Foto: Thinkstock

Penulis: Sapto Pradityo

Rabu, 27 Januari 2016

Sejak beberapa minggu lalu, Ammon Bundy, 40 tahun, berencana mengerek bendera “perang” di Kota Burns, Harney, Negara Bagian Oregon, Amerika Serikat. Ammon, seorang Mormon religius, mengklaim bertindak lantaran mendapat perintah dari Tuhan.

Pengusaha bengkel alat-alat berat itu datang jauh-jauh dari Arizona ke Oregon untuk “memperjuangkan” nasib para peternak dan petani Oregon serta keluarga Hammond. Pengadilan Amerika menghukum Dwight Hammond dan anaknya, Steven Hammond, lima tahun penjara lantaran terbukti memicu kebakaran hutan. Hammond berdalih, mereka sengaja membakar semak-semak guna mencegah meluasnya kebakaran hutan.

Foto: Reuters

Foto: Reuters

Suatu pagi, Ammon menuturkan, dia terbangun dari tidur dan merasa seperti mendapat “perintah” untuk membantu keluarga Hammond. Sejak hari itu, dia mulai meneliti kasus Hammond dan menggalang dukungan.

Kami sudah tinggal di sini lebih lama. Hak kami atas tanah ini sudah ada sebelum Biro Pertanahan lahir."

“Aku mulai paham bagaimana perasaan Tuhan soal kasus keluarga Hammond, soal apa yang terjadi di Harney,” kata Ammon, kepada Oregon Live, beberapa pekan lalu. “Aku makin terang mengapa Tuhan tak senang terhadap apa yang terjadi pada keluarga Hammond.... Jika kejadian itu tak diluruskan, kasus itu juga akan menimpa orang lain di negeri ini.”

Apa yang terjadi pada Dwight Hammond dan anaknya, kata Ammon, mirip apa yang menimpa keluarganya sendiri. Dua tahun lalu, ayahnya, Cliven Bundy, menabuh genderang “perang” melawan petugas dari Biro Pertanahan Amerika Serikat. Kakek Cliven, kini 69 tahun, menolak mentah-mentah permintaan Biro Pertanahan untuk menggiring sapi-sapinya keluar dari tanah pemerintah.

Cliven Bundy, yang punya 14 anak dan puluhan cucu, juga menolak membayar tagihan retribusi untuk sapi-sapinya yang merumput di tanah pemerintah beserta dendanya, yang sudah melampaui US$ 1,2 juta atau Rp 16,7 miliar. “Keluargaku datang ke daerah ini pada akhir 1800-an.... Mereka menjinakkan alam yang ganas dan memanfaatkannya untuk bertahan hidup,” kata Ammon.

Ammon Bundy dalam wawancara dengan awak media. 
Foto: Reuters

Sudah ratusan tahun tinggal di Negara Bagian Nevada, Cliven dan anak-anaknya tak paham mengapa mereka tak lagi bebas menggembala ratusan sapi miliknya. “Kami sudah tinggal di sini lebih lama. Hak kami atas tanah ini sudah ada sebelum Biro Pertanahan lahir,” kata Cliven Bundy kepada CNN. “Aku mencintai tanah ini... aku juga cinta kebebasan dan kemerdekaan.”

Todongan senjata petugas Biro Pertanahan untuk mengusir sapi-sapi di lahan pemerintah dihadapi pula dengan bedil di tangan “milisi” pendukung peternak Nevada. Khawatir terjadi pertumpahan darah, petugas Biro Pertanahan memilih mundur. “Kami memenangi pertempuran,” seorang anak Cliven bersorak, merayakan mundurnya petugas pemerintah, kala itu.

Keluarga Hammond, menurut Ammon, juga bisa merebut “kemenangan” seperti yang sudah dinikmati keluarga Bundy. “Aku tahu.... Seandainya punya keberanian, mereka akan bisa merasakan kebebasan. Kebebasan seperti yang aku, ayahku, saudara-saudaraku, dan ibuku nikmati di peternakan,” kata Ammon.

Aku mencintai tanah ini... aku juga cinta kebebasan dan kemerdekaan."

Bersama dua kakaknya, Ryan Bundy dan Mel Bundy, beserta belasan pendukung gagasannya, Ammon berangkat ke Oregon. Sebagian dari mereka pergi sembari menyandang senapan. Sejak awal Januari lalu, Ammon dan “milisi bersenjata”-nya menduduki kantor Suaka Margasatwa Nasional Malheur, di Kota Burns, Oregon.

Ammon mengajak warga Amerika lain bergabung dengan “perjuangan”-nya melawan “tirani pemerintah”. Ammon dan kawan-kawannya menuntut dua hal, yakni pengurangan hukuman bagi Dwight Hammond dan anaknya, Steve Hammond, serta pelonggaran akses pemanfaatan sumber daya dalam suaka margasatwa serta taman nasional bagi para peternak, petani, dan penebang pohon. Mereka menuntut supaya wargalah yang pegang kendali atas sebagian tanah yang dikuasai negara.

Blaine Cooper dan teman-temannya merasa terancam oleh “invasi” kebijakan-kebijakan pemerintah. “Pemerintah bertanggung jawab atas kerusakan terbesar di dunia,” kata Blaine Cooper, anggota “milisi” Ammon Bundy asal Kota Humboldt, Arizona, kepada USAToday.

Foto: Reuters

Ron Washum, 63 tahun, asal Fountain Hills, Arizona, curiga pemerintah ingin terus mencaplok tanah milik rakyat Amerika supaya bisa menguasai mineral dalam perut bumi. “Makanya mereka mengusir para peternak dari tanahnya,” kata Ron. Lantaran merasa terancam, Ron tak ragu ikut “angkat senjata” melawan kebijakan pemerintah. “Jika pemerintah saja tak taat, lalu mengapa rakyat harus tunduk pada hukum?”

Lewat sepekan setelah pendudukan, Kepala Kepolisian Harney David Ward menawarkan “jalan mundur” bagi Ammon dan kawan-kawannya. Mereka bisa pulang ke rumah tanpa menghadapi tuntutan hukum. “Kami belum menerima tawaran itu. Tidak saat ini.... Kami akan keluar dari negara bagian ini sebagai orang yang bebas,” kata Ammon. Dia tak berniat pulang ke Arizona sebelum tuntutannya terpenuhi.

“Kami bukan orang jahat. Kami patriot dan mencintai negeri ini,” kata Debra Carter Pope, juru masak untuk “milisi” Ammon. Sejauh ini, polisi dan Biro Investigasi Federal (FBI) menghindari bentrokan langsung dengan “pasukan” Ammon dan milisi lain. Kelompok-kelompok bersenjata itu juga “tahu diri”, tak berkeliaran di jalan.

Kami bukan orang jahat. Kami patriot dan mencintai negeri ini."

Kota Burns jadi seperti Amerika pada masa Wild West. Orang-orang berdatangan dari sejumlah daerah sembari menenteng rupa-rupa senjata. Puluhan anggota Pacific Patriot Network dan Idaho 3% berduyun-duyun ke Oregon dengan niat lain. Mereka, kata Brandon Rapolla, anggota Pacific Patriot, datang untuk mencegah pertumpahan darah seperti kasus Waco, Texas, pada 1993. Kala itu, FBI menyerbu markas kelompok David Koresh dan menewaskan 86 orang, termasuk 23 anak-anak.

Ironis bagi Ammon dan “pasukan”-nya, keluarga Hammond malah tak mendukung perlawanan mereka. “Aku khawatir keluarga kami tersangkut gerakan itu. Padahal sama sekali tak benar. Aku berharap mereka tak datang ke wilayah kami.... Memberikan dukungan kepada keluarga kami satu hal, tapi bikin rusuh itu hal lain,” Dwight Hammond menulis pernyataan.


INTERMESO


Kakek Bundy Lawan Pemerintah


Foto: Getty Images

Penulis: Sapto Pradityo

Rabu, 27 Januari 2016

“Wilayah kami mungkin tempat paling bebas di dunia,” Cliven Bundy, 69 tahun, seolah-olah mendeklarasikan kemerdekaan daerahnya. Mengenakan celana jins biru ketat, dengan kemeja lengan panjang dan topi lebar, kakek puluhan cucu itu duduk santai di teras rumah kayu sembari memandang hamparan tanah luas miliknya di Clark, Nevada. Gayanya mirip dengan para koboi pada masa Wild West.

Di Negara Bagian Nevada, Bundy punya puluhan ribu hektare tanah, sebagian besar berupa tanah berbatu dan gersang. Di tanahnya yang lapang itulah selama puluhan tahun Bundy memelihara lebih dari 500 sapi. “Aku menjalankan peternakan, menghasilkan daging merah.... Itulah yang aku kerjakan,” kata Bundy kepada Guardian beberapa bulan lalu.

Foto: Getty Images

Cliven Bundy
Foto: Getty Images

Bundy mengklaim, keluarganya tinggal dan beternak di daerah itu sejak 1877. Tak ada yang mengganggu kebebasan sapinya berkeliaran hingga, pada 1989, Badan Perlindungan Satwa Liar dan Ikan memasukkan kura-kura gurun sebagai satwa yang terancam punah. Yang jadi soal, sebagian besar tanah pemerintah yang jadi habitat kura-kura gurun ini merupakan ladang penggembalaan sapi.

Mereka berniat menyingkirkan semua peternakan dari wilayah selatan Nevada.... Mereka punya kekuasaan dan menyalahgunakannya."

Atas nama kelestarian kura-kura gurun, Biro Pertanahan Amerika melayangkan surat kepada Bundy dan peternak lain di Nevada. Mereka diminta segera menggiring sapi-sapinya keluar dari 1,7 juta hektare lahan yang jadi habitat kura-kura gurun. Tapi Bundy dan teman-temannya menganggap surat Badan Perlindungan Satwa Liar seperti angin lewat.

Jika tak diperkenankan menggembala di padang rumput pemerintah, Bundy dan peternak sapi lain bakal kesulitan memberi makan kawanan ternaknya. “Pemerintah hanya ingin mengontrol kami. Tapi aku tak akan membiarkan kami dikontrol,” kata Keith Nay, peternak lain di Nevada yang satu suara dengan Bundy. Dia curiga, pemerintah hanya ingin mencaplok tanah-tanah di Nevada.

Tak cuma menolak menggebah pergi sapi-sapinya, Bundy juga menolak membayar retribusi atas sapi-sapinya yang merumput di tanah pemerintah. Dia membiarkan denda atas tagihan yang terbayarkan itu terus menumpuk hingga lebih dari US$ 1,2 juta atau Rp 16,7 miliar.

Foto: Getty Images

“Mereka berniat menyingkirkan semua peternakan dari wilayah selatan Nevada.... Mereka punya kekuasaan dan menyalahgunakannya,” Bundy menunjuk hidung pejabat Biro Pertanahan, kala itu. “Apa yang mereka lakukan sama persis dengan kartel narkoba Meksiko, yang memaksa orang menyetor uang supaya boleh tinggal di propertinya sendiri.”

Segala cara ditempuh pemerintah untuk memaksa Bundy dan para peternak supaya mau menggiring pergi sapi-sapinya dan membayar retribusi merumput. Petugas dikerahkan untuk mengusir sapi, Bundy dan para peternak yang bandel diseret ke pengadilan. Tapi semua cara itu tak banyak hasilnya. Sekalipun hakim pengadilan memutus mereka bersalah, Bundy dan pendukungnya tetap membandel, ngeyel.

Selama puluhan tahun, Bundy membangkang dari perintah petugas. “Kami tak mengakui otoritas Biro Pertanahan,” kata Bundy. “Perlawanan” Bundy dan para peternak Nevada mengundang simpati sejumlah orang dari negara bagian lain. Ketika Biro Pertanahan berniat menangkap sapi-sapi yang merumput di tanah negara hampir dua tahun lalu, mereka datang ke Nevada dengan memanggul senapan dan sebagian lagi menyandang pistol di pinggul.

Aku siap menarik pelatuk jika mereka mulai menembak."

“Aku siap menarik pelatuk jika mereka mulai menembak,” ujar seorang pendukung Bundy seperti dikutip The Atlantic. Todongan senjata petugas Biro Pertanahan melawan “milisi” bersenjata pendukung peternak Nevada. Khawatir terjadi pertumpahan darah, petugas Biro Pertanahan memilih mundur. “Kami telah memenangi pertempuran,” seorang anak Bundy bersorak, merayakan mundurnya petugas pemerintah.

Tapi “perang” antara “milisi” Bundy dan pemerintah Nevada sepertinya masih bakal panjang. “Ini belum selesai. Kita tak boleh membiarkan warga Amerika melanggar hukum dan melenggang begitu saja.... Jadi masalah ini belum selesai,” kata Senator Harry Reid kepada Washington Post.

Sudah hampir dua tahun Bundy menikmati kebebasan di tanahnya. Tak ada petugas yang datang mengusir sapi-sapinya, tak ada pula petugas yang datang menagih utang retribusi merumput. Sebagian besar anggota “milisi” pendukung Bundy juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Helikopter milik Biro Pertanahan yang biasanya terbang berputar-putar mengawasi ternak-ternak yang merumput di tanah negara juga sudah lama tak tampak.

Foto: Getty Images

Well, sepertinya kami menang,” kata Bundy kepada Guardian, santai. Kakek Bundy seperti tak punya beban pikiran kendati punya utang retribusi belasan miliar rupiah. Dia memang tak berniat membayar utang itu satu sen pun. Dia mengklaim, “perjuangan”-nya merupakan perjuangan rakyat Amerika melawan tirani kekuasaan. “Aku pikir ini bukan perang yang dimenangi oleh Cliven Bundy, tapi pertempuran yang dimenangi oleh rakyat Amerika.”

Seperti bapak, demikian pula sang anak. “Menang perang” di Nevada, sekarang giliran Ammon Bundy, 40 tahun, sang anak, yang menabuh genderang perang melawan pemerintah Amerika di Negara Bagian Oregon. Sejak awal Januari lalu, Ammon dan “milisi bersenjata”-nya menduduki kantor Suaka Margasatwa Nasional Malheur, di Kota Burns, Oregon.

Ammon dan kawan-kawannya menuntut dua hal, pengurangan hukuman bagi Dwight Hammond dan anaknya, Steve Hammond, serta pelonggaran akses pemanfaatan sumber daya dalam suaka satwa dan taman nasional bagi warga setempat. Dwight dan Steve dihukum penjara 5 tahun lantaran terbukti menyebabkan kebakaran hutan. “Pemerintah bertanggung jawab atas kerusakan terbesar di dunia,” kata Blaine Cooper, anggota “milisi” Ammon Bundy asal Kota Humboldt, Arizona, kepada USAToday. Dia merasa terancam oleh “invasi” kebijakan-kebijakan pemerintah.


Editor: Sapto Pradityo
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengankekinian.

SHARE