INVESTIGASI

Sayonara Jakarta

Jokowi memastikan ibu kota bakal pindah ke Kalimantan Timur. Benarkah Jokowi bakal mencetak sejarah?

Ilustrasi Foto: Luthfy Syahban

Rabu, 28 Agustus 2019

Wajah Isran Noor langsung sumringah usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 6 Agustus 2019. Pasalnya, dalam pertemuan empat mata yang berlangsung hampir satu jam itu, lokasi ibu kota negara baru sudah ditetapkan Jokowi, tinggal diumumkan. Jokowi sudah memilih Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai lokasi pusat pemerintahan.

“Isinya (pembicaraan) saya tidak tahu. Tapi yang jelas setelah pertemuan itu bapak happy sekali wajahnya berbinar-binar begitu. Dia bilang tinggal pengumuman resminya saja oleh Presiden,” jelas orang dekat Gubernur Kaltim Irsan Noor, kepada detikX, Senin, 26 Agustus.

Penetapan lokasi ibu kota memang akhirnya diumumkan secara resmi oleh Jokowi pada Senin, 26 Agustus 2019 di Istana Negara, Jakarta. Jokowi memili Kaltim sebagai ibu kota negara Indonesia yang baru. "Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartananegara, Provinsi Kalimantan Timur," ujar Jokowi, yang didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri ATR Sofyan Djalil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Isran Noor.

Pengumuman ini dilakukan Jokowi usai menerima dua kajian yaitu soal hasil kajian struktur tanah dan dampak ekonomi dari pembangunan ibu kota baru. Sebanyak dua kajian itu diberikan oleh Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pada Jumat tanggal 23 Agustus 2019.

Joko Widodo saat mengumumkan ibu kota baru
Foto : Andhika/detikcom


Warisan beban dan masalah perkotaan di Jabodetabek bisa dihindari karena semua mulai dari nol. Perencanaan bisa dibuat lebih ideal dan optimal."

Sekali pun baru dapat kepastian soal lokasi ibu kota pada 6 Agustus 2019, namun pembicaraan terkait calon ibukota baru sudah mulai dibahas Bappenas dan Gubernur Kaltim sejak 2016 silam. “Dibahas sejak 2016 saat Kepala Bappenas masih Pak Andrinof Chaniago. Tapi saat itu kandidatnya bukan hanya di Kalimantan. Ada di kawasan timur Sumatera, dan Sulawesi Barat. Untuk Kalimantan, ada tiga calon, yakni Kaltim, Kalsel, dan Kalteng,” ungkap Irsan Noor.

Namun, setelah dilakukan kajian dari Bappenas, serta pemaparan dari Gubernur Kaltim, ternyata Jokowi lebih kepincut untuk menjatuhkan pilihan ke wilayah itu. Apalagi lahan yang bakal dibangun merupakan milik negara sehingga pemerintah tidak repot-repot membeli lahan lagi. “Jadi spekulan tidak mau main-main bakal menghabiskan baterainya saja. Dan dia mau beli lahan siapa? Karena lahan untuk ibu kota dan penunjangnya tanah negara tapi memang akan ada biaya relokasi untuk warga yang selama ini menempati lahan tersebut. Tapi itu kan tidak terlalu mahal,” jelas Irsan.

Hal lain yang menjadi pertimbangan, kata Irsan, kondisi masyarakatnya heterogen dan tidak pernah terjadi konflik suku ataupun SARA. Dari data kependudukan yang dikantonginya, penduduk di Kaltim sebanyak 34 persen berasal dari pulau Jawa, hampir 30 persen dari Sulawesi, sisanya penduduk Kalimantan. Dan sejauh ini tidak ada masalah apa-apa. Justru malah menjadi keseimbangan. “Masyarakat heterogen itu enak kan,” katanya.

Kawasan ibu kota baru itu juga berada di dua kota utama Samarinda dan Balikpapan yang kelengkapan infrastrukturnya sudah tersedia, seperti jalan tol, dua bandara bertaraf internasional serta pelabuhan. Kawasan industri pun tersedia di sana. Irsan juga menjamin keberadaan ibu kota baru tidak akan merusak hutan apalagi konsep yang disebut Bappenas ibu kota berkonsep smart city, green city, forrest city yang bernuansa lingkungan. Bahkan dari 180 ribu hektar calon ibu kota, 70 persennya hutan dan tetap dipertahankan.

Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor
Foto : Andhika Prasetya/detikcom

“Kalau saat ini ruang terbuka hijau itu 30 persen ke depan kalau bisa dibalik 70 persen untuk ruang terbuka hijau dan 30 persen saja yang digunakan untuk jalan dan bangunan. Nah, kalau hutan lindung itu tidak akan diganggu. Kalau perlu direvitalisasi lagi fungsinya ditingkatkan lagi,” harap Irsan.

Menurut Irsan, yang juga menjadikan Kaltim sebagai pilihan dibanding Kalsel atau Kalteng, adalah ketersediaan air bersih. Soalnya, kata Irsan, Kaltim relatif lebih banyak sumber airnya karena banyak danau dan masih bisa dikembangkan. Saat ini akan dibangun lagi danau sebagai bahan baku air untuk ke Balikpapan yang punya kapasitas 6.000 liter perdetik. 

Berbagai keunggulan memang dimiliki Kaltim sebagai kandidat terpilih ibu kota baru. Pengamat perancang kota, Sibarani Sofyan, wilayah Kalimantan secara umum diibaratkan kertas yang masih kosong, sehingga lebih mudah untuk memulai sesuai tujuan yang diinginkan. "Warisan beban dan masalah perkotaan di Jabodetabek bisa dihindari karena semua mulai dari nol. Perencanaan bisa dibuat lebih ideal dan optimal," terangnya.

Selain itu, pemerintah akan lebih leluasa dalam hal penguasaan lahan. Kontrol pemerintah akan lebih kuat jika lahannya belum terlalu liar dimiliki pihak swasta. Pindah ke Kalimantan juga akan lebih baik dalam hal melakukan desentralisasi geopolitik, yang selama ini bernuansa Jawa Sentris bisa menjadi Indonesia Sentris. Pulau selain Jawa akan berpotensi mendapat prioritas lebih dibanding sebelumnya.  "Efek trickle down economy untuk daerah sekitar lokasi ibu kota di Kalimantan akan positif apabila dilakukan dengan benar," tambah Sibarani.

Tapi Kalimantan juga memiliki kekurangan seperti permasalahan lintas pulau. Akan terbilang sulit dalam hal logistik untuk pengadaan bahan dan SDM ahli pembangunan. Selain itu tentunya secara psikologis resistensi untuk pindah ke lokasi sejauh itu akan tinggi di awalnya. Biaya transportasi akan lebih mahal karena harus via kapal udara atau laut. Masalah lainnya, pengadaan SDM pendukung di kota-kota Kalimantan relatif kurang siap dibandingkan Jabodetabek.

Foto : Andhika

Irsan Noor saat dikonfirmasi soal ketersediaan SDM mengaku belum mengetahui kajian soal itu. Tapi menurutnya, seiring dengan proses pembangunan dan aktivitas di ibukota yang baru akan banyak SDM yang berdatangan. Untuk itu, ujar Irsan, dirinya akan melakukan koordinasi khususnya dengan Walikota Samarinda dan Balikpapan yang akan menjadi daerah penyangga ibu kota baru. Kedua daerah itu diharapkan bisa menampung dan memberdayakan wilayahnya untuk menyambut kedatangan masyarakat dari penjuru Indonesia seiring berjalannya ibu kota yang baru.

Persiapan kedatangan masyarakat ke lokasi ibukota yang baru bukan hanya dilakukan pimpinan daerah sekitar. Pihak swasta atau pun perusahaan plat merah seakan tidak mau ketinggalan mencari cuan (peruntungan) di ibu kota baru. Sebut saja PT PP Properti Tbk (PPRO). Anak usaha PTPP ini sudah menyiapkan ancang-ancang untuk ekspansi di Kaltim dengan mengirimkan tim untuk survei ke lokasi calon ibu kota. Tim tersebut akan mengkaji potensi-potensi yang bisa digarap BUMN tersebut. "Kajian kami peluang di ibukota baru akan lebih fokus," ujar Direktur PP Properti Taufik Hidayatdi di Jakarta, Senin, 26 Agustus.

Taufik mengaku, PP Property sudah memiliki pengalaman membangun proyek di Kaltim. Perusahaan sudah pernah membangun hotel dan mall di Balikpapan. Selain itu, lanjut Taufik, perusahaan sudah memiliki perjanjian kerjasama dengan pemilik lahan di Kaltim. Perusahaan akan dipercaya membangun properti di lahan tersebut. "Belum bisa kasih tau nama perusahaannya. Luas potensi lahan sampai 500 ha. Saya belum bisa men-disclouse lebih jauh nanti kalau sudah tanda tangan," kilahnya.

Sementara untuk pengembang swasta, berdasarkan catatan yang dimiliki  CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda,  setidaknya  Ciputra, Agung Podomoro, Cowell, Wika Realty, PP Properti, Bintang Omega Sakti, serta Lippo Group sudah beroperasi di kawasan Kaltim. Ali mengatakan kebanyakan dari perusahaan properti itu memiliki lahan di Balikpapan. Selain itu ada juga pengembang lokal yang menguasai lahan di sekitaran Kaltim. "Balikpapan itu saat ini berkembang di sepanjang jalan utamanya," tambahnya.

Gerbang Kabupaten Penajam Paser Utara
Foto : ANTARA

Menurut Ali jika ibu kota sudah resmi dipindahkan industri properti yang akan berkembang pesat ada di kota besar sekitarnya seperti Balikpapan dan Samarinda. Apalagi koneksi transportasi ada di kota tersebut. Hal ini juga bisa dilihat dengan iklan property yang dilakukan Agung Podomoro Land Tbk. (APLN). Baru sehari diumumkan lokasi ibukota baru oleh Jokowi, pengembang kakap tersebut langsung tancap gas dengan menjual property dengan embel-embel dekat ibukota baru.

Dalam iklan sehalaman penuh di koran nasional yang tayang pada Selasa, 27 Agustus, lalu, APLN menawarkan Borneo Bay City yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Balikpapan. Borneo Bay City adalah superblok yang mencakup pusat belanja hingga hunian bertingkat. Harga hunian ditawarkan Rp 700 jutaan


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE