INVESTIGASI

Untung Besar
karena Kobra

“Pokoknya, sekali ngejual ke China, walau kena tangkap dua kali, masih impas, malah masih ada untung.”

Ilustrasi : Edi Wahyono
Foto-foto: Syailendra Hafiz Wiratama

Jumat, 22 Desember 2017

Ruang garasi di rumah berlantai dua yang terletak di Jalan Sawo IX, Nomor 9, Perumahan Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, itu bak sarang ular. Ratusan ular berbagai jenis ada di dalamnya.

Rumah itu milik Jemi, juru tagih utang yang memilih banting setir menjadi pengepul ular sejak 1987. “Saya awalnya terjun dagang kulit ular dan bantuin kakak ipar saya yang jadi pengepul ular,” kata pria berusia 54 tahun itu saat ditemui di rumahnya. Setelah kakak iparnya meninggal, Jemi meneruskan usaha pengepulan ular.

Segala macam jenis ular, dari ular berbisa mematikan, seperti kobra, sampai ular tak berbisa, seperti sanca, dia kumpulkan dan dijual kembali. Jemi tak cuma melayani pasar ular lokal di Jakarta, tapi juga sampai ke mancanegara, khususnya China.

Di Jakarta, Jemi saat ini menjadi pemasok utama kedai dan kios penjual aneka racikan ular di kawasan Mangga Besar. “Sebelumnya, ular-ular dikumpulkan di rumah kakak ipar saya di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tapi karena ularnya sering lepas, dia menitipkan ular-ularnya ke rumah saya,” ucap Jemi.

Sejak itu rumah Jemi menjadi ‘sarang’ ular yang didatangkan dari Karawang, Indramayu, Cirebon, hingga Cilacap, Jawa Tengah. Rupanya, ada lumayan banyak ‘penggemar’ ular di sekitar Jakarta. Selain dipasarkan di Jalan Mangga Besar, ular-ular Jemi dikirim ke daerah Jatinegara, Tebet, Jalan Tendean, Buaran, hingga Bekasi Timur.

Jemi memamerkan ular kobra yang diawetkan.

“Saya bilang ke petugas Kehutanan, ‘Mau nggak di rumah Bapak setiap hari saya masukin seribu ekor ular setiap hari.’”

Pais, pedagang ular di Mangga Besar, Jakarta Pusat

Untuk satu ekor kobra, Jemi membeli dari penangkap seharga Rp 20 ribu dan dia jual kembali dengan harga Rp 27 ribu per ekor kepada para pedagang. Dalam seminggu, Jemi bisa menjual 150 ekor kobra. Ular jenis lain, seperti king cobra dan sanca, dijual dengan takaran berbeda. Harga sanca dihitung berdasarkan panjangnya. Per meter ular Sanca biasanya dilepas oleh Jemi dengan harga Rp 150 ribu. Sedangkan harga king cobra ditentukan berdasarkan beratnya. Biasanya per kilogram king cobra dihargai Rp 165-200 ribu.

Bisnis binatang melata ini mendatangkan untung lumayan juga. Pais, pedagang ular di Jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat, mengaku biasa menjual seekor kobra dengan banderol Rp 100 ribu. Sedangkan sanca dia lepas dengan harga Rp 250 ribu per meter dan untuk king cobra Rp 300 ribu per kilogram.

Keuntungan yang dikantongi Jemi lebih sedap lagi jika dia menjual ular-ularnya ke negeri seberang lautan China. Di China, pasar ‘penggemar’ ular ini memang lumayan besar. Tapi Jemi enggan buka-bukaan isi dapurnya. Dia tutup mulut soal keuntungannya dari penjualan ular ke China. “Pokoknya, sekali ngejual ke China, walau kena tangkap dua kali, masih impas, malah masih ada untung,” Jemi menuturkan.

Sementara seekor kobra di Jakarta dihargai sekitar Rp 30 ribu, dia mematok harga berkali-kali lipat jika menjualnya ke China. Keuntungan yang dikantongi Jemi dan para pedagang ular ke luar negeri sebanding dengan risiko yang dihadapi. Sebab, syarat ekspor ular secara resmi ke China sangat ketat dan ongkosnya sangat mahal. Walhasil, Jemi pilih ambil risiko. Dia sering memilih jalur gelap untuk mengirimkan ular-ularnya ke China. Jika bisa lolos, untungnya memang jauh lebih besar ketimbang 'mengekspor' ular lewat jalur resmi.

Stok ular yang baru datang dari Cilacap Jawa Tengah.  

Hitung saja. Menurut Jemi, harga per ekor ular yang dibeli dari penangkap Rp 20 ribu. Jika ‘diekspor’ ke China, ular itu dibanderol Rp 100-150 ribu per ekor. Sekali pengiriman, dia bisa ‘mengekspor’ 1.000-2.000 ekor. “Masa jaya ekspor ular itu pada 1998-1999. Sebab, nilai tukar dolar Amerika saat itu menembus Rp 15 ribu,” Jemi mengenang.

Jangan heran jika saat itu, dari hasil penjualan ular ke China, Jemi bisa membeli tiga unit mobil, dua sepeda motor, dan satu rumah besar di Bekasi yang saat ini masih dia tempati. Namun, sejak istrinya meninggal, pelan-pelan aset yang dibeli dari ‘mengekspor’ ular menyusut. Saat ini Jemi hanya memiliki dua sepeda motor dan rumah. “Tahun depan rencananya saya mau kredit mobil buat berjualan ular keliling. Sekarang lagi diurus proses aplikasinya,” kata Jemi.

Tak cuma pengepul macam Jemi yang menikmati gurihnya bisnis ular, tapi juga para pedagang. Lisa, pedagang aneka masakan dan obat berbahan baku ular di Mangga Besar, mengaku dalam sehari biasanya menjual 20 ekor ular. Keuntungan yang dia kantongi berkisar Rp 1,5 juta per hari.

Pada akhir pekan, Lisa mengeruk untung lebih besar lagi. Dalam semalam saja, dia bisa menghabiskan 50 ekor ular. Karena keuntungan yang berlimpah, jangan heran jika perempuan beranak tiga itu sampai saat ini masih menggeluti bisnis yang tidak lazim tersebut.

Salep kobra yang diproduksi Jemi


Padahal risiko berurusan dengan binatang-binatang berbisa ini tak kecil. Jika tak hati-hati dan kena patuk kobra, apalagi king cobra, nyawa bisa jadi taruhannya. Lisa pernah mengalami sendiri. Belum lagi urusan dengan petugas pemerintah. Tak jarang dia mesti berurusan dengan petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta polisi. “Kalau sekarang ini banyak duta ular sanca, duta kobra, dan banyak duta lain yang membuat usaha saya terganggu,” Pais menimpali.

Para pedagang ular ini acap kali dituding mengancam populasi ular, terutama kobra, di Tanah Air. Konon, jumlah kobra di seluruh Indonesia tinggal 50 ribu ekor. Namun para pedagang itu tak percaya pada angka tersebut. Pasalnya, sampai saat ini pasokan ular dari pengepul masih berlimpah. “Saya bilang ke petugas Kehutanan, ‘Mau nggak di rumah Bapak setiap hari saya masukin seribu ekor ular setiap hari. Saya sanggup,’” ujar Pais. Menurut pria ini, dalam sehari saja ada sekitar 1.000 ekor ular yang diperdagangkan di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.


Reporter/Penulis: Ibad Durohman, Gresnia, Syailendra Hafiz Wiratama
Reporter/Penulis: Deden Gunawan
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE