INVESTIGASI

'Pelangi-pelangi' di Barak TNI

Sejumlah prajurit TNI terlibat praktek LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Sebagian besar masuk bui dan dipecat sebagai tentara.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 29 Oktober 2020

Usia Prajurit Dua (Prada) AK terbilang masih sangat muda, 22 tahun. Cita-cita pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tahun 1998 itu tercapai. Ia diterima masuk tentara pada 2017 dan ditugaskan di batalyon infanteri Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) di Bogor dan Sumedang, Jawa Barat. Namun, karir militernya hanya seumur jagung, sekitar tiga tahun. Tepat pada 3 Juni 2020 lalu, ia dipecat. Tak hanya itu, ia harus mendekam dalam jeruji besi selama tujuh bulan.

AK dikenai tuduhan melanggar kesusilaan, yaitu telah melakukan hubungan seksual sesama jenis. Tentu hal itu sangat bertentangan dengan norma agama, susila, hukum pidana, serta aturan internal TNI. Ia dinilai melanggar aturan pimpinan TNI, yang melarang keras hubungan sesama jenis di antara para prajurit. Aturan itu adalah Surat Telegram Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Nomor ST/1313/2009 Tanggal 4 Agustus 2009 dan Surat Telegram Panglima TNI Nomor ST/398/2009 Tanggal 23 Juli 2009.

Perilaku AK dianggap menimbulkan gejolak dan keresahan di lingkungan TNI. Perilaku seks menyimpang itu juga dinilai telah mengganggu ketertiban dan kedisiplinan prajurit. AK kedapatan tiga kali berhubungan seks sesama pria dengan seniornya antara Januari-Februari 2019. Begitu setidaknya yang tergambar dari berkas salinan Putusan Pengadilan Militer II-9 Bandung bernomor 49-K/PM.II-9/AD/III/2020, yang diunggah di website Mahkamah Agung Republik Indonesia, beberapa waktu lalu.

“Terdakwa (AK) sebelumnya tidak pernah melakukan seks menyimpang menyukai sesama jenis (LGBT) dengan orang lain, tetapi baru melakukan dengan Saksi-3 pada bulan Februari 2019,” kata majelis hakim Pengadilan Militer II-09 Bandung yang dipimpin Mayor Chk Ujang Taryana didampingi hakim anggota Mayor Chk Sunti Sundari dan Mayor Chk Hadiriyanto.

Pengadilan Militer II-9 Bandung di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung
Foto : Dok Pengadilan Militer II-9 Bandung

Saksi-3 yang dimaksud adalah Prada ESM, 25 tahun, yang dikenal AK sejak masuk kesatuan batalyon infanteri di Bogor pada 2017. Dalam berkas pemeriksaan yang dibuat Denpom III/2 Garut Nomor BP-02/A-02/II/2020 tanggal 3 Februari 2020, AK pertama berbuat mesum karena dirayu oleh ESM sekitar Februari 2019 di barak remaja Yonif 301 Raider/Prabu Kian Santang (PKS) Sumedang. Perbuatan bejat itu dilakukan ketika para prajurit lainnya tengah tertidur pulas. Lampu di dalam barak khusus tentara yang masih lajang alias belum menikah itu pun dimatikan.

AK awalnya sangat terkejut mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari ESM. AK sempat murka dan mempertanyakan perbuatan rekannya itu. “Sejak kapan kamu mempunyai sifat seperti ini?” tanya AK. Setengah berbisik, ESM menjawab, “Saya mempunyai sifat seperti ini sejak saya masih kecil ketika masih SD.” Lalu ESM mengutarakan perasaannya menyukai AK sejak awal bertemu. Setelah itu keduanya semakin intens menjalin hubungan.

Terdakwa (AK) sebelumnya tidak pernah melakukan seks menyimpang menyukai sesama jenis (LGBT) dengan orang lain, tetapi baru melakukan dengan Saksi-3 pada bulan Februari 2019."

Kepada hakim Pengadilan Militer, ESM mengaku memiliki orientasi seks berbeda sejak dicabuli oleh teman Sekolah Dasar-nya di Palu, Sulawesi Tengah. Pada 2014, ketika lulus Sekolah Menengah Atas, ia berkenalan dengan seorang pria dewasa melalui aplikasi BBM (Blackberry Messenger). Pria itu memberinya uang Rp 50 ribu agar mau disodomi. Pada 2015, ESM juga berkenalan dengan pria lain lewat Instagram dan kemudian berkencan.

Setelah ESM masuk TNI pada 2017 dan ditugaskan di Bogor, petualangan seksnya tidak berhenti. Ia berselancar di media sosial Instagram dan menemukan kenalan baru seorang gay di Bogor. Setelah menjalin komunikasi secara intens, keduanya berhubungan badan di sebuah hotel di Bandung. Saat pindah tugas ke Sumedang, ESM juga melakukan oral seks sesama jenis dengan Prada BR, 25 tahun. Pada Oktober 2018, ESM juga melayani oral seks dengan oknum anggota Polres Kalimantan Timur berinisial E yang dikenalnya lewat Instagram.

ESM mengetahui adanya aturan dan larangan prajurit melakukan hal tercela itu dari pesan yang sering diumumkan oleh komandan-komandannya di asrama. Rupanya, ESM tak peduli dengan itu, karena ia menganggap perilakunya seks menyimpang itu dilakukan dengan orang sipil. Namun ulah ESM akhirnya terhenti setelah perbuatannya terendus prajurit lain dan ia dilaporkan kepada atasan. ESM, AK, dan BR akhirnya divonis hukuman tujuh bulan penjara dan dipecat dari kemiliteran.

Nasib serupa menimpa Prada R, 22 tahun. Ia baru masuk lingkungan TNI Angkatan Udara selama tiga tahun. Tapi karir militernya hancur gara-gara perilakunya yang dianggap di luar batas, terjebak lingkaran LGBT. Pria asal Bantul, Yogyakarta, itu divonis hukuman tujuh bulan penjara dan dipecat dari kedinasan melalui putusan Pengadilan Militer Pengadilan Militer II-9 Bandung bernomor 13-K/PM.II-9/AU/I/2020 pada 22 Februari 2020.

Foto ilustrasi prajurit TNI
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

R bergabung dengan TNI AU dan ditempatkan di Bogor pada 2017. Setahun kemudian, ia menikah dan memiliki seorang anak. Rupanya, R tak bisa membendung dorongan seksnya yang tinggi ketika istrinya tengah hamil tua dan melahirkan. Pada September 2018, R iseng-iseng membuka grup Waria Bogor di Facebook. Ia lalu bertegur sapa dengan seorang waria bernama Angel. R beberapa kali melakukan hubungan seks dengan Angel dengan tarif Rp 100 ribu di tempat yang berbeda-beda.

Pada tahun 2019, jajaran satuan intel di mana R bertugas menerima informasi tentang video yang berisi adegan mesum waria bersama anggota TNI melalui akun Twitter Satria Bangsa. Lalu pimpinan satuan itu meminta dilakukan penyelidikan atas identitas pelaku. Tak lama, identitas R pun terbongkar. Ia tak tahu kalau beberapa kali hubungan seksnya dengan Angel direkam dan disebarluaskan. R tak bisa mengelak dan mengakui kekhilafannya tersebut.

Tak hanya dua kasus di atas, Pengadilan Militer II-9 Bandung juga telah menghukum Prajurit Satu (Pratu) PMA, anggota Yonkav 4/Kijang Cakti Kodam III Siliwangi, Bandung. Pria berumur 29 tahun asal Siantar, Sumatera Utara, ini divonis delapan bulan penjara dan dipecat sesuai keputusan Pengadilan Militer bernomor 77-K/PM.II-9/AD/V/2020 pada 20 Juli 2020 lalu.

Awalnya, PMA berkenalan seorang pria asal Pekanbaru, Riau, melalui Facebook tahun 2017. Keduanya menjalin komunikasi secara intens hingga kemudian sepakat untuk 'kopi darat' di Bandung pada 2018. Selama menjalani komunikasi jarak jauh, pria kenalan PMA kerap mengirimkan gambar dan video seks sesama pria kepada PMA. Ketika bertemu, sang kenalan pun berkata jujur bahwa ia seorang homoseksual dan berhasrat ingin disodomi oleh PMA.

PMA menolak karena merasa jijik, namun akhirnya berhasil termakan bujuk rayu kenalan prianya tersebut. Setelah berhubungan seks, PMA rupanya ketagihan. Ia pun mengunduh Hornet, sebuah aplikasi pertemanan sesama gay. Imajinasinya untuk berhubungan seks sesama jenis makin menjadi. Ia sempat mengunjungi lokalisasi di kawasan Saritem, Kota Bandung, untuk memadamkan hasrat seksual yang menyimpang itu, namun tidak berhasil.

Foto ilustrasi personel TNI 
Foto: Agung Pambudhy/detikcom 

Pada tahun 2018, ia bertemu dan berkenalan dengan Sersan Mayor (Serma) AA melalui Facebook. AA sendiri tengah bertandang ke Bandung untuk menjalani masa pendidikan kecabangan di Sesko TNI. AA sudah memiliki seorang istri. Setelah satu bulan berkenalan, PMA mulai menebar pesona kepada AA. Keduanya saling berkunjung ke asrama masing-masing. Saat PMA menginap di asrama AA, PAM pun mulai melancarkan aksinya.

AA sempat marah dan menolak ajakan berhubungan seks dengan PMA. Setelah beberapa kali melakukan perbuatan itu, AA mulai jengah dan berusaha menghindar. Tapi PMA rupanya lebih agresif. Ia mulai meneror istri AA dan mengancam akan menyebarkan foto AA bersama dirinya di media sosial.

“Asal Abang tahu, saya itu sudah terlanjur suka sama Abang. Pada saat kita jarang bertemu, saat Abang nggak pernah membalas WA saya, saya setiap hari selalu memperhatikan abang, selalu mengawasi Abang dan di HP saya ada foto Abang. Foto Abang pada saat abang tidur dan telanjang. Ada foto pada saat saya oral. Kalo Abang nggak mau menuruti apa mau saya, saya akan menyebar foto Abang,” ucap PMA sambil mengancam.

Hingga pertengahan tahun 2019, PMA masih menyimpan foto-foto itu dan tidak mau menghapusnya. Ia sempat memeras AA dengan meminta uang Rp 5 juta. AA berjanji akan memberikan uang sebesar yang diminta PMA agar mau menghapus foto-fotonya. Tapi sebelum uang sempat diberikan, PMA ternyata lebih dulu ditangkap Polisi Militer. AA juga sempat disidang, namun personel TNI itu hanya diganjar hukuman pindah tugas ke daerah lainnya.

Dari beberapa salinan putusan pengadilan militer, para pelaku LGBT di lingkungan ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya faktor biologis, psikologis dan sosial. Rata-rata yang terjangkit LGBT ini juga awalnya adalah korban pelecehan seks dan pencabulan. Semuanya dikenai pelanggaran Pasal 281 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juncto Pasal 190 ayat 1 dan 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1007 tentang Peradilan Militer.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE