INVESTIGASI

Menggilanya Corona Varian Delta

Varian Delta, yang mendominasi lonjakan jumlah kasus positif COVID-19 di Kudus, sudah ditemukan di enam provinsi. Karantina imigran yang hanya lima hari disebut sebagai biang kerok.

Ilustrasi : Istock

Senin, 21 Juni 2021

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) varian B.1.617.2 alias Delta telah menyebar ke 80 negara. Varian ini pertama kali ditemukan di India sekitar pertengahan April lalu dan menjadi musabab tsunami COVID-19 di Negeri Bollywood. Sekarang mutasi COVID-19 jenis baru ini juga mendominasi penambahan kasus positif Corona di beberapa negara, seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, keganasan varian Delta ini dapat dilihat dari tingginya lonjakan jumlah kasus positif COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah. Kota Kretek menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan jumlah kasus COVID-19 tertinggi dalam dua pekan belakangan. Per Jumat, 18 Juni 2021, 11.634 orang di Kudus telah terpapar COVID-19. Sebanyak 984 orang meninggal dunia. Tingkat penambahan kasus per hari sebanyak 250-479 orang dan angka kematian 26-35 orang per hari.

Lonjakan jumlah kasus COVID-19 di Kudus tidak hanya terjadi pada masyarakat awam. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Muhammad Nasiban mengungkapkan tenaga kesehatan yang menangani kasus COVID-19 juga terpapar. Sampai 14 Juni, 509 orang nakes terpapar COVID-19. Sebanyak 49 di antaranya adalah dokter di rumah sakit rujukan COVID-19. “Padahal nakes itu sudah divaksinasi semua. Kudus itu vaksinasi nakesnya sudah 120 persen,” terang Nasiban kepada detikX, Jumat, 18 Juni 2021.

Sejumlah warga Kudus yang positif terserang corona hendak diberangkatkan ke Solo untuk menjalani isolasi pada 8 Juni 2021 lalu.
Foto : Dian Utoro Aji/detikcom


WHO itu minta karantinanya 14 hari, bukan lima hari. Di kita, dia lima hari, langsung dilepas. Bagaimana kalau muncul gejala pada hari ke-8? Walaupun ada kata-kata di situ tetap memantau kondisi atau memonitor kondisi dan apabila muncul gejala melapor ke puskesmas.”

Rumah sakit di Kudus betul-betul kewalahan menghadapi lonjakan jumlah pasien Corona. Itu tergambar dari tingkat keterisian ranjang isolasi atau bed occupancy rate (BOR) di Kudus yang telah mencapai 94 persen per 17 Juni. Rinciannya, RSUD dr Loekmono Hadi 99 persen, RS Islam Sunan Kudus 92 persen, RS Mardi Rahayu 88 persen, RS Kumala Siwi Mijen 100 persen, RS Aisyiyah Kudus 98 persen, RS Kartika Husada 100 persen, dan RS Nurussyifa 61 persen. Jumlah itu lebih tinggi dibanding rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan tingkat keterisian maksimal 60 persen.

Tingginya tingkat keterisian ranjang isolasi itu memaksa pemerintah daerah merujuk beberapa pasien COVID-19 ke Semarang. Namun, kata Nasiban, Semarang juga tidak sanggup menampung limpahan pasien dari Kudus. Itulah sebabnya, Dinas Kesehatan Kudus terpaksa melarikan pasien-pasiennya ke kota-kota lain, termasuk Solo dan Salatiga. “Kita memang agak masih kewalahan untuk rumah sakitnya,” kata Nasiban.

Pagebluk di Kudus tak lepas dari tingginya mobilitas masyarakat pada masa libur Lebaran dan kecepatan mutasi COVID-19 varian Delta. Bupati Kudus Hartopo mengatakan besar kemungkinan varian Delta telah mendominasi peneluran kasus COVID-19 di Kudus. Menurutnya, pada April hingga awal Juni lalu, Kementerian Kesehatan sempat melakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) pada 78 genom suspek COVID-19 di Kudus. Hasilnya menunjukkan 62 orang atau 79,49 persen terkonfirmasi positif varian B.1.617.2.

Sayangnya, lanjut Hartopo, Kemenkes tak pernah memberikan data lengkap terkait 62 genom yang terkonfirmasi positif varian Delta di Kudus itu. Hal tersebut menyebabkan penelusuran pihaknya terhadap kasus pertama varian B.1617.2 terhambat. Jika Kemenkes memberikan data itu, Hartopo yakin upaya pencegahan penyebaran varian ini di Kudus akan jauh lebih efektif. “Yang sampai ke sini kan cuma data. Data angka sekian, tapi nama dan alamatnya nggak dikasih tahu. Jadi gimana kita bisa melacak?” ungkap Hartopo kepada detikX pekan lalu.


Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi membantah pernyataan tersebut. Dia bilang data yang dimaksud Hartopo semestinya sudah diinformasikan ke pemerintah Kudus. Tapi informasi itu diberikan untuk kepentingan pelacakan kontak erat pasien B.1.617.2, bukan untuk mencari siapa yang pertama kali terpapar varian tersebut. Sebab, menurut Nadia, tidak ada gunanya lagi mencari pasien pertama varian Delta ini karena sudah kadung menyebar luas ke luar Kudus.

Varian Delta memang sudah ‘menggila’. Dibandingkan dua varian lainnya, yakni B.1.1.7 alias Alfa dari Inggris dan B.1.351 atau Beta dari Afrika Selatan, Corona varian Delta-lah yang paling mendominasi pada saat ini. Ketiga jenis virus COVID-19 ini masuk dalam variant of concern yang terdeteksi telah menyebar di beberapa wilayah di Indonesia. Data Kemenkes pada 13 Juni lalu menunjukkan, dari total pemeriksaan terhadap 1.190 genom, 148 di antaranya merupakan variant of concern. Dengan rincian, 36 varian B.1.1.7, 5 varian B.1.351, dan 107 varian B.1.617.2.

Dari data yang sama, diketahui bahwa varian Delta telah menyebar ke enam provinsi, yaitu Jawa Tengah (75 genom), DKI Jakarta (20 genom), Sumatera Selatan (3 genom), Jawa Timur (3 genom), Kalimantan Tengah (3 genom), dan Kalimantan Timur (3 genom). Nadia bilang hasil pelacakan kontak erat terhadap data tersebut menemukan fakta bahwa hampir semua penyebab kasus positif B.1.617.2 ini berasal dari transmisi lokal. “Nggak ada yang riwayat perjalanan luar negeri itu. Tapi, kalau perjalanan luar kota ke Kudus, ada,” kata Nadia kepada detikX.

Namun Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane meragukan tidak adanya transmisi dari luar negeri sebagai penyebab menggilanya varian Delta di Indonesia pada saat ini. Menurutnya, transmisi lokal B.1.617.2 menandakan bahwa Indonesia telah kecolongan sejak pintu masuk internasional, baik itu di bandar udara maupun pelabuhan.

Surat Edaran Satgas COVID-19 Nomor 8 Tahun 2021 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4641/2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional juga disebut Masdalina sebagai biang kerok. Dalam dua aturan ini, pemerintah hanya mewajibkan karantina lima hari bagi para pelaku perjalanan internasional.

Ilustrasi karantina di Tangerang. Sesuai prosedur WHO, seharusnya karantina pelaku perjalanan internasional berlangsung selama 14 hari.
Foto: Fauzan/ANTARA Foto 

“WHO itu minta karantinanya 14 hari, bukan lima hari. Di kita, dia lima hari, langsung dilepas. Bagaimana kalau muncul gejala pada hari ke-8? Walaupun ada kata-kata di situ tetap memantau kondisi atau memonitor kondisi dan apabila muncul gejala melapor ke puskesmas,” kata Masdalina kepada detikX pekan lalu.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono juga menyampaikan pandangan senada. Kendati Indonesia telah melarang masuk warga India ataupun mereka yang sempat berkunjung negara itu, tetap saja upaya itu tak cukup. Sebab, varian B.1.617.2 telah menyebar ke 80 negara, bukan hanya di India, sehingga karantina lima hari bagi turis asing sama sekali tak cukup. “Harusnya minimum sepuluh hari atau dua minggu. Satu kali masa inkubasi,” ungkap Tri kepada detikX.

Namun Nadia mengatakan penetapan karantina lima hari bagi pelaku perjalanan internasional itu sudah mempertimbangkan pendapat para ahli. “Sesuai pendapat para ahli yang ada di Satgas Nasional dengan melibatkan kementerian lainnya,” kata Nadia.

Terlepas itu, pandemi di Indonesia kini sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja. Per Minggu, 20 Juni 2021, jumlah terkonfirmasi positif COVID-19 secara nasional bertambah 13.737 kasus. Data terakhir menunjukkan, kini total kasus positif COVID-19 di Tanah Air mencapai 1.989.909. Angka ini menunjukkan kurva peningkatan kasus COVID-19 nasional telah kembali pada titik tertingginya seperti pada Januari 2021. Lonjakan jumlah COVID-19 ini diprediksi bakal mencapai puncaknya pada akhir Juni hingga awal Juli 2021.


Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE