SAINS
Sekitar 68 juta tahun silam, hujan asteroid menamatkan dinosaurus di bumi. NASA bersiap menghadapi kiamat asteroid.
Foto: Thinkstock
Ketika meteor kecil menembus atmosfer bumi dan meledak berkeping-keping di atas Kota Chelyabinsk, Rusia, pada pertengahan Februari 2013, sebagian besar otoritas antariksa tersentak. Sebab, kedatangan meteor yang diameternya sekitar 30 meter dan berat berkisar 10 ton sebelum menembus atmosfer bumi ini sama sekali tak terdeteksi.
Radar pertahanan Rusia pun tak bisa mencium kedatangannya. “Semua perangkat kami sama sekali tak memonitor kedatangan meteorit ini,” ujar juru bicara Roscosmos, Badan Antariksa Rusia, seperti dikutip RT kala itu. Beruntung, meteor itu tak menghantam permukiman di tengah kota yang padat penduduk.
Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin, yang bertanggung jawab atas proyek-proyek pertahanan, segera mengajukan proposal sistem pertahanan antariksa baru kepada Perdana Menteri Dmitry Medvedev. “Manusia harus membuat sistem untuk mendeteksi dan menetralkan obyek yang membahayakan kehidupan di bumi,” Rogozin menulis di akun Twitter-nya.
Manusia harus membuat sistem untuk mendeteksi dan menetralkan obyek yang membahayakan kehidupan di bumi."
Sampai detik ini, bukan hanya Rusia, negara-negara paling maju dalam eksplorasi antariksa, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, pun tidak bisa berbuat banyak—tak seperti digambarkan dalam film Armageddon—jika saat ini juga terdeteksi ada meteor berdiameter 50 meter akan jatuh di Kota New York.
Anggota Kongres Amerika dari Partai Republik, Bill Pose, bertanya kepada Kepala Badan Antariksa Amerika (NASA) Charles Bolden pada akhir Maret 2013, apa yang bisa dilakukan NASA jika mereka mendeteksi asteroid akan jatuh di bumi tiga pekan lagi. “Jawaban untuk Anda, jika itu terjadi tiga minggu lagi, adalah berdoa,” kata Charles, seperti dikutip Fox, dengan nada serius. “Kenapa kami tak bisa melakukan apa pun dalam tiga minggu? Sebab, selama puluhan tahun kita telah menghentikan program tersebut.”
Jenderal William Shelton, Kepala Komando Antariksa Angkatan Udara Amerika, juga tak memberikan kabar menenangkan. “Dengan kemampuan kita saat ini atau beberapa tahun ke depan, sangat kecil kemungkinan kita bisa mendeteksi kedatangan asteroid berdiameter kurang dari 100 meter dalam waktu lebih dari satu minggu,” katanya.
Foto: space.com
Foto: Racnetul
Sebenarnya sudah lama NASA mengintip langit di atas sana, memetakan benda-benda langit yang bisa menjadi ancaman bagi kehidupan di bumi. Meneruskan survei sejak 1998, pada 2005 Kongres Amerika memerintahkan NASA mencari dan memetakan pergerakan asteroid yang berdiameter lebih dari 140 meter dan berpotensi membahayakan kehidupan di bumi hingga tahun 2020.
Sebagian besar asteroid yang berdiameter lebih dari 1 kilometer sudah terpetakan dan terus dipantau pergerakannya, tapi asteroid yang berukuran lebih kecil masih banyak sekali yang belum terendus. Saat ini, ada lebih dari 13.500 asteroid yang posisinya terus diamati oleh teleskop dan satelit NASA.
“Asteroid dan serpihan komet sebesar kerikil menghujani bumi setiap hari,” kata Kelly Fast, Manajer Program Obyek Dekat Bumi di NASA, kepada Space. Total berat kerikil-kerikil antariksa yang membombardir bumi setiap hari bisa lebih dari 300 ton. Sebagian besar kerikil itu terbakar saat bergesekan dengan atmosfer bumi.
Sekitar 68 juta tahun silam, hujan asteroid pernah menamatkan sebagian besar kehidupan di bumi. Pada 1908, asteroid yang ditaksir berdiameter 40 meter terbakar di atas Sungai Tunguska, Siberia, dan meratakan hutan seluas 2.000 kilometer persegi. Apa jadinya jika asteroid itu menghajar Kota Moskow atau kota lain sebesar New York?
Kendati kecil kemungkinan bakal terjadi besok, pekan depan, atau bulan depan, petaka yang bersumber dari hujan batu antariksa ini bukan sekadar khayalan sutradara-sutradara Hollywood. Hujan asteroid seperti di Sungai Tunguska, menurut Rusty Schweickart, mantan astronot NASA dan pendiri Yayasan B612, rata-rata terjadi 300 tahun sekali. Rusty dan teman-temannya di Yayasan B612 berfokus meneliti potensi bencana yang bersumber dari benda-benda langit.

Foto: The Sun
Ancaman dari langit ini rupanya dipandang sangat serius oleh Gedung Putih. Pada 2013, Presiden Barack Obama menyetujui alokasi anggaran sebesar US$ 105 juta atau Rp 1,02 triliun untuk proyek “menangkap” asteroid dan menyeretnya ke orbit di dekat bulan. Sehingga para astronom NASA bisa lebih gampang mempelajari karakteristik asteroid itu.
Keck Institute for Space Studies di Pasadena pernah menaksir dana yang dibutuhkan untuk proyek menyeret asteroid ini sebesar US$ 2,6 miliar atau Rp 25,3 triliun. Namun, dengan semua teknologi yang sudah dimiliki NASA, Elizabeth Robinson, Direktur Keuangan NASA, menaksir anggaran proyek tersebut bisa jauh ditekan.
Pekan kedua Januari lalu, NASA meresmikan Kantor Koordinasi Pertahanan Planet. Kantor NASA inilah yang akan mengendalikan semua program dan proyek yang berhubungan dengan segala macam bahaya dari benda langit. “Kejadian di Chelyabinsk dan hujan asteroid pada Oktober 2015 mengingatkan kita supaya waspada terhadap bahaya dari atas sana,” kata John Grunsfeld, petinggi NASA.
Jika ada asteroid besar akan menabrak bumi, apa yang bisa dilakukan manusia? NASA mempersiapkan dua skenario.
Foto: The Movie Theme Song
Jumat, 29 Januari 2016
Bumi di ambang kiamat. Ada asteroid sebesar Kota Texas dalam perjalanan menabrak bumi. Kehidupan di bumi terancam punah persis seperti kejadian 68 juta tahun lampau. Manusia hanya punya waktu 18 hari untuk mencari cara menyelamatkan diri.
Alkisah, jago ngebor minyak di laut dalam, Harry Stamper, dan timnya dipanggil untuk misi penyelamatan bumi. Mereka akan dikirim ke antariksa dan ditugasi mengebor asteroid, lalu menanam dan meledakkan bom nuklir tepat di “jantung” asteroid itu. Misi Stamper sukses, walaupun harus dibayar dengan nyawa mereka, dan bumi selamat.
Kisah heroik penyelamatan bumi oleh Harry Stamper memang hanya cerita di layar bioskop, dalam film Armageddon, yang tayang 17 tahun silam. Tapi, menurut Ben Hall, Gregory Brown, Ashley Back, dan Stuart Turner, keempatnya merupakan mahasiswa pascasarjana di University of Leicester, Inggris, cara penyelamatan bumi dari tumbukan asteroid ala film Armageddon ini tak akurat.
Ben Hall dan ketiga kawannya 14 tahun lalu menguji kebenaran film Armageddon, yang dibintangi Bruce Willis dan Ben Affleck. Di film itu, Harry Stamper, yang diperankan Bruce, menjadi pahlawan penyelamat dunia setelah berhasil meledakkan asteroid yang bakal menamatkan kehidupan di bumi.

Foto: space.com
Ben Hall dan kawan-kawannya menghitung, jika asteroid itu benar-benar ada sekarang, apa yang dilakukan Harry Stamper dan timnya itu tak bakal bisa menyelamatkan kehidupan di bumi. Menurut Ben, untuk menghancurkan atau membelokkan arah asteroid sebesar itu, perlu ledakan bom berkekuatan 800 triliun terajoule.
Padahal, sampai hari ini, ledakan bom paling besar sepanjang sejarah hanya 418 ribu terajoule, yakni saat Uni Soviet menguji coba bom hidrogen "Big Ivan" pada 1961. Artinya, perlu hampir 2 miliar kali bom "Big Ivan" yang diangkut Harry Stamper dan timnya untuk mencegat asteroid raksasa itu. Hal yang tak mungkin bisa dilakukan hari ini.
Jika ada asteroid yang mengancam kehidupan sebagian besar manusia di bumi, jelas tak akan jadi soal mengumpulkan biaya untuk meluncurkan 100 kinetic impactor."
"Aku menikmati film Armageddon dan sebelumnya tak pernah memikirkan apakah film itu masuk akal menurut sains," kata Ben, kepada Space, beberapa waktu lalu. "Tapi, setelah beberapa kali menonton ulang, aku makin skeptis terhadap film itu."
Kendati misi heroik Bruce Willis hanya imajinasi sutradara Hollywood, bukan berarti ancaman asteroid terhadap kelangsungan kehidupan di bumi itu hanya omong kosong. Sepanjang sejarah, sudah berkali-kali terjadi bencana yang bersumber dari benda-benda langit. Pada 1908, asteroid yang ditaksir berdiameter 40 meter terbakar di atas Sungai Tunguska, Siberia, dan meratakan hutan seluas 2.000 kilometer persegi, empat kali luas Jakarta.
Michael Paine, peneliti asal Australia, menghitung, selama 10 ribu tahun, bumi sudah dihantam asteroid seukuran asteroid yang jatuh di Tunguska sebanyak 350 kali atau rata-rata setiap 30 tahun sekali. Pada awal April 1490, asteroid meledak berkeping-keping di atas Kota Qingyang, kini berada di Provinsi Gansu, Cina, menyebabkan hujan batu dan menewaskan ribuan orang.
Meminjam kalkulator benturan asteroid yang dibuat oleh peneliti di Universitas Arizona, tumbukan asteroid berdiameter 1 kilometer dengan bumi akan melepaskan energi kinetik setara dengan ledakan 0,1 juta megaton TNT dan menghasilkan kawah dengan garis tengah 24 kilometer. Seandainya asteroid itu menghunjam ke tengah laut, akan memicu tsunami hingga radius ratusan kilometer.
Meski kecil kemungkinan tumbukan itu terjadi dalam waktu dekat, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), juga Badan Antariksa Eropa (ESA), menganggap potensi bencana dari benda langit ini sangat serius. Mereka terus mencari, memetakan, dan membuntuti puluhan ribu asteroid dari jutaan asteroid di langit yang berpotensi mendekati atau menabrak bumi.
NASA dan ESA juga meneliti rupa-rupa teknologi untuk membelokkan arah atau menghancurkan asteroid jika benda langit itu benar-benar ada di jalur yang bakal bersimpangan dengan orbit bumi. Bong Wie, peneliti di Asteroid Deflection Research Center, Universitas Negeri Iowa, yakin bahwa meledakkan asteroid dengan bom nuklir ala Armageddon adalah cara terbaik berkelit dari petaka.
Bong dan teman-temannya merancang Hypervelocity Asteroid Intercept Vehicle (HAIV) untuk mencegat asteroid. Bedanya dengan Armageddon, HAIV tak perlu Harry Stamper dan timnya. “Tak perlu ada astronot karena ini misi tanpa awak,” kata Bong kepada Mother Jones. HAIV terdiri atas dua modul. Modul pertama berfungsi membuat kawah di asteroid. Modul kedua mengangkut bom nuklir untuk diledakkan di kawah tersebut. Bong menaksir, misi Armageddon versinya perlu ongkos US$ 1 miliar atau hampir Rp 14 triliun.

Foto: JPL-NASA
Sampai detik ini, NASA masih mempertimbangkan dua pilihan untuk menangkal tabrakan dengan asteroid: membelokkan arah atau meledakkannya. Beberapa bulan lalu, NASA dan ESA mulai menggarap proyek bersama Asteroid Impact & Deflection Assessment. Yang jadi obyek percobaan pembelokan asteroid ini adalah Didymoon, yang berdiameter 160 meter. Menurut Patrick Michel, Kepala Proyek Misi Pembelokan Asteroid-ESA, mereka akan menghitung berapa besar gaya yang diperlukan untuk membelokkan arah asteroid.
Ukuran Didymoon jauh lebih kecil daripada asteroid versi Armageddon. Jika ukuran asteroid kelewat besar, bakal sangat sulit untuk membelokkan arah asteroid dengan menabrakkan wahana kinetic impactor. Apalagi jika waktu yang dimiliki kelewat singkat. Ed Lu, mantan astronot NASA dan pendiri Yayasan B612, tetap percaya hal itu bisa dilakukan. “Kita bisa menghantamnya dengan 10 atau bahkan 100 kinetic impactor,” kata Ed Lu. Soal biaya tak jadi soal. “Jika ada asteroid yang mengancam kehidupan sebagian besar manusia di bumi, jelas tak akan jadi soal mengumpulkan biaya untuk meluncurkan 100 kinetic impactor.”
Kalau ukuran asteroid sangat besar, sebagian peneliti berpendapat, pilihan terbaik barangkali adalah meledakkannya dengan bom nuklir. Usul Megan Syal dan timnya sedikit berbeda dari skenario HAIV versi Bong Wie. Bom nuklir dikirim dan diledakkan di dekat asteroid. “Hujan neutron dan sinar-X akan memanaskan permukaan asteroid dan ledakan asteroid akan membelokkan arahnya,” kata Megan, peneliti di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, seperti dikutip National Geographic.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.