INVESTIGASI

Tragedi Tabrak Lari Sejoli di Nagreg-Serayu

Sejoli H dan S bernasib nahas, ditabrak mobil yang dikemudikan anggota TNI Angkatan Darat di Nagreg, Bandung. Bukannya ditolong ke rumah sakit, tubuh mereka dibuang di Sungai Serayu, Banyumas, Jawa Tengah.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 3 Januari 2022

Braaak! Suara benturan keras mengejutkan warga di sekitar Jalan Raya Nagreg-Limbangan Kilometer 42. Tepatnya di Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu, 8 Desember 2021, pukul 15.20 WIB. Suara itu terdengar warga yang tengah antre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Ciaro. Warga segera menuju tepi jalan nasional yang menghubungkan Bandung-Garut itu untuk melihat asal suara tersebut.

Suara benturan berasal dari mobil Isuzu Panther berwarna hitam doff bernomor polisi B-300-Q dan sepeda motor Suzuki Satria FU berkelir hitam bernomor polisi D-2000-RS. Lokasi tabrakan berjarak kurang-lebih 10 meter dari SPBU Ciaro. Motor itu ringsek di bagian belakang. Pengemudinya, H (18), terkapar di depan mobil. Sedangkan S (14), kekasih H, mengenaskan terkapar di kolong mobil penabraknya.

“Saya nggak lihat tabrakannya langsung, tapi suaranya kedengeran cukup kenceng. Di situ juga saya istigfar, kencengnya gitu, tabrakan itu,” ungkap Rahmat—bukan nama sebenarnya—saat mengisahkan tabrakan maut itu kepada reporter detikX, Minggu, 19 Desember 2021.

Sebelumnya, Rahmat hendak pulang ke rumahnya di Selaawi, Garut, dari Cicalengka, Bandung. Ia mampir ke SPBU Ciaro untuk mengisi bensin. Baru saja ia menutup tangki motornya, terdengar suara benturan keras itu. Lalu ia bergegas menghampiri arah asal suara itu. Benar saja perkiraannya, suara itu berasal dari tabrakan dua kendaraan. Ia tak tahu persis bagaimana mobil itu bisa menabrak pasangan sejoli tersebut.

Mobil pelaku yang menabrak dan membawa kabur dua korban.
Foto : Wisma Putra

Hal itu diceritakan juga oleh Taufik Hidayat, yang tengah berada di toko materialnya ketika mendengar suara benturan keras. “Saya di dalam toko menghadap jalan, tapi terhalang pagar. Saya tahunya pas terjadi benturan, lihat ke pagar udah ada korban laki-laki ngeguling ke kolong mobil, terpental,” katanya saat ditemui reporter detikX di tokonya, Rabu, 29 Desember 2021.

Nah, saya itu pas lihat korban tergeletak itu, saya lihat ibu-ibu yang nyamperin anak itu. Kemudian kata ibu-ibu itu, oh si Salsa (korban perempuan) anaknya si anu. Sambil nangis beliau itu, tidak kuasa lihat, kemudian balik lagi.”

Taufik menjelaskan mungkin motor ditabrak dari belakang oleh mobil Isuzu Panther hitam dari arah Bandung menuju Limbangan. Keyakinan warga itu didasari oleh kerusakan pada bagian belakang motor. Sementara itu, mobil berwarna hitam mengalami lecet di bagian bumper depannya. Hal serupa juga diungkapkan Jalaludin, seorang karyawan toko di sekitar tempat kejadian perkara.

“Motor mah yang rusak cuma belakangnya saja. Belakang jok, pegangannya mileuy (melengkung atau bengkok). Mungkin ditabrak dari belakang. Depannya nggak apa-apa, masih utuh, cuma injakan gigi rusak, belakangnya rusak,” kata Jalaludin kepada reporter detikX.

Taufik dan Jalaludin mengatakan situasi lalu lintas Bandung menuju Limbangan terbilang sepi dan lancar. Karena itu, keduanya memastikan tabrakan maut itu hanya melibatkan mobil Isuzu Panther dan motor Suzuki Satria FU. “Nggak ada, mobil itu saja satu-satunya. Bandung-Limbangan sepi, justru masih padat arah Limbangan ke Bandung ramai lancar,” terang Taufik.

Keduanya juga merasa heran, walau saat itu banyak warga, tak satu pun yang mendekat dan menolong korban. Apalagi saat itu terlihat korban perempuan posisinya berada di kolong mobil di antara ban depan dan belakang. Kondisinya berlumuran darah dan tak bergerak. Sedangkan korban laki-laki tergeletak di depan mobil, persis di ban depan, terlihat masih bergerak-gerak.

Taufik dan Jalaludin sempat melihat dua penumpang mobil Panther hitam turun. Keduanya terlihat rapi, yang satu mengenakan baju putih dan satu lagi baju hitam. Sedangkan satu lagi di dalam mobil mengenakan baju biru dongker. Ia hendak turun, tapi diperintahkan pria berbaju hitam untuk tetap di dalam mobil. Ketiga orang tersebut berbadan tegap dan berambut cepak.

Pria berbaju putih dan hitam mencoba mengevakuasi korban tabrakan dari kolong dan depan mobilnya. Tak ada warga lain yang ikut membantu evakuasi, kecuali warga bernama Mang Oseng, salah satu karyawan toko material milik Taufik Hidayat. Satu lagi warga yang melintas ketika kejadian yang ikut mengevakuasi korban, yaitu Rahmat. 

“Banyak warga, tapi anehnya nggak ada yang bantu, malah pegawai saya aja yang bantu yang di sini. Ada yang bantu, Mang Oseng. Yang bantuin, teh, kalau warga mah ada, tapi nggak ada yang mendekat,” ucap Taufik.

Sedangkan menurut penglihatan Rahmat, saat proses evakuasi itu, ada tiga orang. Yang satu berbaju hitam dan satu lagi berbaju putih. Satu lagi pria berbaju warna gelap dengan menggunakan earphone di telinga berdiri dekat mobil. Awalnya mereka pun mencari-cari korban pengendara motor berboncengan itu berada di mana.

Rahmat, yang lebih dekat dengan mereka, langsung menunjukkan korban berada di kolong mobil mereka. Pria berbaju putih dan hitam sama sekali tak berbicara. Hanya pria yang mengenakan earphone yang terus bicara dan memberi instruksi kepada keduanya agar cepat membawa kedua korban, H dan S.

Rekonstruksi Tiga Prajurit TNI Tabrak Handi-Salsa Digelar di Nagreg.
Foto : Wisma Putra/detikcom

Korban S bisa dievakuasi dan dibawa ke pinggir jalan, persis di mulut gang menuju perkampungan. Ia mengalami luka parah di bagian kepala dan berlumuran darah. Rahmat mengaku tak kuasa melihatnya. Namun ia sempat membantu menggotong H dari tengah jalan ke pinggir. Saat itu ada seorang ibu-ibu menghampiri tubuh korban perempuan, lalu histeris menangis.

“Nah, saya itu pas lihat korban tergeletak itu, saya lihat ibu-ibu yang nyamperin anak itu. Kemudian kata ibu-ibu itu, oh si Salsa (korban perempuan) anaknya si anu. Sambil nangis beliau itu, tidak kuasa lihat, kemudian balik lagi,” terang Rahmat.

Sementara itu, pria berbaju hitam yang memakai earphone meminta kedua temannya cepat-cepat memasukkan korban ke dalam mobil. Ia terlihat panik, lalu S dimasukkan ke mobil di jok tengah. Sedangkan H dimasukkan ke bagasi mobil. Pria itu lantas meminta kedua temannya untuk cepat pergi dan mencari rumah sakit terdekat.

“Bawa ke rumah sakit terdekat, bawa ke rumah sakit terdekat. Di mana rumah sakit terdekat? Kemudian saya arahkan ke Balubur, Limbangan (Garut), karena rumah sakit terdekat di situ,” kata Rahmat seraya menjawab pertanyaan si pria berbaju gelap dengan earphone tersebut. Setelah itu, pria berbaju putih mengemudikan dan membawa mobilnya ke arah Limbangan.

Saat itu Rahmat sempat bertanya kepada salah seorang warga yang mulai mendekat. “Kemudian saya komunikasi dengan orang situ, ada yang saya kenal, saya tanya ini tuh siapa. Katanya orang sini. Rumahnya di dalam gang katanya. Kemudian kata saya, kenapa itu nggak ada yang dampingi, takut kenapa-kenapa,” tanya Rahmat.

Rahmat sempat melihat ada satu motor yang mengikuti mobil Isuzu Panther hitam itu pergi. Selanjutnya ia tak tahu lagi karena meneruskan perjalanan pulang ke Selaawi. “Terakhir saya lihat ada yang maju pakai motor. Nggak tahu, orang situ, nggak tahu siapa. Saya kira mereka yang ngikutin. Kemudian di situ saya pulang,” pungkasnya.

Rupanya pemotor yang mengejar mobil Panther hitam itu tak lain adalah Entas Hidayatullah, ayah H. Setelah mendapat kabar dari warga bahwa anaknya mengalami kecelakaan di Jalan Raya Nagreg-Limbangan, ia segera menuju lokasi. Namun ternyata anaknya dan S sudah tak berada di lokasi. Ia pun menyusul mobil penabraknya setelah diberi tahu warga.

“Warga yang lihat ngasih tahu saya, korban langsung dibawa ke Limbangan,” ucap Entas kepada wartawan, Selasa, 14 Desember 2021.

Saat itu Entas bergegas menuju puskesmas dan rumah sakit terdekat di Limbangan hingga Kota Garut. Entas dan keluarga S pun sempat melaporkan anaknya yang hilang ke Polresta Bandung pada 11 Desember 2021. Dibantu pihak kepolisian, Entas mencari anaknya ke sejumlah rumah sakit di Tasikmalaya, Sumedang, hingga Ciamis sampai 13 Desember 2021.

“Laporan dilakukan oleh orang tua korban. Laporan kami terima, kami lakukan serangkaian penyelidikan dan pencarian,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Bandung AKP Bimantoro Kurniawan kepada reporter detikX, Kamis, 29 Desember 2021.

Rekonstruksi Tiga Prajurit TNI Tabrak Handi-Salsa Digelar di Nagreg.
Foto : Wisma Putra/detikcom

Setelah sembilan hari pencarian, lanjut Bimantoro, penyelidik polisi menemukan titik terang pada 16 Desember 2021. Polisi mendapatkan informasi dari Polres Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah, terkait penemuan jenazah di Sungai Serayu pada 11 Desember 2021. Polsek Rawalo, Banyumas, saat itu mendapat kabar dari Ari Sugianto dan Suwanto, dua penambang pasir di Dipo Pasir Grumbul.

Kedua orang itu mendapatkan informasi dari penambang pasir bahwa telah ditemukan sesosok jenazah laki-laki di pinggir Sungai Serayu, tepat di Grumbul Cibali, Desa Banjarparakan, Banyumas. Mayat laki-laki itu tanpa identitas, memakai kaus putih, celana jins biru ketat, ikat pinggang warna hitam, sepatu kets warna merah, perawakan gemuk, dan tinggi badan sekitar 165 cm.

Dua hari sebelumnya, Polres Cilacap juga mendapatkan laporan penemuan jenazah perempuan di Sungai Serayu. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari posisi penemuan mayat laki-laki. Setelah dicocokkan dengan ciri-ciri kedua mayat dengan ciri fisik terakhir H dan S, pihak keluarga diantar anggota Polresta Bandung menuju Banyumas dan Cilacap dan cocok identitasnya.

“Dari situ kita melakukan serangkaian penyelidikan kembali. Mencari keterangan saksi, petunjuk CCTV yang ada. Akhirnya kita simpulkan tanggal 23 Desember, kita lapor kepada pimpinan bahwa dugaan pelaku adalah dari oknum TNI,” terang Bimantoro.

Polresta Bandung lalu melimpahkan kasusnya ke Polisi Militer Kodam (Pomdam) III/Siliwangi. Penyelidik Polisi Militer lalu memburu ketiga anggota TNI yang berada di dalam mobil Isuzu Panther B-300-Q itu. Tak lama, para penyelidik Polisi Militer berhasil menangkap ketiganya di tempat berbeda. Mereka adalah Kolonel Inf Priyanto (Kepala Seksi Intel Kasrem Gorontalo), Kopral Dua (Kopda) Dwi Andreas (anggota Kodim Gunungkidul/Kodam Diponegoro), dan Kopda Ahmad Sholeh (anggota Kodim Demak/Kodam Diponegoro).

Kini kasus ketiga oknum TNI AD itu ditangani langsung oleh para penyidik Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspomad). Dari hasil penelusuran detikX kepada sejumlah saksi dan pemantauan di lapangan, ketiga anggota TNI AD ternyata tak membawa H dan S ke rumah sakit. Padahal Nagreg-Limbangan-Malangbong-Ciawi-Majenang-Wangon-Genteng hingga Jembatan Serayu (Soekarno) Banyumas ada sekitar 13 fasilitas kesehatan yang dilalui para pelaku.

Bahkan para pelaku tak membawa kedua korban tabrakan itu ke UPT Puskesmas Limbangan, yang berjarak 6 kilometer dari tempat kejadian tabrakan dengan jarak tempuh 10 menit. Lalu ada RS Khusus Bedah RSOP Ciamis, RS Banjar Patroman, RS Islam Amanu Majenang, RSU Majenang, RSU An-Ni’man Wangon, dan RSU Duta Mulya Cilacap.

Kolonel Infanteri Priyanto tengah digelandang Polisi Militer.
Foto : Istimewa

Berdasarkan investigasi detikX, salah satu di antara Dwi Andreas dan Ahmad Sholeh sempat memberi tahu ada fasilitas kesehatan yang mereka lewati. Mereka merekomendasikan untuk merujuk kedua korban ke fasilitas kesehatan tersebut. Namun Priyanto menolaknya. Informasi ini didapatkan dari Kepala Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspom AD) Letnan Jenderal TNI Chandra Warsenanto Sukotjo kepada reporter detikX.

"Siapa yang waktu berjalan itu ada yang melihat ada puskesmas, menyarankan untuk berhenti, tapi tidak usah, terus saja. Itu kan nanti dituangkan dalam berita acaranya nanti," ujar Chandra.

Chandra juga menegaskan anggota TNI dilatih untuk bertempur melawan musuh, bukan membunuh sipil. Instansinya tak akan menoleransi pelaku kriminal di luar norma seperti kasus ini.

"Nanti dibuka dan transparanlah supaya masyarakat juga lihat kelakuan-kelakuan bejat anggota macam gini. Kita setengah mati jaga citra TNI, tahu-tahu ada kelakuan kayak gini. Kan sedihlah," tegasnya.


Reporter: Wisma Putra (Bandung), Hakim Gani (Garut), Fajar Yusuf Rasdianto, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE