INVESTIGASI

Rumah Sakit
Akhirnya Stagnan

Jumlah pasien baru COVID-19 terus melonjak. Sebagian rumah sakit tidak bisa menerima pasien COVID-19 lagi.

Ilustrasi: Fuad Hashim

Senin, 28 Juni 2021

Telepon seluler Faisal Maliki, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, berdering pada Kamis, 24 Juni 2021, pagi. Di seberang telepon, kerabat Faisal mengabarkan bahwa ibu mertuanya, Wiwie Wiarsih, 62 tahun, yang tinggal di Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, mengalami sesak napas. Sebagian besar anak-anak Wiwie yang berada di Jakarta meminta tolong kepada kerabat dan tetangga di kampung untuk mengantarkan ibunya ke rumah sakit.

Namun mereka takut Wiwie akan dinyatakan tertular Coronavirus Disease (COVID-19) apabila dirujuk ke rumah sakit. Alhasil, Wiwie pun hanya dirawat di rumah dengan diberi oksigen. Ternyata kondisinya makin menurun hingga sore hari. Sesak napasnya kian menjadi. Kakak Ipar Faisal yang telah tiba di kampung akhirnya melarikan Wiwie ke Rumah Sakit Umum Daerah Ciamis.

Benar saja, setelah dilakukan pemeriksaan, Wiwie positif menderita COVID-19. Namun, setelah menunggu cukup lama di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, Wiwie tak kunjung mendapatkan kamar di ruang isolasi khusus COVID-19. Pihak rumah sakit menyatakan kamar di ruang isolasi sudah penuh. Jikapun ada, kamar yang tersisa itu termasuk kamar biasa, tanpa fasilitas ventilator.

Faisal menceritakan keluarga berpikir masih lebih baik Wiwie dirawat di IGD dibandingkan di kamar isolasi tanpa ventilator. Namun, melihat kondisi Wiwie yang kritis pada hari itu, mereka tetap berupaya untuk mencari rumah sakit yang masih memiliki ventilator. Sejak pukul 23.00 WIB, mereka mulai bergerilya mencari rumah sakit lainnya.

Banyak rumah sakit, mulai di Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, hingga Jakarta, yang mereka hubungi. Namun jawabannya sama. Tidak ada kamar isolasi sesuai yang dibutuhkan karena penuh semua oleh pasien COVID-19. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, misalnya, sudah ada 15 pasien COVID-19 di IGD yang masuk daftar tunggu untuk masuk ruang isolasi.

“Semua rumah sakit yang ada alamatnya di Google kita kontak. Ada belasan rumah sakit yang kita hubungi, itu penuh semua. Akhirnya ya sudah, tengah malam Mama udah nggak ada (meninggal dunia) masih di ruang UGD, nggak sempat masuk kamar isolasi,” tutur Faisal kepada detikX, Minggu, 27 Juni 2021.

Sejumlah rumah sakit di Jakarta mulai memfungsikan tenda darurat sebagai tempat penanganan pasien Corona. Salah satunya RSUD Kramat Jati, Jakarta Timur.
Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Jenazah Wiwie dikuburkan dengan protokol kesehatan pasien COVID-19 pada Jumat, 25 Juni 2021, pagi. Pemakaman tanpa dihadiri satu pun anggota keluarga. Mereka melepas kepergian Wiwie dari layar ponsel. "Kalau normal kan biasanya nunggu anak-anaknya datang. Jadi pemakaman itu bisa dilihat melalui video call saja,” ucap Faisal penuh duka.

Bukan hanya Wiwie pasien COVID-19 yang nyawanya tak tertolong karena kondisi rumah sakit yang penuh. Seorang pasien COVID-19 di Depok, Jawa Barat, juga mengalami nasib serupa. Pasien gawat darurat itu meninggal dunia karena tak kunjung mendapatkan ruangan Intensive Care Unit (ICU) dengan ventilator di sebuah rumah sakit di wilayah tersebut pada Minggu, 20 Juni 2021.

LaporCovid-19, koalisi warga yang peduli terhadap hak asasi warga dan masalah kesehatan terkait COVID-19, berusaha membantu pasien dengan mengontak 95 Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Namun, dari 95 rumah sakit, 36 di antaranya memberitahukan bahwa ruang ICU mereka saat itu penuh, termasuk RS Mitra Keluarga Depok, RSPI Sulianti Saroso, RSUD Pasar Minggu, dan RS Persahabatan.

“Sementara itu, delapan RS menyampaikan tidak memiliki ruang ICU dan 51 RS sama sekali tidak merespons. Hingga akhirnya pagi, sekitar pukul 05.00 WIB, pasien meninggal dunia karena tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai,” demikian kata relawan LaporCovid-19, Windy, dalam keterangannya pekan lalu.

Sepanjang 14-25 Juni 2021, LaporCovid-19 mencatat tiga pasien meninggal dunia di IGD karena tak mendapatkan ruang ICU. Selain di Depok, seorang pasien meninggal dunia di IGD sebuah rumah sakit di Garut, Jabar, karena mengalami penurunan kesadaran. Lalu seorang pasien di sebuah rumah sakit di Jakarta meninggal setelah tak mampu melewati kondisi kritis.

Total, selama sepekan itu, LaporCovid-19 menerima 43 laporan warga untuk permintaan rumah sakit. Pencarian yang dilakukan menunjukkan banyak rumah sakit menolak pasien karena tak ada ketersediaan tempat tidur. Selain sebagian pasien berakhir dengan meninggal dunia, banyak yang akhirnya bertahan di rumah dengan alat seadanya dari puskesmas.

Sejumlah pasien menjalani perawatan di lorong IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021). Akibat ruang isolasi COVID-19 di RSUD dr Soekardjo penuh, pasien harus mengantre, bahkan belasan di antaranya terpaksa menunggu di lorong IGD lantaran masuk dalam daftar tunggu untuk dipindahkan ke ruang isolasi. 
Foto: Adeng Bustomi/ANTARA FOTO

Melonjaknya jumlah pasien COVID-19 memang menyebabkan banyak rumah sakit di berbagai daerah penuh. Di DKI Jakarta, Sekretaris Daerah Marullah Matali mengatakan data bed occupancy rate (BOR) di sejumlah rumah sakit di Ibu Kota terus meningkat hingga 92 persen. “Terkait dengan BOR, untuk BOR isolasi kita sudah mencapai 92 persen, tempat tidur 10.252 sudah terisi 9.388,” kata Marullah dalam diskusi virtual di YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu, 27 Juni 2021.

Begitu juga dengan tingkat keterisian ruang ICU di Jakarta, yang terus meningkat hingga menyentuh angka 87 persen. Setidaknya pada Sabtu 26 Juni 2021, jumlah tempat tidur ICU yang sudah terisi mencapai 1.095 dari 1.255 unit. “Semuanya dinamis dan semuanya terus meningkat. Saya kira jam per jam di Jakarta peningkatannya ini sangat signifikan,” paparnya.

Contoh lain di Jabar. BOR rumah sakit rujukan COVID-19 telah mencapai  90,32 persen pada Minggu, 26 Juni 2021. Tempat tidur perawatan COVID-19 telah terisi 14.300 dari total 15.832 tempat tidur di 328 rumah sakit. Khusus BOR ruang perawatan pasien dengan gejala berat-ICU tekanan negatif dengan ventilator mencapai 90,82 persen dari 534 tempat tidur dan ruang ICU terisi 85,04 persen dari 908 tempat tidur.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit seluruh Indonesia dr Lia G Partakusuma membenarkan BOR di Jakarta mencapai 92 persen. Beberapa hari lalu tinggal rumah sakit di Kepulauan Seribu yang masih kosong, tapi kini juga sudah terisi. Sedangkan secara nasional, BOR saat ini mencapai 70 persen dari sebelumnya 60 persen. “Sudah nggak bisa ngomong BOR saya, sih. BOR-nya berapa saja, karena kenyataan memang sudah sulit sekali, orang mau masuk (rumah sakit) juga susah,” kata Lia kepada detikX, Senin 28 Juni 2021.

Lia mengatakan gelombang kedua COVID-19, yang dipicu oleh libur Lebaran, telah membuat rumah sakit di berbagai daerah berlomba dengan pasien COVID-19 yang terus mengalir masuk. Rumah sakit sudah melakukan berbagai upaya untuk menampung lonjakan jumlah pasien itu. Mereka antara lain memperluas areanya, menambah tempat tidur dengan konversi, menambah ruang IGD, dan membangun rumah sakit lapangan dengan tenda darurat.

Namun jumlah pasien yang keluar memang tak sebanding dengan jumlah pasien baru yang minta ditangani rumah sakit. Hal itu akhirnya membuat sebagian rumah sakit telah mencapai batas kemampuan alias tak dapat menerima pasien baru lagi. “Maksud saya ini sudah sebuah kondisi yang tidak bisa ditawar-tawar. Memang harus ada setoplah di ujungnya. Nggak bisa. Kita tidak bisa mengeluarkan pasien yang dirawat. Jumlah pasien yang sembuh dengan pasien baru yang terkonfirmasi positif kan lebih banyak yang terkonfirmasi. Bagaimana caranya? Di atas kertas itu sudah tidak mungkin,” tutur Lia. “Rumah sakit saat ini bisa dikatakan akhirnya menjadi stagnan. Kita berhenti menerima pasien baru,” lanjutnya.

Karena mengalami kondisi yang jenuh tersebut, sejumlah rumah sakit mulai mengambil langkah mengurangi lamanya perawatan pasien COVID-19. Artinya, perawatan pasien COVID-19 hanya sampai dengan ketika si pasien sudah tak menunjukkan gejala lagi. Ketika gejala itu sudah tidak ada, dan menurut penilaian dokter pasien bisa menjalani rawat jalan, maka akan diperbolehkan pulang dengan tetap dipantau. “Tetapi dia masih isolasi. Sampai harus begitu untuk mengalah dengan orang yang akan masuk,” katanya.

Pasien COVID-19 memenuhi tenda darurat yang didirikan di halaman Rumah Sakit Umum Daerah dr Chasbullah Abdulmadjid atau RSUD Kota Bekasi, Minggu (27/6/2021).
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Kedua, pasien COVID-19 yang diterima rumah sakit adalah mereka yang saturasi oksigennya sudah rendah. Jika memang bergejala tapi saturasi oksigennya masih baik, maka pasien tersebut tetap tidak bisa masuk ke ruang rawat inap. Lia menggarisbawahi, bukan berarti dengan begitu rumah sakit tega tidak menerima pasien COVID-19. pihak rumah sakit juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi dengan kondisi krisis ini.

”Jadi sekarang pun nggak ada cerita, nih, ini siapa, apakah dia pejabat, apakah dia siapa gitu, kalau kita nggak ada tempat, ya nggak di tempat gitu ya. Kejadiannya seperti itu. Jadi kita sedih sebenarnya menolak orang masuk rumah sakit. Sedih sebetulnya,” ungkap Lia.

Seperti diketahui, jumlah pasien COVID-19 di Indonesia terus meningkat tajam. Berdasarkan data Satgas COVID-19 pada Minggu, 27 Juni 2021, tercatat orang yang terkonfirmasi positif mencapai 2.115.304 orang, 1.850.481 orang di antaranya sembuh dan 57.138 pasien meninggal dunia. Di wilayah DKI Jakarta, tercatat 520.061 orang positif, 454.497 pasien dinyatakan sembuh, 18.831 dirawat, 38.464 orang isolasi mandiri, dan 8.269 orang meninggal dunia.

Bukan hanya pasien COVID-19 yang ditolak, pasien penyakit lain pun gagal masuk ke rumah sakit karena penuh. Indarto, 52 tahun, warga Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta, menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Pada Rabu, 23 Juni 2021, keluarganya sempat bergerilya mencari rumah sakit di Jakarta, namun semua rumah sakit yang disambangi terkesan menolak karena memang tengah kebanjiran pasien COVID-19.

“IGD RS Fatmawati terang-terangan menyebut hanya menerima penderita COVID-19, dan malam itu persediaan oksigen habis. IGD penuh pasien antre, kami ditolak,” kata Wulan, adik Indarto, kepada detikX, Minggu, 27 Juni 2021. Setelah mencari rumah sakit lagi keesokan harinya, Indro sempat diterima di RS Aminah di Jakarta Selatan. Indarto meminta dibawa ke rumah sakit itu pada Jumat saja. Namun maut mendahului. “Saya tak ingin berandai-andai. Jika saat itu rumah sakit mau menerima, mungkin dia tertolong, tapi takdir berkata lain,” ucap Wulan dengan suaranya tercekat.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta Widyastuti juga mengimbau kepada masyarakat yang dinyatakan positif COVID-19 tapi tidak bergejala agar melakukan isolasi mandiri di rumah. Sedangkan yang bergejala sedang, berat, atau kritis akan dirawat di rumah sakit. Adapun kriteria prioritas pasien yang perlu dirawat di rumah sakit antara lain saturasi oksigen di bawah 95 persen, mengalami sesak napas, kesulitan atau tak dapat berbicara, penurunan kesadaran, terdapat komorbid, dan bergejala sedang dengan pneumonia.


Penulis: M Rizal Maslan, Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE