INVESTIGASI

Veteran Kecewa, Molotov Bicara

“Itu kan orang-orang yang tidak menyenangi terpilihnya
Jokowi kembali.”

Ilustrasi: Fauzan Kamil

Jumat, 4 Oktober 2019

Tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polisi Militer TNI Angkatan Laut (Pomal) menciduk Sony Santoso di Jalan Permata Raya, Poris Plawad, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, tak jauh dari rumahnya di Perumahan Taman Royal 2, Jalan Pajajaran RT 007/RW 016, Poris Plawad, Cipondoh pada Sabtu, 28 September 2019, pukul 18.25 WIB. Pensiunan perwira tinggi TNI AL berpangkat Laksamana Pertama (Laksma) itu dicokok terkait perencanaan membuat kerusuhan pada aksi ‘Mujahid 212 Selamatkan NKRI’, Minggu, 29 September 2019.

Pria berusia 61 tahun itu juga merupakan eks Asisten Deputi VI bidang Kesatuan Bangsa di Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan di era Letjen (purnawirawan) Luhut Binsar Panjaitan. Sony yang lahir di Medan, Sumatera Utara, tahun 1958, ditangkap setelah polisi juga menangkap lima orang lainnya pada hari yang sama, tapi dengan waktu yang berbeda-beda. “TNI Angkatan Laut membenarkan tentang penangkapan seorang purnawirawan TNI AL berpangkat Laksamana Pertama TNI (Purn) dengan inisial SS (Sony Santoso),” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Mohamad Zaenal, kepada detikX, Rabu, 2 Oktober 2019.

Sony, lanjut Zaenal, merupakan lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta tahun 1984. Setelah lulus sarjana, Soni masuk dunia militer dua tahun kemudian. Selama berdinas di TNI AL, ia bertugas di beberapa satuan kerja. Sejak tahun 2012 hingga 2015, Sony kemudian berdinas di luar struktur TNI AL hingga ia pensiun pada 2016. Sebagai seorang purnawirawan, segala bentuk aktivitas dan kegiatannya merupakan tanggung jawab dan hak pribadi yang bersangkutan.

0
 Advanced issues found
 

Sony Santoso
Foto : Dok KPU


Perannya yang bersangkutan (Abdul Basith) menyimpan 28 molotov untuk mendompleng demo Mujahid 212 dengan melakukan pembakaran-pembakaran di Jakarta.”

Dari jejaknya yang ditelusuri detikX, Sony sempat ikut meramaikan pemilihan kepala daerah Banten tahun 2016. Ia secara independen mencalonkan diri menjadi wakil gubernur berpasangan dengan Mayjen (purnawirawan) Ampi Nurkamal Tanuwijaya. Menjelang Pemilu 2019, Sony ikut bergabung dengan Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto. Sony tercatat sebagai calon anggota legislatif untuk daerah pemilihan Banten II dengan nomor urut 14. Tapi semua usahanya itu gagal total.

Selain berpolitik, Sony nyambi sebagai dosen ilmu hukum di Universitas Methodist Medan, Sumatera Utara, dan menjadi pengajar tamu di sejumlah kampus. “Segala bentuk aktivitasnya sudah tidak ada kaitannya dengan TNI AL, di mana jika melakukan tindakan yang berdampak terhadap pelanggaran hukum akan ditangani oleh aparat yang berwenang,” jelas Zaenal.

Menurut Zaenal, sampai saat ini Sony ditahan di Polisi Militer TNI AL (Pomal). Sementara pemeriksaanya dilakukan oleh pihak Polda Metro Jaya bersama Pomal. “Perkembangan hasil penyidikan kita tidak tahu lagi, TNI AL hanya membenarkan penangkapan itu dan background yang bersangkutan. Tentang pemeriksaan dan hasilnya bagaimana, silakan dikonfirmasi ke polisi,” pinta Zaenal.

Sony ditangkap setelah polisi mencokok lima orang lainnya yang diduga akan berbuat kerusuhan pada aksi ‘Mujahid 212 Selamatkan NKRI’ di Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu, 29 September 2019. Rupanya, polisi sudah mengendus gerakan pengacau dalam aksi tersebut. Kelima orang itu ditangkap tak lama setelah melakukan pertemuan dengan Sony di rumahnya di Taman Royal 2 Cipondoh.

Mereka yang ditangkap adalah Abdul Basith, 44 tahun, seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Warga Pakuan Regency, Margajaya, Bogor Barat, Kota Bogor ini ditangkap setelah keluar dari rumah Sony, persisnya di Jalan Maulana Hasanudin, Cipondoh, Sabtu, 28 September 2019 pukul 01.00 WIB. Di tempat itu pula polisi menangkap Sugiono alias Laode, 30 tahun, warga Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur.

0
 Advanced issues found
 

Aksi Muhajid 212 Selamatkan NKRI
Foto : Lamhot Aritonang/detikcom

Sementara, Yudhi Febrian, 50 tahun, warga Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, dan Ali Udin, 43 tahun, warga Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Sekatan ditangkap di sekitar GS Supermarket, Jalan K.H Hasyim Asy’ari No. 93, Cipondoh. Terakhir, Okto Siswantoro alias Toto, 42 tahun, warga Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, bersama Sony ditangkap di Jalan Permata Raya, Poris Plawad, pukul 18.25 WIB.

Peran Sony dan Abdul Basith memang dianggap cukup sentral. Abdul Basith orang yang dianggap menyuruh, membuat, dan menyimpan bahan peledak jenis bom Molotov sebanyak 28 buah. Ia juga mendatangkan bom dari Papua dan Ambon dengan biaya Rp 8 juta. Sedangkan Sony memberikan 28 bom molotov dari Basith kepada Okto. Ia juga yang menentukan target-target tempat pelemparan bom molotov dan granat nanas, serta merekrut dan mengarahkan kelompok pembuat kerusuhan itu.

Peran Sugiono membantu Abdul Basith dalam merakit bahan peledak bom Molotov, mempersiapkan massa perusuh untuk mengikuti aksi ‘Mujahid 212 Selamatkan NKRI’, membuat skenario kerusuhan atas perintah Sony yang akan dilaksanakan setelah mata hari tenggelam. Peran Yudhi sebagai eksekutor melemparkan bom molotov dan menerima uang dari Sony dan Okto. Sedangkan Okto, menerima bahan peledak berupa granat nanas dari Sony yang diserahkan kepada Ustadz Yudi (DPO) dan merekrut para eksektor. Peran Ali Udin sebagai eksekutor pelemparan bom molotov.

“Perannya yang bersangkutan (Abdul Basith) menyimpan 28 molotov untuk mendompleng demo Mujahid 212 dengan melakukan pembakaran-pembakaran di Jakarta,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, Senin, 30 September 2019 lalu.

Sementara, dari hasil pemeriksaan para tersangka, Okto menerima dana yang akan digunakan oleh para eksekutor untuk melakukan provokasi dan kerusuhan pada aksi demo Mujahid 212. Sementara Sugiono telah merekrut empat tersangka lainnya sebagai eksekutor, yaitu JAF, AL, NAD dan SAM. Keempat orang ini memiliki kualifikasi membuat bom molotov sekaligus sebagai eksekutor.

Abdul Basith, menurut polisi, sudah merencanakan kejahatan itu sejak tanggal 23 September 2019. “Mulai merencanakan kegiatan, mencari saudara Sugi atau Laode yang saat itu masih berada di Ambon untuk didatangkan ke Jakarta. Sudah ditunjuk ke titik mana saja yang akan dilakukan peledakan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo dalam jumpa persnya, Selasa, 1 Oktober 2019.

0
 Advanced issues found
 

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono
Foto : Samsudhuha Wildansyah/detikcom

Seorang sumber detikX yang enggan disebutkan namanya menjelaskan, keterlibatan Sony dalam hal pembuatan bom terbilang aneh. Sebab, Sony tak pernah bersentuhan dengan bahan peledak. Namun, ia tak memungkiri banyak sekali mantan tentara atau purnawirawan TNI yang sudah mulai kecewa dengan pemerintahan sekarang. Banyak persoalan yang membuat mereka kecewa atas pengelolaan negeri yang dianggap sudah tak sesuai dengan harapan mereka. Beberapa di antaranya ada yang ekstrem dalam mengkritisi bahkan terlibat aksi mendompleng kegiatan demo, seperti yang terjadi pada diri Kivlan Zen (mantan Pangkostrad) dan Soenarko (mantan Danjen Kopassus).

Hal itu juga diamini mantan Kepala Badan Intelijen Strategi (BAIS) TNI, Sulaiman Ponto. Ia mengatakan, Sony muncul karena senior-senior yang di atasnya sudah tidak muncul lagi untuk menyuarakan ketidaksenangan dengan terpilih kembalinya Joko Widodo sebagai presiden periode kedua. “Itu mungkin dulu di bawah, sekarang di atasnya hilang, dia muncul ke atas. Pak Slamet Subijanto sama juga, itu kan orang-orang yang tidak menyenangi terpilihnya Jokowi kembali,” kata Sulaiman kepada detikX, Selasa, 1 Oktober 2019.

Hingga kini, polisi masih terus mendalami bagaimana hubungan dan peranan Sony dan Abdul Basith cs ini. Yang jelas, kesemua tersangka ini akan dikenai jeratan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 tahun 1951. Dalam pasal itu disebutkan barang siapa yang membuat, menyerahkan, menyimpan senjata api atau bahan peledak akan dikenai hukuman minimal 20 tahun penjara atau maksimal hukuman mati.

0
 Advanced issues found
 

Reporter/Redaktur: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE