INVESTIGASI

PEMBANTAIAN RAWAGEDE

“Saya yang Mengeksekusi”

"Perintah itu tidak bisa saya tugaskan ke anak buah. Maka saya sendiri yang melakukan."

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 26 September 2017

Ratusan makam yang semua bangunan dan nisannya berwarna putih itu berjejer rapi di Taman Makam Pahlawan Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Dinaungi pohon-pohon besar, suasana makam tersebut sangat teduh.

Sebanyak 181 jasad korban Agresi Militer Belanda terbaring di situ. Adapun jumlah korban tewas seluruhnya dari tindakan Belanda di Rawagede mencapai 483 jiwa, yang dibagi dalam tiga babak: 1 Juli hingga November 1949 (17 orang), 1 Januari hingga Oktober 1948 (35 orang), dan 9 Desember 1947 (431 orang).

Namun selama ini sejarah hanya mencatat peristiwa 9 Desember 1947, yang kemudian dikenal sebagai pembantaian massal di Rawagede. Saat itu, pasukan Belanda Batalion 3-9 RI dari Divisi 7 Desember dan personel Koninklijk Nederland’s-Indische Leger (KNIL), yang mengejar seorang pejuang Republik, Kapten Lukas Kustaryo, melakukan eksekusi tanpa pengadilan terhadap ratusan warga Rawagede.

Rawagede tercantum sebagai satu dari 101 tindakan kelam Belanda di bekas negara koloninya dalam De Excessnnota (1969). Namun buku putih versi resmi pemerintah Negeri Kincir Angin itu cuma menyebut jumlah korban Rawagede 150 jiwa. Selain itu, pembantaian Rawagede dan kejahatan lainnya di Indonesia hanya disebut sebagai ekses, bukan kejahatan perang.

De Excessnnota terbit sebagai reaksi terhadap pengakuan veteran Belanda, Joop Heuting, yang pernah mengikuti wajib militer ke Hindia Belanda. Kepada media, ia dengan berani menyebut tindakan Belanda di Indonesia sepanjang 1945-1950 bukan menjaga ketertiban dan keamanan pascakapitulasi Jepang, melainkan kejahatan perang.

Ketua Yayasan Rawagede Sukarman menunjukkan data korban kejahatan Belanda di Rawagede
Foto : Gresnia Arela F/detikX

Beberapa dekade selanjutnya, makin banyak kisah veteran Belanda yang terungkap ke publik. Salah satu perkembangan terakhir adalah pada 2016 terbit sebuah buku yang berisi kesaksian para veteran perang Belanda itu. Buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950, Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah karya profesor sejarah Universitas Leiden, Gert Oostindie, itu memuat catatan harian, surat-menyurat dengan keluarga dan kolega, memoar, serta rekaman wawancara para veteran.

Sayangnya, hanya sebagian kecil dari 101 kejahatan dalam De Excessnnota yang dibicarakan secara terang-terangan oleh mereka. Seperti halnya pembantaian di Rawagede, yang hanya disebut oleh mantan serdadu Sersan Fokke Dijkstra. Ia pernah berdinas sebagai sersan intelijen wajib militer Batalion 3-9 RI dari Divisi 7 Desember, pasukan penyerbu Rawagede.

Dijkstra juga menyebut pembunuhan 431 warga Desa Rawagede itu sebagai fitnah. Jumlah korban yang sebenarnya, kata dia, mungkin hanya 31 orang. “Saya anggap tidak adil kalau sejumlah 20 atau 30 dibuat begitu saja sepuluh kali lipat banyaknya,” ujar Dijkstra. “Tuduhan-tuduhan datang dari pihak anonim. Atau tuduhan itu diwarnai politik. Sangat kiri.”

Dalam sebuah wawancara yang dimuat Javapost pada 2012, Dijkstra menyebut Javabode, koran yang terbit di Batavia, menulis korban Rawagede sekitar 150 orang. Sedangkan kampung yang dibakar tujuh. Namun waktu itu ia merasa tak perlu menaruh peduli. Sebab, berita itu dibutuhkan warga di Jakarta dan koran harus terjual.

Monumen Perjuangan Rawagede
Foto : Gresni Arela F/detikX

Penyerbuan ke Rawagede disebut untuk menormalisasi kondisi kehidupan daerah Kerawang. Serdadu Belanda berangkat pagi hari dikomandoi oleh Mayor Alphons van Wijnen. Namun Van Wijnen segera tidak terlihat lagi dalam pasukan. Tiga regu pasukan merangsek ke Rawagede dari sayap kiri, tengah, dan kanan. Mereka dilengkapi senjata ringan semiotomatis dan pistol. Regunya sendiri, menurut Dijkstra, membawa mortir organik ukuran 2 inci.

“Sekitar pukul 10.00, kita berada dalam posisi mengerikan. Memang ada konsentrasi anggota geng yang bersembunyi di sekitar Rawagede untuk mencegah kami mencapai kampung,” kata Dijkstra. Namun itu bisa segera diatasi. “Bagi kami, aksi 9 Desember 1947 oleh karena itu merupakan tindakan yang relatif kecil,” katanya.

Menurut Dijkstra, hanya ada sekitar 20 perusuh yang tewas. Tidak mungkin tindakan yang singkat dan cepat pada 1947 itu bisa menangkap dan membunuh banyak orang. Karena itu, ia heran terhadap angka-angka korban Rawagede yang dimuat dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Kami belum di Rawagede hari itu,” ujarnya.

Kesaksian berbeda disampaikan seorang veteran Belanda yang terlibat dalam peristiwa Rawagede kepada Jan Verhagen, seorang dokter militer Belanda di Indonesia waktu itu. Mantan serdadu itu menceritakan kekejian tentara Belanda di Rawagede dengan suara gemetar. Pasukannya disuruh membunuh warga.

Sersan Fokke Dijkstra
Foto : Javapost.nl/screenshot

Lukas Kustaryo
Foto : Dok Yayasan Rawagede/repro

“Ia berkata, ’Perintah itu tidak bisa saya tugaskan ke anak buah. Maka saya sendiri yang melakukan,’” tutur Verhagen di radio Belanda, Radio Nederland Wereldomroep (RNW). “Iya, semuanya. Dia bilang, ‘Saya yang mengeksekusi,’” lanjut Verhagen. Ia tak menyebut nama rekannya yang ditugaskan ke Rawagede itu. 

Apa pun yang terjadi, Belanda hingga saat ini masih berkeras menganggap peristiwa Rawagede sebagai kejahatan ekses. Namun pengadilan Den Haag pada 2011 memerintahkan pemerintah Belanda meminta maaf dan memberikan ganti rugi. Belakangan, Belanda merestui dilakukannya penelitian menyeluruh terhadap agresi militernya selama 1945-1950.

Tiga lembaga ditunjuk untuk melakukan penelitian yang berlangsung sekarang hingga empat tahun ke depan itu, yakni, Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda (KITLV) dari Universitas Leiden, Lembaga Belanda untuk Penelitian Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD), dan Lembaga Penelitian Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH). Rawagede disebut-sebut bakal diteliti kembali.


Reporter: Gresnia Arela F., Ratu Ghea Yurisa, Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur/Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE