METROPOP
Ia mengoleksi satu bundel penolakan dari penerbit.
Foto: dok. pribadi Arleen via Facebook
Senin, 25 Juli 2016Arleen Amidjaja sangat ingin anaknya suka membaca. Maka, seperti orang tuanya, Arleen pun ingin menanamkan kebiasaan baik tersebut pada anaknya sejak dini. Masalahnya, ia menemui kesulitan untuk mendapatkan buku anak yang baik.
Ia ingin anaknya yang berusia 3 tahun diberi bacaan buku-buku bilingual, Inggris-Indonesia, tapi buku itu ternyata tidak banyak. Kalaupun ia mendapatkan buku tersebut, harganya juga sangat mahal. “Karena itu, aku jadi terpikir kenapa enggak coba menulis?” tutur Arleen kepada detikX tentang kisahnya menjadi penulis buku anak.
Arleen lebih banyak belajar menulis secara otodidak. Pendidikan menulis yang pernah dia terima adalah saat mengikuti kelas bahasa Inggris saat ia menamatkan studi sarjana di sekolah bisnis di Amerika Serikat. Dosen Arleen adalah Chitra Banerjee Divakaruni, India-Amerika yang kini menjadi penulis terkenal.
Lulus kuliah, Arleen bekerja di bidang keuangan. Namun, karena sangat ingin menulis buku anak, Arleen menulis di sela-sela kesibukan kerja dan mengurus anak. Ia mencatat nama-nama penerbit buku anak dan mengirimkan naskah yang selesai ditulisnya.
Awalnya ibu dua anak ini mengirim tulisan dengan menyebarnya ke berbagai penerbit. Bukunya yang pertama terbit di Grasindo dan Dian Rakyat. Disambung Elex Media Komputindo, Tiga Serangkai, dan Bhuana Ilmu Populer.
Tidak sedikit naskah yang dikirim Arleen ditolak penerbit. “Aku sih koleksi surat penolakan satu bundel,” ujarnya.
Ia juga pernah mengirim ke penerbit Pelangi di Malaysia. Buku itu diterima, tapi prosesnya lama sekali untuk terbit.

Arleen bersama Menteri Anies Baswedan
Foto: dok. pribadi Arleen via Facebook
Arleen mengaku tidak kesulitan mendapat inspirasi bukunya. Inspirasi bisa datang kapan saja, terutama saat Arleen bermain dengan anaknya. Apa saja yang dikatakan dan dilakukan anak bagi Arleen selalu lucu dan bisa ditulis.
“Pernah aku main sama anakku tentang karpet ajaib. Padahal cuma dialasin handuk doang. Terus dari sana kita mengkhayal pergi ke tempat ajaib macam-macam. Anak saya sambil membayangkan, oh di sana ada banyak botol susu lari-lari kejar dia,” kata Arleen.
Dari permainan itu, Arleen bisa membuat buku seri, judulnya Little Lily's Big Adventure.
Selain bermain anak, Arleen mendapatkan ide tulisan dari bacaan. “Sebagian lagi aku kayak dikirim ilham saja dari Yang di Atas. Setiap nulis kadang aku merasa tangan kayak dipegang dan jalan sendiri,” kisahnya.
Arleen merasa ia bukan penulis profesional karena ia tidak bisa mengerjakan buku pesanan.

Arleen mendongeng di hadapan anak-anak.
Foto: dok. pribadi Arleen via Facebook

Buku untuk anak-anak
Ia tidak bisa membuat buku yang temanya dipesan terlebih dulu. Ia merasa terkungkung dan ide tidak bisa datang.
Selain itu, ia tidak yakin bisa memenuhi target tenggat pesanan karena ia menulis saat punya waktu senggang, di sela-sela kerja kantoran. Meski begitu, Arleen tergolong sebagai penulis buku anak yang produktif.
“Total ada 250-an bukulah. Aku nulis novel juga, tetapi enggak banyak.”
Selama 12 tahun Arleen menjadi penulis buku anak, bukunya sudah diterbitkan oleh lebih dari 20 penerbit di Indonesia, Malaysia, Vietnam, India, dan Arab Saudi.
Buku-buku anak yang dibuat Arleen selalu bilingual. Tujuannya bukan hendak mengajarkan bahasa Inggris, melainkan supaya lebih fleksibel saja. “Jadi ada value lebih bagi yang beli. Apalagi sekarang banyak sekolah internasional.”
Arleen tidak mau menjadi penulis penuh dan melepaskan kerja kantorannya karena khawatir itu justru mendatangkan stres pada dirinya.
“Kalau aku menulis karena harus, I don't think it's gonna be fun anymore. Kalau seperti sekarang, kan enggak jadi beban,” kata Arleen.
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.