INVESTIGASI

Diplomasi
Patung Mas Bowo

Hubungan Prabowo-Megawati makin cair usai peresmian patung Bung Karno. Spekulasi lahirnya koalisi raksasa PDIP-Gerindra untuk menyongsong Pilpres 2024 pun muncul.

Foto: Patung Sukarno di Kemenhan (Agung Pambudhy/detikcom)

Senin, 14 Juni 2021

Setengah berbisik, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berbicara dengan Megawati Soekarnoputri. Selasa siang itu, 7 Februari 2020, keduanya sama-sama hadir dalam peresmian patung Presiden ke-1 Republik Indonesia Sukarno di kompleks Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah. Patung itu telah lama ditunggu oleh keluarga besar Sukarno. Sebab, Sukarno adalah tokoh yang meresmikan Akmil pada 1957. Waktu itu lembaga tersebut masih bernama Akademi Militer Nasional (AMN).

Prabowo rupanya meminta izin kepada Megawati, yang merupakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), untuk memajang patung Sukarno di kantor Kemenhan di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Namun patung yang hendak dibuat itu berbeda modelnya dengan yang dipajang di Akmil. “Kemenhan juga punya rencana membikin patung Bung Karno, tapi di atas kuda,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengisahkan kembali percakapan Prabowo-Megawati lewat keterangan tertulis pekan lalu.

Setelah keinginannya direstui Megawati, Prabowo lantas meminta Gubernur Akmil Mayjen TNI Dudung Abdurachman—sekarang Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad)—untuk menemui Dunadi. Dunadi tak lain adalah seniman yang mendesain patung Sukarno di Akmil. Kepada Dunadi, Prabowo menyampaikan satu permintaan. Patung Sukarno yang menunggang kuda itu harus dibuat segagah mungkin. “Bikin patung (Sukarno) yang benar-benar sesuai dengan karakternya,” kata Prabowo seperti ditirukan Dunadi kepada detikX, Rabu, 9 Juni 2021.

Patung Sukarno di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah
Foto: Eko Susanto/detikcom 

Referensi untuk pembuatan patung itu adalah seutas foto lawas ketika Sukarno bertindak sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Indonesia menunggang kuda dalam peringatan Hari Angkatan Perang Pertama pada 5 Oktober 1946. Dalam Arsip Nasional RI, peristiwa itu merujuk pada cerita Sukarno yang tengah melakukan inspeksi pasukan di Alun-alun Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Dunadi, ia harus mengubah sedikit wajah Sukarno yang terlihat tegang saat menunggang kuda. “Saya olah bagaimana beliau (Sukarno) tidak tegang, tapi dengan sikap sempurna, kemudian menghormat. Itu sudah kelihatan agak lain. Memang saya bikin sedikit rileks.”

Kalau Mega-Prabowo bisa potensi koalisi besar mengarah satu pasang atau konsensus. Nggak ada yang berani maju.”

Setahun lebih lima bulan setelah hari itu, patung Bung Karno yang dipesan Prabowo akhirnya tiba di kantor Kemenhan. Prabowo pun mengundang Megawati untuk sama-sama meresmikan patung tersebut pada Minggu, 6 Juni 2021, di Lapangan Bela Negara, kompleks Kemenhan. Selayaknya karib lama, keduanya tampak begitu akrab. Prabowo dan Megawati duduk berdampingan dan kerap terekam saling melempar tawa.

Tidak tampak residu kebencian di antara keduanya setelah dua kali bertarung dalam kontestasi politik pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2014 dan 2019. Megawati bahkan tidak sungkan menyebut Prabowo sebagai sahabat. Ucapan terima kasih khusus turut disampaikan Megawati kepada Prabowo dalam pidato sambutannya. Putri Bung Karno dari Fatmawati itu merasa amat tersanjung atas ‘kado’ dari Prabowo. Apalagi kado itu diberikan tepat pada hari peringatan kelahiran sang ayah yang ke-120. “Sungguh menurut kami keluarga sangat istimewa,” ungkap Megawati.

Sanjungan Megawati itu membuat Prabowo begitu semringah seusai acara. Prabowo pun meminta anak buahnya kembali memanggil Dunadi berkunjung ke kantor Kemenhan pada Rabu, 9 Juni 2021. Pada kesempatan yang sama, Prabowo juga turut mengundang anak-anak dan cucu-cucu Sukarno lainnya untuk hadir ke Kemenhan. Hadir saat itu Guruh Sukarno Putra, Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Bayu Soekarnoputra, serta anak dan cucu Sukarno lainnya.

Di depan anak-anak dan cucu-cucu Sukarno, Prabowo pun memberikan penghargaan kehormatan Dharma Pertahanan kepada Dunadi. Prabowo menepuk-nepuk pundak Dunadi seraya menghaturkan terima kasih kepada seniman patung itu karena telah menciptakan karya yang adiluhung. “Ini patungnya bagus, keluarga (Sukarno) senang sekali. Makanya saya memberi penghargaan kepada njenengan,” kata Dunadi menirukan Prabowo.

Duet Megawati-Prabowo pada Pilpres 2009
Foto: Dok detikcom

Kemesraan itu telah ditafsirkan sejumlah pihak sebagai sinyal pendekatan Prabowo kepada Megawati. Nostalgia Perjanjian Batu Tulis 2009 pun kembali menyeruak ke permukaan. Kala itu, Megawati dan Prabowo menjadi rekan duet dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden 2009-2014. PDIP dan Gerindra menumpangi kapal yang sama untuk mengalahkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto. Dalam perjanjian itu pula disepakati bahwa pada 2014, Megawati bahkan mendukung Prabowo sebagai calon presiden.

Namun perjanjian itu tak diindahkan Megawati. Megawati mengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014. Jokowi-JK mengalahkan Prabowo, yang berpasangan dengan Hatta Rajasa. Sejak saat itu, Perjanjian Batu Tulis dianggap telah membeku. Prabowo dan Megawati dilihat berbagai pihak telah menjadi rival abadi dalam kancah perpolitikan. Terbukti, pada 2019, keduanya kembali berbeda kubu. Prabowo maju bersama Sandiaga Uno, sementara Jokowi diusung PDIP didampingi Ma’ruf Amin.

Peresmian patung Sukarno berkuda pun makin mencairkan kebekuan hubungan di antara keduanya. Kebersamaan itu dimaknai pendukung kedua belah pihak sebagai sinyal koalisi Gerindra dan PDIP untuk menyongsong Pilpres 2024. Direktur Pro Mega Center Mochtar Mohammad bahkan telah secara terbuka mendukung pasangan Megawati-Prabowo untuk calon presiden dan wakil presiden 2024-2029. “Kalau Mega-Prabowo bisa potensi koalisi besar mengarah satu pasang atau konsensus. Nggak ada yang berani maju,” tutur Mochtar, Senin, 7 Juni 2021.

Tak ada bantahan dari Gerindra maupun PDIP soal kemungkinan koalisi di antara kedua partai tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sugiono bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan jika partainya disebut tengah mencoba membuka jalur komunikasi dengan PDIP. Baginya, wajar saja jika Gerindra atau Prabowo menjalin komunikasi dengan PDIP. Terlebih kini PDIP merupakan partai terbesar di parlemen dengan total 128 kursi.

Jokowi bersama Jusuf Kalla saat maju dalam Pilpres 2014
Foto: Dok detikcom

Secara hitung-hitungan politik, PDIP memang partai yang punya kans menang paling besar dalam kontestasi pemilu tiga tahun mendatang. Sebab, jika mengikuti presidential threshold yang mensyaratkan partai pengusung capres-cawapres memiliki minimal 115 kursi atau 20 persen dari kursi DPR RI, maka saat ini hanya PDIP satu-satunya partai yang sudah memiliki tiket untuk maju di 2024. “PDIP perjuangan kan saat ini partai yang terbesar di Indonesia, kemudian ya kita juga dalam koalisi pemerintahan yang sama. Saya kira wajar-wajar saja kalau komunikasi apa pun, yang intens di antara kedua partai,” kata Sugiono kepada detikX pekan lalu.

Di tengah mencuatnya isu koalisiPDIP-Gerindra untuk 2024 ini, Megawati dan Prabowo kembali terlihat begitu dekat saat hadir dalam prosesi pengukuhan gelar profesor kehormatan bagi Megawati di Universitas Pertahanan pada Jumat, 12 Juni 2021. Dalam acara tersebut, Prabowo menjadi satu-satunya menteri yang mendampingi Megawatimenerima penghormatan jajar akademik sebelum acara pengukuhan berlangsung.

Megawati bahkan menggamit lengan Prabowo untuk membantunya menuruni tangga podium seusai penerimaan penghormatan. Prabowo jugalah yang mengantarkan Megawati ke mobil buggy di tepi podium untuk menuju aula Merah-Putih tempat berlangsungnya acara. Saat membacakan pidato akademiknya,Megawati paling banyak menyebut Prabowo. detikX mencatat, sedikitnya empat kali nama Prabowo disebut oleh Megawati dalampidatonya. Sesekali dia memanggil mantan Pangkostrad itu dengan panggilan ‘Pak Prabowo’, sesekali juga dengan sapaan akrab ‘Mas Bowo’.

Sampai akhir sesi pengukuhan, dua pemimpin partai penguasa ini tetap terlihat mesra. Prabowo kembali menjadi satu-satunya menteri yang duduk berdampingan dengan Megawati di podium dalam prosesi penghormatan pasukan defile. Defile merupakan penghormatan ala militer yang biasa diberikan kepada para veteran. Dalam penghormatan terakhir pasca-pengukuhan itu, Prabowo berdiri persis di belakang Megawati. Keduanya terlihat beberapa kali saling bersenda gurau sebelum akhirnya Prabowo sendiri yang mengantarkan Megawati ke mobilnya untuk pulang.

Prabowo saat makan bersama Megawati 
Foto: Instagram Prabowo. 

Tak pelak, muncul dugaan bahwa sebetulnya pemberian gelar profesor kehormatan untuk Megawati merupakan inisiatif Prabowo. Prabowo diduga ingin memanfaatkan momen itu sebagai ajang memperbaiki hubungan dengan Megawati demi ambisi politiknya menjadi presiden. Anggapan itu wajar mengingat secara teknis fungsional, Unhan memang berada dalam binaan Kementerian Pertahanan. Jika betul begitu, manuver Prabowo ini boleh dikatakan berhasil mengingat komunikasi keduanya yang begitu cair dalam pertemuan itu.

Namun dugaan itu telah dibantah oleh Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri. Rokhmin menyebut pemberian gelar profesor kepada Megawati murni permintaan dari para guru besar di Unhan. Tidak ada andil Prabowo dari dalam pemberian gelar tersebut. Bahkan, kata dia, Prabowo sendiri baru mengetahui pemberian gelar profesor bagi Megawati itu sekitar satu atau dua pekan belakangan sebelum hari H.

Sejak awal, kata dia, Megawati juga terus memastikan bahwa pemberian gelar itu bukan merupakan mahar politik untuk 2024. Megawati telah mewanti-wanti Rokhmin agar terus melakukan cross-check ulang siapa sosok yang berkepentingan di balik pemberian gelar profesor kepadanya. “Dipastikan bener lo, itu bukan hanya cari muka atau ada udang di balik batu," tukas Megawati seperti ditirukan Rokhmin.


Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE