INVESTIGASI

MENGUAK MUSLIM CYBER ARMY

Para Sniper dan Serangan Gabungan Bila Malam Tiba

“Akun yang berkoar-koar menghina Islam kita pajang. Akun tersebut kita serang ramai-ramai dan kita ‘bunuh’.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 9 Maret 2018

Hanya bermodal telepon seluler, Muhammad Luthfy memantau akun-akun lawan di Facebook dan menyerangnya. Dan tidak ada orang yang menyadari dia sedang melakukan ‘perang siber’ sebagai anggota Muslim Cyber Army (MCA).

“Kita beraksi itu santai saja. Kayak… tahu kan Danau Sunter? Ya, saya sambil mancing saja, duduk sambil main HP. Tetangga-tetangga nggak ada yang tahu kalau saya MCA,” ujar Luthfy saat ditemui detikX di ruang Direktorat Siber Bareskrim Polri, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin, 5 Maret 2018.

Pria yang tergabung dalam Gerakan Muslim Jakarta itu mulai menyebarkan konten berisi ujaran kebencian sejak akhir 2016, ketika masa kampanye Pilkada DKI Jakarta, yang diwarnai kasus penistaan agama yang dilakukan calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dimulai.

Awalnya Luthfy berperang opini lewat media sosial seorang diri. Lawannya adalah para pemilik akun yang membela Ahok atau yang lazim dikenal dengan Ahoker. Karena aktif melawan Ahoker di Facebook, beberapa admin sejumlah grup mengajaknya bergabung. Namun Luthfy selalu keluar dari grup hingga dia dituding sebagai Ahoker.

Hingga akhirnya dia berkenalan dengan Rizky Surya, salah seorang admin MCA Family. “Saya diajak Bang Surya. Bang Surya bilang, ‘Mau nggak gabung di grup ‘sniper’ untuk gini-gini.’ Saya bilang oke,” ujar Luthfy.

Tugas seorang sniper adalah menyusup ke grup-grup lawan. Misalnya didapatkan sebuah grup yang menghina Islam atau ulama, akun tersebut akan dilaporkan ke grup MCA dengan barang bukti screenshot untuk kemudian diserang beramai-ramai.

(Dari kiri) Ramdhani, Ronny, Yuspiadin, Rizky Surya, dan M Luthfy
Foto: Gresnia Arela F/detikX

“Akun yang berkoar-koar menghina Islam kita pajang. Akun tersebut kita serang ramai-ramai dan kita ‘bunuh’. Khusus kami-kami ini, karena kami admin, kami serang adminnya (admin lawan),” ujar Ramdhani, anggota MCA lainnya.

Dalam melakukan aksi, mereka juga punya jadwal khusus, yakni pada waktu subuh, siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, dan malam pada pukul 20.00 WIB. Menurut Ramdhani, grup sniper MCA Family hanya 20-an. Tidak lebih. Sebab, grup ini bersifat rahasia dan tidak bisa dilihat orang di luar grup. “Jadi, setiap pukul 20.00 WIB, kita ada serangan gabungan. Akun-akun kuat kita gabung,” dia menambahkan.

Sedangkan Rizky Surya mengklaim sudah menumbangkan ribuan akun lawan. Bukan hanya admin grup yang dianggap sebagai lawan yang jadi sasaran MCA. Grup-grup lain juga sering menjadi sasaran serangan mereka. “Kebanyakan grup cabul dan grup LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Ini untuk sekadar latihan,” tuturnya.

Grup-grup LGBT menjadi sasaran karena bersifat terbuka, sehingga mudah dihancurkan. Semakin banyak menghanguskan akun, akun yang tergabung di MCA menjadi semakin kuat.

Para anggota MCA tersebut dapat menghanguskan akun di Facebook melalui fasilitas yang ada di media sosial tersebut. Ramdhani membuat tutorial bagi para sniper MCA. Tutorial itu dibuat dari pengalamannya ‘berperang’ di Facebook. “Jadi saya kan punya grup namanya ‘akademi tempur’. Nah, di sana saya bikin tutorial. Jadi sniper-sniper itu dilatih, saya bikinkan tutorial bagaimana cara menguatkan akun dan cari matiin akun,” katanya.

Meski punya kemampuan menghancurkan akun, mereka mengaku level mereka masih jauh dengan admin yang tergabung dengan Saracen, yang sebelumnya dibekuk polisi. Kelompok Saracen pimpinan Jasriadi memiliki kemampuan membajak akun media sosial orang lain, sehingga polisi perlu waktu lama menelusuri jejak digital yang dilakukan kelompok tersebut.

Polisi membekuk enam orang pelaku penyebaran isu provokatif dan ujaran kebencian (hate speech) yang tergabung dalam Muslim Cyber Army.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

MCA, kata Surya, tidak punya kaitan dengan Saracen, yang sempat menghebohkan. “Kami tidak ada kaitan dengan mereka (Saracen). Tapi mereka adalah legend di mata kami,” kata Surya.

Ia menceritakan, selain divisi sniper, MCA mempunyai divisi lain, yaitu penggalangan opini. Namun para sniper hanya memantau. Menurutnya, divisi opini inilah yang sebetulnya menyebabkan ia dan kawan-kawannya dipenjara karena menyebarkan informasi-informasi yang tidak benar alias hoax.

MCA menjadi sebuah grup baru pada pertengahan 2017. Sebelumnya, MCA hanya nama untuk kelompok-kelompok yang pro-Aksi Bela Islam, 2 Desember 2016 atau 212. Mereka tergabung dalam grup-grup, antara lain Pecinta Habib Rizieq, Kami Mencintai FPI, Suara Rakyat, dan 212 Cyber Army.

Surya mengaku tidak tahu siapa yang pertama kali mendirikan grup MCA. “Nggak bisa diraba kalau itu. Mungkin pembuat grup opini pertama, Bareskrim yang tahu. Kalau ditanyakan ke saya, saya juga bingung,” katanya.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen M Fadil Imran mengatakan admin MCA yang ditangkap ada kaitan dengan kelompok Saracen. "Dari upaya penindakan, kami lakukan analisis sampai penyerangan ulama. Dari cluster Jatim, Jabar, Banten, terlihat bahwa pelakunya ini terhubung satu sama lain. Pelaku-pelaku yang tergabung dalam MCA juga tergabung dengan cluster X, Saracen," ujar Fadil di gedung Rupatama Mabes Polri, Senin, 5 Maret.

Dia melanjutkan, pembentukan opini isu penyerangan ulama ini dilakukan terus-menerus di dunia maya lewat medsos. Selain itu, isu yang terus diembuskan ialah soal kebangkitan PKI. Setidaknya isu ini terus disebarkan hampir selama sebulan. Dari banyaknya isu yang disebarkan, hanya tiga peristiwa penyerangan ulama yang benar-benar terjadi.

Gedung Bareskrim, Jatibaru, Jakarta
Foto: Dewi Irmasari/detikcom

Salah satu pentolan MCA lainnya adalah Bobby Gustiono (34), yang ditangkap di wilayah Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Bobby diduga memiliki peran sebagai admin sekaligus sniper MCA. Admin bertugas mengelola akun-akun MCA. Sedangkan sniper bertugas menyerang akun-akun yang dianggap sebagai lawan dengan mengirimkan virus yang merusak perangkat elektronik si penerima.

Dalam menjalankan aksi, Bobby menggunakan dua akun miliknya, yakni Bobby Gustiono dan Bobby Siregar. Kedua akun itu dimanfaatkan tersangka untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoax.

Dalam aktivitasnya di media sosial, Bobby diketahui masuk dalam 50 grup di Facebook. Dalam grup itu, Bobby juga memiliki tugas khusus, yaitu sebagai admin atas tiga grup Facebook MCA. Tugas kedua, melaporkan akun-akun lawan agar dinonaktifkan oleh pihak Facebook. "Dia (Bobby) mampu menonaktifkan lebih dari 300 akun Facebook setiap bulan," ucap Fadil.

Selain itu, Bobby memberikan tutorial membuat akun Facebook palsu kepada anggota grupnya. Biasanya Bobby mengambil identitas orang lain, seperti e-KTP, SIM, dan paspor, melalui Google agar tidak di-suspend.

Dari tangan Bobby, polisi menyita barang bukti berupa dua buah ponsel yang menyimpan jejak digital sejumlah ujaran kebencian. Kepada polisi, Bobby mengakui sengaja menyebarkan konten-konten terlarang tersebut.

Namun detikX belum berhasil melakukan wawancara dengan Bobby, yang disebut-sebut sebagai salah satu pimpinan MCA. Pasalnya, sampai berita ini diturunkan, Bobby masih dalam pemeriksaan intensif penyidik Divisi Siber Bareskrim Polri.


Reporter: Gresnia Arela F, Ibad Durohman
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE