undefined
image 1 for background / image background
image 2
image 4
image 3

Paid Post

Katakan dengan Selfie

Foto selfie mencerminkan kepribadian empunya. Jangan asal selfie.

Foto: dok. Oppo

Selasa, 9 Februari 2016

Berada jutaan kilometer dari bumi, bahkan wahana Mars Curiosity pun juga bikin foto selfie. Mendarat di Planet Mars tiga setengah tahun lalu, wahana milik Badan Antariksa Amerika Serikat ( NASA) itu mengirimkan 57 foto selfie saat menjelajahi bukit pasir Namib di Planet Merah pekan lalu.

Barangkali tak berlebihan jika diambil kesimpulan bahwa hampir semua orang suka selfie. Pada 2013, "selfie" adalah “word of the year” versi kamus Oxford, lantaran saking sering dipakainya istilah ini. Dalam 12 bulan, menurut Judy Pearsall, redaktur kamus Oxford, frekuensi pemakaian kata “selfie” naik 17 ribu persen.

Selfie Expert
Video: dok. Oppo


Menurut hasil riset bersama Universidade Federal Minas Gerais, Brasil, dan Korea Advanced Institute of Science and Technology, Korea Selatan, jumlah foto selfie di Instagram naik 900 persen dari 2012 ke 2014. Ternyata, di hampir semua negara, jumlah foto selfie lebih banyak diunggah oleh perempuan. Hanya di Nigeria dan Mesir lebih banyak laki-laki yang doyan selfie

Konon, hasrat untuk selfie ini sudah ada lumayan lama. Pelukis kondang asal Belanda, Rembrandt, melukis belasan foto diri sepanjang hidupnya. Foto selfie pertama yang terdokumentasikan adalah foto Robert Cornelius, pelopor fotografi asal Philadelphia, Amerika, pada 1839. Tapi kata “selfie” baru muncul pada 2002 di forum Karl Kruszelnicki, pembawa acara sains asal Australia. Tanda pagar #selfie sudah muncul di Flickr pada 2004, tapi istilah itu baru benar-benar jadi hit pada 2012.


Foto: Getty Images

“Orang menaruh perhatian lebih pada wajahnya ketimbang terhadap bagian lain,” Owen Churches, psikolog di Universitas Flinders, Australia, menduga alasan di balik hobi selfie. Lewat selfie, Terri Apter, psikolog di Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan orang-orang ingin menunjukkan citra diri dan memproyeksikannya kepada orang lain.

Saat kita berpura-pura tampil menjadi orang yang punya kuasa, kita akan merasa seperti orang yang berkuasa."

Percaya atau tidak, menurut riset Lin Qiu dan tim peneliti dari Divisi Psikologi, School of Humanities and Social Sciences, Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, foto selfie mencerminkan kepribadian empunya. Foto selfie, Lin Qiu menulis di jurnal Computers in Human Behaviour pertengahan tahun lalu, bisa menunjukkan apakah seseorang itu simpatik, mudah bekerja sama, terbuka, hati-hati, atau punya mental kurang stabil.

Andrej Karpathy, peneliti di Laboratorium Computer Vision, Universitas Stanford, dan Amy Cuddy, profesor di Sekolah Bisnis Harvard, punya resep supaya foto selfie memberi citra positif. Ingat, citra positif ini mahal harganya.


Foto: Getty Images


“Siapa yang akan direkrut, dipromosikan, atau bahkan sekadar diajak kencan sering ditentukan oleh hal ini,” kata Amy. Dia tak asal omong. Bertahun-tahun Amy meneliti bagaimana bahasa tubuh mempengaruhi cara berpikir. “Saat kita berpura-pura tampil menjadi orang yang punya kuasa, kita akan merasa seperti orang yang berkuasa.” Mau duduk bak CEO, kata Amy, ”Tegakkan badan, bersandar, dan buka bahumu.”

Dalam soal selfie ini, menurut Andrej, jutaan foto di Internet membuktikan, perempuanlah jagonya. Dari 5 juta foto yang dia analisis, 100 foto selfie terbaik dan mendapatkan respons positif terbanyak, tak ada satu pun foto laki-laki.

Ada beberapa “aturan” yang konsisten menghasilkan foto selfie yang disukai banyak orang: wajah selalu mengambil porsi sepertiga foto, sedikit miring, dan posisi wajah ada di tengah atau bagian atas foto. Jika punya rambut panjang, biarkan tergerai di bahu. Selfie dalam kondisi cahaya minim dan foto selfie dengan porsi wajah kelewat besar, kata Andrej, jarang sekali mendapatkan respons positif.


Foto: dok. Oppo


Benar pula bahwa siapa di depan kamera menentukan hasilnya, tapi seperti apa kameranya juga besar andilnya. Selfie tentu kurang asyik jika kameranya juga kurang asyik. Pada Selasa, 2 Februari lalu, Oppo meluncurkan ponsel pintar Oppo F1 di Jakarta. Bersama Xiaomi, Huawei, dan Vivo, Oppo adalah lawan berat Apple dan Samsung di Cina. Sepanjang 2015, mengutip data TrendForce, Oppo menjual 50 juta ponsel di seluruh dunia.


Foto: dok. Oppo


F1, Oppo berpromosi, adalah “ahlinya” selfie. Dengan harga hanya Rp 3,5 juta, F1 punya kamera belakang 13 megapiksel dan kamera “selfie” 8 megapiksel. Dengan ukuran sensor lebih besar, ¼ inci, dan bukaan atau aperture lebih lebar, f/2.0, cahaya yang masuk dan diterima 44 persen lebih banyak ketimbang rata-rata kamera ponsel lain, yang masih menggunakan aperture f/2.4.


Foto: dok. Oppo


F1 juga dibekali fitur Beautify 3.0 supaya hasil foto lebih bersih dan cantik. Pengoperasian kameranya juga lebih simpel lagi berkat fitur kontrol gesture tangan. Tak perlu melambai atau mengepalkan tangan, sensor F1, menurut Suwanto, juru bicara Oppo Indonesia, otomatis akan mendeteksi tangan hanya dalam beberapa detik. Atau bisa pula, ambil posisi selfie paling oke, dan tinggal katakan ”cheese”.


SHARE