INVESTIGASI

Pandemi Corona

Skenario 'Hukum Rimba' Bonbin

Pandemi corona mengancam ketersediaan pakan satwa di kebun binatang. Skenario terburuk bakal diberlakukan 'hukum rimba' di bonbin.

Foto: Harimau Sumatera di Taman Safari Cisarua (Syailendra Hafiz Wiratama/detikX)  

Jumat, 15 Mei 2020

Covid berlarian ke sana ke mari. Sesekali ini mendekati Agus, sang keeper untuk meminta makan. Covid bukanlah virus corona (COVID-19). Ia adalah gajah yang baru lahir di Taman Safari Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Covid lahir pada Selasa 28 April 2020 lalu dari pasangan gajah asal Riau, Sumatera, bernama Nina dan Kodir di kebun binatang itu. Nama Covid diberikan karena gajah mungil ini lahir di tengah pandemi corona yang membuat bonbin tutup, termasuk Taman Safari Cisarua. “Pemberian nama itu terkait dengan kelahirannya di masa pandemi COVID-19 yang sedang mewabah di Indonesia,” kata Agus saat berbincang dengan detikX di kandang khusus gajah di Taman Safari Cisarua, Bogor, Sabtu, 9 Mei 2020 lalu.

Menurut Agus yang sudah berpengalaman 25 tahun menjaga dan melatih gajah, gajah-gajah yang ada di Taman Safari Cisarua umumnya dalam kondisi sehat di tengah pandemi. Hal itu karena nutrisi dan pakan masih dipenuhi dengan baik. Begitu juga dengan satwa-satwa lainnya yang berada di bonbin seluas 168 hektare itu. Ipen, seorang keeper yang berpengalaman 20 tahun menjaga Harimau Sumatera mengatakan, satwa karnivora yang diawasinya masih relatif sehat. Ia mengatakan, dalam satu hari, seekor harimau menghabiskan 5 Kg daging. Di Taman Safari, terdapat beberapa satwa berkulit loreng itu yang punya 'latar belakang' buruk. Misalnya, harimau Sumatera bernama Giring yang pernah menyerang manusia. Lalu Bimo, harimau Sumatera yang pernah diracun. Karena tak bisa dilepasliarkan lagi, maka mereka akan tergantung di lahan konservasi hingga memiliki keturunan. “Seluruh harimau di sini umurnya bisa sampai 15 tahun. Selama perawatannya baik, bisa sampai 20 tahun,” jelas Ipen.

Covid, gajah yang baru lahir di Taman Safari Cisarua

Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Orangutan di Taman Safari Cisarua

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Jerapah di Taman Safari Cisarua

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Kendati hingga saat ini kondisi satwa di Taman Safari masih baik-baik saja, namun pihak pengelola tetap merasa was-was akan ketersediaan pakan mereka bila pandemi corona ini terus berlanjut. Komisaris Taman Safari Indonesia (TSI) Group, Tony Sumampau, mengungkapkan, kebutuhan pakan di Taman Safari Cisarua mencapai Rp 4,5 milar  dalam sebulan. Sementara, daya tahan Taman Safari diperkirakan hanya tinggal dua bulan lagi. Karena itu, Taman Safari Cisarua mulai memutar otak agar ketersediaan pakan bagi 2.500-an satwa yang ada di bonbin tersebut bisa terpenuhi.

Jangan lupa satwa yang ada di alam pasti yang karnivor memangsa herbivor, itu sudah biasa, nggak bisa dilarang. Mereka atur sendiri, apa yang mereka dapat itu yang mereka makan. Dan itu nggak kita cegah karena memang hukum alam seperti itu."

“Selama pandemi ini mungkin kita sekarang lebih fokus ke pakan pokok. Kalau dulu kan sedikit mewah. Seperti diketahui, kalau kita memberi makan harimau itu kan daging beku, itu pasti kekurangan vitamin B-nya, dan harus ditambah. Vitamin E-nya juga. Kalau kalsium sudah cukup, sudah ada di dalam tulangnya. Sekarang yang gitu-gituan rasanya tidak menjadi prioritas lah, karena mahal, jadi daging tok. Sedangkan untuk gajah masih dapat rumput, tapi peletnya dikurangi. Mereka dapat buah-buah, itu juga dikurangi, karena pakan pokoknya kan rumput dan daun-daunan. Itu yang kita penuhi. Dengan demikian kita menghemat semua budget,” kata Tony kepada detikX di Taman Safari Cisarua.

Sabtu siang itu, Tony pun mengajak detikX berkeliling Taman Safari Cisarua untuk melihat proses penyediaan pakan satwa sembari menjelaskan upaya-upaya pemenuhan pakan yang dilakukan pengelola pada masa pandemi ini. Pertama yang dikunjungi adalah gudang pakan dan dapur makanan untuk satwa yang berjumlah kurang lebih 2.500 ekor dari berbagai spesies. Jumlah pakan sangat fantastis. Dari catatan yang ada, untuk Lumba-lumba saja setiap hari butuh 100 Kg ikan layang. Belum lagi untuk satwa karnivora. Setidaknya di tempat itu disiapkan 700 Kg daging ayam, 700 Kg daging bebek, 700 Kg daging sapi, kuda dan kangguru yang diimpor dari Australia.

Buah-buahan untuk pakan satwa di Taman Safari Cisarua

Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Penyiapan pakan rumput di Tamn Safari Cisarua

Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Daging untuk pakan hewan carnivora di Taman Safari Cisarua

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Selama dua bulan ini, menurut Tony, semua biaya pakan ini diambil dari kas TSI Group. Sejak ditutup dua bulan lalu, TSI Group sebenarnya telah menerima bantuan pakan. Contohnya 600 ekor ayam dari Kepala Polres Bogor, AKBP Roland Ronaldy. “Dari Kapolres Bogor menyumbang 500 Kg ayam beku, dari perhotelan di Bali menyumbang daging beku, karena hotelnya tutup. Jadi sebelum daging beku itu kadaluarsa diberikan kepada harimau dan karnivora lainnya di Taman Safari Bali,” ungkap Tony.

Untuk pakan satwa herbivora, selama ini Taman Safari menerima dari vendor seperti rumput, sayuran dan buah-buahan. Namun, sejak pandemi COVID-19, pasokan pakan dari vendor dikurangi. Taman Safari akhirnya memutuskan untuk menanam sendiri buah-buahan dan sayuran yang akan dipanen tiga bulan setelah masa tanam. Selain itu, petugas  mencari sayuran dan buah-buahan sendiri ke pasar.Mereka juga mencari rumput ke hutan di lereng Gunung Gede Pangrango. “Kita tahu gajah makan 15 persen dari berat badannya. Kalau gajah beratnya 2,5 ton saja, tahu deh  makannya berapa. Sehari itu, minimal 250 kg rumput sehingga tadi saya sampaikan, kira-kira masih 14 ton, ternyata sudah 20 ton rumput per hari, kan luar biasa sekali besarnya,” terang Tony.

Setelah dari gudang pakan, perjalanan berlanjut ke track yang biasa dilalui pengunjung untuk melihat berbagai satwa di Taman Safari Cisarua. Terlihat koleksi satwa herbivora (seperti Rusa, Banteng, Anoa, Jerapah dan lainnya), lalu satwa primata seperti Orangutan, kera, dan simpanse terlihat segar dan sehat. Karena sudah dua bulan ini tak melihat kehadiran manusia atau pengunjung, satwa-satwa itu terlihat begitu antusias dan ‘kangen’ bertemu pengunjung. Maklum, selama ini mereka sudah terbiasa dekat dengan manusia. Begitu sampai di area satwa herbivora, Tony pun membuka pintu mobil. Satwa-satwa itu menghampiri dan bergerombol mengitari mobil, seakan berharap diberi makanan seperti wortel dan buah-buahan. “Ya itu satwa ya, kangen dengan suasana pengunjung yang suka beri makanan wortel,” ujar Tony.

Sekelompok rusa di Taman Safari Cisarua
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

DetikX lalu juga diajak ke sebuah gudang kecil tak jauh dari kandang Harimau. Gudang itu berisi berbagai macam tabung nitrogen yang ternyata merupakan bank sperma untuk menampung sperma berbagai spesies di Taman Safari, di antaranya satwa endemik owa Jawa, badak, anoa, gajah dan harimau Sumatera. Bank sperma itu berguna untuk regenerasi satwa dan penelitian oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa perguruan tinggi. Penampungan sperma di tabung nitrogen itu membutuhkan biaya yang besar , sebab tabung nitrogen harus selalu diganti. “Penggantian itu sendiri membelinya dan segala macam harus dilakukan sehingga spesimen yang di tampung di dalam nitrogen itu bisa bertahan, yang kita harapkan lebih dari 50 tahun, bisa dimanfaatkan lagi kalau dibutuhkan kemudian,” ungkap Tony.

Seperti halnya bantuan pakan dari Kapolres Bogor dan hotel di Bali, Tony mengajak lebih banyak lagi masyarakat untuk peduli terhadap nasib satwa di bonbin. Sejauh ini Persatuan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) sudah mengumpulkan donasi Rp 1,2 miliar dan akan disebarkan ke bonbin yang memerlukan pakan. Jika pandemi corona terus berlanjut dan melewati batas cadangan dana yang dimiliki, Taman Safari sendiri sudah menyiapkan alternatif terakhir sesuai peraturan internasional untuk pengelolaan bonbin. Yaitu dengan menerapkan manajemen spesies. Satwa-satwa yang surplus bisa dimanfaatkan untuk menjadi makanan bagi satwa yang lain. Selain surplus, satwa tersebut juga tidak punya nilai konservasi.  Populasinya pun gampang pulih. Seperti di Taman Safari yang mempunyai lebih dari 300 ekor rusa. Dari jumlah itu bisa diambil sebanyak 10 atau 30 ekor untuk pakan satwa karnivora. “Jangan lupa satwa yang ada di alam pasti yang karnivor memangsa herbivor, itu sudah biasa, nggak bisa dilarang. Mereka atur sendiri, apa yang mereka dapat itu yang mereka makan. Dan itu nggak kita cegah karena memang hukum alam seperti itu,” tandas Tony.

Kura-kura di Faunaland Ancol

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Tapir sedang berendam di Faunaland Ancol

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Seekor singa di Faunaland Ancol

Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Pengetatan pakan juga dilakukan bonbin mini, Faunaland Ancol, meski belum begitu signifikan. General Manager Faunaland, Fardhan Khan menjelaskan, selama pandemi COVID-19, nutrisi pakan satwa masih terjaga dengan baik. Kalau pun melakukan pengurangan hanya sebesar 10 persen. Misalnya, tidak ada boleh ada makanan satwa yang tersisa seperti biasanya. Artinya dikurangi agar pas habis sekali makan dalam sehari. “Jadi harus pas habisnya nggak boleh ada sisa. Jadi dari angka (10 persen) kurang lebih segitu, nggak bisa dikurangi lagi, karena nanti akan mempengaruhi satwanya,” kata Fardhan kepada detikX, Selasa, 5 Mei 2020. Fardhan juga berharap masyarakat dan pemerintah peduli terhadap nasib hewan-hewan yang ada di bonbin. Fardhan tidak masalah skenario terburuk diambil jika pandemi corona kian merajalela. "Kalau misalnya iya, terpaksa melakukan skema itu (menjadikan rusa pakan untuk karnivor) saya pikir nggak masalah sih. Karena yang dikorbankan itu sebenarnya satwa yang nilai konservasinya nggak terlalu tinggi, hewan ternak lah, dan rusa tutul itu gampang banget berkembang biak," ucapnya.

Suasana sepi dan sunyi terasa di kebun binatang mini ini. Penutupan sementara di masa pandemi COVID-19 dimanfaatkan manajemen untuk merenovasi dan membersihkan kandang satwa yang ada. Faunaland seluas lima hektar di kawasan Ecopark Ancol ini mengoleksi satwa unik dari Indonesia bagian timur. Setidaknya ada 161 ekor spesimen satwa dari 59 spesies. Termasuk Singa Putih asal Afrika, Kanguru Albino dan Kura-kura Aldabra berusia 76 tahun. “Selama tutup kita manfaatkan untuk proses pengembangbiakan. Misalnya Macan Dahan jantan dan betina kita kawinkan. Selama pandemi ini mereka lebih tenang juga. Kan biasanya di sini berisik dan ramai, sedangkan di Ecopark Ancol kadang ada konser. Kalau ada konser mereka stress,” kata Fardhan .


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE