INVESTIGASI

Darurat Bantuan Negara Sahabat

Pasokan obat-obatan dan oksigen kian tipis akibat lonjakan kasus COVID-19 sepekan terakhir. Para menteri pontang-panting mencari bantuan luar negeri.

Foto: Getty Images

Selasa, 20 JUli 2021

Sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Rabu malam, 14 Juli 2021. Pesan itu datang dari karib Retno di Negeri Ratu Elizabeth, Dominic Raab. Pria kelahiran 25 Februari 1974 itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris. Dominic dan Retno sempat beberapa kali menjalin komunikasi di sela-sela pertemuan bilateral G20 di berbagai negara. Pertemuan terakhir keduanya terjadi saat Retno berkunjung ke Den Haag, Belanda, Kamis, 1 Juli 2021. Pesan singkat dari Dominic malam itu merupakan tindak lanjut atas pertembungan tersebut.

Kepada Retno, Dominic menyebut bahwa pemerintah Inggris bakal mengirim sejumlah dosis vaksin untuk membantu Indonesia menangani pandemi COVID-19. Diceritakan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, malam itu Retno langsung mengirim pesan ke grup WhatsApp Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi untuk menindaklanjuti komitmen Inggris tersebut. Tim ini merupakan bentukan Kemenlu yang diketuai oleh Wamenlu Mahendra Siregar. Fokus utama tim ini adalah menjalin diplomasi dengan berbagai negara sahabat terkait pemulihan ekonomi nasional, kesehatan, dan pariwisata. “Saya telah berkomunikasi dengan Menlu Inggris, ada komitmen kerja sama,” kata Faizasyah kepada detikX, menirukan pesan singkat Retno, Kamis, 16 Juli 2021.

Sehari sebelumnya, Selasa, 13 Juli 2021, Retno juga menjalin komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Anthony Blinken. Dalam percakapan via telepon itu, muncul komitmen dari Amerika untuk menambah bantuan dosis vaksin Moderna ke Indonesia melalui jalur multilateral Covax Facility. Covax alias COVID-19 Vaccines Global Acces ini merupakan inisiatif sejumlah organisasi global untuk pemerataan vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kemenlu Penny Dewi Herasati mengatakan, komunikasi Retno dengan Blinken itu membuahkan komitmen berupa tambahan 1 juta dosis vaksin dari Negeri Paman Sam untuk Indonesia. “Jadi awalnya Amerika itu menyumbang tapi melalui Covax Facility sekitar 3 juta (dosis vaksin). Bu Menlu teleponan dengan salah satu pejabat di Amerika, lalu dapat tambahan (vaksin Moderna) sekitar 1 juta,” terang Penny kepada detikX, pekan lalu.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, 17 Maret 2020
Foto : Andhika Prasetia/detikcom

Memburuknya pandemi COVID-19 di Indonesia memang membuat Retno menjadi menteri yang paling sibuk belakangan ini. Retno kerap dihubungi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk melakukan lobi-lobi bisnis dan politik dengan beberapa negara sahabat. Dalam sebuah konferensi pers daring, Budi meminta Retno untuk melobi India agar mau membuka kembali jalur impor obat remdesivir. Alternatif lain adalah melobi Pakistan dan China yang juga memiliki obat sejenis remdesivir. Ketersediaan obat itu belakangan makin langka seiring lonjakan kasus positif SARS-Cov2 di Indonesia.

Pemerintah sekarang juga pontang-panting menyiapkan perawatan."

Remdesivir diklaim mampu mempercepat pemulihan pasien COVID-19 bergejala sedang hingga berat. Data terakhir Kementerian Kesehatan menunjukkan, perkiraan kebutuhan remdesivir mencapai 1,9 juta ampul. Sedangkan stok obat remdesivir hingga akhir Juli baru terpenuhi sekitar 326 ribu ampul. "Kami juga sudah membuka akses dengan China supaya obat yang mirip dengan remdesivir bisa kita bawa masuk,” terang Budi usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo, Jumat, 16 Juni 2021.

Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia juga membuat obat tocilizumab alias actemra kian langka. Obat ini mampu menguatkan antibodi monoklonal dan antiinterleukin 6 yang disebut-sebut efektif untuk penyembuhan pasien positif. Di Indonesia, stoknya hanya tersisa 2.800 ampul hingga akhir Juli. Sementara estimasi kebutuhan obat tersebut 70.956 ampul.

Budi mengaku telah menghubungi langsung CEO produsen tocilizumab yang berlokasi di Swiss. Namun, mereka menyebut bahwa antrean pengiriman tocilizumab sedang ketat seiring meningkatnya kasus positif COVID-19 di dunia. Jalan lainnya, Kemenkes telah berkomunikasi dengan pemerintah Amerika yang kabarnya memiliki banyak stok obat serupa actemra. Dalam waktu dekat, Budi berharap bahwa obat serupa actemra tersebut bisa segera dibawa ke Indonesia.

Selain tocilizumab dan remdesivir, Indonesia juga tengah kewalahan menyiapkan obat gamaras atau intravenous immunoglobulin (IVig). Sampai akhir Juli 2021, kebutuhan obat tersebut diperkirakan mencapai 1,4 juta ampul. Sedangkan ketersediaannya hanya sekitar 70 ribu ampul. Budi bilang, pemerintah sudah mendatangkan sekitar 30 ribu ampul gamaras dari China. Namun, jumlah itu masih jauh dari total yang dibutuhkan. “Sekarang dibantu oleh Kemenlu, kita terus melakukan lobi-lobi dengan China,” tambah Budi.

Vaksinasi anak di Palembang pada Sabtu, 10 Juli 2021 lalu. Indonesia banyak mendapatkan bantuan vaksin dari luar negeri.
Foto: Nova Wahyudi/ANTARA Foto

Kelangkaan tiga obat tersebut tidak lepas dari tingginya kasus COVID-19 di Indonesia dalam sepekan terakhir. Indonesia sempat mencetak rekor penambahan kasus terbanyak pada Kamis, 15 Juli 2021, dengan total 56.757 kasus baru. Sehari setelahnya pada Jumat, 16 Juli 2021, angka kematian juga turut mencatatkan rekor terbanyak dengan 1.205 orang meninggal dunia.

Akibat lonjakan kasus COVID-19 dan kematian itu membuat pemerintah kewalahan. Wakil Presiden Ma'ruf Amin menuturkan, masalah yang dihadapi Indonesia kini makin bertumpuk, mulai dari kekurangan oksigen, obat-obatan, hingga tenaga kesehatan. Apalagi, saat ini kebutuhan oksigen medis di Indonesia meningkat drastis, dari semula hanya 400 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari. Sementara kemampuan Indonesia memproduksi oksigen hanya 1.700 ton per hari. “Pemerintah sekarang pontang-panting menyiapkan perawatan,” kata Ma'ruf dalam konferensi pers daring, Selasa, 13 Juli 2021.

Seperti yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Indonesia kini sudah memasuki masa darurat COVID-19. Skenario terburuk pun telah dijalankan pemerintah semenjak kasus positif COVID-19 menembus angka 40.000 kasus pada Ahad, 12 Juli 2021. Salah satu strategi dalam menghadapi kondisi terburuk ini adalah dengan membuka selebar-lebarnya pintu bantuan dari luar negeri.

Dalam keterangan persnya pada Kamis, 15 Juli 2021, Luhut mengatakan bahwa Indonesia telah menerima bantuan dari beberapa negara sahabat. Di antaranya, Jepang, Singapura, Uni Emirat Arab, China, Australia, dan Amerika. Beberapa di antara mereka ada yang menawarkan langsung bantuannya kepada Indonesia. Sebagian lainnya turut memberi bantuan usai diminta oleh pemerintah Indonesia.

Luhut sendiri mengaku telah menghubungi pejabat dari UAE, RRT, dan Australia untuk memohon bantuan. Seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri menyebut, Luhut memang kerap menjadi pembuka jalur komunikasi Indonesia dengan sejumlah negara sahabat. Dengan komunikasi Luhut itu, Indonesia pun berhasil mendapatkan bantuan dari negara-negara tersebut.

Dari China, Indonesia bakal menerima 400 oksigen konsentrator OC-E100, 20 ribu unit nasal oxygen tubes, dari 20 ribu unit masker oksigen. Australia turut menyumbangkan 1.000 unit ventilator untuk Indonesia. Lalu UAE menghibahkan 450 unit tabung oksigen berkapasitas 40 liter, 150 unit oksigen konsentrator, 20 ton alat kesehatan, dan 250 ribu dosis vaksin sinopharm.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Foto: Inkana Putri/detikcom 

Luhut juga mengaku sempat meminta langsung bantuan Iso Tank oksigen kepada Singapura. Ketersediaan Iso Tank kini sedang menjadi perebutan berbagai negara akibat melonjaknya kasus COVID-19 di dunia. Namun, kata Luhut, ketersediaan Iso Tank di Singapura juga masih tidak cukup untuk negerinya sendiri. “Kemudian kita minta juga ke negara lain, seperti Abu Dhabi dan juga China,” terang Luhut pekan lalu.

Tetapi melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, rupanya Indonesia berhasil mendapatkan lima unit Iso Tank dari Singapura. Saat melawat ke Singapura pada Rabu, 14 Juli 2021, Airlangga mengaku telah bertemu langsung dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Dalam pertemuan tersebut, Lee menanyakan kepada Airlangga bantuan apa yang bisa diberikan Singapura kepada Indonesia. Hasilnya, Indonesia berhasil mendapatkan sejumlah bantuan dari Singapura.

“Pemerintah Singapura berkomitmen menambah bantuan Iso Tank dan Liquid Oxygen sebanyak 24 unit. Melalui Smart Gas akan dilakukan refurnished terhadap Iso Tank yang tersedia di Singapura dan sebagian lagi akan dipesan yang baru dari Tiongkok,” terang Airlangga.

Sikap Airlangga yang mengumumkan bantuan dari Singapura ini berbeda dengan pernyataan dia sebelumnya pada Rabu, 7 Juli lalu. Saat itu, Airlangga menyebut bahwa Indonesia masih mampu mengatasi pandemi COVID-19 dengan kemampuan sendiri. Pernyataan Airlangga itu juga bertentangan dengan sikap Luhut yang menyebut bahwa Indonesia telah menjalin komunikasi dengan Singapura dan China untuk penanganan pandemi.

Terkait perubahan sikap Airlangga itu, detikX telah menghubungi Juru Bicara Kemenko Perekonomian Alia Karenina. Namun, Alia enggan menanggapi upaya konfirmasi kami. “Tidak ada tanggapan ya Mas, atas pertanyaan-pertanyaan tadi,” pungkas Alia.


Penulis: Fajar Y Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE