SAINS
“Bukan aku pelaku pembunuhan itu, tapi aku satu-satunya yang dipersalahkan.”
Amanda Knox bersama keluarganya
Foto: Stephen Brashear/Getty ImagesSetahun lalu, majelis kasasi Mahkamah Agung Italia “menutup” episode kasus pembunuhan mahasiswi asal London Selatan, Inggris, Meredith Kercher. Hasilnya antiklimaks. Teman satu rumah kontrakan Meredith, Amanda Knox, dan mantan pacar Amanda, Raffaele Sollecito, diputus tak bersalah dan bebas melenggang keluar dari penjara.
Padahal, dalam dua pengadilan sebelumnya, hakim menjatuhkan vonis bersalah atas Amanda dan Raffaele. “Sidang ini merupakan buah dari kelalaian yang luar biasa dan amnesia dalam proses investigasi,” para hakim majelis kasasi menuliskan alasan atas putusan mereka.
Baik Amanda maupun Meredith sama-sama kuliah di satu kampus di Perugia. Di rumah Via di Pergola 7, Amanda dan Meredith tinggal bersama warga Italia, Filomena Romanelli dan Laura Mezzetti. Pada malam itu, Filomena dan Laura sedang ke luar kota. Amanda mengaku menghabiskan malam bersama sang kekasih, Raffaele, dan baru pulang keesokan hari. Keesokan paginya, 2 November 2007, mayat Meredith ditemukan terkapar dalam kamarnya.
Mereka terburu-buru menetapkan satu atau dua tersangka untuk memuaskan orang-orang di seluruh dunia."
Bekerja di bawah “tekanan” media-media di Inggris dan Amerika Serikat—Amanda merupakan warga Amerika—detektif-detektif Italia bekerja ceroboh, “Mereka terburu-buru menetapkan satu atau dua tersangka untuk memuaskan orang-orang di seluruh dunia,” hakim menulis, dikutip oleh Guardian.
Walhasil, tak cuma gagal menyodorkan motif pembunuhan yang meyakinkan, bukti-bukti yang disodorkan polisi ke meja hakim, terutama bukti forensik DNA atau asam deoksiribonukleat, gampang dilipat dan dipatahkan pengacara terdakwa. Semua saksi dan hasil uji forensik tak cukup memberi bukti bahwa Amanda Knox dan Raffaele berada di lokasi pembunuhan.
Akhirnya tinggal Rudy Guede, satu-satunya terdakwa yang divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 16 tahun penjara. Dari balik jeruji besi Penjara Viterbo di daerah Lazio, kepada pembawa acara Storie Maledette, Kisah Orang-orang yang Dikutuk, di stasiun televisi RAI, dua bulan lalu Rudy kembali menegaskan bahwa dia tak bersalah.

Raffaele Sollecito
Foto: Franco Origlia/Getty Images
“Keadilan untuk Meredith belum ditegakkan. Bukan aku pelaku pembunuhan itu, tapi aku satu-satunya yang dipersalahkan.... Aku sadar, tak ada yang akan percaya kepadaku,” kata Rudy seperti dikutip Daily Beast.
Rupa-rupa bukti memang mengarah pada Rudy, yang baru kenal Meredith beberapa pekan. Sidik jari dan jejak DNA Rudy tersebar di kamar Meredith, tempat gadis itu dibunuh. Cerita Rudy soal malam kejadian terus berubah, menambah curiga polisi. Bukan cuma lantaran Rudy tak punya bukti, pintu hukum juga sudah tertutup bagi semua pihak untuk “mencari keadilan”.
Sejak awal, kasus pembunuhan Meredith sudah jadi sirkus media di surat-surat kabar. Surat kabar dan tabloid menguliti habis-habisan segala sudut kehidupan Amanda hingga pojok paling gelap: petualangan seksual dan hobinya mengisap ganja.

Rudy Guede, pembunuh Meredith Kercher
Foto: Franco Origlia/Getty Images
Tapi di pengadilan, bukan gosip, melainkan bukti yang jadi kunci. Semua bukti yang disodorkan jaksa untuk menjerat Amanda Knox dan Raffaele Sollecito, menurut Peter Gill, profesor forensik genetik di Universitas Oslo, Norwegia, memang jauh dari mencukupi. “Sangat... sangat lemah untuk memakai bukti DNA itu untuk menyimpulkan bahwa tersangka menusuk korban dengan pisau tersebut,” kata Profesor Gill kepada Daily Mail.
Bagi yang sudah menonton puluhan episode serial televisi CSI: NY, CSI: Miami, atau Dexter, jangan buru-buru berkhayal menjadi Stella Bonasera atau Horatio Caine. “Bayangan sebagian besar orang soal sains forensik diperoleh dari serial CSI.... Orang berpikir, jika ditemukan DNA di lokasi kejadian, pemiliknya pasti terlibat dalam kejahatan,” kata Profesor Gill. Jangan buru-buru tarik kesimpulan.

Rumah lokasi pembunuhan Meredith Kercher
Foto: Franco Origlia/Getty Images
Padahal ada banyak cara orang meninggalkan jejak DNA. Ketika orang memegang satu barang, kata Peter Gill, ada kemungkinan bakal ada DNA yang menempel. DNA yang menempel pada permukaan barang tersebut bisa pula berpindah ke lain tempat kala ada orang lain memegangnya.
Ada dua bukti DNA yang dipakai polisi untuk membuktikan bahwa Amanda dan Raffaele terlibat dalam pembunuhan Meredith. Pertama, DNA Amanda yang ada di gagang pisau dari dapur Raffaele. Kedua, DNA milik Raffaele yang ditemukan di klip logam pada bra milik Meredith.

Amanda Knox di Pengadilan Banding Perugia, Oktober 2011
Foto: Tiziana Fabi-Pool/Getty Images
Tak cuma sampel DNA yang diperoleh petugas forensik kelewat minim, prosedur pengambilannya juga tak memenuhi kaidah yang betul. Baru beberapa pekan setelah pembunuhan, pisau dan klip bra itu ditetapkan sebagai barang bukti. Lalu apa yang terjadi kala pisau dan klip bra itu dibiarkan tergeletak berhari-hari?
“Maka bakal ada kemungkinan terjadi pencemaran atau transfer DNA,” kata Profesor Gill. Dalil inilah yang jadi dasar pembelaan pengacara Amanda Knox dan Raffaele Sollecito. Di kubu seberang, jaksa penuntut tak punya amunisi memadai untuk melawan tembakan pengacara terdakwa. Amanda dan Raffaele bebas, kasus itu tutup buku, misteri pembunuhan Meredith jadi teka-teki abadi.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.