METROPOP
“Kalau adrenalin naik, deg-degan, bikin apa pun pasti jadi
dan makin on fire.”
Fadli mengembuskan uap vape.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Sambil menggenggam vaporizer alias rokok elektrik, Fadli Jamal Mahfudz tarik napas dalam-dalam. Bak seekor naga, perlahan uap tebal melingkar menyerupai gelang besar menyembur dari mulutnya. Cincin uap itu melingkar-lingkar, melayang di udara.
Atraksi Fadli, 19 tahun, menyedot perhatian pengunjung East Side Vape Store, di Jalan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Pengunjung East Side, yang semula asyik mengobrol, mengalihkan pandangannya pada Fadli. Dentuman musik elektro bertalu-talu, makin memacu adrenalin Fadli. Namun raut mukanya tetap cool.
Fadli kembali mengembuskan uap tebal, tapi kali ini berukuran lebih kecil. Ajaib, seperti ada yang mengarahkan, kedua gelang uap itu menyatu dan menyerupai ubur-ubur. Seorang pengunjung East Side berdiri mematung, bagai terhipnosis kepiawaian Fadli memainkan uap vaporizer.
Vape trick berbentuk Jelly Fish Ring yang tergolong sulit ini dapat dengan mudah Fadli lakukan. Padahal, saat ia berkenalan dengan “rokok uap”, membentuk asap yang paling sederhana saja sangat sulit dia praktekkan. Untuk bisa membuat uap berbentuk cincin saja, misalnya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta, itu butuh waktu dua minggu.
Saya enggak pernah menyentuh lagi yang namanya rokok.”
Rangga Bayu TriachyaniTrik Vape

Fadli beratraksi di East Side Vape Store, Jalan Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Keahlian membuat uap melingkar-lingkar itu dia pelajari sendiri hanya bermodal menonton video di YouTube. “Mulut dibentuk huruf O dan kita harus seperti sedang batuk untuk mendorong asapnya. Kalau tak terbiasa, susah melakukannya,” ujar Fadli.
Sudah beberapa tahun terakhir “rokok uap” ini jadi tren. Kafe-kafe vape bermunculan. Ada yang menjadikan sedot uap ini sebagai pengganti rokok, tapi ada pula orang-orang baru, orang-orang yang tak pernah kenal rokok sebelumnya. Fadli salah satunya. Dia bukan perokok. Sebelum kenal vape, Fadli hanya sesekali menyedot shisha.
Suatu kali ia menemukan sebuah pembahasan mengenai vape di Kaskus. Ada yang bilang menyedot uap ini tak berbahaya, tak seperti rokok. Fadli membeli vaporizer berbentuk pulpen seharga Rp 250 ribu. Tapi uap dari rokok elektrik ini tak setebal yang dia mau. Fadli beralih ke vaporizer mekanikal bertenaga baterai. “Dari awal saya tertarik dengan vape ini karena asapnya tebal. Jadi bisa dibuat trik macam-macam,” kata Fadli.


Fadli unjuk kebolehan memainkan uap vape.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Dari sekadar Iseng, Fadli baru tahu seni membentuk uap vaporizer ini juga diperlombakan. Saat ia menengok website luar negeri, sudah banyak asosiasi, komunitas, atau toko yang menyelenggarakan lomba trik vape. Bahkan, buka hanya vape trick, ada macam-macam kategori lomba, misalnya cloud chaser, yakni peserta diminta membuat asap sebanyak mungkin. Ada pula lomba merangkai kawat atau koil yang terpasang pada tangki vaporizer atau lomba meracik cairan vape.
Kompetisi perdana yang diikutinya diadakan oleh toko vaporizer di Jakarta Barat. Menurut Fadli, dalam kompetisi trik vape, peserta harus menampilkan beraneka ragam trik dalam waktu yang ditentukan. Penilaiannya berdasarkan kerapian, kreativitas, dan tingkat kesulitan trik. Dalam perlombaan cloud warrior, yang diikuti oleh 12 peserta itu, Fadli berhasil mendapat juara II.
Makin lama, makin pengalaman, Fadli makin jago membuat macam-macam trik uap. Dia menggondol juara II lomba trik vape di Eighty 8 Store, Malaysia, beberapa waktu lalu. Setiap kali beraksi, Fadli tidak pernah merencanakan trik yang akan ditampilkan. Banyak rencana, kata dia, justru membuatnya kesulitan memusatkan pikiran.

Rifqi Akbar Garibaldi dengan uap vape
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Fadli memilih mengikuti alur lagu. Gemuruh tepuk tangan penonton justru memacu kreativitasnya. “Kalau adrenalin naik, deg-degan, bikin apa pun pasti jadi dan makin on fire. Rekor saya dalam 20 detik bisa mengeluarkan lima trik,” dia menuturkan. Sampai hari ini, sudah sepuluh kali dia menjuarai lomba trik vape.
Bagi Fadli, vaporizer bukan sekadar hobi atau gaya-gayaan, tapi juga bisa menambah gemuk pundi-pundinya. Berkat keahliannya memainkan uap vaporizer, ia kerap diundang berbagai penyelenggara lomba vape sebagai juri atau tamu. Satu kali datang, Fadli bisa membawa pulang Rp 3,5 juta. Namun, karena masih berstatus mahasiswa, Fadli membatasi acara vaporizer pada hari Sabtu-Minggu.
Rangga Bayu Triachyani menyedot uap untuk lepas dari candu rokok. Mahasiswa di Universitas Swiss German, Tangerang Selatan, itu sudah kenal asap rokok sejak masih SMA. Lama-kelamaan Rangga khawatir terhadap kondisi kesehatan tubuhnya. Itu sebabnya, ketika membaca sebuah artikel mengenai vape, Rangga memutuskan beralih. Sejak kenal rokok elektrik dan belajar trik vape, Rangga sudah melupakan rokok. “Saya enggak pernah menyentuh lagi yang namanya rokok,” kata Rangga.

Fadli beraksi dengan vape-nya
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Saat mempelajari trik vape, awalnya Rangga sempat mengalami kesulitan, terutama saat mempraktekkan uap berbentuk gelang. Rangga lebih terbiasa menggunakan lidah untuk membentuk asap menyerupai huruf O. Akibatnya, uap yang dibentuk tidak bertahan lama. Butuh tiga bulan bagi Rangga untuk menguasai trik sederhana itu.
“Saya lihat di Instagram dari uap bisa dibikin ubur-ubur…. Gila, keren banget. Eh, ternyata tak gampang juga, ya,” kata dia. Rangga punya cara sendiri untuk membentuk uap. Yaitu dengan memperbanyak uap vaporizer. Caranya dengan merangkai sendiri lilitan kawat atau koil yang digunakan untuk memanaskan cairan.
Rangga mengatur besar-kecil diameter, banyak lilitan, dan panjang kawat. Ukuran kawat dan lilitan, menurut Rangga, dapat mempengaruhi besaran uap maupun rasa yang dihasilkan. Tapi dia memperingatkan, jangan sembarang memodifikasi koil. Sebab, salah-salah malah bisa mencelakai pemakainya.
“Tak boleh asal, bisa-bisa malah korsleting,” kata Rangga. “Kalau sudah merangkai koil dan ketemu komposisi asap yang kita inginkan, rasanya ada kepuasan tersendiri.”
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.