INVESTIGASI

Tangis Teroris
di Kembang Kuning

Tak ada dendam ketika korban terorisme bertemu dengan sang pelaku teror. Mereka ikhlas dengan dukanya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Rabu, 12 November 2015

Iwan Setiawan tak mampu membendung air mata ketika menceritakan kebiasaan anaknya, M. Rizki Hidayat, bertandang ke masjid. Anak itu mencari ibunya. Bapaknya bilang, sang ibu telah pulang ke rumah Tuhan. Setahu Rizki, masjidlah rumah Tuhan itu.

Kamis, 6 April 2017, Iwan tengah menuturkan pengalaman pahitnya di tengah kursus singkat bertema Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme Insan Media di Sofyan Hotel Betawi, Jalan Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat. Isak tangis membuat kalimatnya terbata. Ceritanya terhenti dalam isakan.

“Anak saya... setiap sore…,” ucap Iwan sambil terisak.

Keluarga Iwan adalah korban ledakan bom di depan kantor Kedutaan Besar Australia, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 9 September 2004. Bom itu diledakkan oleh kelompok Jamaah Islamiyah. Heri Kurniawan membawa bom itu dalam minivan dan mengarahkannya ke gerbang Kedubes Australia.

Empat pelaku lain, yakni Rois, Ahmad Hasan, Apuy, dan Sogir alias Abdul Fatah, ditangkap setelahnya di Kampung Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 5 November 2004.


Iwan Setiawan salah satu korban Bom Kedubes Australia pada 2004.
Foto : Gresnia Arela/detikX


Iwan sangat mempengaruhi hidup saya. Saya hormat sekali sama beliau. Dia sudah jadi korban, matanya hilang, istrinya meninggal, tapi tetap tegar. Karena Iwan saya jadi bangkit.”

Tak mudah menceritakan kelanjutan kepedihannya. Cerita Iwan berlanjut setelah ada tepukan tangan pada punggung untuk menenangkannya. Tepukan itu dilakukan oleh Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah. Mereka duduk bersebelahan dalam pertemuan itu.

“Sabar, Pak Iwan, sabar…,” ucap Ali sambil memberikan tisu.

Istri Iwan, Halillah Seroja Daulay, yang dia boncengkan ketika melintas di depan kantor Kedubes Australia, saat itu tengah mengandung Rizki sekitar delapan bulan. Halillah mengalami cedera di kepala, tangan, kaki, pantat, gendang telinga, dan tulang belakang.

Ajaibnya, Rizki lahir selamat pascacedera itu. Namun Halillah meninggal dua tahun setelah kejadian. Iwan sendiri mengalami luka permanen akibat ledakan itu. Mata sebelah kirinya lepas. Kini ia harus memakai protesa mata (mata palsu).

Bom itu mengubah jalan hidupnya. Iwan tak melanjutkan karier sebagai pegawai bank karena cacat. Ia kini membuka toko peralatan komputer bernama Bombom Komputer sambil merawat dua anaknya, Rizki dan Sarah D. Salsabila.

Gapura Wijayakusuma, pintu masuk Pulau Nusakambangan
Foto : Arbi Anugrah/detikcom

Pada 2016, ia bahkan berjumpa dengan terpidana teroris pelaku pengeboman Kedubes Australia, Ahmad Hasan, di Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Aliansi Indonesia Damai (Aida)-lah yang sengaja mengajaknya bertemu dengan terpidana terorisme sebagai bagian dari penguatan psikologi. Organisasi ini berhubungan cukup erat dengan para korban terorisme.

Sebetulnya, Aida ingin mempertemukan Iwan dengan Subur, salah seorang terpidana Bom Bali II. Dan saat itu memang pertama kalinya Iwan bertemu dengan Subur, yang didampingi oleh seorang petugas lapas.

Subur berbicara meledak-ledak tentang keberhasilan aksinya. Namun wajahnya berangsur-angsur jadi sedih dan menangis setelah giliran Iwan bercerita tentang nasibnya menjadi korban bom, juga nasib istri serta anak-anaknya.

Pada saat itu, masuklah Hasan, yang seketika memeluknya dan berulang kali memohon maaf. Iwan masih bingung terhadap pria tersebut sebelum akhirnya diberi tahu oleh Subur bahwa Hasan adalah pelaku bom Kedubes Australia.

Pengeboman Kedubes Australia 2004 atau yang biasanya disebut Bom Kuningan terjadi pada tanggal 9 September 2004 di Jakarta.
Foto: Getty Images


“Di situ saya kaget. Ternyata ini orang yang buat saya seperti ini, yang memorakporandakan hidup saya. Saya sempat terenyak juga. Tapi, karena saya sudah bertekad, ya sudah, cuma gitu saja. Cuma, ‘Oh, ini orangnya,’” kata Iwan.

Keduanya lantas berbagi cerita tentang riwayat hidup masing-masing. Iwan baru tahu belakangan bahwa Hasanlah yang meminta petugas lapas agar dipertemukan dengan dirinya saat itu.

"Waktu itu dia menangis ya pas Saya ceritakan bagaimana cerita Saya pas kejadian. Saya kehilangan istri Saya dan segala macam. Dia mendengarkan dan menitikkan air mata dan tak hentinya memohon maaf," ungkapnya.

Ali Fauzi berdecak kagum terhadap semangat Iwan melalui deritanya. Adik trio bomber Bom Bali I, Amrozi dkk, itu pernah menghuni penjara sebagai pelaku teror di Filipina. Ali tergabung dalam Jamaah Islamiyah sebagai kepala instruktur perakitan bom di wilayah Jawa Timur pada 1998.

“Iwan sangat mempengaruhi hidup saya. Saya hormat sekali sama beliau. Dia sudah jadi korban, matanya hilang, istrinya meninggal, tapi tetap tegar. Karena Iwan saya jadi bangkit,” ucap Ali.

Pengalamannya di dunia terorisme bukan hanya sebentar. Ia pernah bergabung dengan kelompok Filipina dan ditangkap Kepolisian Nasional Filipina, lalu dipulangkan ke Indonesia pada 2006.

Salah satu anak didiknya di Filipina merupakan pelaku ledakan di Hotel JW Marriott pada 2003. Ledakan bom itu mengenai salah satu korban bernama Febby Firmansyah Isran. Febby mengalami luka bakar sebanyak 45 persen di tubuhnya.

Kursus singkat penguatan perspektif korban dalam peliputan isu terorisme oleh Aliansi Indonesia Damai di Jakarta beberapa waktu lalu.
Foto : Gresnia Arela/detikX

Pada 2011, Ali bertemu dengan Febby dalam acara Save against Violence Extremist di Dublin, Irlandia. Keduanya bertemu dan membuang amarah sebagai korban dan pelaku. Kini keduanya sama-sama aktif dalam penanganan korban dan pelaku teror serta deradikalisasi.

“Pelatihan menyatukan perspektif antara korban dan pelaku, bahwa masing-masing kita punya beragam dan harus saling memahami,” ucap Ali.

Ia mengaku pertemuan dengan para korban ini menguatkannya untuk keluar dari jaringan teroris. Setiap cerita perjumpaan ia sebarkan kepada rekan-rekannya, baik yang sudah mentas dari aktivitas terorisme maupun yang belum.

Pembina Aida, Solahudin, mengatakan ancaman jaringan teroris tak melulu bisa diberantas dengan sikap represif. Pertemuan antara korban dan pelaku merupakan sarana efektif untuk menekan melebarnya jaringan kekerasan ini.

Aida sendiri mempunyai beberapa program, di antaranya rekonsiliasi damai korban terorisme dengan mantan pelaku untuk menyatukan suara perdamaian. Program lainnya adalah kampanye perdamaian dengan kegiatan membagikan kisah pelaku dan korban kepada kaum muda agar mereka sadar akan dampak negatif kekerasan.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE