logo detikx
Ferdy Sambo Merencanakan Pembunuhan
Telepon
Dusta
Sambo

Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo membuka komunikasi kepada beberapa orang setelah membunuh ajudannya, Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat. Sambo membumbui ceritanya dengan iringan isak tangis yang ia buat-buat. Tujuan Sambo, mengumpulkan dukungan terhadap kronologis bohong yang dia buat.

Skenario palsu yang dibuat dan disebarkan Sambo adalah Yosua kepergok melecehkan istrinya, kemudian tewas setelah tembak-menembak dengan Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu. Ada yang bersimpati terhadap Sambo karena cerita itu, tetapi ada pula yang justru malah mencurigainya.

Fahmi Alamsyah misalnya, ia terbuai hasutan dan akhirnya ikut membantu Sambo melancarkan skenario palsunya. Ini yang pada akhirnya membuat Fahmi mengundurkan diri karena desakan dari para penasihat ahli Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo lainnya. Sedangkan Choirul Anam justru malah mencurigai Sambo dan melaporkan kepada atasannya.

Selengkapnya

Poengky Indarti

Komisioner Kompolnas

Ferdy Sambo menghubungi komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti setelah membunuh anak buahnya, Brigadir Nofriansyah Yosua. Kepada Poengky, Sambo diduga ingin meminta bantuan agar turut membenarkan skenario peristiwa tembak-menembak yang dikarangnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, yang juga Ketua Kompolnas Mahfud Md, mengatakan Poengky mengaku kepadanya sempat bertemu dengan Sambo di awal-awal peristiwa pembunuhan Yosua. Kepada Mahfud, Poengky mengklaim pertemuan itu didasari adanya undangan dari Sambo.

Poengky pun menemui Sambo di Kantor Div Propam. Sambil menangis di depan Poengky, Sambo mengklaim Yosua telah berbuat jahat kepada keluarganya. Sambo membohongi Poengky dengan mengatakan tidak berada di lokasi ketika Yosua tewas.

Mbak Poengky, saya ini dizalimi. Istri saya dilecehkan
Kalau saya ada di sana, saya tembak sendiri dia.

kata Sambo kepada Poengky seperti diungkapkan Mahfud.

Setelah pertemuan itu, Poengky turut mengawal proses hukum atas tewasnya Yosua. Pada Senin, 18 Juli 2022, Poengky mendatangi tempat kejadian perkara, yaitu rumah dinas Sambo.

Poengky mengklaim kedatangannya itu bertujuan mengawasi proses penyelidikan insiden penembakan yang dilakukan oleh Richard Eliezer alias Bharada E terhadap Yosua.

Kami sedang mengawasi proses penyelidikan
kata Poengky kala itu.

Pada kegiatan itu, Poengky tidak sendirian. Dia datang bersama Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto dan tim dari Sekretariat Kompolnas.

Selain komisioner Kompolnas, Poengky sebelumnya dikenal sebagai advokat yang mengangkat isu-isu penindasan masyarakat. Dia memulai kariernya sebagai pembela hak asasi manusia di Lembaga Bantuan Hukum Surabaya pada 1993.

Poengky sempat aktif di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada Divisi Kampanye dan Hubungan Internasional. Pada 2002, Poengky tercatat sebagai salah satu pendiri Imparsial bersama 18 orang penggerak HAM lainnya. Imparsial adalah lembaga swadaya masyarakat yang aktif bergerak di bidang HAM dan reformasi sektor keamanan.

Selengkapnya

Mohammad Choirul Anam

Komisioner Komnas HAM

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Mohammad Choirul Anam dihubungi dan bertemu dengan Sambo setelah Yosua meninggal di rumah dinas Sambo. Pertemuan itu terjadi pada Senin, 11 Juli 2022, di Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri. Itu adalah hari ketika kasus kematian Yosua diumumkan untuk pertama kalinya.

Kala itu, Sambo, yang masih menjabat Kepala Divpropam, meminta Anam datang ke ruangannya karena diduga hendak mempengaruhinya. Namun Anam tidak mengetahui apa yang ingin disampaikan Sambo dari undangan tersebut. Karena memiliki kedekatan profesional dengan Sambo, Anam kemudian menyanggupi undangan Sambo untuk bertemu.

Memang, dalam mengerjakan tugas masing-masing, mereka kerap berkoordinasi. Keduanya juga pernah sama-sama bekerja mengungkap kasus pembunuhan para anggota laskar FPI atau biasa dikenal dengan kasus Km 50.

Kenapa saya bisa bertemu dengan Pak Sambo? Karena memang biasanya hampir banyak kasus yang saya kirim surat ke Propam maupun ke Bidpropam di polda-polda dan sebagainya,
kata Anam, Senin, 22 Agustus 2022.

Anam tidak mengira, dalam pertemuan di Divpropam itu, Sambo menangis seraya memberikan narasi pelecehan yang dilakukan Yosua kepada istrinya serta tembak-menembak antara Bharada E dan Yosua. Kepada Anam, Sambo mengaku tidak ada di tempat saat terjadi pelecehan.

Anam sama sekali tidak tahu fakta sesungguhnya.

Ketemu, (Sambo) cuma nangis-nangis. Saya nggak tahu apa yang terjadi
kata Anam.

Sebelum bertemu dengan Sambo di Divpropam Mabes Polri, Anam mengaku sudah melaporkan kepada Ketua Komnas HAM Taufan Damanik. Taufan mengizinkannya karena tidak melihat ada hal serius dari hal tersebut. Kala itu Taufan memang belum mengetahui kasus pembunuhan Yosua di rumah Sambo.

Mohammad Choirul Anam adalah komisioner yang mengemban tugas pemantauan dan penyelidikan di Komnas HAM sejak 2020. Sebelum menjabat komisioner, Anam dikenal sebagai aktivis HAM. Dia sempat bekerja di sejumlah lembaga nonpemerintah, antara lain Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan Komite Aksi Solidaritas untuk Kasus Munir.

Selengkapnya

Fahmi Alamsyah

Penasihat Ahli Kapolri

Ferdy Sambo menghubungi dan bertemu dengan Fahmi Alamsyah setelah membunuh Yosua di rumah dinasnya. Fahmi adalah salah satu Penasihat Ahli Kapolri yang juga kerabat dekat Sambo. Fahmi mengatakan kedekatan dengan Sambo mulai terbangun sejak 2015. Kala itu, Sambo menjabat Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Menurut penuturan Fahmi, pada Minggu, 10 Juli 2022, atau dua hari setelah Yosua dibunuh, Sambo menghubunginya melalui sambungan telepon. Fahmi mengklaim Sambo mengatakan telah terjadi pelecehan seksual terhadap istrinya.

Meskipun ini aib keluarga dan memalukan, tapi demi kehormatan, istri saya sudah lapor tentang pelecehan seksual ke Polres Jakarta Selatan

kata Fahmi meniru pernyataan Sambo kepadanya.

Sambo juga mengatakan kepada Fahmi, ada media lokal di Jambi yang sudah mengetahui peristiwa di rumah dinasnya. Media lokal tersebut menanyakannya ke Polda Jambi. Fahmi lalu menyarankan agar Mabes Polri merilis kasus tersebut pada Senin, 11 Juli 2022.

Fahmi kemudian membuat draf rilis berdasarkan cerita Sambo. Sambo pun, menurut Fahmi, meneruskan draf itu kepada Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Dedi Prasetyo.

Sebetulnya, faktanya seperti apa, saya juga tidak tahu. Tapi saya harus percaya sebelum ada pembuktian sebaliknya
Saya menolong dalam rangka teman, sahabat, bukan dalam kapasitas Penasihat Kapolri

Kata Fahmi

Namun Fahmi tidak melaporkan percakapan dengan Sambo itu kepada tim Penasihat Kapolri. Fahmi bersikap seolah-olah tidak tahu apa pun tentang peristiwa itu. Padahal tim Penasihat Kapolri sudah intensif berdiskusi tentang kasus tersebut sejak dirilis ke publik.

Karena itulah, Fahmi kemudian dianggap menyembunyikan sesuatu. Dia juga diduga turut terlibat dalam pembuatan skenario bohong mengenai pelecehan dan tembak-menembak, yang selama ini dinarasikan Sambo.

Desakan untuk mundur kemudian muncul dari para Penasihat Kapolri karena menganggap Fahmi menjadi bagian dari kejahatan yang dilakukan Sambo. Fahmi pun akhirnya mengundurkan diri.

Sebelum menjadi Penasihat Kapolri, Fahmi dikenal sempat bekerja di media massa. Fahmi juga sempat menjadi salah satu petinggi media online.

Kepala Project
Irwan Nugroho
Naskah
May Rahmadi
Editor
Dieqy Hasbi Widhana
Penyelaras Bahasa
Habib Rifai
Frontend Developer
Dedi Arief Wibisono
Ilustrasi
Denny Putra • Edi Wahyono
***Komentar***