Ilustrasi: Edi Wahyono
Kamis, 08 Februari 2018Saya mau tamasya
Berkeliling-keliling kota
Hendak melihat-lihat
keramaian yang ada
Saya panggilkan becak
Kereta tak berkuda
Becak, becak, coba bawa saya….
Saya duduk sendiri
sambil mengangkat kaki
Melihat dengan aksi
Ke kanan dan ke kiri
Lihat becakku lari
Bagaikan tak berhenti
Becak, becak, jalan hati-hati……
Cerita pada lagu anak-anak berjudul Naik Becak karya Ibu Sud, yang populer pada 1970-an, ini hanya tinggal kenangan. Saat itu, kendaraan angkutan umum dan mobil pribadi tak sebanyak pada era milenial ini. Ke mana pun tujuannya, entah pasar, tempat bekerja, sekolah, atau tempat wisata, pilihan favorit masyarakat Jakarta adalah becak.
Banyak kenangan indah melekat di sebagian warga ketika menumpang becak. Tapi kenangan itu tak seindah yang dialami para penarik atau pengemudi becak sendiri. Becak dianggap sebagai biang keladi kemacetan. Juga dianggap sebagai kendaraan yang tak layak dan tak manusiawi.
Pada 1970-an, jumlah becak di Jakarta ditaksir 150-160 ribu unit. Tapi sejak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta mengesahkan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 1972, yang menetapkan becak sama dengan opelet, yang tak laik jalan di Jakarta, jumlah becak yang beroperasi di Jakarta tinggal 38 ribu unit.
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966-1977) melakukan pembersihan becak yang, menurut Mike Douglas dkk dalam buku "Globalization: The City and Society in Pacific Asia", sebagai jalan untuk menyediakan transportasi publik yang modern, tapi juga menghilangkan imej Jakarta dari kemiskinan. Jumlah becak pun menyusut drastis sejak Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto menerapkan Perda No 11/1988 tentang Pelarangan Becak.
Razia besar-besaran terhadap becak dilakukan secara masif di seluruh wilayah DKI Jakarta dan Tangerang. Pengejaran aparat keamanan terhadap para penarik becak menjadi berita yang menghiasi media massa. Sebagian becak yang lolos dari kejaran kabur keluar dari wilayah Jakarta. Becak yang tertangkap dikumpulkan, lalu ditenggelamkan ke laut untuk dijadikan rumpon atau rumah ikan di Teluk Jakarta.
Baca Juga : Dilarang ke Jakarta, Becak Tembus Eropa

Gubernur DKI Ali Sadikin, 1966-1977
Foto : istimewa
Karnilah, kini 65 tahun, seorang tukang becak di Indramayu, Jawa Barat, masih ingat dengan jelas pembersihan becak dari Jakarta waktu itu. “Saya pernah diuber-uber sampai ke gang-gang di Jakarta waktu itu,” kata Karnilah ketika ditemui detikX di kawasan Pasar Mambo, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Lemahabang, Indramayu, 31 Januari 2018.
Pria asal Karang Ampel, Indramayu, ini sejak 1978 mengayuh becak di Jakarta. Dia biasa mangkal di depan Sarinah, Jakarta Pusat. Tapi pada 1980-an, pelarangan operasi becak diberlakukan. Sampai pada pengujung 1980-an itulah, Karnilah memutuskan pulang ke kampungnya di Indramayu. “Saya capek diuber-uber terus sama aparat. Becak saya disita,” ujar Karnilah.
Hal yang sama dialami Jamhuri, penarik becak asal Klayan, Cirebon, Jawa Barat. Dia sempat malang melintang menarik becak di kawasan Kebantenan, Semper, Jakarta Utara, pada 1984-1989. Karena sering dikejar-kejar aparat keamanan (polisi dan Satpol PP), Jamhuri pun sepi penumpang.
Akhirnya Jamhuri bersama sejumlah rekannya pindah menarik becak ke Merak, Cilegon, Banten. Selama enam tahun ia beroperasi di sana. Saat itu, dia mendapat kabar bahwa becak diperbolehkan beroperasi di Jakarta lagi. Kembali dia dan temannya membawa becak ke Jakarta, yang diangkut dengan truk.
“Nah, pas di jalan, truk kena razia. Tapi dibolehin karena ada uang pelicin (suap), ha-ha-ha…,” tutur Jamhuri saat ditemui detikX di rumahnya, Klayan, Gunung Jati, Cirebon, Jumat, 2 Februari 2018.

Karnilah, penarik becak di Indramayu.
Foto : M Rizal/detikX
Tapi ternyata, setelah lima hari beroperasi di Semper, Jakarta Utara, becaknya sepi penumpang. Alih-alih mendapat penumpang banyak, ternyata setiap waktu ia harus dikejar-kejar aparat yang gencar merazia becak. “Katanya di Jakarta lebih oke, eh nggak tahunya begitu. Baru lima hari narik di Jakarta, saya balik lagi ke Merak,” ujar Jamhuri.
Karnilah dan Jamhuri saat itu tak tahu dibawa ke mana becak-becak yang disita aparat keamanan di Jakarta itu. Padahal kebanyakan becak yang diambil langsung dari para penarik becak adalah becak sewaan dari bandar atau pengusaha becak. Mereka baru tahu bahwa becak-becak itu dibuang ke laut begitu saja.
“Saya waktu itu beli becak dari Haji Amin, orang Karang Ampel, Indramayu. Tahun 1974 itu banyak becak di Kebon Melati (Tanah Abang), tauke (bandar) becak banyak dari sana,” ujar Karnilah.
Saat itu Karnilah bersama rekan sesama penarik becak dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga Brebes, Tegal, Indramayu, dan Cirebon, beroperasi di kawasan Tanah Abang dan Jakarta Pusat. Tapi banyak yang pulang kampung setelah gencar dilakukan penertiban becak. Ia pun tak tahu nasib becaknya kemudian.
“Pokoknya hilang saja dibawa sama petugas. Ke mana? Nggak tahu saya. Saya pikirannya ya pulang saja. Diuber-uber petugas terus. Kawan-kawan saya juga dulu banyak yang narik di Jakarta terus balik ke sini, tapi sudah pada meninggal. Tinggal saya saja,” tuturnya.

Becak tengah melintas di depan Kedutaan Besar Inggris di Jalan MH Thamrin Jakarta tahun 1968
Foto : Koleksi Tropen Museum Belanda
Karnilah menarik becak di Jakarta karena meneruskan jejak sang ayah, Anda Suwita. Ayahnya merupakan penarik becak asal Indramayu yang pertama di Jakarta, sejak 1945. Saat itu ayah Karnilah ikut menjadi pejuang bersama seorang tentara di Jakarta.
Ke mana tentara itu pergi, ayah Karnilah selalu mengikutinya. Tentara itu pun pernah berjanji kepada ayah Karnilah untuk menjadikannya penarik becak di Jakarta kalau Indonesia merdeka. “’Nanti, kalau Indonesia merdeka, kamu boleh narik becak di Jakarta.’ Begitu cerita ibu saya. Dulu belum ada orang Indramayu jadi tukang becak di Jakarta,” katanya mengenang.
Karnilah baru berangkat ke Jakarta setelah ayahnya meninggal pada 1976. Pada 1978, tiba-tiba ada orang yang memberi uang kepada ibunya sebesar Rp 1 juta sebagai uang pensiunan pejuang. Uang itu pun dibelikan rumah di Indramayu, sementara Karnilah berangkat ke Jakarta menjadi pengayuh becak.
Kisah pembersihan becak di Jakarta juga diabadikan dalam tulisan cerita pendek berjudul ‘Becak Terakhir di Dunia’ karya cerpenis Seno Gumira Ajidarma. Seno menuliskan kisah seorang pria bernama Rambo, yang mencari nafkah dengan mencarik becak di Jakarta.
Rambo tiap hari mencari penumpang sekaligus berjuang menghindari kejaran aparat keamanan yang akan menangkapnya. Rambo harus menyaksikan sejumlah rekannya penarik becak yang tertangkap. Becak-becaknya pun diangkut puluhan truk, yang membawanya ke bibir pantai Jakarta.

Sejumlah becak yang mangkal di bawah flyover Bandengan, Jakarta. Sekitar 1.000 becak kini masih bertahan di Jakarta.
Foto: Patricia Diah Ayu Saraswati/CNN Indonesia
Rambo semakin terjepit dengan Becak Kencana kebanggaannya, yang harus bersaing dengan bajaj. Akhirnya Rambo, yang berbadan kekar itu, mengalah ketika dikepung tentara. “Ya, aku menyerah. Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan. Aku cuma tukang becak yang takut mati dan perlu makan,” ucap Rambo dalam kisah yang dituliskan Seno.
Ya, Karnilah sama. Ia akhirnya memutuskan kembali ke Karang Ampel, Indramayu. Dengan bekal seadanya, ia membeli becak dari Cirebon seharga Rp 350. Hingga kini, Karnilah masih mengayuh becak bekas itu untuk melayani warga Indramayu berkeliling kota.
Reporter: Ibad Durohman
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim