INTERMESO

Tolong, Kami Lapar!

“Di sini, jika kalian tak mati akibat ledakan bom, kalian akan mati lantaran sakit dan kelaparan.”

Seorang anak penderita kekurangan gizi berbaring di rumah sakit di Kota Sanaa, Yaman, pada 27 September 2016.

Foto: Khaled Abdullah/Reuters

Jumat, 28 Oktober 2016

Melihat fisiknya, susah menerka berapa usia Saida Ahmad Baghili. Entah seperti apa penderitaan Saida. Gadis itu sebenarnya sudah berumur 18 tahun. Tak tampak daging, apalagi lemak, menempel di tubuhnya.

Bahkan baju anak-anak yang dia pakai masih kelewat longgar untuk ukuran badannya. Benar-benar hanya ada tulang dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang jarang-jarang. Sejak beberapa pekan lalu, Saida dirawat di Rumah Sakit Al-Thawra di Kota Hudaydah, Yaman.

Saida tinggal di Shajn, sekitar 100 kilometer dari Hudaydah. Menurut Saida Ali, bibi yang turut mendampinginya, badan Saida memang sudah lama kurus. Namun peranglah yang membuat kondisi gadis itu makin parah. Berkat pertolongan satu lembaga kemanusiaan, Saida bisa dibawa ke rumah sakit.

Saida hanyalah satu di antara ribuan anak-anak dan remaja di Yaman yang kekurangan makan dan gizi. Mereka inilah korban perang suudara yang berkobar di negeri itu sejak hampir dua tahun lalu. “Satu generasi di Yaman bisa lumpuh akibat kelaparan ini,” kata Torben Due, Direktur Lembaga Bantuan Pangan PBB (WFP) di Yaman, kepada CNN, beberapa hari lalu.

Satu keluarga tengah sarapan di depan gubuk mereka di luar Kota Sanaa, Yaman, 26 September 2016.
Foto: Khaled Abdullah/Reuters


Cara mati yang paling berat adalah mati kelaparan.”

Sejak pasukan gabungan yang dipimpin Arab Saudi mengirimkan mesin-mesin perangnya ke Yaman pada Maret 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menaksir ada lebih dari 10 ribu jiwa melayang dalam perang. Gara-gara perang berkepanjangan, menurut badan PBB untuk urusan anak-anak (UNICEF), lebih dari 1,5 juta anak-anak Yaman hidup sengsara.

Mereka kekurangan gizi, bahkan kondisi 370 ribu anak di antaranya benar-benar parah.  WFP menaksir, ada 7 juta warga Yaman yang saat ini benar-benar kekurangan pangan. Bahkan di beberapa tempat, lebih dari 70 persen penduduknya dalam kondisi kelaparan berat.

Tak seperti perang di Suriah dan Irak yang terus dipelototi media dan penguasa negara-negara besar, perang brutal di Yaman seperti terlupakan. Padahal korban terus berjatuhan. “Aku heran dengan sikap diam internasional pada kejahatan terhadap rakyat tak berdosa di Yaman. Mengapa mereka tak melakukan apa pun? Apakah kami bukan manusia?” Abdullah Saleh, warga Sanaa, seperti dikutip Guardian, meluapkan kemarahannya.

* * *

Supaya anaknya bisa makan, Ihsan, 26 tahun, terpaksa meminjam uang dari kiri-kanan. Tapi itu pun tak mencukupi. Beberapa hari lalu, dia terpaksa berutang lagi untuk membawa anaknya yang masih bayi ke rumah sakit. “Aku masih menyusuinya, tapi berat badannya terus turun…. Jangankan untuk makan dengan baik, untuk makan anakku saja aku tak punya,” kata ibu muda itu.

Salem Abdullah dipegang oleh ibunya di rumah sakit di Pelabuhan Laut Merah, Hodaida, Yaman, pada 11 September 2016.
Foto: Abduljabber Zeyad/Reuters

Kami tak bisa membiarkan staf kami dibunuh satu per satu”

Dikelilingi negara-negara supermakmur, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, apa yang terjadi di Yaman saat ini sungguh tak terbayangkan. Selama 20 tahun menjadi dokter, Ashwaq Muharram belum pernah menyaksikan pemandangan memilukan seperti nasib bocah-bocah di Yaman.

“Aku pernah menyaksikan di televisi pemandangan seperti ini di Somalia. Tapi aku tak membayangkan hal itu bisa terjadi di Yaman,” kata Dokter Ashwaq kepada BBC.

Dia pernah bekerja untuk lembaga kemanusiaan internasional. Tapi sebagian lembaga itu sudah angkat kaki ketika perang saudara meletus sejak Januari 2015. Sekarang, dengan duit dari kantong sendiri, dia mati-matian berusaha menyelamatkan anak-anak Yaman yang kelaparan. Dengan mobilnya, Dokter Ashwaq mengantarkan obat dan makanan ke daerah kantong kelaparan.

Menempuh bahaya, melewati baku tembak dan ledakan bom, dia menyambangi mulut-mulut yang lapar. “Di sini, jika kalian tak mati akibat ledakan bom, kalian akan mati lantaran sakit dan kelaparan,” kata dia. Mati akibat bom mungkin hanya merasakan sakit tak seberapa lama. “Cara mati yang paling berat adalah mati kelaparan.”

Anak-anak mengintip dari balik lubang dinding di sekolah mereka di Kota Sanaa, Yaman, pada 5 Oktober 2016.
Foto: Khaled Abdullah/Reuters

Bayangkan saja, dengan penghasilan hanya sekitar Rp 30 ribu per hari, Abdullah Ali harus memberi makan 16 mulut di rumahnya di Kota Al-Tohaita. Selain buat dia dan istrinya, penghasilannya yang tak seberapa itu harus dibagi untuk makan 14 anaknya. Hampir setiap malam anak-anaknya berangkat tidur dalam kondisi perut benar-benar kosong.

“Aku tak mampu memberi mereka makan roti, teh, dan susu kambing,” kata Abdullah, kepada Al-Jazeera. Sebelum perang saudara, keluarga itu masih sanggup bertahan dengan bantuan dari pemerintah. Tapi sekarang, jangan harap ada bantuan akan datang. “Aku tak lagi berharap banyak, cukup bantuan makanan untuk anak-anakku.” Entah sampai kapan keluarga itu mampu bertahan. Semua anak di keluarga Abdullah sudah kurus kering.

Bukan hanya makanan yang makin langka di Yaman, tapi juga obat-obatan, klinik, rumah sakit, berikut tenaga kesehatannya. Misi Dokter tanpa Batas (MSF) di Yaman sudah angkat kaki dari negara itu setelah klinik mereka di Kota Hajjah dibom oleh pesawat Arab Saudi pada Agustus lalu. Ada 19 orang tewas akibat serangan serampangan itu.

Ibu menggendong anaknya yang kurang makan di Hudaydah, Yaman, pada akhir September lalu
Foto: Abduljabber Zeyad/Reuters

Menurut Hassan Boucenine, Kepala Misi MSF di Yaman, pilihan itu merupakan keputusan yang berat. “Tapi kami tak bisa membiarkan staf kami dibunuh satu per satu,” kata Hassan, dikutip BBC. PBB memperkirakan, ada sekitar 600 klinik dan rumah sakit di Yaman yang tutup gara-gara perang. Klinik MSF itu salah satunya.

Saat sehat tak ada makanan, kala sakit tak ada obat. Apa lagi yang lebih sengsara. Kondisi ini merata di seluruh Yaman. Bagi yang punya banyak duit, mereka sudah lari dari negeri itu jauh-jauh hari. Bagi yang miskin, apa boleh buat, dia harus bertahan hidup dalam kelaparan di tengah hujan peluru.

“Sebagian besar orang di sini meninggal dalam kesunyian,” kaya Hassan. Sebagian dari mereka mati tanpa pernah menjalani perawatan. “Ini bukan hanya masalah di Saada atau Hajjah. Di Aden dan tempat lain kondisinya sama saja. Yaman sudah hancur.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE