METROPOP
YOUTUBER MUDA, TERKENAL, & TAJIR
Edho memiliki subscriber sebanyak 860 ribu. Dari YouTube, ia bisa punya mobil, apartemen, menggaji pegawai, dan kehidupan lebih dari cukup.
Foto-foto: dok. pribadi Edho Zell
Kamis, 1 September 2016Di apartemen miliknya, Edho Pratama alias Edho Zell berbicara sendiri di depan kamera. Obrolan santai dibawakan Edho dengan penuh semangat.
Kadang teman-teman Edho ikut muncul dalam video bergenre parodi tersebut. Rekaman ini lantas diunggah Edho ke kanal miliknya di YouTube. Tidak butuh waktu lama, kolom komentar dibanjiri tulisan fans yang memuji kelincahan YouTuber terkenal itu berbicara di depan kamera.
Nasib Edho, yang kini selalu tampil ceria, sebenarnya berbanding terbalik dengan kisahnya pada masa lampau. Edho kecil, yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri, merupakan sosok yang pendiam. Ia dikenal cupu dan tidak punya teman.
“Saking ingin punya teman, saya sampai harus membeli buku karangan Dale Carnegie yang berjudul How to Win Friends. Saya memutuskan berubah,” cerita Edho.
Ketika menginjak sekolah menengah atas, Edho semakin kesepian. Ibunya menikah lagi dan ikut sang suami pindah ke Papua. Sedangkan Edho tetap tinggal di Jakarta.
“Saya jadi benar-benar tidak punya teman dan uang untuk diandalkan selain diri sendiri.”
Edho pun harus banting tulang untuk menyokong hidupnya di Jakarta. Ia bekerja sebagai penjaga warung Internet dengan bayaran sungguh kecil, Rp 16 ribu per hari.
Salah satu klip video di kanal Edho Zell
Video: YouTube
“Siang makan seadanya di warteg, kalau malam numpang makan di rumah teman SMA. Benar-benar setiap malam saya numpang makan.”
Untuk menambah uang, Edho berjualan parfum keliling kompleks. Suatu hari, saat menawarkan parfum, ia masuk sebuah rumah kos yang semua penghuninya adalah gay. Tidak disangka, Edho, yang awalnya takut, malah mendapat pelanggan tetap. Ia juga banyak belajar akting dari para gay ini.
“Mereka ternyata tidak menyeramkan, kok. Justru baik dan lucu. Itulah mengapa saya jago akting jadi gay atau cewek,” ujar Edho, yang kini berusia 25 tahun.
Lulus SMA, berbekal kemampuan menari yang dimilikinya, Edho menjadi guru break dance dan modern dance. Honornya lumayan, Rp 3-7 juta. Kehidupan Edho pun membaik.
“Dari cuma ngekos di pinggiran kali yang dibatasi tripleks sampai bisa ngekos yang layak,” ujar pria berkacamata ini.
Edho kemudian tertarik menjadi MC atau master of ceremonies. Ia memulai dengan menjadi MC ulang tahun teman-temannya. Perlahan-lahan, Edho semakin laris dan dikenal sebagai MC.
Penghasilannya pun bertambah, sehingga ia memutuskan melanjutkan kuliah di London School of Public Relations. Merasa sukses di Jakarta, Edho nekat pergi ke Jepang meskipun tidak menguasai bahasanya. Ia bermimpi akan menaklukkan Negeri Sakura.

Edho Zell tampil dalam sebuah kuis di stasiun televisi swasta.
“Hasilnya, di Jepang saya menderita banget. Ternyata saya di sana jadi gembel, sampai harus tidur di hutan karena homeless.”
Akhirnya Edho balik lagi ke Jakarta. Memulai lagi dari nol, ia mulai ikut casting, dari casting iklan sampai film abal-abal. Namun satu pun tidak ada yang menerimanya. Ia sempat bergabung dalam sebuah band musik, tapi juga bubar. Hidupnya semakin suram karena sang pacar pun memutuskan hubungan dengannya.
“Saya diputus dua minggu sebelum pre-wedding. Mau nangis tidak bisa. Hidup saya kayak kosong. Setiap hari saya berharap hidup yang berantakan ini cuma mimpi. Bahkan saya berpikir untuk bunuh diri,” tutur Edho.
Di tengah keputusasaan itu, Edho melihat lip sync duo Sinta dan Jojo lewat lagu Keong Racun. Ia pun terinspirasi membuat video lucu di YouTube. Awalnya, respons pengguna YouTube terhadap video Edho datar-datar saja.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, video-video Edho mendapat perhatian. YouTube pun menawari Edho untuk ikut pelatihan agar kualitas rekamannya meningkat.
Menjadi presenter kuis di stasiun televisi swasta.
Kini Edho memiliki subscriber sebanyak 860 ribu. YouTube menjadi sumber rezeki yang menghidupi Edho dan keluarganya.
Berkat YouTube, Edho bisa mempunyai mobil, apartemen dan mampu menggaji pegawainya. “Puji Tuhan, kita diberkati dengan 300-800 ribu viewers per hari. Pendapatan per bulan kita lebih dari cukup, ha-ha-ha…,” kata Edho, yang tidak mau menyebut angka.
Namun situs socialblade.com pernah menyebut Edho bisa meraih minimal US$ 2.900 per bulan atau sekitar Rp 30 juta. Sayang, sekarang penghasilan Edho tidak bisa lagi diintip di situs tersebut.
Menjadi salah satu YouTuber ternama, Edho pun kerap ditawari main film. Namun ia memutuskan berfokus menjadi YouTuber.
Edho sadar, suatu saat tren YouTube bisa saja berganti. Namun itu tidak membuatnya takut. Yang mesti disiapkan sekarang, menurut dia, adalah belajar cepat tanggap terhadap aplikasi baru digital media yang berpeluang menjadi tren berikutnya.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.