INVESTIGASI

Penikaman pada
Sang Jenderal

“Itu memang bukan orang agama itu yang melakukan itu, pasti itu sudah iblis.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 12 Oktober 2019

Masyarakat terhenyak mendengar kabar seorang pejabat tinggi negara ditusuk oleh pasangan suami-istri. Apalagi pejabat itu sekaliber Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto. Purnawirawan jenderal TNI berbintang empat itu ditikam ketika hendak kembali ke Jakarta dengan helikopter di Alun-Alun Menes, Desa Purwajara, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019, pukul 11.50 WIB.

Tidak butuh waktu lama, video penikaman Wiranto viral di semua platform media sosial. Dalam rekaman video terlihat Wiranto yang baru turun dari mobilnya, Toyota Land Cruiser Prado warna hitam dengan plat nomor RI 16, di depan gerbang alun-alun. Sejumlah warga dan anak-anak sekolah menyaksikannya. Juga terlihat dari arah belakang mobil sepasang suami-istri berusaha mendekati Wiranto.

Pasangan suami-istri itu adalah Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, 52 tahun, dan Fitria Andriana alias Pipit, 21 tahun. Abu Rara memakai baju koko hitam dan celana putih, sedangkan Pipit mengenakan gamis hitam dan menutup wajahnya dengan cadar. “Saya menyerang pejabat itu (Wiranto),” kata Abu Rara kepada istrinya. “Nanti kamu serang polisi yang terdekat dengan kamu,” perintah Abu Rara.

Curiga dengan gerak-gerik keduanya, seorang polisi sempat menghalangi suami-istri itu untuk berjalan ke ke lokasi Wiranto turun dari mobil. Namun, Abu Rara dan istrinya nekad mendekat dengan pura-pura bilang ingin berfoto bersama pejabat. Namun, begitu Wiranto turun dari mobil dan sedang bersalaman dengan Kapolsek Menes, Kompol Dariyanto, suami-istri itu melancarkan aksinya.

Abu Rara langsung mengeluarkan pisau dari balik baju dan menusukkannya ke perut Wiranto. Ajudan Wiranto dan polisi terkesiap dan berupaya mencegah. Namun, dua tusukan membuat Wiranto jatuh tersungkur. Ia dengan cepat dianggkat kembali ke dalam mobil dan dibawa menjauh dari lokasi. Sejumlah orang dan polisi langsung mengerubuti pelaku hingga bergumul di tanah dan dilumpuhkan.

Abu Rara (kaos hitam) saat menjalankan aksinya.
Foto : Istimewa

“Saat itu kejadiannya arah pulang, bapaknya (Wiranto) mau pulang naik helikopter. Pas turun sebenarnya tersangka sempat sudah dijauhin sama aparatnya. Bilangnya begini ‘mau foto bareng’, jadi terus dijauhin, tapi Bapak Wiranto pengin dekat sama warga,” kata Rivai yang menjadi saksi mata kejadian itu kepada detikX, Kamis, 10 Oktober.

Sementara, menurut Rivai, si perempuan menyerang polisi secara membabi buta dengan gunting. Aksi itu membuat Kompol Dariyanto tersayat bagian tangan kiri dan kanan serta luka tusuk di punggungnya. Seorang anggota TNI dari Kodim Pandeglang dan tokoh agama setempat, Haji Fuad, yang berusaha menangkap Pipit juga tersayat di kedua tangannya.

Wiranto langsung dilarikan ke Klinik Menes Medical Center tak jauh dari lokasi untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah itu, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandeglang, yang terletak di Kecamatan Kaduhejo, sekitar pukul 12.00 WIB. Tak lama di RSUD itu, Wiranto diterbangkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jakarta.

Penyerangan terjadi setelah Wiranto meresmikan penggunaan gedung berlantai empat di Universitas Mathlaul Anwar di Kampung Cikaliung, Desa Sindanghayu, Kecamatan Saketi pada pukul 09.05 WIB. Abu Rara yang diduga terafiliasi dengan kelompok Islam radikal Jamaah Asharut Daulah (JAD) itu mendengar kedatangan Wiranto dan bermaksud melakukan amaliyah dengan mengajak istrinya.

"Kebetulan pada saat itu ada kapal, istilahnya helikopter itu kapal. Ada kapal nih mau mendarat, masyarakat banyak berbondong-bondong menuju alun-alun eh nggak tahu siapa. Tapi itu sasaran kita, langsung kita menuju alun-alun, langsung secara spontan menuju alun-alun," jelas ungkap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat, 11 Oktober 2019.

Syahrial Alamsyah alias Abu Rara
Foto : Istimewa

Dalam sebuah foto yang diabadikan warga sebelum peristiwa penyerangan itu terjadi, Abu Rara sempat melihat-lihat ke dalam helikopter yang bakal ditumpangi Wiranto. Abu Rara yang sebetulnya mengaku tidak mengenal Wiranto itu hendak membalas dendam atas penangkapan Fazri Pahlawan Abu Zee Ghuroba, pemimpin JAD Bekasi, Jawa Barat. "Baru dua hari ini sebetulnya Abu Rara merasa takut, stress, dan tertekan setelah mendengar ketuanya dia kemudian kelompok Abu Zee tertangkap," imbuh Dedi.

Abu Rara dan Pipit langsung ditangkap dan dibawa ke Polda Banten di Jalan Syeikh Nawawi al Bantani, Serang. Anak Abu Rara berusia 11 tahun juga sempat diamankan polisi. Sore harinya, Abu Rara dan Fitri diangkut personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror ke Mabes Polri, Jakarta. Sementara anaknya dikembalikan dan dibawa keluarga Abu Rara ke Medan.

Dugaan Abu Rara terkait JAD dikuatkan dari telisik Badan Intelijen Negara (BIN) bila dia terkait jaringan kelompok JAD di Bekasi. JAD juga kelompok yang berbaiat kepada Islamic State of Irac and Syria (ISIS), kelompok teroris yang di Irak dan Suriah sudah jauh berkurang kekuatannya. “Dari dua pelaku ini kita sudah bisa mengidentifikasi bahwa pelaku adalah kelompok JAD Bekasi,” kata Kepala BIN Budi Gunawan usai menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis, 10 Oktober.

Abu Rara terdeteksi beberapa kali pindah rumah sejak keluar dari Medan. Awalnya, ia terdeteksi sebagai sel jaringan JAD Kediri, Jawa Timur dan tinggal di sana. Setelah itu pindah ke Bogor, Jawa Barat. Namun, setelah bercerai dari istri pertamanya, Abu Rara pindah ke Menes, Pandeglang, Banten. Ia tinggal di Menes difasilitasi Abu Samsudin, salah satu tokoh JAD Menes.

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan usai menjenguk Wiranto
Foto : Dok Detikcom

Sementara di RSPAD Gatot Soebroto, Wiranto menjalani operasi selama tiga jam pasca peristiwa penusukan. Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Mahfud Md, menyebut tusukan Abu Rara mengenai bagian usus Wiranto. "Iya memang itu (usus) terkena, lalu dipotong terus disambung, terus selesai," ujar Mahfud udah menjenguk Wiranto di RSPAD. Jumat 11 Oktober 2019.

Setelah operasi, kondisi Wiranto berangsur-angsur stabil dan bisa berkomunikasi. Presiden Joko Widodo bahkan bilang Wiranto sudah tidak sabar ikut dalam rapat-rapat kabinet. "Baru saja tadi saya menjenguk lagi Menko Polhukam Bapak Wiranto, dan alhamdulillah kondisinya sudah stabil, semakin baik, tadi bisa berkomunikasi," kata Jokowi. "Sudah berbicara dengan saya tadi, 'Pak saya ingin segera pulang ikut ratas lagi',” sebutnya, Kamis 10 Oktober

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hassan mengatakan Wiranto masih di ruang CICU untuk pemulihan. Wiranto sudah latihan duduk dan berdiri. Ia juga sempat mengutuk pelaku penyerangan terhadap dirinya. “Itu memang bukan orang agama itu yang melakukan itu, pasti itu sudah iblis'," ucap Zulhas mencontohkan respons Wiranto.


Reporter/Penulis: Bahtiar Rifai (Pandeglang)
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugrohor
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE