INVESTIGASI

Tuntutan Keadilan Keluarga Laskar

“Ya, Kapolri, ya Kapolda, ya Jokowi, mereka harus tanggung jawab. Jangan diam saja. Ungkap kebenaran apa adanya.”

Ilustrasi: Fuad Hasim

Selasa, 5 April 2021

Suhada dan istrinya sampai saat ini masih tidak percaya anak laki-lakinya, Faiz Ahmad Syukur, telah tiada. Persis empat bulan lalu, pemuda berusia 22 tahun tersebut tewas dalam rangkaian insiden antara polisi dan para pengawal Habib Rizieq Shihab di Karawang, Jawa Barat. Faiz adalah satu dari enam anggota laskar khusus Front Pembela Islam (FPI) yang mengawal Rizieq dari kawasan Sentul ke Karawang pada Senin, 7 Desember 2020, dini hari itu.

Ada dua insiden penembakan yang terjadi saat itu berdasarkan temuan Komnas HAM. Pertama, ketika dua mobil laskar FPI dan mobil polisi kejar-kejaran di jalanan Karawang hingga masuk kembali ke Tol Jakarta-Cikampek Km 49-50. Laskar FPI terlibat serempetan mobil dan adu tembak dengan personel Polda Metro Jaya yang membuntuti Rizieq terkait kasus pelanggaran protokol kesehatan COVID-19. Dua anggota laskar tewas tertembus peluru petugas.

Kedua, penembakan ketika empat anggota laskar FPI yang masih hidup hendak dibawa ke Markas Polda Metro Jaya. Faiz termasuk kelompok laskar yang tewas dalam kejadian kedua ini. Polisi bilang keempatnya tewas ditembak karena hendak merebut senjata petugas ketika duduk di dalam mobil. Namun Komnas HAM menyebut polisi telah melakukan pembunuhan di luar hukum (unlawful killing) terhadap para laskar FPI dan karena itu merupakan pelanggaran HAM.

“Traumanya juga luar biasa bagi keluarga korban. Jadi ini bukan perkara sepele. Kecuali ini keluarga saya doang. La, saya punya keluarga besar Betawi, bagaimana itu?” kata Suhada kepada detikX, Jumat, 2 April 2021. “Sedari kecil digedein, lalu udah gede dibunuh tanpa kesalahan yang jelas. Apa salahnya coba?” lanjut dia.

Salah satu adegan rekonstruksi kasus penembakan laskar FPI
Foto: Muhammad Ibnu Chazar/ANTARA Foto

Suhada menceritakan Faiz adalah anak yang baik dan suka mengaji. Pada saat meninggal, anaknya tersebut masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Industri Universitas Indraprasta, Jakarta. Faiz bergabung dengan laskar FPI sejak lulus sekolah menengah atas pada 2017, di saat yang sama kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mencuat.

Membela agama Islam menjadi motivasi Faiz bergabung menjadi laskar khusus FPI. Apalagi ia juga mempunyai kemampuan silat. “Waktu SD pernah ikut latihan silat Pamur, lalu SMP-nya ikut silat Butong. Nah, mulai SMA sampai sekarang ikut pencak silat Lima Bayangan Pukul Betawi,” terang Suhada.

Suhada masih ingat komunikasi terakhir dengan Faiz pada Jumat, 4 Desember 2020. Faiz meminta izin dan berpamitan untuk mengawal Rizieq. Suhada memberikan izin sambil mewanti-wanti agar anaknya tak lupa membaca doa. Selama tiga hari, ia tak mendapatkan kabar Faiz dan baru mendapatkan kabar anaknya tersebut tewas setelah mendengar dari media massa yang memberitakan pernyataan Polda Metro Jaya.

Polisi sempat menelepon Suhada ketika hendak melakukan autopsi terhadap jenazah enam laskar FPI. Namun Suhada, yang masih syok, tak mengizinkan polisi melakukan autopsi karena mereka juga tidak menunjukkan surat dan hanya melalui telepon. Yang membuat kecewa Suhada, polisi menuduh anaknya membawa senjata tajam. “Bohong besar itu soal senjata tajam. FPI melarang membawa senjata tajam. Kan kita ormas. Kita tahu itu melanggar hukum. Kita patuh terhadap peraturan,” tegas Suhada.

Foto ilustrasi: Km 50 Tol Jakarta-Cikampek
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Sejak kematian Faiz, Suhada membuat akun di media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan YouTube dengan nama Aqse Abu Faiz. Sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam hidupnya. Tujuan membuat akun medsos itu adalah untuk menyampaikan tuntutannya dan mendapatkan keadilan. Meskipun di sisi lain dia juga pesimistis terhadap kemauan polisi mengusut pembunuhan Faiz dan kawan-kawannya itu.

“Jadi gara-gara ini saya jadi bikin akun Twitter. Gara-gara ini gua bikin YouTube. Biar mereka dengar. Saya sampaikan ke mereka supaya tobat. Kalau nggak, kalian hancur. Saya nggak tahu siapa-siapa pelakunya, tapi yang terlibat pasti akan Allah hancurkan. Jadi satu-satunya jalan adalah kalian tobat. Itu saya sampaikan terus karena ini (peristiwa) luar biasa,” ujar Suhada.

Setelah peristiwa tewasnya laskar FPI, keluarga korban telah mengadu ke sejumlah lembaga negara. Mereka mendatangi Komisi III DPR RI pada 10 Desember 2020. Mereka mengatakan peristiwa penembakan itu tidak manusiawi, dan menuntut hukum ditegakkan seadil-adilnya. Mereka juga mendatangi Komnas HAM pada 21 Desember 2020 sebelum lembaga itu merekomendasikan agar polisi memproses pidana terhadap polisi yang menembak empat anggota laskar FPI.

Badan Reserse Kriminal Mabes Polri telah membentuk tim penyelidikan kasus unlawful killing itu. Namun pihak keluarga laskar FPI enggan memenuhi panggilan untuk memberikan keterangan dengan alasan mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Tol Jakarta-Cikampek Km 50. Kemudian Polri menetapkan tiga polisi sebagai terlapor dalam peristiwa penembakan tersebut.

Para keluarga laskar FPI saat mengadu ke Komnas HAM pada 21 Desember 2020
Foto : Ari Saputra/detikcom

Polri lantas meningkatkan kasus itu tahap penyidikan. Dari sejumlah bukti yang dimiliki, tiga terlapor, yang merupakan anggota Polda Metro Jaya, dinaikkan statusnya menjadi terduga pelaku. “Penyidik sudah untuk penetapan tersangka. Andai belum, ya, pasti akan sampai ke sana. Mekanisme itu pada penyidik dan selalu diawali dengan gelar perkara bersama tim Kejagung (Kejaksaan Agung),” ungkap Kepala Bareskrim Polri Komjen Agus Andrianto, Senin, 22 Maret 2021.

Tidak berapa lama, Polri mengumumkan satu dari tiga terlapor kasus penembakan laskar FPI, yaitu atas nama Elwira Priyadi Zendrato, meninggal dunia karena kecelakaan di Jalan Bukit Jaya, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 4 Januari 2021. Polisi pun menunjukkan akta kematian Elwira, yang merupakan anggota Subdit 3 Resmob Polda Metro Jaya.

Suhada menilai, dengan tewasnya salah satu polisi terlapor tersebut, kasus yang menimpa anaknya dan lima korban lainnya bakal semakin tidak jelas juntrungnya. Sebab, yang mengetahui kejadian sebenarnya dari kasus penembakan di luar hukum itu hanyalah para pelaku sendiri. Tidak ada saksi yang lain.

Suhada meminta Polri, bahkan Presiden Joko Widodo, bertanggung jawab atas kasus tersebut. “Ya, Kapolri, ya Kapolda, ya Jokowi, mereka harus tanggung jawab. Jangan diam saja. Ungkap kebenaran apa adanya. Jadi kan ini orang menduga-duga dengan begitu,” pungkasnya.


Reporter: M. Rizal Maslan, Fajar Y Rasdianto
Penulis: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE