METROPOP
“Saya ingin melanjutkan penelitian saya. Kalau bisa, ikut di lomba internasional.”
Miranti Ayu Kamaratih dan Octiafani Isna Ariani
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Jumat, 7 Oktober 2016Klise barangkali, tapi sukses kadang memang tak bisa diperoleh lewat jalan yang mulus dan lurus. Puncak gunung dicapai setelah menempuh hutan, tersandung, dan terjerembap.
“Kalian harus benar-benar bersedia untuk gagal,” kata Olafur Ragnar Grimsson di muka pertemuan tahunan Clinton Global Initiative. Dirintis oleh Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, inisiatif itu bertujuan mencari solusi untuk rupa-rupa masalah di pelbagai penjuru dunia. Olafur, Presiden Islandia, menuturkan bagaimana negara itu bangkit setelah perekonomian mereka terjungkal akibat dililit krisis.
Saat krisis datang dan membuat negara itu sengsara, tak ada yang tahu persis apa obat yang benar-benar mangkus untuk mengobati “sakit”-nya perekonomian negara kecil di selatan Laut Arktik itu. “Kalian bisa membuat kesalahan besar…. Dan kami benar-benar melakukannya,” kata Presiden Olafur, dikutip Live Science. Mereka salah berkali-kali, jatuh berkali-kali, tapi akhirnya bangkit dan kini ekonomi Islandia lebih bugar.
Yang namanya penelitian, pasti butuh beberapa kali percobaan baru berhasil.”
Azizah Dewi Suryaningsih pernah beberapa kali gagal pula saat ikut lomba karya ilmiah. “Saya pernah buat dua penelitian. Yang pertama pas masuk SMA, saya bikin alat sabuk antipaedofil dan tongkat mandi otomatis yang bisa diisi sabun. Keduanya gagal,” ujar Azizah, tersipu. Murid SMA Negeri 1 Yogyakarta itu tak lantas kapok.
Meski “anak gunung”, suka mendaki gunung dan berkelana di hutan, Azizah masih sering terkesima melihat pemandangan dari puncak gunung. Setiap kali ada waktu senggang atau liburan sekolah, Azizah selalu mengajak teman-temannya menyusuri punggung gunung-gunung di sekitar Yogyakarta, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, juga Gunung Merapi.
Azizah Dewi Suryaningsih
Foto: dok. pribadi
Perjalanan terakhir Azizah ke Gunung Merapi rupanya menyisakan pertanyaan bagi Azizah. Ia merasa heran dengan keberadaan hutan bambu di lereng Merapi. “Saya tanya ke warga, siapa yang menanam? Kata mereka, itu tumbuh sendiri,” ujar Azizah keheranan.
Dari hasil studi literatur yang ia lakukan, rupanya warga di lereng Merapi sudah lama mempercayai hutan bambu sebagai salah satu alat peringatan dini bahaya erupsi gunung berapi itu. Meskipun sistem peringatan dini telah digantikan oleh mesin, menurut Azizah, bambu mempunyai sensor penangkap sinyal erupsi yang lebih cepat. Salah satu tanda erupsi adalah suara “plethek-plethek” dari bambu.
Azizah berniat membuktikan kebenaran dari kearifan lokal masyarakat Gunung Merapi. Ia juga ingin membuat sistem laju awan panas alami dari rumpun bambu. Sebelum lulus SMA, dia bertekad menciptakan sesuatu. “Sebelum saya pergi, saya harus bisa menghasilkan sesuatu. Saya harus kerja sampai menghasilkan karya,” kata Azizah.

Rumpun bambu di lereng Merapi
Foto: dok. pribadi
Azizah nekat mengerjakan penelitian di lereng Merapi sendirian. Karena sekolahnya menerapkan sistem full day school, beberapa kali Azizah harus mangkir dari kelas. Hari libur pun kadang dia pakai mendaki Merapi. Lokasi penelitian Azizah berapa di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, yaitu di kawasan Kinahrejo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Sebenarnya Azizah agak waswas karena lokasi penelitiannya masih termasuk dalam zona merah. Itu sebabnya, sebelum naik gunung, Azizah selalu membawa perlengkapan mendaki. Tak lupa juga ia bawa peta, alat tulis, dan bekal logistik. “Karena saya di lapangan sendiri, walaupun sudah sering naik gunung dan kenal warga di sana, kalau sendiri, ada rasa takutnya juga,” Azizah menuturkan.
Pengorbanan Azizah tidak sia-sia. Penelitiannya soal hutan bambu sebagai penahan awan panas Merapi yang dia kerjakan selama 21 minggu dihadiahi juara pertama di bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Kelautan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. “Saya ingin melanjutkan penelitian saya. Kalau bisa, ikut di lomba internasional,” kata Azizah, penuh semangat.
* * *

Miranti Ayu Kamaratih dan Octiafani Isna Ariani
Foto: dok. pribadi

Foto: dok. pribadi
Foto: dok. pribadi
Miranti Ayu Kamaratih selalu ingat pesan gurunya. “Dalam penelitian harus sabar, jangan gampang menyerah,” kata Ayu, murid SMA Al-Hikmah Surabaya. Terus mencoba adalah kuncinya. “Yang namanya penelitian, pasti butuh beberapa kali percobaan baru berhasil.”
Sejak masih sekolah dasar, Ayu memang sudah doyan coba-coba dan bereksperimen. Kebetulan, di sekolahnya sekarang, eksperimen jadi satu mata pelajaran. Sekolah juga terus mendorong Ayu dan teman-temannya mengikuti lomba karya ilmiah. Untuk mengikuti LKIR-LIPI, Ayu dan Octiafani Isna Ariani meneliti soal pemakaian pewarna dari kulit buah naga untuk prototipe sel surya berbasis pewarna.
Menurut Ayu, pewarna dari kulit buah naga berfungsi menggantikan ruthenium yang biasa dipakai pada sel surya. Tak disangka, penelitian Ayu menjadi juara pertama untuk kategori Ilmu Pengetahuan Teknik. “Menurut aku, lama-kelamaan meneliti itu menyenangkan banget. Aku orangnya penasaran dan ingin cari tahu hal baru. Apalagi kalau penelitian itu sudah berhasil dan bisa bermanfaat bagi orang lain, jadi kepuasan tersendiri,” ujar Ayu.

Para pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja 2016 yang diadakan oleh LIPI
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Azizah, Ayu, dan anak-anak seperti mereka adalah berlian yang belum sepenuhnya terasah. “Anak-anak sekarang inovasinya luar biasa,” Tri Nuke Pudjiastuti, Ketua Dewan Juri LKIR 2016 dan Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, mengacungkan jempol. Bahkan beberapa karya anak-anak Indonesia ini sering membuat juri terenyak. “Beberapa karya di luar perkiraan kami, bahkan kami sering berpikir, ‘Ih, anak ini jenius.’ Terbukti, saat dibawa ikut lomba internasional, anak-anak ini menang.”
Tapi apa boleh buat, riset sains dan teknologi masih jadi barang mewah di negeri ini. Alat penelitian minim, dana juga pas-pasan. Dalam hal riset, Indonesia kalah jauh bukan hanya dari negara-negara maju, bahkan dari negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand. “Sains dan teknologi belum menjadi fondasi pembangunan bangsa. Dalam hal ini, posisi Indonesia sama dengan Korea Selatan pada tahun 1945,” kata Tri Nuke.
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.