INVESTIGASI

Apartemen Pramuka Undercover

Praktik prostitusi online di Apartemen Green Pramuka City tak surut meski baru saja digerebek aparat. Para pekerja seks komersial mematok tarif Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta sekali kencan.

Ilustrasi: Mindra Purnomo

Rabu, 27 Januari 2021

Lobi Tower Bougenville, Apartemen Green Pramuka City, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, terlihat lengang malam itu. Jarum jam di tangan menunjukkan pukul 22.00 WIB. Hanya satu orang sekuriti yang tampak mengawasi setiap orang yang keluar-masuk apartemen. Baik penghuni apartemen maupun tamu yang berkunjung tidak ditanyai dan diperiksa secara ketat.

Setelah menginjakkan kaki di lobi apartemen, kami segera berjalan menuju sofa empuk yang berada di depan lift gedung. Begitu Vini, bukan nama sebenarnya, seorang penghuni Tower Bougenville, memandu kami sebelumnya melalui smartphone. Tak lama, pintu lift pun terbuka. Terlihat Vini dan satu orang temannya memanggil dari dalam lift. Vini, yang memakai atasan ketat dan celana pendek, terkesan sangat paham terhadap siapa yang dia jemput. “Sini, ayo, Bang,” panggil Vini dari balik maskernya, Jumat, 22 Januari 2021.

Vini bukan penghuni atau penyewa apartemen biasa. Ia merupakan pekerja seks komersial yang membuka layanan di apartemen tersebut. Beberapa waktu lalu, praktik prostitusi di Apartemen Green Pramuka City yang melibatkan anak-anak di bawah umur digerebek oleh tim gabungan dari polisi, TNI, dan Satpol PP. Sebanyak 47 terduga pelaku prostitusi dari beberapa unit di tiga tower apartemen itu diamankan. Namun, meski habis digerebek, sejumlah pekerja seks yang menjajakan layanannya di apartemen tersebut ternyata bergeming. Salah satunya Vini.

Pekerja seks komersial di Apartemen Green Pramuka City
Foto : Tim detikX-20Detik


Berdua aku. Sekarang kalau cewek kerja kayak begini sendiri, dia saja nggak sanggup. Bukan nggak sanggup sih, ya bete-lah sehari-hari sendiri. Kayak gitu-lah.”

Sebelum membikin janji berjumpa di apartemen, tidak sulit untuk menemukan Vini. Cukup dengan berselancar singkat di MiChat, aplikasi percakapan gratis untuk bertemu dengan orang-orang baru. Di profil akun MiChat-nya, Vini menulis dia adalah perempuan berusia 23 tahun. Dari fotonya, paras dan penampilannya tampak cantik dan menggoda. Jika tarif kencan dan waktunya sudah disepakati, Vini akan meminta tamunya datang dan menunggu di lobi apartemen untuk ia jemput. “Masuk saja nanti, duduk di lobi, ya,” pinta Vini.

Namun, begitu Vini memelorotkan maskernya ketika berada di lift pada malam itu, terlihat raut wajahnya sangat berbeda dengan foto yang terpasang di MiChat. Ditanya soal itu, perempuan yang rambutnya dicat warna pirang tersebut hanya terkekeh. Teman perempuan yang menemaninya juga ikut tertawa dengan nada meledek. “Iya, aku yang ‘Vini’,” Vini menegaskan.

Tidak terasa, lift sudah tiba di lantai 19 apartemen. Keduanya lantas mengajak menelusuri lorong menuju salah satu unit apartemen di lantai itu. Begitu pintu dibuka, suasana temaram menyambut. Penerangan di dalam apartemen tipe 2 bedroom itu memang dibuat sangat minim. Bahkan lampu di kedua kamarnya tak dinyalakan. Itu disengaja, kata Vini. Alasannya, agar tidak memancing kecurigaan penghuni lainnya dan tak menjadi sasaran penggerebekan yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

“Semenjak pandemi, saya bekerja seperti ini. Karena di tempat saya kerja yang dulu ada pengurangan karyawan,” Vini beralasan. Ia mengaku terpaksa menjadi pekerja seks komersial di Apartemen Green Pramuka City karena masalah ekonomi dan untuk membantu orang tuanya. Sebelum pandemi COVID-19 mewabah, ia bekerja sebagai sales promotion girls di sebuah mal lumayan besar di Jakarta.

Setelah terkena pemutusan hubungan kerja, Vini, yang sebelumnya indekos di kawasan Cempaka Putih, patungan dengan temannya untuk menyewa satu unit apartemen di Green Pramuka City. Ongkos sewa apartemen untuk satu hari sebesar Rp 350 ribu. Sama dengan dirinya, teman Vini juga menjajakan layanan seks komersial. Untuk melayani tamu, keduanya bergiliran memanfaatkan satu kamar yang ada di apartemen. Menurut Vini, awalnya, pelanggan komplain dengan pengaturan tersebut. Namun, setelah diberi pengertian, rata-rata pelanggan bisa memakluminya.

Dalam sehari, pelanggan yang singgah ke unit apartemen Vini tak menentu. Pada hari itu saja, Vini mengaku belum mendapatkan satu pun pelanggan. Sedangkan temannya sudah melayani dua laki-laki hidung belang. “Kalau dia sudah dua sehari ini,” tunjuk Vini. Vini memasang tarif Rp 500 ribu kepada tamu-tamunya untuk sekali kencan dengan durasi 1 jam (short time). Uang itu sebagian dipakai untuk keperluan sewa apartemen, dan sebagian lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Membuka jasa layanan seks komersial online di Apartemen Green Pramuka tak hanya dilakukan Vini dan temannya, tetapi juga oleh Rahma dan Mey (dua-duanya juga bukan nama sebenarnya). Rahma adalah perempuan berusia sekitar 19 tahun, asal Bogor, Jawa Barat. Ia menyewa satu unit apartemen di lantai 2 Tower Penelope untuk sehari-hari melayani tamunya. Rahma menyewa satu unit apartemen dengan harga sekitar Rp 4,5 juta per bulan.

Salah satu tower Apartemen Green Pramuka City
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Sedangkan untuk tarif sekali kencan, Rahma mematok Rp 500 ribu untuk short time dan Rp 5 juta untuk long time (sekitar 4-5 jam). Modus untuk menggaet pelanggan kurang-lebih sama dengan pekerja seks di Apartemen Green Pramuka City lainnya. Perempuan berambut hitam sebahu itu menjaring pelanggan melalui media sosial Twitter dengan foto palsu. Setelah deal, pelanggan akan dijemput di lobi untuk kemudian dibawa naik ke unit apartemennya.

Ruangan unit apartemen Rahma memiliki dua kamar: satu kamar berukuran kecil di bagian depan dan kamar utama yang berukuran agak besar terletak di bagian belakang. Seluruh ruangan juga dibuat minim pencahayaan. Alunan musik yang cukup keras bergema di ruangan itu. Dalam suasana yang temaram tersebut, terlihat kondisi seluruh ruangan apartemen yang berantakan, mulai kamar tidur hingga toilet. Bau asap rokok menyengat hidung. Satu kotak alat kontrasepsi terlihat tergeletak di atas meja.

Rahma mengaku sudah melayani 10 pelanggan dari siang hingga malam pada Jumat pekan lalu itu. Pandemi COVID-19 tidak membuatnya takut tertular virus berbahaya yang mungkin dibawa oleh pria-pria yang mengencaninya. Rahma sudah pasrah dengan risiko tertular virus Corona dari para pelanggan. “Ya, nggak gimana-gimana. Ngapain takut, sih, emang?” sergahnya. Rahma mengaku sudah melakukan tes swab dua pekan sebelumnya dan menjamin dirinya aman dari virus Corona.

Sementara itu, Mey mengaku membuka praktik prostitusi di Apartemen Green Pramuka City bareng satu temannya. Keduanya bergantian memakai kamar di unit apartemen Tower Orchid untuk menjajakan layanan seks berbayar. “Berdua aku. Sekarang kalau cewek kerja kayak begini sendiri, dia saja nggak sanggup. Bukan nggak sanggup sih, ya bete-lah sehari-hari sendiri. Kayak gitu-lah,” ucap Mey.

Mey mengaku tak setiap hari tinggal di apartemen. Dalam satu minggu, hanya lima hari ia datang ke apartemen. Ia mengatakan tak mungkin selalu stand by di apartemen sampai berhari-hari atau berbulan-bulan karena tidak akan nyaman untuk beristirahat. “Kalau aku pengin istirahat di sini, pasti ujung-ujungnya keganggu. Entah teman aku ada tamu, entah ada apa, kita pasti tidur nggak tenang di apartemen. Lebih baik istirahat di rumah, pulang, ketemu keluarga,” jelas Mey, yang mengaku asli Bekasi, Jawa Barat.


Sebelum mencari uang di Jakarta, Mey sempat bekerja sebagai ladies companion (LC) atau pemandu lagu di sebuah tempat karaoke di Samarinda, Kalimantan Timur. Gajinya memang lumayan besar. Tapi, karena ikut agensi, penghasilannya dipotong untuk ini dan itu oleh bosnya. Bahkan, dari gaji Rp 4 juta, Mey mengaku dipotong hingga setengahnya. Kini, di Ibu Kota, Mey dapat menikmati penghasilannya secara utuh. Sebab, ia menjajakan layanan seks tanpa perantara siapa pun. “Di sini nggak diatur. Sendiri itu. Ya, kan paling kita mah buat uang buat makan, bayar tempat tinggal (sewa apartemen) saja,” tutur Mey.

Mey, yang memasang tarif Rp 500 ribu per pelanggan dan sekali kencan, tidak sedikit pun merasa takut kena razia petugas. Menurut dia, petugas sebetulnya sudah sering melakukan penggerebekan di Apartemen Green Pramuka City. Namun dirinya selalu lolos. Sebab, penggerebekan itu dilakukan hanya terhadap pelaku prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur atau penggunaan narkoba. Sedangkan dia sudah tergolong perempuan dewasa.

Salah satu pekerja seks komersial di Apartemen Green Pramuka City
Foto : Tim detikX-20Detik

“Kemarin pas lagi ke bawah dicegat sama polisi. Sudah sebulan yang lalu. Terus dia nanya kayak gini, kayak gini. Ya, aku jelasin. Terus istilahnya mungkin ngelihat aku udah dewasa gitu kali, ya, jadi santai saja ngobrol sama polisi. Terus udahannya dia cuma nyari apa… ‘Kalau lu punya tamu yang narkoba atau apa, lu laporan ya sama gua’,” ungkap Mey.

Menanggapi masih adanya praktik prostitusi online di Apartemen Green Pramuka City itu, Head of Communications Green Pramuka City, Lusida Sinaga, mengaku tidak terlalu kaget. Lusida mengatakan praktik tersebut memang masih mungkin terjadi di sana. “Kalau masih ada, ya, ada saja. Tapi kan belum tentu juga terjadi. Karena mereka itu beriklan biasanya,” tutur Lusida saat dimintai konfirmasi.

Menurutnya, pihak pengelola juga memiliki tim sendiri untuk memantau oknum-oknum yang melakukan prostitusi online di Apartemen Green Pramuka City. Hasilnya, terjadi penurunan iklan jasa prostitusi yang signifikan pascapenggerebekan yang dilakukan tim gabungan beberapa waktu lalu. "Kami selalu monitoring, ada tim monitoring di Twitter, MiChat, Line, karena biasanya mereka menggunakan itu," jelasnya.

Lusida menduga banyaknya praktik prostitusi di Green Pramuka City disebabkan adanya praktik sewa harian yang ditawarkan para broker yang tak bertanggung jawab. Sewa harian itu tak dilakukan pemilik atau pengelola apartemen. "Sekarang kami memperketat dengan tidak menyewa harian. Dulu kita masih oke untuk sewa per jam, tapi nggak boleh disewakan ke orang di bawah umur, harus punya paspor, dan KTP yang jelas. Namun kami lihat belakangan ini kok ada yang nggak ngikutin. Jadi kami sekarang mulai keras, ya,” tegas Lusida.

Pengelola Apartemen Green Pramuka City juga mendirikan posko khusus untuk koordinasi dengan polisi, kelurahan, kecamatan, Imigrasi, dan Badan Narkotika Nasional. Bila ada temuan tindakan kriminal, seperti narkoba dan prostitusi, pengelola akan melaporkan dan pihak berwenang langsung melakukan inspeksi mendadak dan rahasia. "Jadi ada kayak kontrak tertulis, kalau ada pengembangan kasus di BNN ataupun Imigrasi atau kepolisian, kami mendukung sepenuhnya. Kami terbuka untuk sidak atau lihat monitoring CCTV kami," pungkas Lusida.


Reporter: Tim detikX/20detik
Redaktur: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE