INVESTIGASI

Mulai dari Nol Lagi Wagub DKI

Setelah pengisian kursi wagub deadlock di DPRD DKI, Gerindra dan PKS memulai lagi proses pemilihan pengganti Sandiaga Uno. Kapan selesainya?

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 4 Februari 2020

Politikus Partai Gerindra Ahmad Riza Patria dalam dua hari ini menghabiskan waktu berkeliling ke fraksi-fraksi di DPRD DKI Jakarta. Ditemani Wakil Ketua DPRD DKI, yang juga Ketua Gerindra Jakarta, Muhammad Taufik, Riza menyambangi partai-partai dalam rangka pemilihan Wakil Gubernur DKI. Riza berdalih langkahnya tersebut bukan bentuk lobi-lobi khusus untuk memenangi pemilihan Wagub DKI di DPRD. “Tapi silaturahim secara resmi dan formal,” kata Riza di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Di lain pihak, lawan politiknya, Nurmansjah Lubis, mengambil start lebih awal. Pekan lalu, cawagub yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini melobi setidaknya empat fraksi di DPRD DKI, yaitu Golkar, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurut Nurmansjah, fraksi-fraksi itu punya pesan khusus agar menjalin hubungan baik dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

"Bagaimana ada kerja sama, harmonisasi dengan Pak Gubernur. Menjadi wakil baik dalam pengertian saran, rekomendasi, kritis harus diperlukan. Makanya saya berkali-kali chef, racik di dapur, kerja, itu saja. Istilahnya politik kerja. Wagub itu harus politik kerja, tidak politik macam-macam," ucap Nurmansjah.

Presiden PKS Sohibul Iman juga sudah menemui Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh di kantor DPP NasDem, Gondangdia, Jakarta, pekan lalu. Pembicaraan kedua tokoh itu pun sempat menyinggung pengisian kursi Wagub DKI yang ditinggalkan oleh Sandiaga Uno pada 2018 untuk maju pada Pilpres 2019. Namun, menurut politikus NasDem Taufiqulhadi, belum ada dukungan yang dilontarkan dalam pertemuan tersebut.

Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu, cawagub DKI lama usulan PKS.
Foto: dok. detikcom

Pemilihan Wagub DKI yang kosong hampir dua tahun memang memasuki episode baru dengan dicalonkannya Riza dan Nurmansjah oleh Gerindra dan PKS. Proses panjang pemilihan wagub sebelumnya, dengan dua cawagub dari PKS, Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto, berbuah kebuntuan di DPRD. Deadlock itu terjadi lantaran tak kunjung diadakannya rapat pimpinan gabungan (rapimgab) untuk membahas tata tertib dan panitia pemilihan wagub.

Alasannya, adanya transisi anggota DPRD periode 2014-2019 ke periode 2019-2024. Selain itu, beredar kabar para anggota Dewan mempertanyakan cawagub DKI yang dua-duanya merupakan kader PKS. Cawagub diserahkan kepada PKS merupakan ‘janji’ Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai balasan atas dukungan PKS dalam Pilpres 2019. Banyak proses sudah dilalui, termasuk fit and proper test terhadap Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto. Hingga akhirnya kedua nama itu diserahkan kepada Anies dan kemudian ke DPRD. Namun anggota Fraksi Gerindra Imam Satria bilang banyak anggota DPRD yang memang mempertanyakan kedua cawagub yang dari PKS itu.

PKS pun kabarnya sempat berkirim surat kepada Gerindra pada 14 Agustus 2019 untuk mengusulkan format cawagub satu dari Gerindra dan satu dari PKS. Namun surat tersebut kemudian ditarik kembali. Hingga pada awal Oktober 2019, Gerindra mengirimkan surat kepada PKS yang berisi empat nama cawagub alternatif dari Gerindra, yakni Riza, politikus Gerindra Ferry Juliantono, pengusaha Arnes Lukman, dan Sekretaris DKI Jakarta Saefullah.

“Dari empat nama itu bukan Gerindra yang memilih untuk menjadi satu. Itu yang memilih PKS juga. Akhirnya berbagai proses segala macam terjadi dinamika yang akhirnya dipilihlah A. Riza Patria dan PKS Nurmansjah Lubis,” ujar Wakil Ketua DPD Gerindra DKI Ahmad Sulhy kepada detikX pekan lalu.

Ahmad Riza Patria
Foto: Bisma Septalisma/CNN Indonesia

PKS juga sempat meminta penundaan penyerahan dua nama cawagub pada 20 Januari ke fraksi-raksi di DPRD, dengan alasan Ketua DPW PKS DKI Jakarta Sakhir Purnomo dan Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Mohammad Arifin sedang tidak di Jakarta. Namun nama itu tetap diserahkan oleh Gerindra. Pada 21 Januari, kedua nama itu diserahkan kepada Anies. Dan Anies sudah menyerahkan surat usulan nama cawagub kepada DPRD.

Dalam pemilihan wagub sebelumnya, Gerindra meminta adanya fit and proper test untuk dua calon yang diusung PKS. Meski keberatan, uji kelayakan dan kepatutan itu akhirnya dilakukan. Kini giliran Nurmansjah dan PKS yang meminta diadakannya fit and proper test. Namun Taufik menolak dengan alasan uji itu tidak perlu dan bisa disampaikan pada saat penyampaian visi dan misi.

Sohibul mengatakan segala hal menyangkut kemampuan cawagub DKI perlu diketahui oleh publik. Rekam jejak seseorang, termasuk calon pemimpin daerah, bukan hal yang perlu ditutupi. "Siap dipereteli dari keahliannya, track record, bahkan hal-hal yang sangat privat. Hal pribadi pun harus dikorek. Jadi uji publik ini sangat positif," kata Sohibul. “Kita siap dan dukung meski dipilih internal di Abang (anggota Dewan) semua. Publik harus tahu, kira-kira Bang Ancah bisa nggak angkut, review APBD, oprek habis, deh,” imbuh Nurmansjah.

Meski kurang terkenal, Nurmansjah merupakan sosok yang tak jauh dari politik. Ia pernah menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2004-2014. Ia menjadi calon anggota legislatif kembali pada Pileg 2019, namun gagal. Latar belakang pendidikannya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) membuat Nurmansjah dipercaya sebagai pimpinan komisi yang berkutat pada anggaran saat masih duduk sebagai anggota Dewan. “Mas Anies perlu orang kuat yang bisa jagain keuangan DKI,” ujar Mardani Ali Sera, Ketua DPP PKS.

Sedangkan dalam laman pks-jakarta.go.id disebutkan bahwa Bang Ancah, panggilan pria kelahiran Jakarta, 8 Desember 1964, tersebut, berpengalaman selama 12 tahun sebagai auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ia juga pernah bekerja selama tujuh tahun sebagai profesional PT Asuransi Takaful. Selama tiga tahun belakangan ini, Nurmansjah menekuni bisnis barunya, yaitu berjualan kopi.

Nurmansjah Lubis
Foto: Yogi Ernes/detikcom

Pada Pileg 2019, ia menggandeng Co-Founder One Kecamatan One Center of Entrepreneurship (OK OCE), Indra Uno, untuk mengajak masyarakat berwirausaha. Selama 2,5 tahun belakangan, ia rajin mempromosikan kopinya di ajang car free day (CFD). Selain dijual, kopi racikannya dibagi-bagikan kepada warga. Nurmansjah pun memperkenalkan diri sebagai cawagub dengan berjualan kopi di CFD pada 26 Januari.

Sedangkan Riza merupakan politikus gaek di Gerindra, partai besutan Prabowo. Pria kelahiran Banjarmasin, 17 Desember 1969, itu menjabat Ketua DPP Gerindra sejak 2008 hingga sekarang. Riza merupakan Ketua Komisi II (bidang dalam negeri dan pemilihan umum) DPR periode 2014-2019, dan kini menjadi Wakil Ketua Komisi V DPR (komisi bidang infrastruktur dan perhubungan). Riza pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta 2003-2008.

Riza mempunyai seabrek pengalaman keorganisasian. Ia antara lain bergelut di Kesatuan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sebagai Majelis Nasional dari 2017 hingga sekarang. Pada 2016, ia menjadi Wakil Sekjen Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Riza juga berkecimpung di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Selain organisasi, Riza tercatat menduduki posisi puncak di perusahaan, antara lain sebagai Presiden Direktur PT Gala Ray Pratama dan  PT Gala Ariatama.

Riak-riak yang muncul selama proses pemilihan Wagub DKI yang kedua kalinya, seperti perdebatan mengenai perlu-tidaknya fit and proper test, tak membuat pesimistis PKS maupun Gerindra. Taufik mengatakan DPRD DKI segera mengadakan rapimgab untuk menetapkan tata tertib pemilihan dan membentuk panitia pemilihan. Seluruh proses pemilihan akan selesai pada Minggu kedua Februari 2020.

Namun, akankah Jakarta punya wagub pendamping Anies?


Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE