METROPOP
“Pekerjaan ini sangat potensial. Masalahnya, ada enggak yang mau bayar kita?”
Cherry merias seorang aktris sebelum pengambilan gambar sebuah film.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Selasa, 29 November 2016Terlibat dalam syuting film horor kadang ada “risiko”-nya. Boleh percaya, tak masalah pula jika tak percaya. Apa yang dialami Cherry Wirawan ini boleh jadi memang terdengar seperti takhayul.
Cherry, 36 tahun, punya pengalaman aneh. Suatu kali, saat pengambilan gambar film Kuntilanak 1 beberapa tahun lalu, Cherry tengah merias pemeran hantu dalam film itu. Tugas dia memang membuat bintang film cantik seperti Julie Estelle tampak menyeramkan. Tiba-tiba dia mencium harum bunga melati.
“Ternyata bukan saya saja yang mencium bau melati. Sudah deh, saya enggak berani melanjutkan dulu. Setelah hilang baunya, baru saya lanjutkan lagi,” Cherry menuturkan pengalamannya. Yang kemudian terjadi bak kisah di film horor. “Eh, malah saya yang kena kesurupan…. Saya jadi tak sadar diri. Setelah bangun, badan lemas. Anggota tim yang lain bilang saya meracau enggak jelas.”
Sudah belasan tahun menjadi seniman rias dan efek khusus di film, Cherry punya banyak pengalaman tak terlupakan. Laki-laki kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini sebenarnya tak pernah mimpi menjadi seniman rias. Setelah lulus dari SMA 3 Tegal, Cherry punya mimpi seperti anak-anak lain. Kuliah di kampus besar, lulus, dan punya karier cemerlang. Dia ingin kuliah di Universitas Indonesia dan menjadi tokoh sukses seperti alumni kampus itu. Dari Tegal, Cherry berangkat ke Ibu Kota negara, Jakarta, seorang diri. Apa daya, dia gagal lolos ujian masuk Universitas Indonesia.

Cherry Wirawan di samping meja kerjanya.
Eh, malah saya yang kena kesurupan…. Saya jadi tak sadar diri. Setelah bangun, badan lemas.”
Uang saku di kantong makin tipis. Tapi dia tak mau minta uang dari kampung karena usaha milik ayahnya juga sudah bangkrut. Untuk bertahan hidup, Cherry memutuskan mengamen. Ditemani dua orang temannya, ia mengamen dari satu bus ke bus lain.
Lantaran tak cakap bernyanyi, Cherry yang punya pengalaman bermain teater di SMA memilih bermonolog komedi dengan mengangkat isu-isu politik. Kebetulan kala itu sedang panas-panasnya masa reformasi. “Biasa kan, orang menerima pengamen ogah-ogahan. Saya pernah mengamen sampai penumpang satu bus berdiri tepuk tangan. Orang tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata,” kata Cherry.
Melihat penontonnya begitu terhibur, Cherry baru menyadari ia memiliki bakat terpendam dalam hal berakting. Mencoba peruntungan, Cherry mendaftarkan diri ke kelompok teater di Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Sejak saat itu, ia kerap bermain dari satu kelompok teater ke teater lain. Cherry juga sempat bergabung di Teater Mandiri yang diasuh Putu Wijaya.
Meski diakuinya bermain teater tidak bisa dijadikan sumber penghasilan. Uang. Ada satu wejangan yang membekas di benaknya. “Salah satu sutradara bilang kepada saya, cari semua ilmu yang bisa kamu dapatkan di sini semaksimal mungkin. Karena kamu tak akan tahu kalau ilmu itu akan berguna di masa depan,” katanya menirukan.
Patuh pada nasihat sang sutradara, Cherry mulai mencari keahlian selain berakting di atas panggung. Setiap kali menunggu giliran tampil, Cherry memperhatikan kesibukan perias aktor dan aktris memoles wajah tokoh agar sesuai dengan karakter yang dimainkan. Biasanya, dalam tiga jam, mereka harus merias hingga 30 orang sekaligus. Meskipun tak memiliki keahlian menggambar atau rias muka, iseng-iseng Cherry mulai membantu merias wajah tokoh.
Bersimpati pada antusiasme Cherry, penulis novel sekaligus sutradara Djenar Maesa Ayu, yang kala itu berada satu pementasan dengannya, menghadiahkan seperangkat alat makeup. Bukan hanya ilmu rias panggung yang ia pelajari, Cherry mulai mendalami tata rias untuk kecantikan.
Setiap ada pementasan besar di Gedung Kesenian Jakarta yang disponsori produk kecantikan, Cherry selalu memanfaatkan kesempatan itu sebagai rujukan belajar. Cherry makin percaya diri dengan kemampuannya. Pada 2003, Cherry memberanikan diri terjun di bisnis rias muka.
“Saya percaya diri karena menguasai dasar ilmu rias panggung. Kalau rias teater kan harus strong, kuat. Untuk rias kecantikan atau foto, tinggal menghaluskan sedikit saja,” kata Cherry. Berkat pengalamannya, dia pernah menjadi pengajar di Make Up for Ever Academy.

Cherry (kiri) dan hasil rias efek spesialnya (tengah)
Perkenalannya dengan Anwar Gepeng-lah yang membelokkan minat Cherry. Lewat Anwar, dia berkenalan dengan dunia makeup karakter dan special effect atau efek khusus. Trik rias ini digunakan untuk memanipulasi wajah atau penampilan, misalnya memberi kesan luka atau memar-memar. Bisa pula dipakai untuk menciptakan karakter bergaya fantasi, seperti monster, zombie, hantu, atau alien.
Rias efek khusus seperti itu, menurut Cherry, tak semata-mata mengandalkan keahlian rias, tapi juga butuh pengetahuan biologi dan kimia. Misalnya, untuk membuat efek khusus agar mengesankan penderita kanker, ia harus terlebih dulu mempelajari organ tubuh yang terkena dampak kanker dan perubahannya. Atau ketika ia membuat prostetik makeup, maka Cherry harus paham betul bahan-bahan kimia yang boleh dicampurkan.
Umumnya Cherry menggunakan bahan seperti silikon, gelatin, atau lateks. Lalu dicetak di bagian wajah atau tubuh yang ingin dibentuk. Material yang telah mengering dibentuk dengan teknik mematung sesuai dengan kebutuhan karakter. Tahap terakhir adalah pemasangan prostetik pada wajah atau tubuh.
“Kalau prostetik sudah ditempel, mau buat apa saja bisa…. Mau buat tampilan memar, tinggal kasih warna merah, cokelat, atau hitam,” kata Cherry. Tak sia-sia Cherry menekuni ilmu membuat efek khusus ini. Sudah puluhan film yang memakai jasanya, misalnya Kuntilanak 1, Jenderal Soedirman, Pinky Promise, dan Soekarno.

Untuk membuat efek khusus film horor, Cherry lebih senang mencari inspirasi dari buku atau video di YouTube. Di rumah mereka, menurut Agustin, istri Cherry, terdapat ruang berisi patung-patung prostetik yang pernah dibuat Cherry saat syuting film. Patung itulah yang ia gunakan untuk berlatih dan uji coba rias efek khusus yang baru.
“Ada patung Ira Maya Sopha, Alexandra Gottardo, dan lain-lain. Nah, dia sering pakai itu buat eksperimen bikin luka atau lebam baru. Walaupun sekarang karyanya sudah terbukti, dia enggak berhenti belajar supaya bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda,” ujar Agustin.
Dalam satu tahun, Cherry bisa mendapatkan lima proyek film. Namun, menurut Cherry, banyak pula produser film yang enggan memakai jasa seniman efek khusus lantaran anggaran yang cekak. Ongkos membuat rias efek khusus ini memang tak murah. Untuk membuat satu karakter prostetik saja, kadang perlu duit Rp 35-150 juta. Sebab, sebagian besar material yang digunakan Cherry masih diimpor dari Amerika Serikat. Kalaupun ada barang lokal, dia khawatir terhadap keamanannya.
“Masih banyak yang menyepelekan. Ada yang bilang, ‘Ah, gampanglah, enggak usah pakai efek khusus.’ Pekerjaan ini sangat potensial. Masalahnya, ada enggak yang mau bayar kita?” kata Cherry. Selain proses pembuatan efek yang lumayan rumit, seniman efek seperti Cherry harus terus mengikuti adegan demi adegan. Misalnya saat dia terlibat dalam pengambilan gambar film Jenderal Soedirman. “Dalam film itu, Jenderal Soedirman mengalami perubahan penampilan berulang kali…. Saat dia masih muda, sakit, hingga terjun bergerilya, riasnya terus berubah.”
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.