INVESTIGASI

Menguak Sindikat Perdagangan Orang Mister Mohammad

Sindikat perdagangan orang ke Suriah, Sudan, dan negara-negara Timur Tengah, dibekuk. Bagaimana jaringan ini bekerja?

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Kamis, 22 Maret 2018

Langkah kaki Mohammad al-Ibrahim, 46 tahun, akhirnya terhenti di depan Apartemen Sudirman Park, Kuningan, Jakarta Selatan. Sebelumnya, ia mencoba kabur dari sebuah hotel di kawasan itu ketika Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (Satgas TPPO) Mabes Polri hendak menyergapnya pekan lalu.

Pria warga negara Suriah itu ditangkap atas sangkaan TPPO dengan modus pengiriman pekerja migran Indonesia. Setidaknya 169 orang telah dikirim Mohammad secara ilegal ke negara-negara di Timur Tengah, seperti Sudan, Suriah, dan Abu Dhabi.

Mohammad sudah 15 tahun tinggal dan menikah di Indonesia. Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman PMI ke Timur Tengah US$ 2.300-US$ 2.500. Dari situ, dia mengantongi keuntungan US$ 300-US$ 500. Sedangkan pencari PMI dapat US$ 200.

Selain Mohammad, polisi menciduk anggota jaringan ini, Budi Setyawan, seorang penyalur PMI. Budi ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Gang Asem, Condet, Jakarta Timur. Kontrakan tiga petak itu juga difungsikan sebagai penampungan sementara para korban sebelum dikirim ke negara tujuan.

Terungkapnya sindikat human trafficking ini berawal dari laporan korban bernama Aisah Susilawati ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum, Republik Sudan, pada 4 Februari 2018. Aisah berhasil melarikan diri dari majikannya setelah tak tahan diperlakukan secara tidak manusiawi selama bekerja.

Mendapat laporan dari Aisah, KBRI Khortum langsung menghubungi Mohammad. Begitu tahu yang menelepon pihak KBRI, Mohammad seketika tercekat, lalu mencari-cari alasan. Pelaku pun sempat menghilang hingga akhirnya ditangkap oleh polisi.

Mohammad al-Ibrahim (paling kiri) saat diamankan polisi.
Foto: dok. Istimewa

“Itu memang tindak lanjut dari laporan KBRI Khartoum yang memulangkan dan melaporkan adanya tindak pidana atas tiga WNI kita yang bermasalah di sini,” ujar Djumara Supriyadi, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Khartoum, kepada detikX, Selasa, 20 Maret 2018.

Selain Aisah, dua WNI lainnya di Sudan yang mengalami nasib serupa adalah Yati binti Jajang Ohi dan Suci Murni. Para pekerja migran ini mendapatkan perlakuan buruk, seperti mengalami pelecehan seksual, disiksa, serta tidak digaji oleh majikan mereka.

Sejumlah korban yang bekerja di Suriah kini sudah berada di penampungan sementara. Mereka ditampung di tiga shelter, yaitu di KBRI Damaskus, Aleppo, serta Lattakia, sembari menunggu proses pemulangan ke Indonesia. Pejabat Konsuler I KBRI Damaskus, Makhya Suminar, menjelaskan banyak identitas mereka yang dipalsukan oleh agen penyalur Mohammad cs.

“Dokumen perjalanan mereka kebanyakan diubah tahun lahirnya (bisa dibuat lebih muda atau lebih tua). Namun dapat diperkirakan mereka berumur 17-50 tahun dan kebanyakan tidak menyelesaikan sekolah dasar,” ucap Makhya kepada detikX, Rabu 21 Maret 2018.

Kepala Subdirektorat III Bareskrim Mabes Polri Kombes Ferdy Sambo mengungkapkan penyelundupan pekerja migran itu berlangsung dalam kurun waktu November 2017 hingga Februari 2018. Para korban sempat menjalani wawancara, tes kesehatan, dan pembuatan paspor di Jakarta sebelum diterbangkan melalui Bandara Juanda, Surabaya.

Kantor KBRI Khartoum, Sudan.
Foto: dok. Djumara Supriyadi

"Pemberangkatan dengan rute Surabaya, transit di Kuala Lumpur, kemudian ke Arab Saudi, transit di Dubai, kemudian ke Sudan," ujar Ferdi pekan lalu.

Kepada detikX, Aisah bercerita awalnya tidak menaruh curiga terhadap para pelaku ketika mendaftar. Padahal proses rekrutmen berlangsung singkat dan ala kadarnya. Ia diperkenalkan kepada Budi oleh bibinya pada September 2017. Budi pun membawanya ke kantor Mohammad, yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Mister Mohammad'.

Ditanya ingin bekerja di mana, Aisah menjawab Arab Saudi. Namun, karena Arab tak menerima pekerja migran pemula seperti dirinya, Mohammad menyarankan agar ke Suriah. Suriah, kata Mohammad, menerima pekerja migran yang belum mahir berbahasa Arab. Gajinya pun lumayan, Rp 4,5 juta per bulan.

“'Kamu nggak bakal ditaruh di tempat perang. Dikontrak selama 2 tahun.' Cuma begitu doang di-interview, tanpa ada surat kontrak. 'Ya, sudah, kamu lulus.' Setelah itu, saya langsung melakukan medical check up, diantar sama Haji Budi,” kata Aisah kepada detikX.

Pada 13 September 2017, ia kembali ke Jakarta untuk mengurus paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Timur. Ia disuruh menunggu penjemputan di pintu Tol Karawang Barat oleh Budi. Rupanya Budi juga membawa empat orang calon pekerja migran lainnya.

Setelah paspor siap, Aisah menunggu sekitar 20 hari sebelum berangkat karena dibilang banyak orang yang berlibur, sehingga penerbangan penuh. Pada 3 November, ia diberi tahu akan diberangkatkan melalui Surabaya. Aisah pun diantar ke Surabaya menggunakan biro travel.

Aisah Susilawati dan Yati binti Jajang Ohi
Foto: dok. KBRI Khartoum

Tiba di Surabaya pagi, Aisah tak langsung dibawa ke Bandara Juanda, melainkan ke sebuah rumah untuk menunggu penerbangan siang hari. Di rumah itu, ia mendapati empat pekerja migran lain yang akan diberangkatkan bersama. Tiket dan segala macam diurus oleh anggota sindikat.

Perjalanan Aisah selanjutnya begitu berliku. Dari Surabaya, Aisah transit di Kuala Lumpur. Oleh anak buah Mohammad, ia dibelikan tiket ke Kolombo, lalu ke Dubai. Menginap semalam di kantor Mohammad di Dubai, Aisah lantas ke Suriah, negara yang sedang dilanda perang berdarah.

Di Aleppo, Aisah kaget melihat situasi perang antara Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan pasukan koalisi. “Pas tanggal 9 November (2017), saya diambil sama agen, langsung terbang ke Sudan. Majikan saya kan ada di Sudan. Alhamdulillah nggak ada perang lagi,” ujarnya mengisahkan.

Lain halnya Yati binti Jajang Ohi, warga Desa Sukamulya, Cianjur, Jawa Barat. Yati diberi uang oleh Mohammad sebesar Rp 3 juta melalui pria bernama Badar. Uang itu disebutkan sebagai fee bagi tenaga kerja wanita Indonesia yang bersedia direkrut.

“Saya diberi tahu, agen saya bernama Mohammad al-Ibrahim, orang Suriah. Saya nerima uang Rp 3 juta uang fee TKW. Kan kita itu sudah dibeli sama orang Sudan itu," katanya.

Proses pemulangan pekerja migran korban kasus tindak pidana perdagangan orang dari Sudan
Foto: dok. KBRI Khartoum

Dari Cianjur, Yati diberangkatkan ke Jakarta dan bermalam di Cililitan, di rumah seorang warga bernama Rohim. Lalu keesokan paginya dia diberangkatkan ke Surabaya. Dua hari di Surabaya, Yati kemudian terbang ke Sudan dengan transit di Kuala Lumpur dan Jeddah.

“Menurut Ibrahim, ada banyak yang diberangkatkan. Mungkin 27 orang yang waktu berangkatnya barengan dengan saya, tapi jalur keberangkatannya beda-beda. Ada yang lewat Abu Dhabi, tapi akhirnya tetap ke Sudan dan Suriah," kata Yati saat ditemui detikX di rumahnya.

Menurut Yati, ia memang mengenal Badar sebagai penyalur pekerja migran. Badar pulalah yang mengurus pemberangkatannya sebagai pekerja migran ke Qatar pada 2016. Namun, baru sebulan, Yati memilih pulang karena sakit. Sebelum itu, Yati juga pernah menjadi pekerja migran di Singapura dan Abu Dhabi dengan jalur resmi.

“Dia bujuk saya untuk berangkat. Katanya waktu di Qatar kan saya nggak selesai, makanya dia mau berangkatin lagi. Lagi pula paspor dan dokumen saya memang disimpan sama dia sejak kepulangan dari Qatar," tuturnya.

Ferdy mengatakan Satgas TPPO terus melakukan pendalaman kasus ini dan memburu para pelaku lain yang terlibat dalam jaringan ini. Para tersangka dikenai Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan/atau Pasal 81 UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.


Reporter/Redaktur: Gresnia Arela F, Syahdan Alamsyah (Cianjur)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE