METROPOP
“Kenapa pakai stuntman dari Hong Kong. Padahal stuntman kita tidak kalah kualitasnya.”
Foto-foto: Grandyos Zafna Manase Mesah/detikcom
Baim Wong seketika berhenti memukul begitu melihat hidung Deswyn Pesik berdarah. Tapi Deswyn meminta Baim terus menghajarnya.
Akhirnya adegan berantem untuk film Jakarta Under Cover itu selesai. Deswyn, meski hidungnya berdarah, tidak mau adegan di-cut karena akting mereka sedang bagus.
Deswyn sudah 12 tahun menjadi stuntman. Ia tahu risiko yang harus dihadapinya, dari yang paling ringan, yakni keseleo, risiko sedang seperti patah tulang, sampai yang paling fatal, yakni meninggal. Ia pun terbiasa melakukan persiapan secara matang agar adegan sebahaya apa pun tetap bisa diselesaikan dengan aman.
Ia menghitung secara detail sebelum berakting sebagai stuntman. Misalkan, bila ia akan beradegan jatuh dari sepeda motor, ia harus tahu di mana titik ia harus jatuh. Juga siapa pemeran yang harus jatuh terlebih dulu.
Lalu, saat jatuh, bagian tubuh mana yang harus terlebih dulu didaratkan di aspal, kaki atau tangan. Kemudian, setelah badan menempel aspal, gerakan badan harus bagaimana. “Itu yang harus dipikirkan oleh seorang stuntman,” ujar Deswyn kepada detikX.
Video: Iswahyudi
Dengan perhitungan yang matang, Deswyn bersyukur sejauh ini belum pernah mengalami cedera parah. "Yang terpenting untuk menghindarkan cedera adalah latihan secara maksimal," ujar juara I karate Teladan Cup SLTA se-Jawa, Bali, dan Lampung pada 1994 tersebut.
Bertahun-tahun menjadi stuntman, Deswyn kemudian menjadi koordinator stuntman, yang menyediakan dan mengkoordinasikan stuntman dalam sebuah film atau sinetron. Kadang ia juga menjadi koreografer untuk adegan laga.
Pada November 2012, Deswyn mendirikan Stunt Fighter Community (SFC). Komunitas ini melatih mereka yang berminat berkarier di film laga. Anggota komunitas ini sering dilibatkan dalam sinetron ataupun film laga. Belum lama ini, mereka terlibat syuting film D.P.O yang akan ditayangkan di bioskop pada September mendatang.
"Di komunitas ini tidak ada bayar atau uang iuran apa pun. Paling cuma sewa gedung buat latihan, ya urunan saja," kata pria yang waktu remaja suka berantem ini.
Latihan-latihan SFC sering diunggah di YouTube dan tidak jarang mendapat pujian dari pencinta aksi laga di luar negeri. “Banyak lo yang kemarin minta join dan belajar sama kita. Ada yang dari Belanda, India, Filipina, sampai Inggris juga,” ujar Deswyn.
Deswyn juga kerap mendapat tawaran untuk ikut terlibat dalam film action di luar negeri. Belum lama ini ia diminta seorang sutradara asal Thailand untuk menjadi stuntman di film garapannya.
Deswyn yakin kualitas stuntman lokal sebenarnya tidak kalah dengan stuntman luar negeri. Tidak sedikit orang asing yang menjadikan stuntman Indonesia sebagai barometer untuk memperdalam teknik dan ilmu bela diri.
Sayang, industri film Indonesia masih kurang menghargai para stuntman lokal. Sejumlah rumah produksi malah memakai stuntman asing. "Orang sini kan mindset-nya luar negeri kualitasnya lebih bagus. Padahal luar negeri justru barometernya ke sini," kata Deswyn.
Udeh Nans, seorang stuntman yang mendirikan Pejuang Stunt Indonesia, mengaku pernah berkunjung ke sebuah lokasi syuting sinetron laga yang sempat populer pada 2006. Ia mendapati banyak stuntman dari Hong Kong yang digunakan dalam sinetron tersebut.
“Stuntman lokal kan banyak yang bagus. Saya juga tidak paham kenapa bisa merekrut orang Hong Kong,” gugat Udeh.
Para stuntman lokal juga tidak mendapatkan bayaran setimpal. Angkanya sangat jauh bila dibanding dengan bintang utama. Selain itu, meski jadwal syuting di rumah produksi sedang padat, tidak ada istilah upah lembur.
Pada 2005, masa awal Udeh terjun di dunia stuntman, ia hanya mengantongi Rp 150 ribu per bulan. Udeh baru mendapat bayaran setimpal saat bermain dalam film The Raid 2, yang disutradarai Gareth Evans. Selama empat bulan masa syuting, ia medapat honor Rp 60 juta.
Pengalaman pahit juga Deswyn alami saat menjadi koordinator stuntman. Ia kerap mengeluarkan uang sendiri untuk membeli makan dan minum bagi stuntman lainnya. Jika ada yang mengalami cedera, Deswyn harus menanggung sendiri biaya pengobatan. Apalagi stuntman tidak mendapatkan asuransi kesehatan layaknya aktor di film.
“Tidak celaka syukur, kalau celaka ya sudah, paling dikasih uang pijit Rp 50 ribu buat uang obat sama mijitnya,” ujarnya.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.