INVESTIGASI

Bencana Minyak Pertamina

Siaga Tumpahan Minyak di Teluk Jakarta

Tumpahan minyak dari anjungan lepas pantai Karawang yang bocor sudah berada di 10 mil laut dari garis pantai Jakarta. Sejumlah petugas, warga, dan nelayan sudah disiagakan agar minyak tidak menerjang pantai di Jakarta.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 7 Agustus 2019

Bau menyengat tercium di kawasan pantai Karawang, Jawa Barat. Saat detikX berkunjung ke kawasan pantai yang terletak di Desa Cemara Jaya itu pekan lalu, pasir-pasirnya sudah berwarna hitam pekat. Banyak warga yang ditemui mengaku pusing akibat menghirup udara yang berbau oli tersebut.

Di pantai itu kini tidak lagi terlihat orang yang berenang atau bermain pasir di pantai. Pemandangan yang terlihat adalah banyaknya warga setempat yang berjajar mengangkat gumpalan hitam yang melekat di pasir pantai.

Mereka memasukkan cairan tersebut ke dalam karung menggunakan cangkul dan sekop. Karung-karung yang sudah terisi lalu diangkut dengan sepeda motor atau mobil bak ke kantor desa. Di sana beberapa truk telah siap mengangkut karung-karung tersebut ke lokasi pembuangan limbah di kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat.

Cairan hitam pekat dan berbau itu menyerbu pesisir Karawang sejak 19 Juli 2019. Warga yang pertama kali melihat adalah para nelayan pinggir yang sehari-hari mencari udang. Hari itu mereka merasa heran karena tidak seperti biasanya udang begitu sulit didapat. Yang ada jaring mereka malah menjerat cairan yang belakangan diketahui minyak mentah.

Pencemaran minyak mentah di pesisir Karawang
Foto: Ibad Durohman/detikX


Kami berharap tumpahan minyak ini bisa segera diatasi, sehingga tidak menganggu aktivitas pariwisata di Kepulauan Seribu. Pihak Kabupaten Kepuluan Seribu saat ini sedang bekerja keras untuk menangani tumpahan minyak yang sudah mencapai beberapa pulau.”

“Beberapa hari berselang, giliran pengusaha tambak yang mengetahui karena secara tiba-tiba ikannya mati. Warga akhirnya baru mendapat kejelasan setelah pihak Pertamina menginfokan kalau ada kebocoran pipa,” jelas Acing Darsim, tokoh Desa Cemara Jaya, kepada detikX.

Dari keterangan PT Pertamina (Persero) disebutkan, kebocoran minyak di pengeboran minyak lepas pantai Karawang mulai terjadi pada Jumat, 12 Juli 2019, dini hari atau sepekan sebelum muntahan minyak mentah menerjang pesisir Karawang.

Menurut Acing, tumpahan minyak sebenarnya hampir setiap tahun terjadi di pesisir Karawang. Namun biasanya gumpalan minyak itu hanya berlangsung sehari saja mengotori pantai. Terakhir, seingat pria tersebut, gumpalan minyak terjadi akhir Desember 2018. “Tapi saat ini sudah beberapa minggu tidak hilang dan malah semakin banyak. Ini kan berarti sudah parah sekali,” tutur Acing.

Direktur Hulu PT Pertamina, Dharmawan Samsu menjelaskan insiden kebocoran minyak terjadi di lokasi pengeboran lepas laut milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) sejak 12 Juli lalu. Kebocoran itu diakibatkan aktivitas re-entry saat pengeboran di sumur YYA-I.

Pihak pertamina menyebut awalnya luberan minyak mencapai 3.000 barel atau setara dengan 477 ribu liter per hari. Namun, per 1 Agustus 2019, jumlah luberan minyak menyusut hingga tinggal sepuluh persen, yakni hanya 300 barel per hari atau setara dengan 47.700 liter. 

Banyaknya tumpahan minyak yang menerjang pesisir Karawang dan sekitarnya bahkan, menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto, bisa menimbulkan risiko terburuk berupa semburan gas (blow out). Bahkan skalanya bisa besar seperti yang terjadi di Teluk Meksiko, Amerika Serikat. "Pernah menonton Deepwater Horizon nggak? Kejadian buruknya bisa seperti itu," kata Djoko di kantor Kementerian ESDM,  Rabu, 17 Juli.

Limbah minyak mentah yang dikumpulkan di karung-karung di Karawang
Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom

Seperti diketahui, kebocoran minyak mentah di Teluk Meksiko terjadi pada 20 April 2010. Tumpahan tersebut berasal dari sebuah anjungan pengeboran minyak yang berada 66 kilometer dari lepas pantai Louisiana, AS. Usaha pengeboran ini sebenarnya dimiliki Transocean Ltd, tapi sedang disewa oleh British Petroleum (BP) Plc, perusahaan minyak asal Inggris.

Anjungan tersebut mengalami kecelakaan karena ada ledakan akibat kebocoran gas. Ledakan itu mengenai kepala sumur yang berada di kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan laut. Setidaknya 11 pekerja tewas dan sejak itu mayat mereka belum juga ditemukan.

Dua hari pascaledakan, tepatnya Kamis, 22 April 2010, sebagian anjungan roboh. Sejak itu semburan minyak mentah sekitar 5.000 barel atau 210 ribu galon (795 liter liter) per hari merembet semakin jauh dari pusat ledakan akibat terbawa arus. Badan Penerbangan dan Antariksa AS per 27 April sempat merilis gambar udara tumpahan minyak. Saat itu luas area yang tercemar 9.933 km (77x129 km).

Pertamina berharap kejadian di anjungan lepas pantai Karawang tidak seperti di Teluk Meksiko yang digambarkan dalam film Deepwater Horizon. Menurut Dharmawan, saat ini Pertamina berfokus memastikan pada penanganan yang sebaik-baiknya. Penanganan ini dilakukan oleh semua pihak, termasuk SKK Migas, Kementerian ESDM, hingga pemerintah daerah. "Kita lebih baik penanganan maksimum. Ini kita siapkan 27 kapal dan oil boom juga sampai 13 unit. Ini memastikan penanganan lebih baik kita kerja sama dan hubungi SKK Migas, Kementerian ESDM, dan stakeholders lain," katanya.

Selain itu, untuk penanganan risiko pencemaran lingkungan, grup Pertamina telah menggerakkan 27 kapal dan 12 set oil boom. Selain itu, untuk menjaga agar tidak ada aktivitas nelayan di sekitar lokasi, Pertamina dan PHE ONWJ bekerja sama dengan TNI AL, Satpolairud, dan Pokwasmas mengerahkan 7 unit kapal patroli.

Bukan hanya di Karawang, operasi pembersihan juga dilakukan di daerah lain yang mulai terdampak, seperti Kepulauan Seribu. Beberapa pulau sudah terkena dampak minyak mentah sejak 22 Juli 2019. Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu Cucu Ahmad Kurnia mengaku cemas terhadap imbas tumpahan minyak itu dan berharap hal itu segera ditangani.

“Kami berharap tumpahan minyak ini bisa segera diatasi, sehingga tidak menganggu aktivitas pariwisata di Kepulauan Seribu. Pihak Kabupaten Kepuluan Seribu saat ini sedang bekerja keras untuk menangani tumpahan minyak yang sudah mencapai beberapa pulau,” ujar Cucu kepada detikX.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengundang Bupati Kepulauan Seribu dan pihak Pertamina untuk penanganan limbah minyak di Kepulauan Seribu
Foto: M Fida Ul Haq/detikcom

Sementara itu, informasi yang diperoleh detikX dari sejumlah nelayan di pesisir Jakarta, minyak tersebut sudah membuat banyak ikan dan rajungan kolaps alias mengambang di permukaan laut. Bahkan minyak sudah masuk ke Teluk Jakarta atau hanya berjarak 10 mil laut dari pesisir Jakarta. “Kawan-kawan saya yang melaut melaporkan melihat  rajungan yang mati. Ikan-ikan pada mabuk karena tumpahan minyak,” jelas Iwan, nelayan pesisir Jakarta.

Wakil Bupati Kepulauan Seribu Junaedi saat dimintai konfirmasi detikX membenarkan bahwa dampak tumpahan minyak membuat banyak ikan mati. “Saya terima laporan banyak ikan yang mati di sekitar Pulau Untung Jawa, tepatnya di Pulau Bokor. Kalau rajungan sedang kami cek. Tapi memang di pulau itu banyak juga nelayan rajungan yang beroperasi,” jelas Junaedi.

Saat ini, imbuh Junaedi, sejumlah petugas dan masyarakat sudah disiagakan untuk mengantisipasi tumpahan minyak menerjang garis pantai Jakarta, apalagi sampai ke kawasan wisata Ancol. Sebab, minyak diakuinya, sudah masuk ke wilayah Teluk Jakarta. “Kami sudah menyiapkan jaring serta sejumlah alat untuk mencegah minyak yang sudah sampai Kepulauan Seribu bagian selatan merambat hingga ke pantai yang ada di Jakarta,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Kepulauan Seribu Husain Murad saat jumpa pers di Balai Kota, Jumat, 2 Agustus, bilang tujuh pulau terkena dampak pencemaran akibat tumpahan minyak. Tumpahan minyak tersebut terjadi sejak Juli 2019. "Sejak tanggal 22 Juli lalu, oil spill sudah sampai ke Kepulauan Seribu, khususnya di wilayah selatan. Tujuh pulau di sekitar Untung Jawa," kata Husain Murad.

Sekalipun terimbas tumpahan minyak dari Karawang, dikatakan Murad, wisatawan yang menuju Kepulauan Seribu tidak terpengaruh. Apalagi Pemkab Kepulauan Seribu sudah menyiagakan petugas kebersihan. "Wisatawan tidak perlu khawatir berkunjung ke Pulau Seribu. Karena sejauh ini petugas PPSU dan petugas dari Pertamina selalu siap membersihkan minyak mentah yang sampai ke pantai," jelasnya.

Selain pihak kabupaten setempat, Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Korps Polisi Air Udara (Korpolairud) Baharkam Polri juga terlibat dalam aksi bersih-bersih di sana dengan mengerahkan 27 personel. "Dampak dari tumpahan minyak mentah ini dapat kita minimalkan sehingga tidak meluas dan merugikan banyak pihak," kata Dirpolair Korpolairud Brigjen Lotharia Latif dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 4 Agustus 2019.

Anjungan minyak lepas pantai milik Pertamina di perairan Karawang
Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Latif menerangkan kebocoran minyak di laut yang terjadi tiga pekan lalu ini telah mengakibatkan air laut di sebagian perairan sebelah utara Karawang tercemar. Cuaca ekstrem, yakni gelombang tinggi disertai angin yang kuat, mendorong tumpahan minyak mengarah ke pulau-pulau di wilayah Kepulauan Seribu.

"Menyisir dari Tanjung Sedari, yang merupakan wilayah perairan Karawang, mengarah ke barat. Kami juga deteksi sebaran tumpahan minyak mentah sudah ada yang masuk ke wilayah perairan Kepulauan Seribu, sehingga pembersihan kita lanjutkan ke arah Pulau Bidadari," jelas Latif.

Pembersihan minyak mentah ini dilakukan sejak Sabtu, 3 Agustus. Personel Ditpolairud melakukan penyisiran dengan KP Kepodang-5001. Selaian polisi, tim dari Pertamina ikut dalam operasi pembersihan tersebut.

Pembersihan dan penghambatan sebaran tumpahan minyak dilakukan secara manual dengan menggunakan serokan jaring, lalu dikumpulkan dengan kantong-kantong plastik. "Tumpahan minyak mentah yang diambil dan dikumpulkan oleh tim kemudian didrop dan turunkan ke Dermaga Pertamina PHE ONWJ Marunda," terang Latif.


Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE