INVESTIGASI

Nasib Dokter
di Tengah Corona

“Saya saja di puskesmas ini satu masker bisa untuk satu sampai dua hari. Itu bisa satu hari full.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 28 September 2020

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan sudah 118 dokter meninggal dunia di tengah penanganan pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) per 22 September 2020. Jumlah itu di luar angka kematian tenaga medis lainnya, seperti perawat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan 87 perawat gugur selama Maret-Agustus 2020. Sebagian besar karena terpapar virus Corona saat bertugas menangani pasien.

Persentase angka kematian tenaga medis dan dokter akibat terpapar virus Corona di Indonesia melebihi negara lainnya di Asia, bahkan menjadi 10 besar di dunia. “Jumlah tenaga medis yang meninggal hingga kini persentasenya telah melebihi negara-negara lain di Asia dan termasuk 10 besar di dunia,” kata Ketua Mitigasi Pengurus Besar IDI dr Adib Khumaidim, SpOT, dalam keterangannya, Rabu, 23 September 2020.

Dari 118 dokter meningeal dunia, terbanyak di Provinsi Jawa Timur dengan angka 31 orang. Disusul Sumatera Utara (21 dokter), DKI Jakarta (16 dokter), Jawa Barat (11 dokter), Jawa Tengah (8 dokter), Sulawesi Selatan (6 dokter), Bali (4 dokter), Kalimantan Selatan (4 dokter), Sumatera Selatan (4 dokter), Kalimantan Timur (3 dokter), Kepulauan Riau (2 dokter), Daerah Istimewa Yogyakarta (2 dokter), dan Aceh (2 dokter). Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Riau masing-masing satu dokter.

Penanganan pasien COVID-19
Foto: dok. CNN TV


Di dalamnya mengatur penggunaan APD (alat pelindung diri) bagi dokter umum dan dokter khusus yang menangani COVID-19, aturan jam kerja, juga tata letak ruangan supaya meminimalkan penularan."

IDI juga mencatat enam kota dengan jumlah kematian dokter terbanyak, yakni Medan (13 dokter), Surabaya (11 dokter), Jakarta Selatan (8 dokter), Makassar (5 dokter) serta Bekasi (4 dokter) dan Malang (4 dokter). Dokter yang wafat di Aceh kini bertambah menjadi tiga orang, setelah dr Nuhsan Umar Lubis, yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa, Aceh, mengembuskan napas terakhir di RSU Thamrin, Medan, Sumatera Utara, Kamis, 24 September 2020.

Bertambahnya dokter yang gugur di tengah penanganan pandemi COVID-19 itu tentu sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, saat tak ada COVID-19 saja, jumlah dokter di Indonesia masih kurang. IDI mencatat, per 2019, jumlah dokter di Tanah Air sekitar 168 ribu (138 ribu dokter umum dan 30 ribu dokter spesialis, termasuk spesialis paru). Kondisi seperti semakin merepotkan di tengah pandemi Corona.

“Satu orang dokter paru harus melayani sekitar 245 ribu warga negara Indonesia. Apabila kita kehilangan dokter, ini kerugian yang sangat besar buat bangsa ini,” kata Ketua Satuan Tugas Nasional Penanganan COVID-19 Doni Monardo pada pertengahan Mei 2020.

Melihat kenyataan itu, Tim Mitigasi PB IDI telah membuat pedoman standar perlindungan dokter di rumah sakit maupun praktik mandiri untuk menekan penyebaran virus Corona di lingkungan tenaga medis. Buku pedoman standar perlindungan dokter ini baru akan disebarluaskan setelah mengantongi penomoran buku yang berstandar internasional atau international standard book number (ISBN).

"Di dalamnya mengatur penggunaan APD (alat pelindung diri) bagi dokter umum dan dokter khusus yang menangani COVID-19, aturan jam kerja, juga tata letak ruangan supaya meminimalkan penularan," ujar Ketua Mitigasi Pengurus Besar IDI dr Adib Khumaidim, SpOT, dalam webinar 'Sosialisasi Mitigasi Perlindungan Dokter Indonesia Saat Pandemi Covid-19', Rabu, 23 September 2020.

Dr Sugih, dokter yang sempat bertugas menangani pasien COVID-19 di Hotel Harper, Makassar, Sulawesi Selatan
Foto: dok. pribadi

Pembuatan buku pedoman standar perlindungan bagi tenaga medis dirasakan terlambat di tengah pandemi COVID-19, tapi saat ini sangat dibutuhkan. Banyak faktor yang menjadi penyebab kematian dokter. Dua di antaranya adalah tingginya risiko terpapar virus Corona karena dokter setiap hari berada di rumah sakit dan faktor imunitas. Walau dokter tak terjun langsung ke ruang isolasi, setiap hari mereka bertemu dengan para pasien yang terpapar COVID-19 atau tidak.

“Kemudian, terkait protokol kesehatan yang ada, saya rasa itu sudah cukup, ya. Memang beberapa rumah sakit di daerah masih mengalami kelangkaan APD, seperti masker dan sebagainya. Kalau di Jakarta sendiri, alhamdulillah sejauh ini sudah ter-cover semua,” ungkap dr Erlina Burhan, Msc, SpP, dari RS Persahabatan, Jakarta, kepada detikX, Kamis, 24 September 2020.

Bukan hanya ancaman maut, para dokter juga sudah banyak yang mengalami kelelahan seperti tenaga medis lainnya karena jam kerja yang begitu panjang. Hal itu diungkapkan oleh dr Sugih Wibowo, yang sempat bertugas menangani pasien COVID-19 di Hotel Harper, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Mei lalu. Ditemani empat perawat dan 14 relawan, ia bertugas menangani 203 pasien dan harus stand by 24 jam. Padahal, standarnya, dokter setiap hari bertugas selama delapan jam.

“Ini kita harus stand by 24 jam, apa masuk akal? Itu memang kondisi di lapangan yang mengharuskan seperti itu karena nggak ada dokter lain. Dokter penanggung jawabnya saya sendiri,” ucap Sugih kepada detikX, Rabu, 23 September 2020.

Sugih menambahkan, perbandingannya satu dokter di Indonesia itu harus mem-back up 2.500-3.000 warga di sekitarnya. Karena itu, pembatasan jam kerja bagi dokter dan tenaga medis sangat penting sekali. Sebab, hal itu berguna untuk tetap menjaga kesehatan dan fisik dokter itu sendiri serta dapat menekan tingkat penularan COVID-19. “Sekarang, alhamdulillah, kondisi di tempat saya sudah ada pembatasan. Walaupun tetap 24 jam, hanya tiga hari. Tiga harinya lagi libur,” imbuh Sugih.

Presiden Jokowi
Foto: dok. CNN TV

Dalam pembatasan waktu kerja, lanjut Sugih, selama tiga hari full atau nonstop di puskesmas, satu orang dokter harus bertugas di bagian poli, Instalasi Gawat Darurat (IGD), perawatan, dan persalinan. Ia mengakui kendala terbesar saat ini di antaranya soal keterbatasan APD, baju hazmat, dan masker. “Saya saja di puskesmas ini satu masker bisa untuk satu sampai dua hari pakai masker medis itu. Itu bisa satu hari full, kadang bahkan ya bisa sampai dua-tiga hari itu,” ujarnya.

Sugih tak begitu tahu bagaimana persediaan APD, masker, dan sarung tangan medis. Yang jelas, pihaknya selalu mengajukan permintaan barang-barang tersebut bila stoknya mulai menipis. “Nggak mungkin kita nggak minta, cuma ya itu tadi, syukur-syukur dikasih, ya alhamdulillah. Kalau nggak dikasih ya apa mau dikata, ya seadanya saja,” pungkas Sugih, yang sempat jatuh sakit tapi bukan karena terpapar COVID-19.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto melakukan langkah-langkah untuk melindungi para dokter, tenaga kesehatan, dan pasien di rumah sakit. Ia meminta Terawan mengaudit dan mengoreksi sejumlah protokol kesehatan yang diberlakukan di rumah sakit. “Rumah sakit harus menjadi tempat yang aman dan tidak menjadi klaster penyebaran COVID-19,” kata Jokowi.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE