METROPOP
HARI KANKER PAYUDARA
“Jangan beranggapan kita lemah dan tak sanggup menjalaninya.
Jalani saja.”
Penny Purnawaty
Foto: dok. pribadi
Selasa, 25 Oktober 2016Punya keluarga tanpa riwayat kanker membuat Penny Purnawaty, 45 tahun, terlena. Tujuh tahun lalu, dia menemukan ada benjolan di salah satu payudaranya. Dokter menyarankan supaya dia datang kembali untuk pemeriksaan lanjutan jika benjolan itu membesar.
Tapi Penny tak kembali. Apalagi benjolan itu tak terasa sakit dan tak mengganggu tugas sehari-harinya sebagai pekerja lepas. “Saya tak punya riwayat kanker, baik dari sisi ayah maupun ibu. Jadi, saya pikir, kalau enggak punya riwayat mah enggak akan kena kanker,” Penny menuturkan kepada detikX beberapa hari lalu.
Selama dua tahun dia memilih pengobatan tradisional untuk menghilangkan benjolan di payudaranya. “Saya pikir ini cuma benjolan. Jadi saya santai saja,” kata Penny. Dia salah besar. Alih-alih mengempis dan hilang, benjolan itu makin besar. Dia sadar, pengobatan tradisional itu gagal total.
Saat Penny memutuskan kembali ke dokter, benjolan itu sudah tumbuh hingga 7 sentimeter dan menonjol ke permukaan kulit. Bahkan saat benjolan sudah sebesar itu pun, Penny masih berpikiran bahwa benjolan itu bukan kanker. Tanpa bantuan alat, hanya dengan melihat dan meraba, dokter menyimpulkan bahwa benjolan itu merupakan kanker dan sudah masuk stadium III-B. Keyakinan Penny rontok seketika.
Semua makanan yang masuk mulut rasanya seperti pasir dan pahit.”
Siapa yang tak ngeri mendengar kanker? Apalagi jika sel-sel ganas itu ada di tubuh sendiri. “Dalam waktu 20 menit tanpa biopsi, scanning, atau semacamnya, langsung keluar diagnosis bahwa ini adalah kanker stadium III-B. Jadi bisa dibayangkan betapa shock-nya saya,” ujar Penny.

Penny (memakai bandana) dalam kegiatan bersama Lovepink.
Foto: dok. pribadi
Sepanjang malam mata Penny tak bisa terpejam. Diagnosis dokter itu jadi mimpi buruk yang tak pernah dia bayangkan. Sembari berurai air mata, ia mengadukan kabar buruk itu kepada seorang sahabatnya. Melalui telepon, Penny menumpahkan perasaannya. Ia tak menyangka akan dijatuhi vonis begitu cepat sampai tidak sempat mencerna kata-kata yang disampaikan dokter.
Masih tak percaya dengan diagnosis dokter itu, Penny dan suami terbang ke Singapura. Kesimpulan dokter di rumah sakit Singapura rupanya tak jauh berbeda. Pada saat itu Penny sadar, ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Supaya sel kanker tak menyebar ke tempat lain, dia harus segera berobat.
Payudara sebelah kanannya harus diangkat. Seusai operasi, Penny masih harus melewati rangkaian kemoterapi, radiasi, dan pengobatan. Sejak saat itu, Penny harus menjalani serangkaian kemoterapi. “Saya kemoterapi di Singapura, tetapi masih bisa melakukan perjalanan pulang ke Indonesia. Setelah lewat 24 jam, efek obatnya baru terasa. Minggu ketiga, setelah kondisi tubuh membaik, saya baru melanjutkan lagi,” dia menuturkan.
Selama berbulan-bulan, Penny mesti melewati terapi yang menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Dan sudah tentu biaya. Beruntung, sebagian besar biaya ditanggung perusahaan suami. Barangkali mereka yang pernah mengalami dan melewatilah yang benar-benar paham bagaimana beratnya ujian itu.
Rambut, alis, hingga bulu mata, rontok semua. Kuku di kaki dan tangan berubah jadi kehitam-hitaman. Berat badan terus naik lantaran banyak cairan. “Muka saya jadi bulet banget,” kata Penny. Hal lain yang menyiksa adalah urusan lidah. Efek dari obat, indra perasa di lidahnya hilang fungsi. “Semua makanan yang masuk mulut rasanya seperti pasir dan pahit.”
Hanya rasa manis yang masih dikenali lidah Penny.
* * *
Suami, teman-teman, dan sesama penyintas (survivor) kanker payudaralah yang membuat Penny bisa berdiri tegak kembali melawan sel-sel maut itu.
Shanti Persada dan Madelina Mutia, keduanya penyintas kanker, membuat Penny yakin bahwa kanker bukan lah akhir dari segalanya. Shanti merupakan teman lama suami Penny. Saat pertama kali bertemu dengan Penny, Shanti dan Madelina baru saja menyelesaikan terapi kanker payudara. Rambut di kepala baru saja tumbuh.
“Tapi saya melihat, waktu pertama kali bertemu, kok mereka enggak kayak orang sakit,” kata Penny. Lantaran baru kenal, Penny sampai berpikir dia telah salah orang. “Ini benar enggak ya orangnya. Mereka berdua tampak ceria sekali. Kayak enggak ada tanda-tanda bahwa mereka baru saja menjalani terapi pengobatan yang sangat berat.”

Bersama para penyintas kanker payudara
Foto: dok. pribadi
Jangan dipikir enggak bakal kena. Sebab, makin cepat (kanker) ditemukan, pengobatannya juga akan lebih mudah.”
Gaya bertutur Shanti dan Madelina seolah-olah membuat kanker tak ada beda dengan flu atau batuk. “Mereka menyampaikan dengan sangat ringan dan tak membuat makin depresi…. Saya jadi sangat tertolong,” kata Penny. Dia, yang masih dalam kondisi terpukul, masih ketakutan, dan gamang, bangkit keberaniannya. Shanti dan Madelina membuat Penny berpikir bahwa terapi kanker tak seburuk bayangannya. “Buktinya mereka bisa. Dan bukan hanya sekadar pembawaannya yang ceria, tapi mereka berdua tetap cantik. Mereka dandan dan tak kelihatan seperti orang yang sakit berat.”
Selama 15 bulan, Penny berjibaku melawan penyakit. Sepanjang perjalanan itu pula teman-teman Penny tak pernah absen memberikan suntikan semangat. Mereka bahkan rela mengorbankan waktu dan biaya untuk menemani setiap perjalanan Penny ke Negeri Singa.
“Aku percaya banget semua perempuan itu kuat. Jadi jangan beranggapan kita lemah dan tak sanggup menjalaninya. Jalani saja…. Saya yang awalnya masih takut akhirnya bisa melewati itu semua,” Penny menyemangati para penderita kanker.
Melihat teman-teman penyintas kanker payudara tampil modis, Penny pun termotivasi untuk mengubah penampilannya. Saat sakit, Penny justru semakin keranjingan berdandan. Ia bahkan mengambil kelas khusus belajar makeup. Untuk menutupi kepala plontosnya, Penny menyiasati dengan aneka variasi penutup kepala. Salah satu bandananya terinspirasi dari aktris Allison Janney saat memerankan sosok pasien kanker di film The Help.

Penny diundang stasiun radio untuk promosi kegiatan Jakarta Goes Pink.
Foto: dok. pribadi
“Bukan karena kami punya penyakit tampangnya harus seperti penyakitan. Saat sedang menjalani pengobatan, jangan berhenti dandan. Pakai lipstik, bedak, dandan seperti biasa. Disadari atau tidak, itu menenangkan hati,” katanya.
Penny sudah bisa menghela napas lega. Ia telah berhasil melawan kanker meski harus kehilangan payudaranya. Penny kembali memulai hidup barunya dengan lebih sehat. Ia juga telah berhenti menjadi perokok aktif. Pernah satu kali dia kembali coba-coba mengisap rokok. Bukannya merasa nyaman, justru tenggorokannya malah jadi gatal-gatal dan membuatnya batuk.
Begitu banyak tangan yang mengulurkan bantuan kepada Penny dalam menghadapi kanker payudara. Sebagai balasannya, kini ia aktif bersama penyintas kanker payudara di Yayasan Daya Dara Indonesia atau Lovepink. Lewat Lovepink, Penny dan teman-temannya mengingatkan pentingnya edukasi pemeriksaan payudara sendiri atau Sadari.
“Jangan anggap enteng. Karena aku bagian dari orang-orang itu yang tidak peduli pada awalnya,” kata Penny. “Jangan dipikir enggak bakal kena. Sebab, makin cepat (kanker) ditemukan, pengobatannya juga akan lebih mudah.”
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.