INVESTIGASI

Omzet Miliaran
Pasar Obat Pramuka

Perputaran uang di pasar obat Pramuka mencapai Rp 5 miliar sehari. Rumah sakit dan instansi pemerintah se-Indonesia menjadi pelanggannya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 3 Oktober 2017

Pria berusia 46 tahun itu seharian hanya duduk-duduk di tangga utama Pasar Pramuka bersama pedagang lainnya. Sudah seminggu penjual alat kesehatan tersebut tidak berdagang.

“Tutup kayak gini rugi saya. Paling kecil omzet saya sehari Rp 5 juta. Kalau dikalikan seminggu, hitung saja kerugian saya berapa,” kata pria yang enggan disebutkan namanya saat ditemui detikX, Kamis, 28 September 2017, di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

Menurut dia, omzet minimal Rp 5 juta sehari didapat oleh pedagang kecil seperti dia. Untuk pedagang menengah dan besar, omzet sehari jauh lebih besar lagi.

Pria itu sejak 2004 berdagang alat kesehatan, seperti alat pengukur tensi darah, stetoskop, termometer, alat cek gula darah, alat suntik, dan sejumlah alat medis lainnya. Meski luas kios miliknya hanya 2 x 2 meter persegi dan berada di lantai dasar, pembeli yang datang bukan sembarang orang. Dokter, perusahaan kapal, pabrik-pabrik, sekolah perawat, bidan, bahkan beberapa dinas kesehatan menjadi pelanggannya.

Ada banyak alasan sejumlah instansi pemerintah maupun swasta membeli alat-alat medis ke Pasar Pramuka. Selain lebih komplet, harga yang ditawarkan lebih murah dibanding di tempat lain. Kompetisi harga yang ketat di Pasar Pramuka membuat mereka berani banting harga. Sebab, jika mahal sedikit saja, para pembeli akan pindah ke toko sebelah.

Para pedagang obat di Pasar Pramuka berkumpul di depan toko mereka yang tutup.
Foto: Ibad Durohman/detikX

Dia mencontohkan penjualan satu merek alat pengukur tensi darah bermerek GEA. Dari distributor harganya Rp 65 ribu. Sedangkan harga jual ke konsumen biasanya dipatok Rp 80 ribu. Namun, jika toko sebelah menjualnya dengan harga Rp 75 ribu, harga di tokonya akan disamakan atau bahkan diturunkan lagi hingga jadi Rp 73 ribu.

Bagi pedagang alat kesehatan di Pasar Pramuka, mendapat untung sedikit tidak mengapa. Karena barang yang dijual tidak dibeli secara tunai, melainkan jatuh tempo. “Saya menjual alkes (alat kesehatan) bayar ke distributor satu sampai dua minggu. Jadi barangnya laku baru bayar,” ujar Udon, pedagang lainnya.

Harga barang murah dan barang yang komplet membuat Pasar Pramuka menjadi tujuan instansi swasta dan pemerintah untuk membeli obat maupun alat kesehatan. “Mereka yang pesan-pesan kebanyakan dinas kesehatan dari luar Jakarta. Hampir seluruh Indonesia deh yang beli ke saya,” kata Udon sesumbar.

Namun saat ini dia pantas cemas. Pasalnya, pedagang obat, yang jadi mayoritas, di Pasar Pramuka sedang dievaluasi perizinannya. Tak terkecuali para penjual alat kesehatan.

Sebenarnya izin berdagang alat kesehatan cukup mudah dan syaratnya tidak serumit apotek. Meski begitu, banyak pedagang belum memiliki izin usaha alat kesehatan. Dalih mereka, banyak pedagang yang tidak mengurus izin, sehingga mereka pun mengikutinya.

Kini para pedagang alat kesehatan ini terpaksa ikut tutup toko setelah pengelola pasar mengimbau seluruh toko di Pasar Pramuka tutup mulai 25 September 2017. Yang membuat para pedagang alat kesehatan kesal, mereka harus tutup toko pada saat sedang ramai pembeli. Soalnya, pada September sampai Desember, banyak perusahaan, pabrik, sekolah, atau dinas-dinas yang turun anggaran belanjanya.

Obat-obatan yang diperjualbelikan di Pasar Pramuka
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Kekecewaan yang sama disampaikan Rita, 37 tahun, pemilik Toko Kafasa Medika di Pasar Pramuka. Perempuan ini menjual alat kesehatan sekaligus obat. “Jujur saja, penutupan sementara ini terasa sekali dampaknya. Sebab, saya tetap harus bayar karyawan yang digaji harian. Sedangkan toko tidak ada pemasukan,” ujar Rita.

Namun Rita tidak bersedia memberitahukan omzet yang didapatkan sehari-hari dari berjualan. Rita hanya bilang harus mengeluarkan uang setahun Rp 60 juta. Itu belum bayar karyawan, uang operasional, dan iuran bulanan Rp 100 ribu kepada pengelola pasar.

Ajie Ruslan, Kepala Pasar Pramuka-Burung-Matraman, saat ditemui terpisah mengatakan, dalam sehari perputaran uang pedagang obat dan alat kesehatan di Pasar Pramuka mencapai Rp 5 miliar. Pedagang kecil saja omzetnya Rp 5 juta. Sedangkan di Pasar Pramuka terdapat lebih dari 400 toko kecil hingga besar di sana.

Dijelaskan Ruslan, dari catatan yang dia miliki, di Pasar Pramuka ada 403 kios. Perinciannya, 116 kios dipakai untuk apotek rakyat, sisanya menjual alat kesehatan, toko obat, dan sebagian kecil untuk bank serta koperasi.

Pasar Pramuka, menurut Ruslan, sebelumnya bukan dikhususkan sebagai pasar yang menjual obat dan alat kesehatan. Kedatangan para pedagang obat dimulai pada 1991, saat Pasar Jatinegara, yang dijadikan tempat berjualan obat dan sepatu, terbakar. Karena Pasar Jatinegara sedang direnovasi, para pedagang kemudian dipindahkan ke Pasar Pramuka. Pedagang sepatu ditempatkan di lantai 1, sedangkan pedagang obat di lantai dasar.

Kios obat di Pasar Pramuka tutup selama seminggu
Foto: Ibad Durohman/detikX

Namun, setelah Pasar Jatinegara selesai direnovasi, hanya pedagang sepatu yang pindah lagi ke Jatinegara, sementara para pedagang obat tetap berjualan di Pasar Pramuka. Karena pedagang obat semakin lama kian banyak, diaturlah kemudian menjadi apotek rakyat pada 2007 lewat keputusan Kementerian Kesehatan.

Kini nikmatnya bisnis obat dan alat kesehatan di Pasar Pramuka terancam sirna. Omzet para pedagang Rp 5 juta sampai puluhan juta dalam sehari lenyap seketika. Bahkan para pedagang terancam angkat kaki dari Pasar Pramuka, yang selama ini telah membuat mereka untung banyak.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F, Ratu Ghea Yurisa
Redaktur:: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE