jejak ludah pada tubuh Kim Ancona membuktikan bahwa Ray tak bersalah. “Keadilan itu akhirnya datang,” kata Ray, begitu melangkah keluar dari penjara dan menghirup udara bebas.

Lokasi penembakan di Oregon pada Oktober 2015
Foto: Scott Olson/Getty Images
Di lapangan, kerja forensik memang tak “seindah dan seajaib” gambaran Abigail “Abby” Sciuto dan Dr Donald “Ducky” Mallard di NCIS atau Gil Grissom di CSI: Crime Scene Investigation. Sembari menyedot segelas besar Caf-Pow, Abby, yang eksentrik tapi sangat jenius, bisa mengendus dan menelusuri sekecil apa pun jejak yang ditinggalkan si kriminal. Entah jejak ban atau sepatu, sepotong sidik jari, bekas lipstik, atau secarik kain.
Tapi ahli forensik seperti Abby tak ada di dunia ini. Dalam banyak kasus di dunia nyata, teknik-teknik forensik nan “canggih” yang dipertontonkan dalam serial CSI, NCIS, Bone, atau Dexter tak seakurat dan segampang yang disangka orang. Kasus Ray Krone hanyalah satu di antara ribuan kasus yang disokong bukti-bukti forensik bermasalah.
Michael J. Saks, profesor hukum di Universitas Negeri Arizona, menganggap ilmu forensik berdasarkan gigitan dan cetakan gigi ini sebagai “classic junk science” alias “ilmu sampah”. Sebulan lalu, Komisi Ilmu Forensik Texas meminta polisi dan jaksa tak lagi menggunakan bukti forensik gigi di pengadilan.
* * *
Palu yang dipakai pelaku penyerangan di Kota New York, Mei 2015
Foto: Andrew Burton/Getty Images
Petugas forensik mengumpulkan bukti kasus penyerangan dengan palu di Kota New York, Mei 2015.
Foto: Andrew Burton/Getty Images
“Tubuhku serasa beku,” kata Lavelle Davis, kala itu 32 tahun, saat pintu gerbang penjara terbuka dan dia melangkah keluar setelah hampir 12 tahun menjadi penghuni tempat itu.
Lavelle mestinya melewatkan umurnya selama 45 tahun dalam penjara setelah hakim pengadilan Kota Kane memutusnya bersalah dalam kasus pembunuhan Patrick Ferguson. Keterangan saksi dalam kasus ini sebenarnya sangat lemah, tapi ada satu bukti forensik yang mengantar Lavelle ke bui: cetakan bibir.
Di muka sidang, Stephen McKasson, petugas forensik di Kepolisian Illinois, dengan penuh semangat meyakinkan dewan juri bahwa “sidik” bibir unik pada setiap orang, dus bisa dipakai sebagai bukti tak terbantahkan dalam kasus kriminal. Sial bagi Lavelle Davis, Stephen McKasson menyimpulkan bahwa “sidik” bibir yang ditemukan di lokasi pembunuhan serupa dengan “sidik” bibir miliknya.

Petugas meneliti bukti-bukti kasus penyerangan di Kota Texas, Mei 2015.
Foto: Ben Torres/Getty Images
Ada masalah besar dalam kesaksian Stephen. Teknik forensik berdasarkan “sidik” bibir, menurut Andre A. Moenssens, penulis buku Scientific Evidence in Civil and Criminal Cases dan profesor emeritus di Sekolah Hukum Universitas Richmond, tak disokong bukti ilmiah. “Teknik identifikasi dengan sidik jari tak bisa serta-merta dipakai untuk identifikasi dengan ‘sidik’ bibir, bentuk telinga, siku, dan sebagainya,” kata Profesor Andre kepada Chicago Tribune beberapa tahun lalu.
Gara-gara teknik pembuktian yang serampangan ini, Lavelle harus mendekam di penjara selama 12 tahun. Dan Lavelle bukan satu-satunya orang yang dijebloskan ke penjara berdasarkan bukti “sidik” bibir. Ada Gerard Richardson dan Steve Mark Chaney, yang menemui sial yang sama. Seperti Lavelle, Gerard dan Steve dibebaskan setelah bertahun-tahun diterungku.
Kecuali ilmu forensik berbasis DNA, memang ada masalah pada teknik pembuktian kasus kriminal, bahkan identifikasi berdasarkan sidik jari dan uji balistik, yang konon sangat akurat. Beberapa waktu lalu, Biro Investigasi Kriminal Minnesota menguji akurasi tes identifikasi sidik jari. Dua kali tes, tingkat akurasinya hampir serupa: hanya 90 persen.
FBI mengakui bahwa tes forensik berbasis rambut yang sudah ratusan kali mereka pakai ternyata kurang akurat."
Ilmu forensik makin maju, tapi masih banyak bolong yang perlu ditambal. Pada 2009, Akademi Sains Amerika menulis laporan panjang soal perkembangan ilmu forensik. Akademi Sains menyimpulkan, ilmu forensik belum mampu memberikan hasil yang konsisten dengan derajat kepastian yang tinggi.
Setahun lalu, Biro Investigasi Federal Amerika (FBI) membuat pernyataan mengejutkan. FBI mengakui bahwa tes forensik berbasis rambut yang sudah ratusan kali mereka pakai ternyata kurang akurat. Buntut dari pengakuan itu, ada 257 kasus yang harus “dibongkar” kembali. Tersebar di penjara-penjara Amerika, entah ada berapa banyak orang tak berdosa yang harus menderita gara-gara “ilmu forensik” yang diklaim presisi tapi ternyata akurasinya tak teruji seperti ini.

Petugas di laboratorium forensik di Lousiana meneliti sampel darah tersangka pembunuhan pada 2003.
Foto: Mario Villafuerte/Getty Images
Christopher Tapp sudah hampir 16 tahun jadi penghuni Penjara Idaho. Selama itu pula dia terus bertahan pada pernyataannya bahwa dia tak bersalah dalam kasus pembunuhan Angie Dodge. Di lokasi pembunuhan, polisi menemukan sejumlah jejak DNA. Tapi petugas forensik tak menemukan bukti kesamaan dengan DNA milik Christopher. Polisi menangkap Christopher hanya lantaran dia merupakan sobat karib pelaku utama.
Sudah bertahun-tahun Greg Hampikian, dosen ilmu forensik di Universitas Negeri Boise, memperjuangkan pemeriksaan ulang atas kasus pembunuhan Angie Dodge. Greg mengusulkan kepada hakim penggunaan teknik baru untuk menguji sampel DNA. “Kami akan terus menyerang bukti-bukti pengacara satu demi satu,” kata Greg kepada ScienceMag dua pekan lalu.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.