INVESTIGASI

Aksi Terakhir Raja Jambret dari Bandung

Agun sudah 200 kali menjambret. Aksinya berhenti setelah tertembus timah panas polisi.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 24 Agustus 2017

Muhammad Alfaris Sukmara, 30 tahun, dan Rena Hendayanti, 27 tahun, baru menikah sekitar enam bulan. Pasangan suami-istri muda ini hidup bersama di sebuah rumah kontrakan di kawasan Dago, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat. Setiap pekan mereka mengunjungi kedua orang tuanya di Baleendah. Namun, karena suatu musibah, keduanya kini harus berpisah untuk selamanya.

Musibah itu bermula ketika Selasa, 20 Juni 2017, setelah salat subuh, pukul 05.10 WIB, Alfaris dan Rena, yang berboncengan menggunakan sepeda motor, pulang dari rumah orang tuanya di Baleendah, Kabupaten Bandung. Seperti biasanya, keduanya melintasi rute yang dianggap cepat dan aman, yaitu Baleendah-Buahbatu-Jalan Seram-Jalan Riau, lalu Dago.

Pagi buta itu jalan relatif masih sepi. Masuk kawasan Jalan Ir H Juanda, Dago, Alfaris sempat berhenti karena lampu pengatur lalu lintas di perempatan tak jauh dari pusat belanja Dago Plaza dan Living Plaza berwarna merah. Tak lama, lampu berganti warna hijau, Alfaris pun tancap gas dengan kecepatan 40 km per jam. Tiba-tiba, dari arah belakang bagian kiri, sebuah motor Honda Sonic menyalip kencang.

Alfaris terkejut. Ia semakin kaget ketika istrinya juga menjerit melihat sepeda motor yang ditunggangi dua orang itu sangat mepet. Salah seorang di antaranya dengan cepat meraih tas pinggang yang ditaruh di tengah, antara Rena dan Alfaris. Tas berisi SIM, STNK, uang Rp 50 ribu, charger ponsel, dan powerbank itu digondol.

Alfaris sempat mengejar, tapi dua jambret itu justru menendang sepeda motor yang dia kendarai. Korban terjatuh. Alfaris menabrak tiang listrik dan pohon, sementara Rena membentur aspal. Keduanya pingsan beberapa menit.

Agun si  'Raja Jambret'
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom/repro

Teriakan Rena dan Alfaris memancing warga yang pagi itu tengah berolahraga. Rena sudah siuman ketika warga berkerumun, sementara Alfaris masih tergeletak. Beberapa warga menghubungi polisi, dan beberapa lainnya menghentikan sebuah mobil angkutan kota untuk membawa pasutri ini ke Rumah Sakit Borromeus.

Saat diperiksa, tak ada luka patah atau retak pada tulang korban. Hanya, Alfaris merasa kesakitan di bagian perut. Rena mengalami luka lecet di bagian tangan dan kakinya. Setelah menjalani roentgen, ternyata hati Alfaris mengalami luka dan memar akibat benturan. Pukul 12.00-17.00 WIB, Alfaris pun menjalani operasi.

Keesokan harinya, kondisi Alfaris ternyata memburuk. Gumpalan darah di dalam perut mengharuskannya menjalani operasi kedua pada Kamis, 22 Juni 2017, pukul 02.00 WIB. Rena, yang setia menungguinya, sempat terlelap tidur. Tak beberapa lama, sekitar pukul 04.00 WIB, Rena dibangunkan sejumlah perawat dan dokter. Ia diberi tahu bahwa nyawa suaminya tak tertolong.

Pascapenjambretan terhadap Alfaris dan Rena, sejumlah anggota Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung melakukan olah tempat kejadian perkara. Polisi menanyai sejumlah saksi mata dan meminta keterangan kepada korban di RS Borromeus.

Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana
Foto : Dony Indra Ramadhan/com

Tim untuk memburu komplotan penjambret ini pun dibentuk dan dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Kota Bandung AKBP M. Yoris Maulana. Polisi sempat mengalami kesulitan memburu para pelaku komplotan jambret yang meresahkan di Kota Bandung ini. Namun, beberapa minggu kemudian, polisi akhirnya berhasil mengidentifikasi mereka.

Pada 3 Juli 2017, akhirnya Tim Buru Sergap Satreskrim Polrestabes Kota Bandung menangkap salah satu penjambret bernama M. Zamil, 23 tahun, di daerah Kabupaten Bandung. Zamil, yang diketahui sebagai eksekutor penjambretan, dihadiahi timah panas polisi saat ditangkap.

Dari “nyanyian” Zamil inilah akhirnya polisi tahu siapa otak komplotan penjambret sadis ini, yang diketahui bernama Agun Saputra alias Tres, 28 tahun. Selain Zamil, polisi menangkap Eko Supriatna, 28 tahun, Candra Lesmana (27), Nabil (24), dan seorang perempuan bernama Sumini (27). Mereka ditangkap di tempat berbeda di Bandung. Sementara itu, Agun, yang jadi buron, masuk daftar pencarian orang.

Agun, yang dijuluki Raja Jambret, memang dikenal sebagai penjambret yang sangat licin, bahkan disegani di kalangan penjambret sendiri. “Dia latar belakangnya pembalap. Dengan keahliannya menggunakan motor itu, kita berat melakukan proses pengejaran terhadap kelompok dia,” ungkap Yoris Maulana kepada detikX pekan lalu.

Agun bersembunyi ke sejumlah tempat di kawasan Cangkuang, Banjaran, Bandung Barat. Bahkan ia sempat lari ke sebuah daerah terpencil di Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Polisi putus asa memburunya karena di tempat-tempat itu tak menemukan jejak Agun. Barulah pada Rabu, 9 Agustus 2017, polisi mendapatkan informasi Agun pulang ke rumah kosnya di Banjaran, Bandung Barat.

Saat itu sejumlah polisi yang dipimpin Kepala Unit Ekonomi Satreskrim Polrestabes Kota Bandung AKP Nasrudin melakukan pengintaian di sekitar tempat kos Agun. Baru pada malam hari, ketika Agun dipastikan berada di dalam tempat kosnya, polisi langsung melakukan penggerebekan. Agun, yang saat itu bersama temannya, Rendi, 25 tahun, tak terkejut.

Agun sempat lari dan melawan polisi yang akan menangkapnya. Seorang polisi melepaskan timah panas yang mengenai kaki kanan buron. Agun dan Rendi pun digelandang polisi ke Markas Polrestabes Kota Bandung malam itu juga. “Dia masih sempat kabur dan melawan, akhirnya kita beri peringatan tegas dan terukur,” kata Yoris.

Dari keterangan Agun kepada polisi, ia telah melakukan penjambretan di 200 tempat di wilayah di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Ia melakukan tindak kriminal itu selama sembilan tahun, yaitu selama 2008-2017. Mayoritas targetnya adalah perempuan yang pulang atau kerja pada malam hari. Bahkan, siang sebelum ditangkap, Agun masih menjambret mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Agun di 'raja jambret' memakai baju tahanan berwarna oranye dan penutup kepala hitam.
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Kepala Polrestabes Kota Bandung Kombes Hendro Pandowo menuturkan Agun dijuluki Raja Jambret lantaran dalam satu bulan bisa sampai 23 kali melakukan aksinya. Agun, yang berperan sebagai joki, kerap beraksi di kawasan Dago, Jalan Otista, Lengkong, BKR, dan Jalan Soekarno-Hatta. “Dia rajanya jambret di Kota Bandung. Dari pemeriksaan, dia mengaku sudah 60 kali melakukan aksi curas (pencurian dengan kekerasan) di Kota Bandung,” tutur Hendro.

Agun dan komplotannya kini mendekam di sel tahanan Polrestabes Kota Bandung untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Apalagi aksi komplotan ini telah menewaskan korbannya, yaitu Alfaris. Agun dan komplotannya dikenai Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan yang ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara.

Hingga kini, polisi masih terus mengembangkan penyidikan terhadap kelompok Agun cs ini. Polisi juga akan mencari anggota kelompok ini atau kelompok penjambret lainnya yang masih beredar di wilayah Bandung. “Mungkin masih ada. Kita masih akan terus cari, baik dari kelompok dia maupun kelompok lainnya,” ujar Yoris Maulana.


CCTV ‘Penangkap’ Jambret

Kota Bandung, yang dijuluki Kota Kembang atau Parijs van Java, kini tak lagi tenteram. Pembangunan di wilayah Bandung, baik kabupaten maupun kota, kian pesat. Hal itu memunculkan masalah baru, di antaranya kemacetan dan semakin tingginya tingkat kriminalitas.

Peristiwa yang paling besar menyedot perhatian adalah penjambretan yang dilakukan komplotan Agun Saputra yang menewaskan korbannya, Muhammad Alfaris Sukmara, 30 tahun, di Jalan Ir H Juanda, Dago, Bandung Wetan, Kota Bandung, 20 Juni 2017. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat menemui para pelaku pada pertengahan Juli 2017.

Kawasan Jalan Braga -- Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

Sebelumnya, tingginya angka kriminalitas membuat Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, meluncurkan mobile application untuk keamanan yang dinamai Panic Button (Tombol Panik) pada 10 Juli 2016. Aplikasi ini bisa diunduh di Google Play Store dengan nama X-Igent Panic Button. Masyarakat hanya perlu memasukkan nomor selulernya, lalu menekan tanda SOS pada layar sebanyak tiga kali, bantuan polisi pun akan datang.

Selain itu, pihak Pemkot berencana memasang 120 unit kamera CCTV di sejumlah titik rawan kejadian kriminalitas. Pengadaan CCTV itu dianggarkan pada 2016. Diharapkan, dengan keberadaan CCTV itu, pihak kepolisian mudah mengidentifikasi pelaku tindak pidana.

“Polisi kan harus punya alat bukti dari rekam jejak video. Biasanya itu yang paling akurat. Kita tahu kan, akhirnya Raja Begal ditangkap itu pun salah satunya berkat koordinasi di antara petugas lapangan dan CCTV,” ujar Kang Emil kepada detikX, Kamis, 24 Agustus 2017.

Menurut dia, pemasangan kamera CCTV diserahkan sepenuhnya kepada polisi, yang memang mengetahui titik-titik rawan kejahatan itu. Hal yang sama diutarakan Kepala Subbagian Humas dan Protokol Sekretariat Kota Bandung Yayan A. Brillyana. Rencana ini memang hasil kerja sama Pemkot Bandung dan sejumlah perusahaan swasta di Bandung melalui corporate social responsibility (CSR).

Suasana Jalan Ir H Juanda(Dago)
Foto : Dony Indra Ramadhan/detikcom

“Hanya, mungkin sejauh ini belum ada titik temunya. Masih sedang negosiasi, jadi apa yang diterima Kota Bandung, fasilitas apa yang diterima mereka,” tutur Yayan kepada detikX.

Kamera CCTV ini nantinya akan terkoneksi dengan Bandung Command Center (BCC). Saat ini di BBC sudah ada dua anggota Polrestabes Kota Bandung yang bertugas setiap hari. Begitu juga dengan aplikasi Tombol Panik. Direncanakan ada 60 unit kamera CCTV yang terintegrasi dengan aplikasi Tombol Panik dan langsung terkoneksi dengan BBC.

Pemkot Bandung, menurut Yayan, berusaha memfasilitasi pihak kepolisian dalam menjaga keamanan. Karena itu, telah diinstruksikan kepada setiap kelurahan yang ada di Kota Bandung agar menyewa 10 tenaga Pertahanan Sipil (Hansip). Tugasnya adalah mendeteksi secara dini apabila terjadi kejahatan dan menjaga tempat-tempat rawan. “Sepuluh orang di setiap kelurahan itu, jadi jaganya bergantian,” kata Yayan.


Reporter: Dony Indra Ramadhan (Bandung)
Redaktur: M. Rizal
Redaktur: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE