INVESTIGASI

Demi Loly Candy’s, Keponakan Dicabuli

“Ada di tulisan tangan dia bahwa video ini riil dan video ini ditujukan kepada pemesannya, begitu."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 3 April 2017

Butuh waktu dua hari bagi penyidik dari Subdirektorat Cyber Crime Kepolisian Daerah Metro Jaya bisa masuk ke grup Loly Candy’s 18+ di Facebook. Penyidik menebar sejumlah akun anonim yang dibuat tim Cyber Crime.

Grup Loly Candy’s merupakan kelompok pedofil yang diperkirakan menyebarkan ribuan konten foto dan video kekerasan seksual terhadap anak dalam akun grup Facebook mereka.

Penyusupan akhirnya dilakukan penyidik dengan menyamar sebagai orang yang menyukai konten pornografi anak-anak.

Kompol Joko Handono, Kepala Unit I Subdit IV Cyber Crime Polda Metro Jaya, mengungkapkan grup itu bermula dari WhatsApp. Usut punya usut, grup Loly Candy’s digawangi empat akun, yakni Wawan Snorlax, T-Day, Illu Inaya, dan Siha Dwiti.

“Petugas sempat kesulitan mengungkap admin grup, yang semuanya memakai nama anonim. Di profil pelaku pun minim informasi,” ujar Joko kepada detikX.

Masalah lainnya, alamat keempat admin tersebut berjauhan. Misalnya Wawan Snorlax, yang bernama asli Moch Bahrul Ulum, tinggal di Malang, Jawa Timur; T-Day alias Dicky Firmansyah di Depok, Jawa Barat; Illu Inaya alias Dede Sobur di Tasikmalaya, Jawa Barat; serta Siha Dwiti alias Siti Hajar Dwi Andini tinggal di Tangerang, Banten.

“Untuk itu, kami membuat empat grup yang bergerak serempak. Sebab, kami tidak tahu konektivitas mereka seperti apa,” ujar Joko.

Setelah tim bentukan Joko itu lebih dari seminggu bergerak, keempat admin tersebut akhirnya ditangkap di rumah masing-masing. “Saya dijemput jam 23.00 WIB di rumah waktu mau tidur,” kata Wawan, pemilik akun Snorlax, saat ditemui detikX di Polda Metro Jaya.

Wawan mengatakan awalnya mengira tiga pria berpakaian bebas yang datang ke rumahnya malam-malam hendak membeli batu nisan. Soalnya, dalam enam bulan terakhir, Wawan membantu ibu angkatnya berdagang bahan kebutuhan pokok dan batu nisan.

“Saat saya buka pintu, seorang pria yang mengaku polisi langsung mendorong saya. Dan mengambil handphone saya,” ujar pria berbadan gemuk ini.

Kompol Joko Handono
Foto: Gusti/detikcom

Malam itu juga Wawan dibawa ke Markas Polresta Malang. Ketika pagi menjelang, ia dibawa ke Jakarta menggunakan pesawat terbang. Pria berusia 25 tahun ini merupakan pencetus grup Loly Candy’s.

“Saya yang bikin nama itu di grup. Karena saya suka anime. Loly itu istilah dalam anime, terus sama orang lain disalahartikan,” ucapnya.

Wawan mengaku grup yang dibuat pada pertengahan 2016 itu awalnya hanya beranggotakan empat orang, yakni Wawan, Dicky, Dede Sobur, dan Siti Hajar.

Sebulan berselang, jumlah anggotanya langsung membengkak menjadi seribuan orang. Dan sampai pertengahan Maret 2017, jumlah anggotanya tercatat lebih dari 7.000 orang.

Dan grup tersebut ternyata banyak berisi konten pornografi anak. Bukan film-film kartun khas Jepang. Akibatnya, Wawan pun harus berurusan dengan polisi.

“Saya mengaku pernah ‘makai’ saat ditangkap karena dipaksa polisi,” elak Wawan.

Ia pun lantas menyebut nama Dicky, yang berusia 17 tahun. Kata Wawan, Dicky-lah yang pernah melakukan pencabulan terhadap keponakannya yang masih balita. Foto itu kemudian disebarkan Dicky lewat grup Loly Candy’s.

“Saya nggak berani. Dan saya bikin grup hanya karena suka anime, bukan untuk begituan (pedofilia),” tukasnya.

Wawan menyebutkan masih berperilaku normal seperti pria umumnya. Ia juga mengaku pernah berpacaran meski hanya berjalan 4 bulan.

Dikatakannya, selama ini dia tinggal di Malang. Ia sempat menjadi operator warnet selama tiga tahun dengan gaji per bulan Rp 500 ribu. Setelah itu ia bekerja di warung nasi Padang selama setahun.

Bosan kerja di warung nasi, pria lajang ini memilih membantu ibu angkatnya berdagang sembako dan batu nisan. Sejak bayi, Wawan dititipkan kepada seorang perempuan yang kini menjadi ibu angkatnya.

Tiga tersangka yang ditahan di Polda Metro Jaya
Foto: Gresnia Arela F./detikX


“Saya dari bayi nggak sama ibu kandung. Terakhir ketemu pas saya umur 9 tahun, waktu disunat,” begitu kata Wawan sambil meneteskan air mata teringat nasib ibu angkatnya yang saat ini hidup sendirian.

detikX mencoba menemui ibu angkat Wawan di Jalan Muharto, Gang Permadi Nomor 11, RT 02 RW 08, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Namun kasus yang menjerat Wawan membuatnya trauma hingga enggan memberi keterangan.

Penyangkalan yang sama disampaikan Dede Sobur, pemilik akun Illu Inaya. Pria berusia 27 tahun ini juga menampik sebagai pelaku pedofilia.

Ia ditangkap saat sedang membeli gas 3 kilogram di warung yang berjarak 100 meter dari rumahnya, Jalan Abdul Haris Nasution, Kelurahan Mangkubumi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Ini Illu, ya?” kata seorang pria bercelana jins dan berkaus oblong saat Dede tiba di warung.

Awalnya, Dede berkilah dan mengaku dirinya bukan Illu. Tapi lima orang pria yang berdiri di sekitar warung langsung menggandengnya. “Mungkin mereka tahu wajah saya dari Facebook,” kata Dede.

Sejak 2008, Dede tinggal di Jakarta. Dengan berbekal ijazah SMP di Tasikmalaya, ia bekerja di sebuah konfeksi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Namun, karena perusahaan pembuat sepatu kulit itu sedang sepi order, Dede, yang bekerja dengan gaji harian, memilih pulang kampung ke Tasikmalaya.

Aldi
Foto: Gresnia Arela F./detikX

Dede Sobur
Foto: Gresnia Arela F./detikX

Moch Bahrul Ulum
Foto: Gresnia Arela F./detikX

Dede mengaku bergabung di Loly Candy’s pada November 2016 setelah dikirimi undangan gabung oleh Wawan. “Saya dan Wawan sama-sama member di grup Android Game. Terus Wawan mempromosikan grup barunya via spam. Begitu saya klik, langsung tergabung di grup Loli Candy’s,” tutur Dede.

Selanjutnya, Wawan memintanya menjadi admin. “Wawan bilang, ‘Lo kan cuma accept member baru,’” begitu pinta Wawan kepada Dede.

Meski sudah sering komunikasi via media sosial, Dede mengaku tidak pernah bertatap muka dengan Wawan maupun dua admin lainnya, Dicky dan Siti Hajar. “Kami baru ketemuan sama para admin ya di sini (Polda Metro Jaya). Jadi reuninya di kantor polisi,” ujar Dede.

Selain empat admin, polisi mencokok Aldi Atwinda Januar, seorang anggota grup yang bekerja sebagai karyawan swasta di Bekasi, Jawa Barat. Aldi ditangkap saat sedang berbelanja di minimarket di Jalan Hilir Raya, Bekasi.

Aldi mengaku masuk ke grup Loly Candy’s sejak September 2016 dengan Wawan selaku admin grup. Ia beralasan masuk ke grup itu karena tertarik pada konten-konten yang ada di Loly Candy’s.

“Saya melihat lucu saja, saya nggak sampai melakukan (pedofilia). Hanya tertarik saja melihat fotonya gitu,” ucap Aldi kepada detikX.

Karena kesukaannya itu, pria yang baru lulus dari perguruan tinggi swasta di Semarang pada 2015 tersebut harus mendekam di sel tahanan Polda Metro Jaya. Ia dijerat dengan Pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Facebook Official Loly Candy's
Foto: repro/Gresnia Arela F.

Facebook Official Loly Candy's
Foto: repro/Gresnia Arela F.

Sedangkan Dicky, berdasarkan keterangan yang didapatkan penyidik, melakukan perbuatan biadab itu terhadap korban dan merekamnya dengan video. Ia menuliskan kepada siapa video itu dibuat.

“Ada di tulisan tangan dia bahwa video ini riil dan video ini ditujukan kepada pemesannya, begitu,” kata Joko.

Keluarga Dicky sudah tidak lagi tinggal di Jalan Abdul Gani, Kelurahan Kalibaru, Cilodong, Depok. Sejak kasus grup pedofil terungkap, mereka pergi entah ke mana.

Di daerah tersebut, keluarga Dicky menyewa rumah yang diurus seorang warga, sebut saja Dedi. Menurutnya, Dicky memang punya kecenderungan menyukai anak-anak. Ia senang bermain dengan anak kecil.

Namun, ia mengatakan, tidak ada anak-anak yang menjadi korban pedofil Dicky, termasuk anaknya, yang disebut-sebut sebagai keponakan pelaku. “Saya tidak ada hubungan kerabat sama Dicky. Orang Polda dan Komnas Perlindungan anak sudah ke sini. Nah, pas dicek, nggak ada korban itu,” kata Dedi kepada detikX.


Reporter: Ibad Durohman, Gresnia Arela F, Aminudin (Malang)
Penulis: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE