INVESTIGASI

Bersiasat Mudik
dengan Google Maps

Pemudik tak takut diputar balik polisi. Mereka mengandalkan peta digital untuk mencari jalan-jalan yang terhindar dari penyekatan.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Senin, 10 Mei 2021

Ketika saya baru mulai lelap tertidur di mobil dalam perjalanan menuju Cirebon, Amri mencolek-colek lutut saya. Dia adalah pengemudi Toyota Avanza berwarna putih polos dengan pelat Jakarta yang saya naiki.

Amri membangunkan saya karena melihat ada penyekatan jalan di depan, sekitar 100 meter dari jarak mobil kami. Saat itu, mobil pribadi dapat dihitung dengan jari. Jalanan lebih banyak dipenuhi truk besar.

Di dekat titik penyekatan jalan, truk-truk itu berjajar satu lajur sambil perlahan-lahan melintas. Ada plang berwarna biru dengan tulisan ‘SIAPKAN DOKUMEN PERJALANAN ANDA’ berdiri tegak. Empat polisi berjaga sambil melakukan pemeriksaan dokumen surat izin keluar masuk.

Karena pemeriksaan itu, kendaraan-kendaraan terhambat. Kala itu, kami di Tol Jakarta-Cikampek, tepatnya di Km 31, dekat Gerbang Tol Cikarang Barat, sekitar pukul 21.00 WIB, Kamis 6 Mei 2021. Mobil kami berada di antara dua truk besar, ketika semakin dekat dengan area penyekatan jalan.

Saya melihat beberapa mobil pribadi berjalan ke arah kiri, Gerbang Tol Cikarang Barat, setelah diperiksa polisi. Itu pertanda mereka tidak dapat menunjukkan SIKM. “Bagaimana ini?” tanya Amri. “Lanjut saja. Kalau disuruh putar balik, ya, kita ikuti saja,” jawab saya.

Penyekatan mudik di Km 31 Tol Jakarta-Cikampek
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Namun, saat mobil kami berada persis di hadapan polisi, yang terjadi tak sesuai dugaan. Empat polisi yang bertugas tidak memberhentikan kami. Kami pun bisa melintas begitu saja, tanpa pemeriksaan, tanpa dipaksa putar balik, tanpa halangan sama sekali.

Kami bertanya-tanya mengapa mudah sekali melintasi penyekatan jalan. Padahal itu adalah hari pertama pelarangan mudik Lebaran.

Memang, kami tahu polisi membuka penyekatan titik itu pada siang hari karena pemeriksaan polisi menyebabkan kemacetan hingga 8 kilometer. Namun, saat kami berada di sana, tidak ada kemacetan sama sekali.

Google Maps bisa memonitor pengguna aplikasi mereka, mengapa pergerakan si pengguna lambat, lalu mengapa banyak orang yang putar balik, itu kebaca semua sama mereka. Makanya, (kalau tersendat), mereka re-route (mengubah rute)."

Amri, yang tahun lalu juga bertugas melewati jalur-jalur penyekatan untuk liputan tim detikcom, mengatakan itu tidak seperti tahun lalu. “Tahun lalu itu mobil-mobil diberhentikan di situ. Polisi mengecek semua mobil, bahkan sampai memeriksa isi truk,” katanya.

Kami beristirahat dan membuka aplikasi peta digital, Google Maps, di area istirahat Km 33. Aplikasi yang dikembangkan Google itu menawarkan layanan peta jalan, kondisi lalu lintas, dan perencanaan rute untuk bepergian. Layanan itu berbasis pada citra satelit.

Semula, Google Maps menyarankan kami ke Cirebon melalui jalur normal, yaitu jalan tol Cikopo-Palimanan. Namun, sekitar pukul 23.30 WIB, ketika kami ingin melanjutkan perjalanan, sarannya berubah. Google Maps tak lagi mengarahkan kami melewati jalan tol Cipali. Kami justru diarahkan keluar dari tol di Km 68, daerah Dawuan, kemudian melewati Jalur Pantura.

Karena perubahan arah itu, saya memperbesar tampilan Google Maps di ponsel. Ternyata Google Maps menawarkan rute baru karena ada enam titik penyekatan di jalur Tol Cipali.

Tangkapan layar Google Maps yang memberikan opsi mobil kami melewati Pantura lama karena ada penyekatan di Tol Cipali, 6 Mei 2021
Foto: dok. detikcom

Kendaraan kami bukan satu-satunya yang mengandalkan Google Maps untuk sampai ke luar kota di masa larangan mudik. Ketika beristirahat di Jalan Raya Losarang sekitar pukul 01.00 WIB, Jumat, 7 Mei 2021, kami bertemu pemudik dengan menggunakan motor Yamaha Vega warna hitam berpelat B. Pemudik itu berhasil menyiasati penyekatan jalan menggunakan Google Maps.

Namanya Alvin. Bersama istrinya, dia hendak pulang ke kampungnya di Tegal. Keduanya tak bisa menyembunyikan peluh di muka ketika sampai di tempat peristirahatan itu. “Kami sempat disuruh putar balik,” katanya. “Akhirnya kami lewat kampung-kampung yang gelap dengan mengikuti Google Maps sekitar 30 menit sampai kembali di Jalur Pantura.”

Alvin menceritakan, dia dan istrinya berangkat dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sekitar pukul 20.00 WIB. Dia melalui rute Kalimalang sampai masuk ke Jalur Pantura. Tak ada pemeriksaan dan penyekatan sama sekali.

Namun, saat sampai di kawasan Karawang, polisi memberhentikan mereka dan kendaraan-kendaraan lainnya. Polisi memeriksa kartu tanda penduduk mereka. Alvin mengaku tak membawa dokumen perjalanan yang lengkap. Alvin hanya memiliki hasil negatif tes antigen, tetapi itu pun tidak diperiksa.

Polisi membolehkan mereka yang melintas dengan KTP Karawang di pemeriksaan itu. Karena KTP Alvin berdomisili di Tegal, dia terpaksa putar balik bersama puluhan motor lainnya.

Alvin dan para pemotor itu pun bersama-sama mencari jalur lain melewati kampung-kampung. Namun mereka berpisah satu per satu. Saat itulah mereka mengandalkan Google Maps sampai akhirnya bisa melanjutkan perjalanan melalui Jalur Pantura. “Kami melewati jalan-jalan yang gelap. Seram,” kata Ika, istri Alvin. “Alhamdulillah bisa kembali Jalur Pantura.”

Pemudik motor yang melintas di Subang, Jawa Barat
Foto: Dian/detikcom 

Sebenarnya Alvin dan Ika menyadari pemerintah melarang orang-orang mudik. Ika mengaku sempat ragu bisa sampai tujuan karena melihat pemberitaan tentang banyaknya pemudik yang disuruh putar balik. “Ibu saya di kampung juga sering kirim berita tentang pelarangan mudik,” kata Ika. “Dia, sih, nggak apa-apa kita nggak mudik, daripada nanti disuruh putar balik.”

Namun Alvin meyakinkan Ika berkali-kali. Menurut Alvin, pasti ada jalannya. “Kalau tidak lewat kampung-kampung, ya, tunggu mereka (polisi) lengah,” kata Alvin penuh keyakinan.

Mudik Lebaran, bagi perantau yang bekerja di Jakarta seperti Alvin dan Ika, adalah momen langka untuk bertemu keluarga. Mereka ingin menggenapi momen suci Ramadhan dengan merayakan Lebaran bersama keluarganya.

Meskipun di sisi lain, mereka memahami, larangan mudik Lebaran adalah upaya mencegah penyebaran COVID-19. Namun Alvin dan Ika merasa tak diperlakukan adil. Sebab, pemerintah melarang warganya mudik, tetapi membolehkan warga negara asing masuk ke Indonesia, termasuk mereka yang dari India. Padahal, di India sedang terjadi ‘tsunami’ COVID-19.

Menurut Alvin, kalau memang ingin melarang, pemerintah harus melarang keluar-masuk orang tanpa pandang bulu. “Kalau mau bikin peraturan, jangan tebang pilih” kata Alvin. “Rakyat kecil jangan diasingkan, jadi peraturan itu berlaku untuk semuanya.”

Google Indonesia menolak berkomentar ketika detikX meminta penjelasan mengenai peran Google Maps membantu para pemudik di masa terlarang. Google Head Of Communication Jason Tedjakusuma, Communication Manager Google Feliciana Wienathan, Google PR for Business Najla, dan PR Partner Agency Annisa Isnan enggan memberikan tanggapan.

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo
Foto: Iswahyudi/detikcom

Pengamat Teknologi Informasi dan Komunikasi Heru Sutadi menjelaskan, setidaknya Google memiliki tiga satelit yang tugasnya berfungsi memonitor posisi orang-orang secara real time. Walau pengguna Google Maps sedang tidak membuka aplikasinya, Google dapat mengetahui titik posisi orang beserta letak geografisnya.

Dengan menggunakan teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan, Google mengidentifikasi titik-titik kepadatan orang di jalan dan menghitung estimasi waktu jarak tempuh dengan melihat pola pergerakan orang yang memiliki aplikasi Google. Kecerdasan buatan itu bertugas mempelajari seluk beluk jalan yang lancar, maupun yang tersendat.

Karena itu, Heru mengatakan, Google Maps sangat memungkinkan untuk membantu para pemudik menyiasati penyekatan jalan. “Google Maps bisa memonitor pengguna aplikasi mereka, mengapa pergerakan si pengguna lambat, lalu mengapa banyak orang yang putar balik, itu kebaca semua sama mereka. Makanya, (kalau tersendat), mereka re-route (mengubah rute),” tambah Heru.

detikX menghubungi Direktur Lalu Lintas Polda Jaya Kombes Sambodo terkait pemudik yang berhasil menyiasati penyekatan polisi dengan mengandalkan peta digital. Sayangnya, Sambodo mengaku baru mengetahui hal tersebut. “Saya baru tahu dari kamu. Belum koordinasi dengan Google," katanya kepada detikX.


Reporter: May Rahmadi, Rani Rahayu, Syailendra Hafiz Wiratama
Penulis: May Rahmadi
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE