INVESTIGASI

Ancaman Corona
di Pemukiman Padat Jakarta

Warga di pemukiman padat di Jakarta kesulitan menerapkan jaga jarak. Satu rumah sempit bisa ditinggali hingga 20 orang.

Foto: 20Detik

Selasa, 23 Juni 2020

Udara pengap langsung menyergap ketika masuk ke pemukiman padat penduduk di RT 08 RW 03 Kelurahan Kali Anyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Gang-gang yang berada di tengah perkampungan kumuh itu begitu sempit, hanya cukup untuk berpapasan dua orang. Apabila ada sepeda motor yang diparkir di pinggir gang, warga harus melintas secara bergantian.

Makin jauh ke dalam, perkampungan itu terasa makin sesak. Sampai-sampai cahaya matahari pun tak bisa menerobos masuk karena gang tertutup rapat oleh atap rumah semi permanen yang berhimpitan. Sepanjang hari, warga bak dirundung gelap. Karena tingkat kepadatan yang tinggi, rumah-rumah penduduk di kampung itu bahkan tidak memiliki ventilasi untuk sirkulasi udara.

Saat detikX berkunjung ke pemukiman kumuh itu pada Jumat siang, 19 Juni 2020, sepanjang gang ramai oleh warga yang bercengkerama. Mereka seolah tak peduli terhadap imbauan menjaga jarak (physical distancing) di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi di DKI Jakarta guna menekan penyebaran virus corona (COVID-19). Sebagian warga juga terlihat tidak mengenakan masker untuk mencegah penularan virus.

Suasana pemukiman di RW 03 Kelurahan Kali Anyar, Tambora Jakarta Barat
Foto : 20Detik


“Kondisi seperti itu yang tidak memungkinkan mereka untuk stay di rumah. Mereka pasti akan keluar, paling nggak di radius 50-100 meter dari rumahnya. Karena mereka merasa itu masih lingkungan rumahnya juga. Dan kadang mereka kalau keluar ya masih tidak memakai masker, mereka beranggapan jalanan lingkungan yang ada itu masih bagian dari rumah mereka.”

Berdasarkan data Kecamatan Tambora, di kelurahan Kali Anyar, menurut lurah setempat, Daniel Azka, hingga pekan lalu sudah terdapat delapan warga yang positif tertular COVID-19. Dari delapan pasien virus corona itu itu, satu pasien meninggal dunia, sedangkan lima lainnya telah sembuh. Kondisi itu terang saja meningkatkan kekhawatiran terhadap para warga yang hidup di pemukiman padat penduduk di beberapa lokasi di Kali Anyar.

Daniel mengaku telah bergerak cepat untuk menelusuri riwayat kontak para pasien positif corona. Sebab, kasus positif corona akan memunculkan orang-orang yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Swab test sudah digelar seiring ditemukannya kasus positif corona beberapa waktu lalu itu. Dalam sebulan ini, juga telah dilakukan rapid test massal kepada 200 warga Kali Anyar dari berbagai RW.

“Nah untuk mereka yang ODP untuk saat ini langkah yang kita ambil juga masih isolasi mandiri saja, dan ada bantuan sembako dari Pemprov DKI Jakarta kita berikan. Kemudian kemarin yang balita pun kita support dengan pampers dan susu. Sementara ini kita coba terus penuhi, kemarin kan sudah di swab test, mudah-mudahan hasilnya negatif,” kata Daniel saat ditemui detikX di Kantor Kelurahan Kali Anyar, Jalan Kali Anyar Raya, Tambora, Jumat 19 Juni 2020.

Selain itu, imbauan kepada warga untuk tetap berada di rumah, menjaga jarak, dan mengenakan masker pun makin digiatkan oleh aparat kelurahan dan Satpol PP. Hanya saja, imbuh Daniel, imbauan-imbauan itu pada kenyataannya sangat sulit dilakukan oleh warga Kali Anyar, terutama mereka yang tinggal di pemukiman padat.

Bayangkan saja, satu rumah berukuran 3 X 5 meter bisa dihuni hingga 20 anggota keluarga. Kondisi itu tidak memungkinkan mereka untuk tetap berada di rumah dalam waktu bersamaan. Warga menyiasati keadaan itu dengan secara bergantian berada di dalam dan luar rumah. Namun, ketika berada di luar rumah pun, mereka tidak bisa menjalankan aturan jaga jarak dengan sesama warga karena padatnya pemukiman.

Satu rumah di RW 03 Kelurahan Kali Anyar bisa dihuni 20-25 orang
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

“Kondisi seperti itu yang tidak memungkinkan mereka untuk stay di rumah. Mereka pasti akan keluar, paling nggak di radius 50-100 meter dari rumahnya. Karena mereka merasa itu masih lingkungan rumahnya juga. Dan kadang mereka kalau keluar ya masih tidak memakai masker, mereka beranggapan jalanan lingkungan yang ada itu masih bagian dari rumah mereka,” ungkap Daniel.

Ketua RW 03 Kelurahan Kali Anyar, Agus Sukardi, membenarkan warga terpaksa bergiliran berada di dalam dan luar rumah. Bagi para lansia, dia mengimbau untuk keluar hanya pagi hari untuk berjemur. Saat ini, ada sekitar 200 orang lansia tinggal di RW 03. “Kalau malam, warga ada yang tidur di luar juga. Saya kadang-kadang miris dengan kondisi warga saya,” ucap Agus ketika ditemui detikX, Jumat 19 Juni 2020.

Sementara untuk protokol kesehatan lainnya, menurut Agus bisa diterapkan secara efektif di pemukiman padat RW 03. Setiap mulut gang di RW 03 dipasangi fasilitas untuk mencuci tangan. Baik warga maupun pendatang, wajib disemprot dengan disinfektan bila masuk ke pemukiman. “Jadi pada intinya protokol kesehatan di wilayah kami masih bisa insya Allah kita laksanakan, cuma physical distancing dan stay at home itu yang sulit diterapkan di wilayah kami ini,” tandas Agus.

Ketua RT 08 RW 3, Sugeng Prasetyo mengatakan, gang di wilayahnya sempat ditutup untuk membatasi ruang gerak masyarakat. Ketika PSBB sudah memasuki transisi, lockdown lokal itu dibuka kembali. Di wilayahnya ada sebuah pabrik konveksi yang 50 persen karyawannya dari luar RT 08. Untuk itu, ia sudah memberikan imbauan dan saran. “Jadi mereka sebelum masuk gang wajib cuci tangan, dan wajib mengenakan masker, saya juga imbau kepada bos-bos konveksi itu agar jaga jarak selalu, jadi antar mesin jahitnya itu diberi jarak 1-1,5 meter,” katanya.  

Daniel Azka, Lurah Kali Anyar, Jakarta Barat
Foto : 20Detik

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sendiri pada April 2020 lalu mengatakan Pemprov Jakarta telah menyiapkan tempat untuk isolasi mandiri bagi warga yang tinggal di rumah susun atau rumah tapak yang padat penduduk. Fasilitas dan logistik juga ikut disiapkan bagi warga yang menjalani karantina. “Karena kawasan padat itu bukan hanya di rumah susun, di rumah-rumah tapak juga yang kampung-kampung padat, di situ juga punya masalah yang hampir sama, karena satu bangunan bisa jadi beberapa KK," ujarnya.


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE