INVESTIGASI

Bencana Minyak Pertamina

Setelah ‘Pukulan’
Lion Air

Nelayan dan petambak di pesisir Karawang rugi hingga ratusan juta rupiah akibat tumpahan minyak Pertamina. Sebagian menjadi buruh bersih-bersih limbah minyak.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 5 Agustus 2019

Sejumlah nelayan di Desa Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, kaget saat mulut muara sungai yang menuju laut Karawang dihadang oil boom atau pagar berupa pelampung yang diikat menggunakan tali oleh pegawai PT Pertamina (Persero), Kamis, 18 Juli 2019. Para nelayan yang ingin melaut akhirnya memotong tali tersebut. Akibatnya, gumpalan minyak yang tergenang di mulut muara masuk ke sungai. “Sebagian nelayan tidak tahu karena tidak ada sosialisasi dari Pertamina soal adanya kebocoran pipa di lepas pantai Karawang,” ujar Carnakim, Sekretaris Desa Sungai Buntu, saat ditemui detikX, Rabu, 1 Agustus 2019.

Berdasarkan kronologi yang dijelaskan Direktur Hulu Pertamina (Persero) Dharmawan Samsu, pada Jumat, 12 Juli 2019, sekitar pukul 01.30 WIB, saat Pertamina melakukan re-entry dari drilling activity di sumur YYA 1 muncul gelembung gas. Kejadian itu mengakibatkan wilayah operasi di Blok Offshore North West Java (ONWJ) berhenti, dan pada 14 Juli 2019 mulai dilakukan evakuasi pegawai. Keesokan harinya, 15 Juli 2019, Pertamina menyampaikan keadaan darurat kepada SKK Migas dan Kementerian ESDM karena ada oil sheen atau lapisan minyak di permukaan laut, dan pada 17 Juli 2019 oil spill atau tumpahan minyak mulai terlihat di sekitar anjungan. Pada 18 Juli 2019, tumpahan minyak mencapai pantai, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari anjungan.

Sinyal darurat tersebut juga sudah disiarkan ke SKK Migas, Kementerian BUMN, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI-Polri, Kemenko Bidang Kemaritiman, Basarnas, Walhi, serta aparat terkait di wilayah Karwang. Namun musibah tumpahan minyak itu rupanya belum sampai ke telinga masyarakat. Akhirnya, melalui Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP), Pertamina menjelaskan kebocoran minyak itu kepada masyarakat di pesisir Karawang.

Limbah minyak mentah Pertamina di Karawang

Foto: Ibad Durohman/detikX

Limbah minyak mentah Pertamina di Karawang

Foto: Ibad Durohman/detikX

Limbah minyak mentah Pertamina di Karawang

Foto: Ibad Durohman/detikX

Limbah minyak mentah Pertamina di Karawang

Foto: Ibad Durohman/detikX

Limbah minyak mentah Pertamina di Karawang

Foto: Ibad Durohman/detikX


Kalau memang ada kerugian dari masyarakat sekitar yang terdampak, nanti pengaduan itu bisa ditampung oleh kelompok masyarakat. Nanti penggantian pasti akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan."

Dampak tumpahan minyak itu menyebar ke pesisir pantai Karawang, Bekasi, hingga Kepulauan Seribu. Dan dampak yang paling parah salah satunya menimpa Sungai Buntu, yang memiliki objek wisata pantai, tambak garam, pusat budi daya udang Vaname, serta di sektor perikanan seperti nelayan, pemilik kapal, dan para pedagang ikan di tempat pelelangan ikan (TPI). “Jumlah pantai di daerah kami ada empat, yakni Samudra Baru, Jalaksana, Pelangi, dan Alam Baru. Itu semua terpukul, karena pengunjung tak ada, dan banyak warung yang tutup,” jelas Carnakim.

Sementara itu, lahan tambak udang dan bandeng di desa itu luasnya mencapai 500 hektare. Alhasil, mereka harus panen dini karena khawatir air laut yang tercemar menerjang udang dan bandeng. Potensi kerugian yang dialami para petambak bisa Rp 160 juta. Sebab, dari per hektare lahan bisa dipanen 8-10 ton bandeng dengan harga Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan kerugian petambak udang lebih besar lagi. Sebab, dari setiap kolam berukuran 5.000 meter persegi, biasanya bisa dipanen 7 ton udang. Harga per kilogram udang jenis Vaname saat ini Rp 110 ribu.

Belum lagi para nelayan yang menggantungkan hidupnya saban hari dari laut. Selama berminggu-minggu mereka tak bisa melaut. Di Desa Sungai Buntu, total jumlah nelayan 864 orang dengan armada 197 kapal. Belum lagi nelayan pinggir, yang biasa menjala ikan di pinggir pantai, yang berjumlah 54 orang. “Sudah jelas nelayan pinggir itu berhenti total cari ikan atau udang. Wong pantainya begini, penuh minyak. Ikan-ikan pinggir dan udang juga pada mati. Nelayan pinggir berarti 100 persen hilang pekerjaannya,” kata Warsad, Ketua Rukun Nelayan Desa Sungai Buntu, kepada detikX.

Turunnya pendapatan pun dialami para pedagang ikan. Sueb Suhaemi, seorang pedagang di TPI Sungai Buntu, mengungkapkan pendapatannya anjlok 80 persen akibat stok ikan dari nelayan menurun. Sebelum ada bencana minyak Pertamina, omzetnya bisa Rp 3-5 juta per hari. Kini ia hanya mengantongi uang Rp 500 ribu per hari. Terlebih gosip bahwa ikan-ikan yang ditangkap kini berbau seperti bau solar sudah menyebar ke mana-mana.

Carnakim, Sekdes Desa Sungai Buntu
Foto: Ibad Durohman/detikX

“Mungkin setahun belakangan ini tahun yang paling yang sulit untuk nelayan dan penjual ikan karena kita tiga kali terpukul dan merugi. Pertama, kasus jatuhnya Lion Air itu dampak sepinya ke kami sampai 3 bulan. Banyak bos besar yang gulung tikar. Soalnya, menyebar gosip ikan tangkapan mengkonsumsi jasad korban Lion Air. Kedua tsunami Banten melebar juga sampai sini isunya. Jadi banyak pengunjung yang tidak ke pantai otomatis pembeli ikan bakar juga. Ketiga, kasus tumpahan minyak ini,” tutur Suhaemi kepada detikX.

Selain bikin tekor petambak dan nelayan, bisnis wisata pantai yang dikembangkan masyarakat Sungai Buntu mengalami dampak yang berarti dari bencana minyak. Menurut data yang diperoleh dari desa setempat, dalam sehari setidaknya ada 1.000 pengunjung yang melancong ke empat pantai yang tersebar di desa itu. Jumlah pengunjung semakin banyak jika akhir pekan tiba. Namun saat ini kawasan pantai menjadi mati suri karena tidak ada lagi pengunjung yang datang.

Didin Boled Rohaedin, Ketua Pengelola Kawasan Pantai Jalaksana, saat ditemui detikX mengatakan Pantai Jalaksana punya area 4 hektare yang dibuka kira-kira 4 tahun lalu. Sebelumnya tanah tersebut milik seorang perwira TNI. Namun kemudian yang bersangkutan mengizinkan lahannya dijadikan kawasan wisata, yang memiliki 15 bangunan warung serta toilet umum. Untuk masuk ke pantai, pengelola mengutip uang masuk Rp 5.000. Pendapatan tiket masuk per hari berkisar Rp 2-5 juta. Namun, sejak 19 Juli 2019, pantai ini tak lagi memungut karcis. “Ya buat apa? Orang sepi banget, nggak ada pengunjung,” kata Didin.

Dari pantauan detikX, pemandangan Pantai Jalaksana kini didominasi tumpukan karung yang memuat limbah minyak. Pasir pantai telah berubah warna jadi hitam dan menyebarkan bau minyak. Sebab, pantai ini dijadikan pusat pengumpulan limbah minyak di Desa Sungai Buntu. Dan di  kawasan Pantai Jalaksana praktis hanya warung milik Didin yang masih buka untuk melayani warga yang mengangkut karung limbah minyak, personel TNI-polisi, petugas Pertamina, dan wartawan yang meliput.

Warsad, Ketua Rukun Nelayan Desa Sungai Buntu
Foto: Ibad Durohman/detikX

Potret kerugian yang sama dialami sejumlah warga di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Karawang. Desa yang juga terletak di pesisir pantai Karawang tersebut memiliki lahan tambak seluas 3.800 hektare atau lahan tambak udang terluas di Kabupaten Karawang. Menurut Ali Zabidi, juru bicara Kantor Desa Sedari, mayoritas tambak di wilayah tersebut adalah udang. Sampai saat ini pihak desa masih mencatat berapa kerugian yang diderita warga akibat tumpahan minyak.

Karyudi, pengusaha tambak bandeng di Desa Sedari yang memiliki 10 hektare lahan tambak bandeng, mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat tumpahan minyak. Dia mengaku sampai saat ini belum menerima kompensasi atau ganti rugi dari pihak Pertamina sekalipun dirinya sudah diwawancarai oleh petugasnya. Bagi Karyudi, yang terpenting air laut segera bersih lagi sehingga dirinya bisa berusaha kembali.

Selain usaha tambak, Desa Sedari memiliki kawasan wisata pantai yang juga mengalami kerugian sama seperti yang dialami kawasan wisata pantai di  Desa Sungai Buntu. Bukan hanya kerugian materi yang kini dihadapi warga yang berada di pesisir pantai Karawang. Warga setempat kini kesehatannya juga terancam akibat limbah minyak. 

Pertamina melalui VP Corporate Communication PT Pertamina  Fajriyah Usman mengatakan Pertamina sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para nelayan yang terdampak insiden kebocoran gas dan tumpahan minyak di lepas pantai Karawang. Fajriyah menyampaikan Pertamina sudah mendirikan beberapa pos sebagai saluran pengaduan bagi para nelayan terdampak. "Kalau memang ada kerugian dari masyarakat sekitar yang terdampak, nanti pengaduan itu bisa ditampung oleh kelompok masyarakat. Nanti penggantian pasti akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan," ujar Fajriyah di kantor pusat Pertamina, Jakarta, 25 Juli 2019.

Warung-warung di Pantai Jalaksana yang tutup karena pantai penuh minyak mentah 
Foto: Ibad Durohman/detikX

Namun hitung-hitungan ganti rugi tersebut masih dalam proses formulasi. Untuk saat ini yang menjadi prioritas Pertamina adalah penanganan dampak tumpahan minyak agar tidak semakin luas. Karena itu, Pertamina menggandeng masyarakat, terutama nelayan yang tidak bisa melaut, untuk mengumpulkan tumpahan minyak yang menggenangi deretan pantai di Karawang. Dengan cara tersebut, setidaknya para nelayan bisa terbantu menutupi kebutuhannya akibat tidak bisa melaut.

Carnakim membenarkan banyak warganya yang beralih pekerjaan membersihkan pantai dari limbah minyak Pertamina karena penghasilan mereka terganggu. Khusus di Desa Sungai Buntu, setidaknya ada 200 orang yang ikut bekerja mengangkut limbah, yang terbagi dari empat dusun. Setiap orang mendapatkan bayaran Rp 100-150 ribu per hari. Mereka harus menyertakan bukti KTP dan KK sebagai syarat. “Karena ada dua pembagian tugas ya, yang mengangukut karung limbah pakai motor sama ada yang nyangkul di pantai. Mereka kerja mengangkut limbah dari pukul 07.00 sampai pukul 16.00 WIB,” sebut Carnakim.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE