INVESTIGASI

Mayat-mayat di Selasar Tribun Kanjuruhan

Sebanyak 70 korban jiwa Tragedi Kanjuruhan diduga kuat ditemukan saat masih berada di selasar tribun. Mereka tidak ikut berdesakan di pintu keluar stadion. Kematian para korban diduga disebabkan oleh zat beracun dari gas air mata yang levelnya untuk menundukkan teroris atau penjahat bersenjata.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 17 Oktober 2022

Pandangan Rahmat—bukan nama sebenarnya—langsung gelap. Itu terjadi saat ia berusaha menolong korban Tragedi Kanjuruhan yang terinjak-injak dalam kerumunan orang pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Saat ia mengulurkan tangan untuk menarik korban perempuan itu, kepalanya malah dipentung polisi.

“Kami tim medis juga kena (pukul). Korban cewek yang saya selamatkan akhirnya juga meninggal dunia,” tutur anggota Jaringan Relawan Jawa Timur itu kepada reporter detikX pada Jumat, 14 Oktober 2022.

Situasi malam itu, kata Rahmat, kacau. Penonton laga Arema FC versus Persebaya berhamburan mencari tempat aman. Mereka panik setelah diberondong gas air mata oleh polisi.

“Saya lihat sendiri di depan saya,” kata Rahmat. “Mereka (polisi) kayak orang kesetanan."

Rahmat adalah salah satu anggota tim evakuasi yang menjadi saksi kunci Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF). Pada Senin, 10 Oktober 2022, Rahmat dipanggil menemui 12 orang anggota TGIPF untuk memberikan kesaksiannya terkait Tragedi Kanjuruhan.

Dia dan delapan orang anggota Jaringan Relawan Jawa Timur lainnya diminta menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya pada saat kejadian. Kesaksian Rahmat dan rekannya yang menjadi sorotan TGIPF adalah di mana saja lokasi korban saat ditemukan pertama kali.

Rupanya tim evakuasi menemukan banyak korban justru bukan berada di pintu keluar. Mereka masih berada di selasar tribun selatan dan di area tidak jauh dari ruang ganti pemain, yang berada di bawah tribun VIP—sisi barat Stadion Kanjuruhan.

Stadion Kanjuruhan yang telah diaudit Komite Keandalan Bangunan Gedung (KKBG) dari Kementerian PUPR.
Foto : dok. Kementerian PUPR

“Di situ banyak. Nggak kehitung. Dan yang di pintu 13 itu masih bertumpuk-tumpuk karena mereka tertindih tangga pagar yang jatuh,” jelasnya.

Ketua Jaringan Relawan Jawa Timur Agustinus Tedja Buwana menghitung sedikitnya ada 70 korban meninggal dunia ditemukan di selasar tribun selatan dan sekitar area ruang ganti pemain. Sebanyak 45 korban berada di selasar tribun selatan dan 25 lainnya berada di sisi barat stadion dekat tribun VIP. Mereka, kata Tedja, tidak ikut berdesakan dengan penonton lainnya di pintu keluar stadion. Selasar yang dimaksud adalah tribun berdiri yang berada di antara lapangan hijau dengan tribun berundak.

Saat ditemukan, kondisi sebagian korban sangat mengenaskan. Mata mereka terbuka lebar, lidah menjulur, mulut berbuih, kulit membiru, serta feses dan urine keluar bersamaan. Seperti tercekik.

“Jadi itu lebih saya katakan dampak dari keracunan. Keracunan apa? Ya jelas dari gas air mata,” jelas Tedja saat dihubungi reporter detikX melalui sambungan telepon pekan lalu.

Selain menerima kesaksian dari Jaringan Relawan Jawa Timur, TGIPF mendapat laporan serupa dari mantan Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema FC Abdul Haris. Kepada anggota TGIPF, Haris mengaku melihat dengan mata kepalanya sendiri ada 16 orang tergeletak tak bernyawa di selasar tribun selatan. Jeda waktu saat ditemukannya para korban hanya sekitar 10 menit setelah tembakan gas air mata pertama kali dilepaskan polisi—pada pukul 22.08 lebih 59 detik.

Kondisi para korban ini mirip dengan yang disampaikan Tedja. Haris bersama tim evakuasi lantas berupaya memindahkan korban-korban ini ke beberapa tempat. Sebanyak 4 korban dibawa masuk ke ruang ganti, 6 ke pintu utama, dan 6 lainnya dibopong ke balai stadion.

“Sudah lemas semua. Sudah mati semua,” terang Haris sebagaimana disampaikan pengacaranya, Sumardan, melalui pesan singkat kepada reporter detikX pekan lalu.

Tiga sumber detikX di TGIPF membenarkan adanya laporan dari Haris dan Tedja. Laporan itu juga telah dikonfrontasikan juga dengan 32 rekaman CCTV yang didapatkan dari pihak kepolisian. Temuan ini menjadi alasan mengapa TGIPF pun mencurigai adanya zat beracun dalam gas air mata yang digunakan kepolisian saat membubarkan massa pada Tragedi Kanjuruhan.

Temuan ini pun berupaya dikomparasi dengan keterangan sejumlah dokter rumah sakit yang menangani korban. TGIPF, kata sumber ini, mendatangi langsung Rumah Sakit dr Saiful Anwar Malang, RSUD Kepanjen, dan RS Wava Husada. Tujuannya untuk meminta penjelasan penyebab kematian para korban.

Secara lisan, para dokter yang menangani korban menyimpulkan penyebab kematian adalah gas air mata. Namun, saat dimintai pernyataan tertulis, mereka enggan memberikan.

“Kami duga karena intimidasi dari polisi atau mungkin mereka takut dipanggil sebagai saksi saat persidangan,” jelas sumber ini kepada reporter detikX pekan lalu.

Kepala RSUD Kanjuruhan Kepanjen dr Bobi Prabowo dan Kepala Humas RS Wava Husada Tri Rahayu Andayani membantah bahwa para dokter mendapatkan tekanan dari polisi. Namun, ketika ditanya alasan mengapa menolak memberikan keterangan tertulis kepada TGIPF, mereka enggan menjawab.

“Sudah saya sampaikan, sebagian besar meninggal karena hypoxia,” kata Tri Rahayu saat dihubungi tim detikX pada Jumat, 14 Oktober lalu. Demikian juga dengan Bobi Prabowo, yang memberikan pernyataan serupa.

Anggota TGIPF Rhenald Kasali mengatakan, dari sejumlah dokter yang ditemui, hanya dua dokter yang berani memberikan pernyataan tertulis. Mereka adalah Ketua Public Interest for Police Trust sekaligus mantan komisioner Kompolnas dr M Nasser dan Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) dr Daniel Tjen.

Cahayu, korban Tragedi Kanjuruhan yang sempat koma lalu hilang ingatan.
Foto : M Bagus Ibrahim/detikJatim

“Mereka bilang kebanyakan korban meninggal karena trauma fisik, baik terbuka maupun tertutup, gas beracun, dan ada yang gabungan dari keduanya,” tutur Rhenald saat ditemui tim detikX di Hotel Aston Sentul, Bogor, pada Kamis, 13 Oktober 2022.

Dalam dokumen ‘Analisa Sebab Kematian’ yang ditulis Nasser kepada TGIPF yang tim detikX dapatkan, ada setidaknya dua karakter kematian pada korban Tragedi Kanjuruhan. Satu disebut sebagai kematian langsung. Satu lainnya disebut sebagai kematian tidak langsung.

Kematian langsung, kata Nasser, disebabkan oleh zat atau partikel berbahaya yang diduga ada dalam gas air mata. Contoh kematian langsung adalah mereka yang meninggal saat masih di selasar tribun. Sementara itu, kematian tidak langsung disebabkan oleh trauma fatal di bagian dada dan kepala. Namun, jika dihitung dari sebab meninggal, Nasser memastikan, jumlah kematian tidak langsung ini tidak jauh lebih banyak dibandingkan dengan kematian langsung.

“Tim menemukan, dari tiga rumah sakit yang diperiksa, korban meninggal karena sebab gas air mata jauh lebih banyak,” tulis Nasser dalam dokumen tersebut.

Nasser meyakini kesimpulannya ini lantaran TGIPF juga menemukan satu jenis selongsong gas air mata yang diduga paling berbahaya dibandingkan selongsong lainnya. Gas air mata ini berwarna merah, yang diduga berisi zat 2-chlorobenzalmalononitrile (CS) pekat alias CCS.

Dalam investigasi detikX sebelumnya dengan judul ‘Gas Beracun Pengepung Aremania’, selongsong berwarna merah ini diduga kuat milik satuan Sabhara. Amunisi gas air mata ini teridentifikasi ditembakkan sebanyak dua kali dari arah tribun barat VIP.

“Peluru yang berwarna merah dengan CCS 40C-383P diduga tidak mengandung CS murni. Namun CS pekat (CCS) karena merupakan jenis yang biasanya untuk menundukkan musuh, seperti teroris atau penjahat bersenjata,” jelas Nasser.

Bagas korban Tragedi Kanjuruhan mengalami patah tulang.
Foto : M Bagus Ibrahim/detikJatim

Daniel Tjen, yang juga dimintai keterangan oleh TGIPF, memberikan kesimpulan serupa. Dilihat dari ciri pada tubuh korban dan jarak kematian yang relatif singkat dengan waktu penembakan gas air mata, kata Daniel, diduga kuat bahwa para korban ini meninggal akibat efek gas air mata. Sebagian lainnya meninggal lantaran cedera pada organ saluran pernapasan dan hypoxia.

“Dan untuk kepastian, tentu dibutuhkan autopsi. Karena autopsi itu bisa mengungkap penyebab yang pasti, sehingga ada kepastian hukum,” kata Daniel saat dihubungi reporter detikX melalui telepon pada Sabtu, 16 Oktober 2022.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo belum mau menanggapi konfirmasi detikX terkait temuan TGIPF ini. Dedi hanya menyampaikan pekan ini Polri bakal menanggapi hasil temuan tersebut. Hanya sebelumnya, Dedi menegaskan, menurut penjelasan ahli dan dokter spesialis yang dihimpun Polri, penyebab kematian korban bukan gas air mata, melainkan kekurangan oksigen.

“Terjadi berdesak-desakan terinjak-injak, bertumpuk-tumpukan mengakibatkan kekurangan oksigen pada pintu 13, pintu 11, pintu 14, dan pintu 3 (Stadion Kanjuruhan). Ini yang jadi korbannya cukup banyak,” kata Dedi, Senin (10/10/2022).

Sedangkan Menko Polhukam Mahfud Md menegaskan, para korban yang meninggal, kritis, dan cacat disebabkan desak-desakan setelah ada gas air mata yang ditembakkan. Hal itu diungkapkan Mahfud, yang juga merupakan Ketua TGIPF, Jumat (14/10/2022).


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Rani Rahayu
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE