Ilustrasi : Edi Wahyono
Rabu, 31 Januari 2018Dua lusin jaket akhirnya ‘menyelamatkan’ Sri Hartini, salah seorang pedagang Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jika tak ada pembeli yang memborong baju hangat tersebut pada hari itu, Kamis, 24 Januari 2018, mungkin saja ia pulang dengan penghasilan tak seberapa.
Menurut Sri, sudah beberapa bulan ini omzet penjualannya turun drastis. Dulu, sejak dipindahkan ke Blok G dari trotoar Jalan Jatibaru Raya pada 2012 hingga Juli 2017, dalam sehari dia bisa mengantongi penjualan Rp 3 juta. Namun sekarang ini dagangannya hampir tak disentuh pembeli. Paling banter sehari ia hanya memperoleh Rp 500-700 ribu.
Sri mengatakan lesunya perdagangan di Blok G tak lain karena sedikitnya pembeli. Sebelumnya, pada masa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, banyak digelar aneka undian berhadiah dan hiburan di Blok G saban Sabtu dan Minggu, sehingga pasar itu dilirik banyak pengunjung.
“Ini kita masih bisa dibilang mending. Itu yang di dalam (Blok G), yang jual pakaian dalam, paling laku sepotong-dua potong. Kan, sedih,” ucap Sri ketika ditemui detikX.
Simon, pedagang Blok G lainnya, mengaku hari itu ia hanya bisa menjual tiga pasang sepatu. Menurut dia, sepinya pembeli itu didorong oleh kabar bakal dibongkarnya Blok G, yang berembus seiring dengan polemik penataan PKL dengan menutup Jalan Jatibaru Raya oleh Gubernur DKI Anies Baswedan. Kabar itu bikin pelanggannya malas datang.
Baca Juga : Mereka yang Buntung di Tanah Abang

Suasana kemacetan di jalan dekat Blok G Tanah Abang
Foto : Haris Fadhil/ detikcom
“Belum lagi akses ke Blok G ini sekarang makin sulit. Banyak langganan saya dari Bekasi, Kalimantan, dan Sumatera jadi malas mampir karena banyak jalan yang ditutup. Muter-nya jadi jauh,” ujar Simon.
Sepinya pembeli Blok G memang bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data Perusahaan Daerah Pasar Jaya, jumlah pengunjung setiap hari hanya 300 orang. Angka itu sangat jauh berbeda dengan Blok F, A, dan B Pasar Tanah Abang. Pengunjung di ketiga blok itu sebanyak 40-120 ribu orang per hari.
Saat ini, tak lebih dari 1.000 pedagang yang masih bertahan di Blok G. Mereka memenuhi area lantai dasar dan lantai 1. Sedangkan lantai dua dan tiga kosong melompong. Omzet per hari Blok G hanya Rp 400 juta.
Pejabat Humas PD Pasar Jaya, Amanda Gita Adinanjar, bilang sepinya pembeli itu karena kurangnya fasilitas di Blok G, salah satunya lahan parkir. Blok G juga tidak terkoneksi dengan blok lainnya melalui jembatan penghubung. Koridor itu tak memungkinkan dibangun karena bangunan Blok G sudah tak layak.
Disebutkan Amanda, bangunan Blok G memang sudah berumur. Bangunan tersebut didirikan pada 1986 dan direnovasi pada 2003. Pada saat dibangun, sebagian gedung didesain untuk pasar basah, sehingga tidak cocok dengan tipikal Pasar Tanah Abang.
Dengan sejumlah alasan itulah, Pemprov DKI Jakarta bakal membongkar Blok G dan membangunnya kembali. Rencana itu mengemuka sejak Gubernur Jakarta dijabat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 2015, namun saat itu belum sempat terwujud.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno
Foto : Fida/detikcom
Ahok menginginkan Blok G dibangun kembali dengan perpaduan rumah susun sewa (rusunawa) di atasnya. Sekarang ini muncul beberapa konsep selain rusunawa. “Nah, pembangunannya, inginnya itu di bawah ada pasar dan di atas ada hunian, entah itu rusunawa, hotel, atau perkantoran,” tutur Amanda kepada detikX di kantor PD Pasar Jaya, Jalan Cikini Raya, pekan lalu.
Selain itu, Blok G akan dihubungkan langsung dengan Stasiun Tanah Abang melalui skybridge. Menurut Amanda, Blok G dan Pasar Tanah Abang umumnya terletak di lokasi yang sangat strategis. Karena itu, sangat sayang apabila hanya untuk pasar. Pihaknya akan memaksimalkan pemanfaatan lahan.
Pada Desember 2017, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan Blok G akan dibuat konsep transit oriented development. Selain skybridge, sedang dihitung apakah memungkinkan Blok G disambungkan dengan Light Rapid Transit dari Kelapa Gading, yang sebelumnya hanya sampai Dukuh Atas.
Sekitar dua minggu lagi, desain Blok G, termasuk penataan Tabah Abang secara keseluruhan, menurut Sandiaga, segera rampung. Khusus mengenai Blok G, akan dipresentasikan skenario relokasi para pedagang ke tempat penampungan sementara.
Mengenai tempat penampungan sementara, hal itu menjadi permasalahan tersendiri yang pelik. Pasalnya, cukup sulit mencari lahan seluas 3.000 meter persegi guna menampung pedagang Blok G. PD Pasar Jaya awalnya ingin menyewa lahan PT Kereta Api Indonesia di kawasan Bongkaran, namun ternyata sudah disewakan kepada pihak lain.

Humas PD Pasar Jaya, Amanda Gita Adinanjar
Foto : Gresnia Arela F/detikX
Ada lagi tanah milik BUMD Sarana Jaya yang dilirik sebagai tempat penampungan sementara. Namun luasnya hanya sekitar 1.500 meter persegi. PD Pasar Jaya pun lalu meminta bantuan tokoh Tanah Abang, Abraham ‘Lulung’ Lunggana, yang juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta, untuk lobi-lobi.
Akhirnya ditemukanlah lokasi seluas 2.500 meter persegi di dekat Hotel Pharmin. Di lahan itu akan dibangun gedung semipermanen dengan estimasi waktu tiga bulan, mulai Februari 2018. Gedung yang dibangun dengan anggaran Rp 20 miliar itu bisa dipakai 2-3 tahun. Adapun proyek Blok G ditargetkan konstruksinya bisa dimulai pada awal 2019.
Saat ini negosiasi dengan PT Bintang Sinar Kencana selaku pengelola lahan masih terus berlangsung. Kepala Marketing Bintang Sinar Kencana, Daniel Stevan, mengatakan negosiasi berjalan hampir sebulan ini. Dari 5.200 meter persegi total lahan yang dikelola Bintang Sinar, setengahnya akan disewakan kembali kepada PD Pasar Jaya.
Menurut Stevan, pihaknya sebetulnya juga menyewa lahan itu dari pemilik PT Astana Raharja. Saat ini, Bintang Sinar Kencana sedang menyelesaikan pembangunan pusat kuliner di pinggiran lahan tersebut. “Jadi, mau nggak mau, nanti koordinasinya akan ke dua pengelola,” kata dia saat ditemui detikX pekan lalu.
Lulung tak memungkiri ikut membantu mengupayakan lahan sementara bagi pedagang Blok G selagi gedungnya dibangun kembali. Ia mengatakan pembangunan Blok G akan dilakukan secara bertahap, tidak terlalu cepat, dan menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

Infografis : Fuad Hasim
Lulung berharap para pedagang bersabar menunggu proyek Blok G dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Sebab, apabila terprovokasi, pedagang juga yang akan dirugikan. “Kita akan kawal pemerintah daerah. Saya sebagai legislatif, juga dari sisi masyarakat Tanah Abang, mengajak tetap konsisten terhadap program-program pemerintah,” kata Lulung kepada detikX.
Namun sejumlah pedagang Blok G menilai tempat penampungan sementara di dekat Hotel Pharmin itu kurang strategis, sehingga mereka menolak. Akhril, seorang pedagang Blok G, khawatir bakal makin rugi bila berdagang di lokasi tersebut. “Tinggal tunggu matinya saja kalau di sana. Sedangkan pedagang kaki lima yang nggak ada beban dikasih tempat bagus di tengah jalan (Jalan Jatibaru Raya),” katanya kepada detikX.
Menurut Akhril, hingga pekan lalu pedagang belum diberi sosialisasi dan diajak berunding mengenai relokasi, baik oleh Pemprov DKI Jakarta maupun PD Pasar Jaya. Padahal ia dan rekan-rekannya merupakan pedagang lama. Kalaupun ada relokasi, mereka menginginkan tempat yang bersaing, terlebih dengan para PKL Jalan Jatibaru Raya.
Namun Amanda membantah bila dikatakan PD Pasar Jaya belum mengajak pedagang berembuk. Sosialisasi kepada para pedagang itu merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Pedagang Blok G, menurutnya, senang dan setuju dengan pembangunan ulang Blok G dan relokasi. Permasalahannya hanya soal tempat penampungan sementara. Karena itu, PD Pasar Jaya akan mengusahakan yang terbaik.
Reporter: Gresnia Arela F, Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim