METROPOP
Bicara di depan umum tidak gampang. Alicia mendirikan Rumah MC untuk membantu mereka yang kesulitan saat harus jadi pembicara. Gratis.
Salah satu "siswa" Rumah MC unjuk kebolehan dalam membawakan acara.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom
Kamis, 8 September 2016Ketika melihat nama Presiden Joko Widodo dalam daftar tamu, Alicia van Akker kaget bukan kepalang. Sebagai pembawa acara atau master of ceremonies, ia tidak menyangka harus memandu sebuah acara yang dihadiri oleh orang nomor satu di negeri ini. Saking gugupnya, Alicia bahkan tidak bisa tidur tiga hari.
“Itu stres banget. Lutut rasanya lemes, aduh… tidak mau ke luar ruangan pokoknya. Aku bingung banget harus ngomong apa,” cerita Alicia kepada detikX.
Ketakutan Alicia menjadi kenyataan saat dirinya membuat sebuah kesalahan. Saat memanggil nama anak pemenang lomba, Alicia kesulitan mengeja salah satu nama. Ia pun harus berulang kali menyebutkan nama tersebut sehingga nadanya terdengar lucu. Tidak diduga, kesalahan yang tidak disengaja ini justru membuat Jokowi dan seluruh undangan yang hadir tertawa.
Seorang MC tidak hanya bermodalkan paras yang cantik dan tinggi, tapi juga harus punya kemampuan vokal dan dapat merebut perhatian penonton."
Menjadi MC kenegaraan memang ranah baru bagi Alicia. Namun memandu protokol acara formal dan semiformal sudah ia geluti sejak 2012. Bakatnya bahkan terlihat semenjak Alicia duduk di bangku sekolah dasar. Ia selalu menjadi murid pertama yang maju ke depan kelas ketika diminta guru membacakan pidato.
Saat kuliah, Alicia justru semakin tertantang menggeluti profesi MC, padahal ia mengambil jurusan bisnis. Demi mengumpulkan pengalaman dan jam terbang, Alicia rela tidak dibayar selama tiga tahun pertama menjadi MC.

Alicia memberi pengarahan kepada salah satu peserta kursus.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom
Padahal, menurut Alicia, pekerjaan MC tidaklah murah. Untuk menjadi MC pernikahan, misalnya, Alicia harus mengeluarkan uang untuk membeli makeup, sepatu hak tinggi, dan gaun pesta yang tidak murah harganya.
Setiap kali mengisi acara kecil-kecilan di kampus, ia selalu membagikan kuesioner agar penonton bisa menilai performanya saat menjadi pembawa acara.
“Tahun pertama itu feedback kebanyakan negatif. Rata-rata bilang ngomong-nya terlalu cepat, kelihatan banget ambil napasnya. Tahun kedua fifty-fifty. Tahun ketiga mostly positif. Kalau sekarang lagi isi seminar, aku bagikan kuesioner, rata-rata penilaiannya bagus. Tapi itu kan perjalanan waktu yang tidak singkat,” ujar Alicia.
Setelah itu, semakin banyak tawaran MC yang diterima Alicia. Mulai acara peluncuran produk, korporasi, hingga sektor lain. Alicia sesekali harus menerima job hiburan yang kurang ia kuasai. Terkadang ia terpaksa menolak permintaan MC yang membeludak. Peluang inilah yang dilihat oleh Alicia.

Diundang ke sebuah stasiun radio
Foto: dok. pribadi
Kebetulan ada Restu Diantina Putri, teman Alicia yang sangat senang dengan profesi MC. Hanya, Restu lebih suka membawa MC nonformal atau hiburan. Dari sana, keduanya membentuk Rumah MC & Co pada November 2012.
Bagi mereka, MC merupakan salah satu profesi yang memiliki kedudukan yang bagus di masyarakat, sehingga konsep awalnya berupa agensi khusus untuk profesi MC. Mereka mengelola agensi secara profesional dan sesuai dengan standar kompetensi untuk mencetak MC berkualitas.
Misalnya para MC yang tergabung harus memiliki 100 jam terbang. Kalau sudah mencapai tahap itu, para MC akan dikategorikan menjadi Silver, Gold, dan Platinum. Pendapatan MC pun berbeda-beda sesuai dengan kategori dan jam terbang. Mereka bisa memperoleh uang mulai Rp 1 juta hingga di atas Rp 10 juta.
“Tujuannya, supaya klien kita bisa menyesuaikan dengan bujet dan kebutuhannya seperti apa. Dan bagi MC, pembagian pendapatannya adil sesuai dengan jam terbang,” kata Alicia, yang mengantongi sertifikasi nasional sebagai MC formal yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Asosiasi MC Indonesia pada 2013.
Alicia menerapkan standar itu berdasarkan pengalaman pribadi. Jam terbang seorang MC rupanya memiliki andil cukup besar dalam prakteknya di lapangan. Alicia bercerita, pernah dalam sebuah acara peluncuran produk, Alicia dan talent-nya diminta membawakan acara dalam bahasa Inggris. Satu menit sebelum acara mulai, mereka justru diminta menggunakan bahasa Indonesia saja.
“Anak yang aku ajak kelabakan, preparing in English tiba-tiba harus nge-switch otak. Mau tidak mau harus bisa karena kita sudah di atas panggung dan tidak mungkin kabur,” tuturnya.
Menurut Alicia, seorang MC tidak hanya bermodalkan paras yang cantik dan tinggi. MC juga dituntut punya kemampuan vokal dan dapat merebut perhatian penonton. MC profesional juga harus memiliki wawasan luas karena setiap event yang ditangani memiliki tema dan audiens yang berbeda-beda. Hingga kini, ada 15 talent yang dinaungi oleh Rumah MC.

Alicia di dalam kelas kursus public speaking
Foto: dok. pribadi via Facebook
Selain berbasis bisnis, Rumah MC memiliki program sosial, yaitu One4One. Tujuannya, memberikan pelatihan public speaking kepada siswa sekolah menengah ke bawah secara gratis.
Komitmen ini dilaksanakan oleh seluruh MC yang tergabung dalam manajemen Rumah MC. Jika satu job yang didapatkan bernilai Rp 10 juta, mereka akan sisihkan uangnya untuk program pelatihan ini.
Pelatihan ini membidik siswa sekolah menengah atas atau kejuruan dan mahasiswa tingkat akhir. Alicia akan mengajarkan cara memilih pekerjaan, menulis surat lamaran, hingga strategi menghadapi interview kerja.
“Anak-anak yang telah lulus sekolah dan enggak bisa melanjutkan kuliah karena alasan ekonomi banyak yang merasa down. Aku di sana akan kasih tahu mereka, ‘Kita bisa, lo, punya kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik, asalkan kita tahu caranya bagaimana, apa saja yang harus ditonjolkan dari diri kita.’ Dan itu mostly mereka praktekkan,” ujar Alicia.
Dari puluhan sekolah di Jabodetabek yang pernah Alicia dan teman-temannya sambangi, banyak yang memberikan feedback positif. Banyak dari mereka yang telah memperoleh pekerjaan atau berwirausaha.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.