INVESTIGASI

Akhir Pelarian
Kapten Pincang

Dor… dor… dor…!

Ilustrasi: Edi Wahyono
Foto-foto detikcom

Sabtu, 31 Desember 2016

Salak senapan api mengagetkan warga Jalan Kalong, RT 08 RW 02, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Letusan senapan itu lebih dari sepuluh kali dan diakhiri dengan teriakan minta ampun.

Dua orang terkapar di tempat terpisah. Mereka adalah dua dari empat pelaku perampokan rumah Dodi Triono di Pulomas, Jakarta Timur, pada Senin, 26 Desember 2016. Enam korban perampokan mati karena kehabisan oksigen ketika disekap, termasuk Dodi.

Kamis sore, 28 Desember, puluhan aparat dari Unit Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Metro Jaya mengepung lima deret rumah petak di gang Jalan Kalong. Salah seorang warga, Sumi, 42 tahun, hanya bisa mengintip dari balik jendela. Polisi menyuruhnya buru-buru masuk rumah saat ia melintas di dekat kontrakan itu.

“Saya cuma dengar suara tembakan sampai 10 kali. Setelah itu, ada suara teriakan minta ampun ke polisi yang bawa orang itu,” kata Sumi kepada detikX, Kamis lalu.

Setelah hening beberapa saat, ia baru berani membuka pintu. Tetangganya sudah merubung di depan deretan kontrakan. Beberapa polisi menyeret seseorang keluar dari pintu dan seseorang lagi terkapar di jalan belakang rumah. Keduanya kena tembakan.

Ia mengenal penghuni kontrakan itu, Remon Butarbutar, seorang sopir angkot. Dua hari lalu Remon kedatangan dua tamu yang menginap. Ia tak tahu banyak, hanya melihat mereka bertiga tengah berbincang saat pintu terbuka. Toh, Remon juga jarang bertegur sapa, jadi Sumi tak mau bertanya-tanya.

Pelaku perampokan di Pulomas yang ditembak

“Waktu itu ada dua orang datang. Saya tahu karena pintunya terbuka pas saya lewat. Ya saya lihat lagi sedang mengobrol. Eh, enggak tahunya perampok,” ujarnya.

Dua orang yang dilumpuhkan dengan timah panas itu adalah dua dari empat pelaku perampokan di rumah Dodi Triono di Pulomas. Mereka adalah Ramlan Butarbutar dan Erwin Situmorang.

Polisi dapat mengendus keberadaan mereka secara kilat. Ketua RT 08 RW 02 Bojong Rawalumbu, Anyi Hamid, 52 tahun, mengaku, sebelum penangkapan, ia didatangi beberapa polisi dari Polda Metro Jaya dan Polres Kota Bekasi yang menanyakan rumah Ramlan Butarbutar.

Saat itu ia mengaku tak tahu ada warga yang bernama Ramlan Butarbutar. Yang ia tahu, rumah kontrakan yang dimaksud polisi dihuni oleh Remon Butarbutar, yang biasa disapa warga dengan nama Ronal atau Ucok.

“Saya kaget, tidak menyangka. Kan selama ini Remon baik di sini walau jarang gaul. Kerjaannya sopir angkot,” kata Anyi kepada detikX.

Pemilik kontrakan, Kimley, 50 tahun, mengaku Remon tinggal di rumah itu sejak tahun lalu. Namun keberadaan Ramlan dan Erwin tak pernah diberitahukan kepadanya. Setahu Kimley, Remon tinggal bersama istrinya dengan harga sewa kontrak Rp 400 ribu per bulan. Namun si istri jarang pulang karena bekerja di Jakarta.

Pius Pane, perampok di Pulomas yang masih menjadi buron

Alfins Sinaga, perampok di Pulomas yang ditembak di bagian kakinya

“Ramlan saya tak tahu. Yang mengontrak di sini namanya Remon Butarbutar. Dia memang sudah setahun tinggal di sini. Kerjanya yang kita tahu sopir angkot K-11 rute Bekasi-Bantargebang,” tuturnya.

Remon tak banyak bergaul. Maklum, ia berangkat pagi dan pulang larut malam. Namun ia tetap bertegur sapa dengan warga. Bahkan kadang saling bercanda.

Polisi sendiri sudah tak asing dengan sepak terjang Ramlan. Karena itu, mereka bisa dengan cepat mengendus jejak Ramlan. Lelaki itu sudah cukup lama malang melintang di dunia perampokan. Ia dikenal sebagai geng Korea Utara, spesialis perampok rumah-rumah mewah.

Modus yang kerap digunakan Ramlan dkk adalah mengikat korban dengan tali sepatu, menyekap, juga tak segan-segan menghabisi nyawa korbannya kalau melawan.

Dari informasi yang diperoleh detikX, Ramlan Butarbutar berasal dari Lubukpakam, Sumatera Utara. Sebelum terjun ke dunia hitam sebagai perampok, Ramlan bekerja sebagai sopir taksi dari 2002 hingga 2005. Namun, setelah dipecat dari perusahaan taksi, Ramlan mengajak sejumlah temannya sesama bekas sopir taksi untuk bergabung menjadi perampok.

“Kalau bekas sopir taksi, iya betul. Tapi, setelah dipecat, lalu merekrut bekas sopir taksi untuk merampok, kita belum investigasi ke sana. Kita baru tahu dari 2010 dia melakukan perampokan,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono saat dimintai konfirmasi detikX.

CCTV yang merekam pelaku perampokan di rumah Dodi Triono

Entah bagaimana komplotan mereka dikenal sebagai kelompok Korea Utara. Sepak terjang kelompok ini langsung diketuai oleh Ramlan, yang kerap dipanggil dengan sebutan Kapten Pincang. Ia memiliki masalah ginjal sehingga tak dapat berjalan normal seperti orang pada umumnya.

“Ramlan Butarbutar ini pemain lama. Dikenal kelompok spesialis kejahatan Pasal 365 KUHP (pencurian dan kekerasan). Modusnya, korban diikat dan dilakban, dan beroperasi di hari libur,” tutur Kapolri Jenderal Tito Karnavian di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 28 Desember.

Data perampokan pertama terekam ketika ia berkomplot dengan Agus Salim dan Ridwan merampok di Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, pada 19 September 2010. Mereka dibekuk jajaran Polda Jawa Tengah dan diadili di Pengadilan Negeri Surakarta.

“Hasil koordinasi kami dengan Polda Jateng, mereka mendapatkan vonis 1 tahun 6 bulan penjara,” kata Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F. Kurniawan kepada detikX.

Bui tak membuatnya tobat, Ramlan justru semakin merajalela melakukan perampokan di seputar Jakarta, di antaranya perampokan ruko di Jalan Protokoler, Cikarang, Bekasi; toko material di Cimanggis, Depok, Jawa Barat; dan merampok rumah janda aktor tahun 1970 Farouk Avero di Kelurahan Cinangka, Depok.

Tahun 2015 aksinya juga giat dilakukan di Depok-Bogor. Ia merampok toko grosir di Jalan Gas Alam, Cimanggis, Depok, dan rumah mewah di belakang Terminal Baranangsiang, Kota Bogor.

Aksinya bersama Johny Sitorus dan Posman Sihombing menyatroni rumah warga negara Korea, Wong Tsu Lin, di Perumahan Griya Telaga Permai, Cilangkap, Depok, pada 12 Agustus 2015, nyaris membuatnya berhenti. Komplotannya menyandera anak Wong Tsu Lin. Namun polisi berhasil menangkap ketiganya.

Rumah kontrakan Ramlan di Rawalumbu, Bekasi

Erwin Situmorang, perampok di Pulomas

R alias Ucok, adik Ramlan, yang menyembunyikan pelaku

Ketiganya ditahan pada 26 Agustus 2015. Ramlan sakit ginjal dan mendapat izin pembantaran dari 2 September hingga 8 Oktober 2015.

Kondisinya terus memburuk. Polisi pun memberikan penangguhan penahanan sejak 17 Oktober 2015. Ia hanya dikenai wajib lapor tiap dua pekan berdasarkan Surat Penangguhan Nomor SPPP/75/X/2015/Reskrim tertanggal 17 Oktober 2015.

Awalnya, ia menuruti jadwal wajib lapor. Namun terakhir, ia sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.

Polisi akhirnya memasukkan namanya dalam daftar pencarian orang (DPO) setelah berkasnya lengkap menuju penuntutan. Sedangkan dua rekannya yang lain sudah menjalani sidang.

“Faktanya, tersangka Ramlan tidak melakukan wajib lapor selama dua kali berturut-turut, lalu diterbitkan DPO pada 25 Oktober 2015,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Rikwanto.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Depok Priatmaji membenarkan tentang kaburnya Ramlan pada saat masa pembantaran dan penangguhan penahanan itu. Padahal tinggal satu langkah lagi Ramlan dimejahijaukan di Pengadilan Negeri Depok.

“Waktu itu kan sempat dibantarkan. Tapi belum penyerahan tersangka dan barang bukti,” tuturnya kepada detikX.

Di tengah sakit dan pelarian, Kapten Pincang masih nekat menyatroni rumah Dodi Triono. Aksi brutalnya mengakibatkan enam dari 11 sandera mati dalam penyekapan.

Polisi tak lagi main-main. Timah panas menembus perutnya di lokasi persembunyian. Pelariannya berakhir ketika ia tak lagi dapat ditolong karena luka tembak.


Reporter: Ibad Durohman, Mei Amelia R., M. Rizal
Penulis: M. Rizal
Editor: Aryo Bhawono
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE