INVESTIGASI

Kick Loly Candy’s

Ribuan konten pornografi anak diunggah para anggota grup pedofil Official Loly Candy’s 18+. Foto dan video yang dikirim harus berbeda jika tidak mau di-kick dari grup.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 3 April 2017

Resti (bukan nama sebenarnya) memutuskan tidak masuk grup WhatsApp Candy’s. Sebab, selain sudah yakin dengan hasil penelusurannya tentang grup pedofil tersebut, ada syarat yang mesti dipenuhi anggota baru grup WA Candy.

“Kalau grup WA, ada rules sendiri, tapi saya nggak masuk ke sana. Soalnya, harus kirim video koleksi sendiri di grup WA itu,” kata Resti ketika berbincang dengan detikX, Sabtu, 1 April lalu.

Resti adalah anggota grup Facebook Fun Fun Centilicious, yang berisi ibu-ibu rumah tangga. Dari rasa marah para ibu di grup inilah akhirnya jaringan pedofil Official Loly Candy’s 18+ terbongkar.

Begitulah grup yang digawangi oleh Moch Bahrul Ulum itu menetapkan aturan. Apabila tak mengirimkan video kekerasan seksual terhadap anak-anak, anggota hanya bisa berinteraksi di grup Facebook Official Loly Candy’s 18+.

“Mereka akan membuat secret group kalau sudah ada moderatornya,” kata Resti, yang menyelusup masuk ke grup Facebook Loly Candy’s 18+ pada 4 Maret 2017.

Kepala Unit I Subdirektorat IV Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Joko Handono mengatakan, melalui sarana WA itu juga, Loly Candy’s 18+ membangun afiliasi ke jaringan pedofil internasional. Pasalnya, grup ini juga terhubung dengan 11 grup WA dan 1 Telegram pedofil internasional.

Dua tersangka pedofil Loly Candy's 18+ di Polda Metro Jaya.
Foto: Gresnia Arela F./detikX

Ke-11 grup WA dan 1 Telegram beranggotakan pedofil berasal dari Peru, Argentina, Meksiko, El Salvador, Cile, Bolivia, Kolombia, Kosta Rika, dan Amerika Serikat. Wawan aktif mengikuti delapan grup WA dan Telegram internasional, di antaranya grup Lleve Casera Caldo d Polo (158 anggota), Contadirbpublico?? (242 anggota), Deep We (118 anggota), Teen Pack???????????? (241 anggota), dan NO LIMITS FUN GORE XXX (28 anggota).

“Fungsi grup internasional itu adalah memperbanyak atau memperkaya koleksi-koleksi terkait dengan pornografi anak,” kata Joko kepada detikX di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat, 31 Maret 2017.

Joko menambahkan, keempat tersangka berbagi peran. Wawan merupakan inisiator dan pembuat grup. Sedangkan ketiga tersangka, yakni Siti Hajar Dwi Widiarti alias Siha Dwiti, Dede Sobur alias Illu Inaya, dan Dicky Firmasnyah alias T-Day, mengawasi jalannya lalu lintas percakapan di grup.

Lantas bagaimana aturan di grup Facebook Loly Candy’s 18+ dan grup serupa lainnya yang dibikin para tersangka? Joko mengatakan setiap anggota baru di grup haruslah aktif mengunggah foto pornografi anak.

Uniknya, setiap gambar yang dikirim tidak boleh sama di antara anggota. “Apabila ada yang vakum atau (kirim gambar) yang sama, dia akan memberikan warning. Setelah itu dia teruskan ke Wawan, Illu, juga T-Day. Nah, mereka itu akan meng-kick-lah, itu bahasanya,” kata Joko.

Ilustrasi: Edi Wahyono/detikX

Salah satu anggota yang aktif mengunggah gambar adalah Aldi Atwinda Januar asal Bekasi, Jawa Barat. Penyidik Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menemukan ribuan konten pornografi anak di bawah umur dari Aldi, yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka baru.

Dari dua laptop dan telepon seluler iPhone miliknya, terdapat 1.000 konten pornografi anak di bawah umur dari berbagai negara. Sedangkan di ponsel Wawan ditemukan 600 konten pornografi (foto dan video). Tidak terbayang lagi berapa gambar yang beredar di grup Loly Candy’s selama berdiri.

Wawan menyebutkan awalnya membuat grup Official Loly Candy’s 18+ untuk menjaring komunitas penggemar game Candy Crush. Anggotanya yang terjaring selama dua bulan mencapai 200 orang dengan men-share video anime. Ia kemudian bisa menjaring 7.497 anggota.

Namun dua grup itu kini di-ban Facebook karena membagikan foto tanpa sensor. “Nama Candy itu awalnya saya bikin buat game Candy Crush, buat komunitas Candy Crush. Kan saya suka game itu, kok jadi menjurus ke sana, saya nggak tahu juga,” ujar Wawan saat ditemui detikX di Polda Metro Jaya.

Ia mengaku membuat satu grup WhatsApp atas saran anggota grup Loly Candy‘s 18+. Wawan pun lalu membuat grup bernama Candy, tapi ia sempat menolak menjadi admin. Alasannya, ia sibuk menjaga toko sembako dan tak selalu membawa ponsel.

Polda Metro Jaya menangkap sindikat pedofil jaringan internasional.
Foto: Mei Amelia/detikcom


Karena itu, ia mengajak anggota grup lainnya untuk menjadi admin grup WA Candy, yaitu Illu, T-Day, dan Siha Dwiti. Awalnya di grup WA sendiri anggota selalu membagikan anime, seperti Dragon Ball dan Naruto, bukan foto atau video porno.

Diakuinya, ada satu-dua anggota yang membagikan anime porno, setelah itu dilanjutkan lagi dengan share foto dan video porno. “Akhirnya jadilah grup porno, bukan anime lagi,” ia menambahkan.

Wawan membantah terlibat dalam jaringan pedofil internasional. Ia hanya mengaku awalnya mencari foto dan video di situs Google. Ia pun menjelajahi semua room porno yang ditemui di situs penjelajah itu, dan mengunduhnya.

Nah, ketika mengunduh itulah muncul tulisan “You Want More?”, lalu diminta klik nomor yang ternyata nomor WA yang berkode negara tertentu, yang menawarkan gabung ke grup.

“Ya sudah, masuk. Terus dia ngobrol pakai bahasa Spanyol atau apa gitu. Nama grupnya Caldo apa gitu. Nah, HP saya tahun 2015 sempat rusak, ternyata grup itu sudah penuh, saya invite-invite saja. Ya sudah, dari situ,” ujar Wawan.

Dengan ditangkapnya Aldi, total tersangka dalam kasus ini lima orang. Empat tersangka sebelumnya adalah Wawan, Dede Sobur, Siha Dwiti, dan Dicky. Berkas perkara kelima orang tersangka ini telah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Mereka dikenai pelanggaran Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kelimanya bisa diancam 5-15 tahun penjara atau denda Rp 250 juta hingga Rp 6 miliar.


Reporter: Gresnia Arela F., Ibad Durohman, Aryo Bhawono
Penulis: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

Baca Juga

SHARE